Menanamkan Disiplin Terhadap Anak Tanpa Kekerasan

Menanamkan Disiplin Terhadap Anak tanpa Kekerasan

Setiap individu pada umumnya tidak suka dengan kalimat yang bernada perintah, sekalipun itu dari gurunya. Apalagi jika disertai dengan raut muka yang tidak bersahabat dan nada suara tinggi. Sebagian mungkin  akan melaksanakan apa yang kita perintahkan, namun dengan rasa terpaksa, takut, atau bahkan khawatir dipermalukan di hadapan umum (kelas).

Namun hal ini menjadi pemandangan yang dengan mudah kita jumpai di banyak sekolah. Guru sudah terlanjur merasa nyaman dengan gaya pendisiplinan yang kasar dan cenderung melukai anak. Baiklah, mungkin guru masa kini tidak lagi menggunakan kekerasan fisik, namun kekerasan yang berbentuk verbal masih menjadi sesuatu yang dianggap wajar di kalangan sebagian guru. Memang benar tujuan guru mendisplinkan anak. Tetapi apakah selalu benar jika tujuan baik tersebut dilakukan dengan cara menekan mental anak dengan kata-kata kasar, nada suara yang tinggi, raut muka yang garang, dan tatapan mata yang merendahkan anak? Ya, mungkin anak akan menuruti kita, namun kita juga pasti sadar betul bahwa hal tersebut dilakukan anak hanya karena mereka merasa takut jika kita akan lebih marah, atau takut kita akan membentaknya di hadapan teman-temannya.

Umumnya perilaku guru yang demikian akan tercermin pada sikap siswa yang dididiknya. Anak yang dididik oleh guru yang demikian akan cenderung hanya patuh pada gurunya, namun bersikap kurang hormat pada guru lain . Ini bisa terjadi pada sekolah dasar yang setiap hari mereka hanya bertatap muka dengan satu guru (guru kelas ). Anak akan lebih tak terkendali jika berhadapan dengan guru selain guru kelasnya meskipun masih dalam lingkup satu sekolah.  Bisa kita bayangkan apa yang terjadi jika anak-anak ini berhadapan dengan guru lain sekolah. Alih-alih disiplin, mereka pasti akan merasa terbebas dari rasa tertekan dan takut seperti yang mereka rasakan ketika bersama guru kelasnya. Umumnya anak-anak ini akan bertingkah tidak sopan, bertutur kotor, bahkan bahasa tubuh yang merendahkan guru lain.Sayangnya guru akan dengan serta merta menyalahkan anak atau keluarga anak di rumah. Jarang guru dengan spontan menengok ke dalam dirinya, “adakah  yang salah dari caraku mendidik selama ini?”.

Mendisiplinkan anak sebenarnya tidak sulit jika kita mau konsisten. Pun tidak dengan cara-cara kasar dan pemaksaan, jika kita bisa menyentuh hati mereka. Ya, menyentuh hati mereka! Anak-anak akan berperilaku seperti yang kita harapkan tanpa kita minta. Semua akan mengalir tanpa rasa tertekan atau terancam.  Bunda Lucy dalam buku 5 Menit Menguasai Hypnoparenting, mengatakan bahwa karakter anak-anak belum terbentuk secara permanen sampai usia mereka mencapai 14 tahun. Ya, inilah salah satu keuntungan bagi guru sekolah dasar. Kita sadari ataupun tidak, menerapkan kedisiplinan pada anak usia sekolah dasar lebih mudah dilakukan jika dibandingkan pada anak-anak yang berusia di atas empat belas tahun. Salah satu pendisiplinan tanpa kekerasan adalah dengan cara komunikasi positif dan berkesinambungan terhadap anak sampai muncul perilaku disiplin yang diharapkan.

Guru Sekolah Dasar pada umumnya mempunyai waktu setidaknya enam jam dalam sehari, enam hari dalam seminggu.  Dan bisa kita hitung berapa lama kita bertatap muka dengan mereka dalam setahun. Bukan waktu yang singkat, bukan ? yakin kita bisa mendisiplinkan mereka tanpa pemaksaan dan ancaman?.Ya, Jika kita konsisten, sekali lagi konsisten! Baik, Kita bisa memulai menghilangkan perilaku-perilaku tidak disiplin dari yang  sederhana dan sering kita hadapi dalam dunia anak sehari-hari di sekolah, seperti menyerobot antiran, gaduh, membuang sampah tidak pada tempatnya, dan lain-lain.

Mari kita mengambil salah satu contoh kasus perilaku tidak disiplin yang dapat kita atasi tanpa kekerasan fisik maupun verbal. Diantaranya adalah kebiasaan menyerobot antrean. Perilaku ini sering terjadi dalam keseharian di sekolah. Misalnya pada saat meminta nilai dari guru, pada saat ke luar kelas untuk jam  istirahat, menghapus papan tulis, menjawab pertanyaan guru, dan lain-lain. Untuk mengatasi perilaku menyerobot antrean pada saat meminta nilai untuk hasil kerja mereka misalnya, guru bisa meminta anak-anak untuk berbaris membujur ke belakang. Tentu saja kita lakukan dengan lembut, raut muka yang bersahabat, sikap badan membungkuk untuk menyesuaikan dengan tinggi badan anak-anak, dan juga dengan kalimat yang mereka sukai, misalnya dengan mengatakan,

“ Ayo, anak-anak naik kereta api! Anak yang tertib bisa dapat tiket dari bu guru”. Sebelumnya guru perlu menjelaskan bahwa tiket yang dimaksud adalah nilai dari guru. Jangan lupa bagi siswa yang menyerobot antrean dipersilakan mundur dan mulai mengantre lagi dengan menempatkan diri di barisan paling belakang. Jika ada anak yang tidak mengindahkan peraturan ini. Guru bisa membimbing anak untuk menempatkannya pada barisan paling belakang. Yang perlu kita ingat, kita sedang bermain “permainan belajar disiplin”. Dengan begitu, jika menghadapi situasi yang sama, lama kelamaan anak akan melakukan hal yang sama sudah menjadi kebiasaan setiap hari tanpa diminta.

Penulis:

Nining Fatmawati

Iklan

One response to “Menanamkan Disiplin Terhadap Anak Tanpa Kekerasan

  1. keren banget tulisannya…
    ternyata berbakat jadi penulis…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s