Menulis itu untuk Apa?

Nama   : Agus Wahyudi

SMP Negeri 9 Tarakan Kalimantan Utara

Email : aguswhe27@gmail.com

Tugas 1:

MENULIS

Menulis…..Untuk apa???

Menulis adalah suatu pekerjaan yang lazim dilakukan setiap orang. Menulis sudah diajarkan kepada kita dari kecil sampai dewasa, dari pendidikan PAUD ( atau malah sebelum anak bersekolah) sampai tingkat pendidikan yang paling tinggi (Universitas) semua mengajarkan kita untuk menulis. Seberapa penting kah kegiatan menulis itu? Tidak kah lebih penting membaca daripada menulis? Ingatlah, perintah pertama yang diterima Nabi Muhammad S.A.W adalah Iqra’ yang artinya membaca bukan menulis. Jadi membaca lebih utama dari menulis. Tidak kah demikian?

Sah-sah saja kalau ada seseorang yang berpendapat demikian, tidak dilarang. Tetapi, menurut pendapat saya membaca dan menulis merupakan kegiatan yang erat sekali hubungannya, dengan kata lain membaca dan menulis sama-sama utama, sama-sama penting untuk dipelajari oleh setiap manusia. Membaca dan menulis merupakan satu paket kegiatan yang tidak terpisahkan. Agar kita bisa membaca, kita perlu tahu tulisan (huruf), sedangkan agar kita bisa menulis maka kita juga harus bisa membaca. Mana yang lebih dahulu dipelajari membaca dulu atau menulis dulu? Saya tidak menjawab. Seperti halnya pertanyaan : “Duluan mana, telur atau ayam ?” hehehe….

Menulis….penting kah?

Ketika kita ingin sesuatu atau ingin orang lain melakukan sesuatu yang kita inginkan, maka kita cukup berbicara kepada orang yang kita ajak bicara. “Kakak, Ambilkan tas saya !”, “ Tolong potongkan kayu ini!”, “Mama, buatkan aku nasi goreng”, “Ayah, antarkan aku ke sekolah” dan seterusnya. Itulah contoh bagaimana seseorang menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya agar dimengerti oleh orang lain. Bagaimana jika kondisi/suasana alam tidak mendukung, misalnya dalam keadaan yang sangat bising di dalam pabrik dimana suara kita pasti tenggelam diantara suara-suara mesin yang berbunyi keras, atau jika kita sedang sakit pada pita suara kita sehingga ketika berbicara tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kita, atau keadaan seseorang yang memang dari lahir tidak dapat berbicara (bisu)? Salah satu cara yang paling ampuh adalah dengan menulis. Orang lain akan mengerti apa yang kita inginkan lewat tulisan yang kita buat. Jadi, tentu saja menulis sangat dibutuhkan seseorang untuk menyampaikan ide atau keinginannya itu. Jadi kegiatan menulis ini sangat penting sekali untuk dipelajari dan dikuasai seseorang agar kehidupannya lebih mudah.

Menulis….Sulitkah?

Pada dasarnya menulis adalah menuangkan ide atau isi pikiran kita diatas kertas atau media yang lain dengan maksud agar ide atau pikiran kita dapat dibaca dan dimengerti orang lain. Akan tetapi, banyak orang yang berstatemen bahwa sulit sekali untuk memulai menulis. Padahal, dulu waktu sekolah dasar pada mata pelajaran bahasa Indonesia ada bab tentang mengarang. Ibu guru selalu memberikan tugas kita setelah liburan panjang untuk menceritakan pengalaman kita selama liburan. Memang awalnya sulit sekali untuk memulai mengarang, sulit untuk menentukan tema, mulai kalimatnya seperti apa ataupun karena sebab lain. Tetapi ketika kita sudah dipancing dengan satu atau dua kalimat dari ibu guru, maka tanpa sadar kalimat-kalimat selanjutnya mengalir dengan sendirinya. Jadi menurut saya, untuk memulai menulis kita butuh stimulasi atau rangsangan awal dalam menulis. Nah, mungkin kesulitannya adalah menemukan stimulan untuk menulis.

Menulis….mudahkah?

Ketika kita pergi ke suatu pameran buku, perpustakaan, maupun ke sebuah toko buku, banyak buku-buku yang siap kita baca. Kadang-kadang kita menemukan sebuah buku yang tebal dan besar, baik itu buku pelajaran, novel,  maupun buku tentang biografi penulisnya. Dalam hati hanya membatin, kok bisa ya menulis buku setebal itu ? Bagaimana caranya? Bagaimana memulai kata-katanya? Berapa lama mereka membuatnya? Apakah tidak ada kesibukan ya di rumah? Mengapa mereka bisa menulis buku setebal itu? Apakah ada nantinya yang membeli dan membaca buku itu? Itulah beberapa pertanyaan yang berkecamuk dalam hati saya ketika melihat atau memegang buku yang tebal. Ah…saya jadi berpikir. seandainya penulis buku itu adalah kita, pastilah kita setidaknya bangga tulisan kita bisa dicetak menjadi buku, diterima dan diterbitkan oleh sebuah penerbit. Entah nanti buku itu terjual atau tidak, minimal buku kita sudah terpampang di etalase atau rak sebuah toko buku.  Pada kenyataannya, ternyata orang lain bisa menulis buku setebal itu, artinya semua orang mampu untuk berbuat yang sama. Nah kita selama ini hanya menjadi konsumen saja tanpa pernah sekalipun menjadi produsen. Adakalanya kita hanya berobsesi ingin menjadi penulis yang hebat seperti penulis pada buku yang tebal itu, kita rajin membeli bukunya tetapi  jarang sekali membaca sampai tuntas. Niat  hanya sebatas dalam hati tanpa ada relaisasi untuk memulai menulis.

Pada kesempatan ini, saya ucapkan terima kasih kepada Om Jay, karena dengan stimulannya saya mulai menggerakkan jari saya diatas keyboard laptop untuk memulai menulis, meskipun awalnya hanya sekedar memenuhi tugas. Hal yang saya rasakan sekarang, ada kepuasan tersendiri ketika apa yang kita tuangkan dalam tulisan sudah melebihi 700 kata sebagai prasyarat tugas dari Om Jay….Alhamdulillah, saya mampu mewujudkannya padahal diawal saya membayangkan, bagaimana mungkin saya bisa merangkai kata sebanyak itu.

Terima kasih Om Jay…

Komentar ditutup.