HIJRAH SUKSESKAN PENDIDIKAN ABAD 21

HIJRAH SUKSESKAN PENDIDIKAN ABAD 21

Oleh

Sis Ariyanti, S.S.

Kemajuan teknologi saat ini sangat menguntungkan dan mendukung dunia pendidikan. Guru dapat berkreasi dan berinovasi dalam menyajikan materi yang menarik untuk peserta didik. Jika sebelumnya, guru kesulitan menemukan cara yang mampu membuat peserta didik paham serta menikmati pembelajaran. Kini dengan bantuan berbagai aplikasi seperti lectora, microsoft 365, mindlite, dan lain-lain, guru mampu menciptakan pembelajaran interaktif. Melalui classedmodo misalnya, guru dapat mengirim file materi dan latihan soal yang dapat dikerjakan di rumah. Menciptakan pembelajaran jarak jauh. Peserta didik dapat belajar kapan saja tanpa harus bertatap muka.

Layanan internet yang sudah masuk ke daerah-daerah memberikan akses kemudahan bagi peserta didik yang berada di desa. Anak-anak di desa tidak kalah dengan anak kota asalkan difasilitasi dan mendapatkan panduan yang tepat. Sebagaimana diketahui hadirnya teknologi handphone yang canggih jika tidak tepat penggunaannya maka akan menyesatkan dan berdampak buruk bagi generasi muda.

Sebagai guru, penulis terpanggil untuk memanfaatkan kemajuan teknologi ini agar peserta didik tidak kalah dengan anak-anak di luar negeri. Sudah saatnya pendidikan di Indonesia berbasis teknologi informasi meskipun mata pelajaran tersebut tidak ada lagi. Memang sangat disayangkan, kenapa justru diera teknologi seperti saat ini mata pelajaran TIK dihapus. Peserta didik jangan sampai gagap teknologi. Apalagi dalam Ujian Nasional saat ini berbasis komputer. Mereka harus akrab dengan komputer. Lalu bagaimana mereka bisa akrab? Pelajaran TIK tidak ada?

Dengan demikian, terlebih dahulu guru-guru harus melek teknologi. Jika guru enggan bersentuhaan dengan komputer, bisa dibayangkan kondisi generasi Indonesia mendatang. Semakin tertinggal jauh dari negara lain. Walau pelajaran TIK tidak ada,bukan berarti kita berjauhan dan tidak bersahabat lagi dengannya. Pembelajaran sederhana dapat kita rancang dengan memanfaatkan komputer, misalnya memutar video pembelajaran atau kisah-kisah yang membuat siswa tersentuh dan termotivasi dengan apa yang kita sampaikan.

Guru sebagai garda depan harus hijrah. Kita tinggalkan pendidikan yang menjemukan siswa. Minimalisir penggunaan kertas. Belajar kapan saja dan dimana saja. Kita berselancar di dunia maya mencari bahan pembelajaran yang menarik. Download tutorial di youtube untuk update media pembelajaran dan aplikasi yang membuat peserta didik lebih mudah memahami materi yang kita sampaikan.

Guru tidak sekedar datang kemudian meminta peserta didik membuka buku paket dan mengerjakan LKS. Mungkin itu masih bisa diterapkan bagi saudara-saudara kita yang jaringan internetnya belum masuk ke daerahnya. Bagi kita yang sudah memiliki fasilitas lengkap, marilah kita bereksperiment. Semangat guru untuk selalu belajar inilah yang akan tampak dengan sendirinya ketika mengajar. Peserta didik akan dapat menilai guru-guru yang siap dibandingkan dengan guru yang sekedar datang menggugurkan tugas mengajar dan  transfer ilmu semata-mata.

Guru menjadi figur penting, jadi teladan peserta didik. Semangat hijrah untuk menyukseskan pendidikan di abad 21 menjadi bekal bagi kita dalam menyiapkan generasi yang siap bersaing dengan negara-negara lain. Apabila kita cermati, banyak generasi kita yang lebih tertarik belajar ke luar negeri lantaran pendidikannya lebih maju. Padahal sebelumnya, banyak pelajar dari negara tetangga yang menimba ilmu di Indonesia. Kondisi ini harusnya menjadi bahan perenungan bagi guru dan pengambil kebijakan. Marilah kita ciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran yang tidak kalah dengan negara-negara tatangga. Harapannya, generasi kita tidak kalah bersaing dengan bangsa luar. Siap menatap masa depannya dengan percaya diri dan meraih kesuksesan.

 

Komentar ditutup.