Berani Belajar Menulis

Tugas 1

Berani Belajar Menulis

Oleh: Nunuk Marsiti

WhatsApp Image 2017-10-02 at 15.46.55

            Saya orang yang introvert dan pemalu. Meskipun saya sering naik panggung untuk pentas menari sewaktu masih sekolah dan meraih beberapa kejuaraan lomba tari, tapi sebenarnya saya tidak suka orang lain tahu siapa diriku dan lebih cenderung tidak ingin dikenal orang. Meski begitu ternyata banyak juga orang yang mengenal dan tahu siapa namaku. Saking tertutupnya, maka saya lebih suka menuliskan apa yang terjadi, apa yang terpikir, dan apa yang saya alami dalam bentuk tulisan walaupun masih dibuku harian. Soalnya kalau sudah menulis rasanya plong, seperti sudah bercerita ke orang lain dan bercerita ke banyak orang. Padahal masih di buku Diary.

Keinginanku menulis sebenarnya sudah lama. Tapi mungkin Allah SWT  belum mengizinkan sehingga baru tahun ini saya dipertemukan dengan orang-orang hebat diantaranya  Om Jay. Ketemu penulis itu juga sudah sering, tapi entahlah tidak ada yang menggugah hati dan pikiranku untuk bergabung dan membuka diri. Baru pada hari ini minggu tanggal 1 oktober 2017, melalui WA group belajar menulis yang dipandu Om Jay, akhirnya saya berani mencoba menulis untuk dibaca sesama teman.

Pertemuan dan pembentukkan  group menulis ini adalah atas ridlo Allah SWT. Di sini akhirnya ketemu juga waktu yang kuinginkan dari dulu. Sudah luuaammaaa sebenarnya keinginan buat mendapat tempat menulis yang pas di hati. Menulis berarti mengajak saya memberanikan diri bebas berekspresi lewat tulisan, mungkin berani untuk diapresiasi benar atau tidak tulisan kita, terus bisa dishare atau dipublish bahkan bisa dibaca orang banyak serta mampu menginspirasi.

Mungkin sudah ada 12 judul yang waktu itu pernah saya tulis, namun semua tidak ada yang sampai selesai. Paling mentok sampai bab 2 udah putus. Ganti lagi ke judul baru, begitu lagi dan begitu lagi selalu begitu. Sudah dari tahun 1997 saya sudah sering bawa-bawa laptop. Meski laptop itu sangat luar biasa langka. Komputer saja di sekolah baru ada pantium 2. Dan itu sudah luar biasa juga. Hebatlah. Adanya baru program Microsoft Word dan program Excel yang sederhana. Ketika itu serasa masih muda sehingga laptop ukuran 14” masih terasa ringan berada di dalam tas punggung yang sering saya gendong.

Kalau jalan jalan tidak membawa laptop serasa ada yang hilang, pokoknya perjalanan tidak indah, tidak lengkap karena tidak bisa konected ke face book dan internetan dengan teman-teman. Kalau diingat, rasanya orang yang punya laptop dan komputer juga belum banyak. Sekolah juga belum banyak yang punya komputer. Tapi diriku ketika itu sudah biasa dengan internet, face book, blogspot, wordpress, web, dan yahoo mail. Bahkan saya sudah beberapa kali bikin alamat web, alamat blogspot, wordpress, web juga pernah saya bikin sendiri. Seharusnya juga saya sudah mahir dan layak sebagai teknisi computer yang handal. Tapi ternyata tidak. Nasib saya bukan di computer. Komputer hanya sarana saya buat menghibur diri bersama teman-teman di Face book dan chating di yahoo. Mungkin usia juga mempengaruhiku, tambah lagi karena tidak percaya pada kemampuan diri sendiri.

Padahal saya beberapa kali diundang pelatihan komputer bersama orang-orang luar negeri. Bahkan juga pernah mendapatkan penghargaan ke Korea karena telah berhasil membuat media pembelajaran, presentasi secara langsung di depan bule-bule Korea, sudah berhasil  publish hasil karya media pembelajaran saya itu ke web pendidikan karena penilaiannya harus sampai publish.

Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan tugas sesuai batas waktu yang ditentukan panitia. Tapi saya lupa nama webnya. Mungkin masih bisa terlacak. Karena saya pernah iseng mencari media pembelajaran ternyata karyaku masih ada, masih muncul, dan masih bisa di downloard. Karya seperti itu zaman itu sudah hebat. Nyatanya saya bisa lolos mengalahkan ratusan orang. Bisa jadi mereka lebih jago IT tapi tidak dalam presentasi, atau jago IT tapi sesuai dengan yang diminta oleh Panitia yang menyeleksi. Berarti juga ada yang suka membukanya mungkin. Namun saya sering lupa dengan password sendiri, sehingga semua itu hilang dan tidak pernah saya lacak lagi. Saya lebih suka bikin baru lagi. Dan keinginan menulis tidak berhenti karena alamat-alamat sosmed hilang. Saya akhirnya sering menulis di Face book tapi hanya untuk diri sendiri. Kalaupun saya bagi biasanya hanya orang-orang tertentu. Itupun lewat pesan pribadi tidak terbaca oleh umum.

Ooh iyaa, saya pernah kehilangan Laptop yang berisi semua hasil tulisan saya. Tugas tugas saya, rancangan dan gagasan-gagasan saya. Waktu kehilangan laptop itu di mall Cilegon. Saya sudah baca sih peringatan yang tertulis di spanduk tempat parkir. “Dilarang menyimpan meninggalkan benda/barang berharga termasuk laptop di dalam mobil, dan pihak mall tidak bertanggung jawab jika ada kehilangan” itu kurang lebih peringatan yang pernah kubaca. Sebenarnya sebelum turun dari mobil saya juga sudah ada rasa bagaimana gitu. Ada was-was dan seperti tidak rela meninggalkan laptop itu di mobil. Namun karena waktu itu suami bilang tidak apa-apa tinggal saja, akhirnya saya yakin untuk meninggalkan. Karena biasanya kata-kata suami memang sangat dapat dipercaya. Tambah lagi kita tidak akan lama berada di dalam mall. Kita perkirakan paling 15 menit juga sudah selesai kita belanja. Kebutuhan yang akan dibeli tidak banyak, dan tidak butuh antrian. Benar ketika masuk mall, baru sampai pada tempat barang yang akan kita beli, berarti baru beberapa menit, hati saya sudah terasa  ingin segera balik ke mobil. Namun tanggung jadi langsung barang itu saya beli, langsung dibayar dan langsung pulang. Saya dan suami setengah berlari ketika berjalan kembali ke tempat parkir mobil kami.

Sesampai di tempat parkir saya langsung menuju mobil. Saya pikir tidak terjadi sesuatu, maka mulutku langsung mengucap “Alhamdulilah puji syukur saya pada Allah SWT, karena tidak ada pintu dan kaca mobil yang terbuka, semua masih keadaan rapi. Tapi ternyata apa yang terjadi baru saya sadari.

“Astaghfirullah Astaghfirullah”ucapku berkali-kali mohon ampunan pada yang menciptakan diriku dan berusaha menerima dengan ikhlas apa yang terjadi. Tak cukup dengan istighfar, saya juga langsung memanggil suamiku. Maass!! Suamiku yang sudah terlebih dahulu masuk rumah, langsung kembali lagi keluar menuju mobil. Barulah saya tunjukkan apa yang terjadi. Meski terlihat semua rapi, ternyata tas laptop dan isinya tidak ada. Hahaha..Alhamdulillah.

Setelah laptop hilang berarti semua gagasan juga hilang, sakit hati karena kehilangan isi laptop bukan karena laptopnya. Sampai esoknya saya berkunjung lagi ke mall tersebut dengan harapan penjaga parkir menempel pengumuman ditemukan laptop berwarna hitam merk apa yaa saya sedikit lupa. Untuk bercerita lagi harus sedikit membuka memori masa lalu. Ini cerita sudah puluhan tahun yang lalu ketika anak-anakku masih duduk dibangku sekolah menengah.

Ini kenapa saya bercerita tentang diriku sendiri ya. Padahal tadi niatnya mau melaksanakan tugas dari Om Jay. Kan hari ini adalah hari pertama saya belajar menulis bersama Om jay. Saya sebenarnya lebih suka memanggil Bang jay karena orang jakarte biasa memanggil dengan panggilan abang. Cuma temen-temen di media social sudah lebih mengenalnya dengan panggilan akrab Om Jay.  Tidak apa-apa sesekali saya akan tetap memanggil Abang, tapi sesekali saya akan memanggil Om. Hehe. Mau gimana ekspresiku saat menulis tugas ini? Saya membayangkan semua orang mendengarkan diriku yang lagi berbicara, pengalaman masa lalu dan memanggil kembali ke memori hari ini, agar bisa tertuang dalam tulisan dan bisa segera saya serahkan ke Abang yang seolah memonitor proses kerja ini.

Perasaanku sangat bahagia bisa mencurahkan isi hati dan pikiran ini dalam obrolan di lembaran-lembaran laptop yang menemani saat mengetik laporan ini. Rasanya tidak sabar karena sudah lama sekali tidak menuliskan gagasan secara bebas seperti ini. Terima kasih Om Jay yang sudah mengajak saya  bergabung di belajar menulis group 5 ini. Pokoknya serasa ada di samudera luas yang siap berceloteh, ngobrol, senda gurau, berbagi kesedihan, dan curhat-curhat apa saja.

Komentar ditutup.