Daily Archives: Oktober 3, 2017

Mulailah Menulis!

Resume Diskusi Tahap 1

Nama             : Amaliah, S.S.

Instansi          : SMPN 2 Sidoarjo, Jawa Timur

MULAILAH MENULIS!

Mengikuti kelas menulis yang diadakan  Om Jay melalui group wa adalah hal yang menarik bagi saya.  Pertama kali dibuka gelombang satu, langsung tanpa pikir panjang saya mendaftarkan diri. Namun apa daya, berbarengan dengan kegiatan PLPG. Maka selesai acara saya melihat pembukaan gelombang lima, langsung saya banting setir ikut dengan semangat ke gelombang lima ini.  Topik awal adalah mengenai semangat tulis menulis.  Menulis adalah budaya.  Budaya terbentuk dari kebiasaan. Hal ini dapat dimulai dari suatu kolaborasi bersama guru lain yang memiliki keinginan untuk menulis dan juga editor, ini penentu akhir tulisan kita.

Baca lebih lanjut

Saya Tidak Bisa Menulis

SAYA TIDAK BISA MENULIS

Oleh: Rahayu Widayanti

 

Saya tidak bisa menulis, saya tidak yakin apakah saya bisa menulis. Seandainya saya menulis, saya tidak yakin apakah tulisan saya layak dibaca, ataukah hanya sekedar membuang waktu bagi pembaca saja. Yang jelas, tulisan ini adalah TULISAN PERTAMA saya.

Baca lebih lanjut

Resensi Buku Omjay

RESENSI BUKU OMJAY

Oleh: Raddien Amadia kelas 8G SMP Labschool Jakarta

 buku-menulis

Judul : Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi

Penulis : Wijaya Kusumah, S.Pd., M.Pd.

Penyunting Isi & Bahasa: Yuan Acitra, S.E.

Penata Letak: Kancilmas

Penyelaras: Marcella Virginia

Pemodifikasi Desain sampul: Haris Juniarto

Tebal : 302

Awalnya omjay tidak percaya bisa menulis setiap hari, tetapi dengan komitmen yang kuat maka lahirlah tulisan-tulisan yang tak pernah sepi dari pembaca. Dan omjay tidak pernah meng-copy paste hasil karya orang lain, ia berusaha menulis dengan gaya bahasanya sendiri.

Baca lebih lanjut

Yuk Mulai Menulis!

YUUK!! MULAI MENULIS
Oleh. Nunuk Marsiti, M.Pd
mars9975@yahoo.com
 
Menulis adalah ungkapan pikiran, hati, perasaan, peristiwa, fakta, situasi, dan cerita yang tertuang ke dalam tulisan. Belajar menulis tidak mengenal batas usia, dari awal pendidikan bahkan ketika masih balita kita sudah diajak belajar menulis. Sampai kuliah selesai sudah lulus dan sudah bekerjapun kita masih diajak dan disuruh belajar menulis.
 
Menulis memang bukan hanya di bangku sekolah atau bangku kuliah. Seperti apa yang saya lakukan saat ini. Usia sudah tidak muda lagi tapi saya termotivasi untuk bergabung dengan group belajar menulis bersama Om Jay.
 
Hari ini saya secara resmi menjadi peserta belajar menulis group 5 di WA bersama Om Jay. Saya ingin menulis atau menjadi penulis meskipun baru sekedar belajar, setidaknya sudah ada tempat untuk menampung tulisan saya yang bisa langsung dikoreksi atau diapresiasi sehingga dapat diketahui layak atau tidak tulisan saya nanti untuk dikonsumsi oleh masyarakat pembaca secara luas.
 
Biasanya tulisan saya hanya sekedar pengisi laptop dan hanya untuk dinikmati diri sendiri. Tentu saja tidak pernah mengerti entah tulisan itu benar atau salah tidak ada yang bisa mengkritisi atau mengetahui. Tapi sekarang sudah ditemukan solusi untuk menilai dan mengevaluasi tulisan-tulisan ini meskipun belum 100% saya berani menyakini diri sendiri, yaitu melalui belajar menulis bersama OM Jay di Group 5 Belajar menulis.
 
Ooh iyaa tugas pertama saya adalah membuat artikel bebas. Saya harus segera membuat tulisan dalam bentuk artikel dengan penyelesaian waktu berbatas. Tugas ke 1 (pertama) dari Om Jay adalah menuliskan isi materi hari ini, yaitu tulisan yang berisi uraian mulai belajar secara resmi pada hari minggu, tanggal 1 Oktober 2017 jam 19.00 WIB. Itu adalah waktu pertama kali Om Jay memberi materi pada seluruh peserta, dilanjutkan dengan tahap menanya. Semua dipersilahkan bertanya melalui chat di WA. Semua pertanyaan tidak langsung dijawab oleh Om Jay. Setelah waktu bertanya diberikan barulah Om Jay menjawab semua pertanyaan satu persatu dari semua peserta dengan jelas. Bahkan setelah selesai menjawab semua pertanyaan Om Jay juga masih memberi kesempatan pada peserta untuk bertanya lagi dengan menuliskan “apakah masih ada yang ingin bertanya??”. Setelah yakin tidak ada lagi pertanyaan dari peserta, Om Jay mulai menyiapkan tugas pertama.
Menunggu tugas pertama dari Om Jay membuat kami sedikit penasaran dan dagdigdug. Terasa lama waktu berjalan saat menunggu tugas yang akan diberikan Om Jay. Sambil menunggu tugas tentu peserta sama-sama penasaran, makanya melalui wa peserta ngobrol sambil bercanda dan menerka-nerka apa kira-kira tugas dari Om jay.
 
Dan kini waktunya telah tiba, tugas menulis pertama dari Om Jay. Jreng jreeeng Om Jay menuliskan tugas pertama sebagai berikut; yaitu peserta harus membuat tulisan tentang materi yang tadi sudah di disampaikan oleh Om Jay dengan gaya bebas. Tapi saya tidak bisa langsung menulis karena ketika saya membuka wa sudah tengah malam, tambah lagi koneksi jaringan internet yang naik turun seperti gelombang radio. Akhirnya saya niatkan besuk saya baru akan menulis.
Sebelum menyelesaikan tugas dan menjawab pertanyaan Om Jay, saya juga mau bercerita sedikit. Terus terang awalnya saya ragu dan belum yakin untuk mengambil keputusan antara ingin bergabung atau tidak, ketika Bang Jay memposting info belajar menulis bersama Om Jay group 5 di sebuah group WA. Saya sempat berkali-kali mikir.
 
Padahal akan diberi ilmu dan gratis lagi, tapi kenapa susah yaa, dan tidak mau langsung menjawab oke malah menunggu sampai besuk lagi baru mau mengirim email ke Om Jay. Mulai dari situ, meskipun ragu, saya akhirnya memilih bergabung. Akhirnya saya langsung merespon dengan mengirim sms ke nomor yang Om Jay share untuk belajar menulis, karena ternyata buka nomor HP pribadi Om Jay yang sudah saya punya. Nomornya Berbeda, tentu nomor itu langsung saya save terlebih duhulu dengan nama profil Belajar Menulis group 5.
 
Setelah menunggu beberapa lama, saya mendapat jawaban Oke dari Bang jay. Ternyata saya diterima menjadi peserta belajar menulis group 5, bahkan saya juga langsung diinvite di group 5 belajar menulis bersama Om Jay. Saya ikuti semua informasi penting Om Jay melalui WA, meskipun kadang-kadang terlambat baca info karena faktor jaringan internet yang kadang ada kadang menghilang, timbul tenggelam seperti gelombang samudera dan gelombang radio. Maaf yaa sedikit bercanda selagi baru mengawali menulis, jadi materi hanya sekedar merangkum dan melaporkan.
 
Materi tugas pertama adalah menuliskan kembali materi Om Jay, tapi sebelum menjawab saya ingin bercerita lagi. Semua masih ingat kan? Pada saat peserta disuruh kenalan lewat wa, ternyata Cuma beberapa saja yang saling menyapa dan sekedar say hello. Selanjutnya setelah kenalan Om Jay juga meminta peserta menuliskan daftar nama dan sekolahnya. Awalnya Om Jay cuma menginginkan 30 orang peserta, namun karena banyak peminatnya akhirnya kuota ditambah menjadi 50 orang, jadi di dalam group sekarang ada 51 orang karena anggota 49 orang, tambah KM 1 orang dan Om Jay sebagai pembimbing dan pemateri kita. Jadi semua ada 51 orang. Dari 50 orang tersebut, selanjutnya diminta menuliskan email masing-masing karena Om Jay harus mengirimkan formulir biodata semua anggota melalui email untuk registrasi atau pendataan peserta.
 
Om Jay juga memberi penjelasan bahwa proses belajar ini hanya 8 kali pertemuan dan bagimana proses atau hasilnya terserah dari peserta saat mengerjakan tugas, jadi kalau mau cepet tentu mengerjakan tugasnya juga harus cepat. Tapi buat diriku sendiri juga tidak bisa mengerjakan dengan cepat meskipun niat hati ingin segera belajar menulis, tapi ada beberapa kendala. Entah gangguan internetnya atau juga dari waktu yang belum bisa membagi dengan baik. Atau bisa juga karena belum terbiasa dengan menulis sehingga mencari sebuah gagasan saja terasa sulit.
 
Selanjutnya Om jay juga memaparkan bahwa menulis adalah pekerjaan seorang guru professional. Om Jay memberikan contoh bahwa tugas guru itu salah satunya adalah membuat atau menulis rencana pembelajaran. Padahal kalau menurut saya menulis rencana pembelajaran dengan menulis bebas tentu berbeda. Kalau RPP kan rencana pembelajaran yang sudah biasa kita buat setiap 6 bulan atau 1 tahun sekali. harus ada acuannya. Saya juga belum paham nih apakah professional guru itu hanya dinilai dari kemampuan menulis? Mungkin itu salah satu factor profesionalisme guru. Saya tidak tahu, besuk kita langsung tanya sama pakarnya.
 
Om Jay juga memaparkan bahwa tidak banyak guru yang mampu menulis dan menerbitkan buku. Dari ungkapan Om Jay tersebut saya setuju. Karena memang sampai sekarang yang saya tahu penulis rata-rata bukan berprofesi sebagai guru. Hampir tidak ada guru yang berprofesi sekaligus sebagai penulis. Tentu ini ada beberapa kendala dan penyebabnya. Entah apakah karena gurunya yang memang tidak bisa menulis, atau guru bisa menulis tapi tidak tahu harus dikemanakan tulisannya, atau guru punya keinginan menulis tetapi masih bingung akan mulai dari mana, atau guru sudah punya karya tulis tapi hanya sebatas untuk diri sendiri dan tidak dipublikasi, atau ada juga guru-guru yang menulis tapi hanya untuk kebutuhan naik jabatan.
 
Masih mengenai materi yang Om Jay sampaikan, bahwa guru yang tidak bisa menulis adalah guru yang kurang banyak membaca buku. Ini bisa jadi wawasan guru tidak akan bertambah jika tidak membuka jendela dunia. Buku adalah salah satu jendela dunia. Guru tidak akan bertambah wawasan karena enggan membaca buku atau pengetahuan lain. Tambah lagi para guru jarang membeli buku baru. Padahal menurut Om Jay, membeli buku baru dan langsung dibaca dipelajari sangat penting untuk menambah ilmu. “mereka para guru yang mampu menulis adalah para guru yang rajin membaca. Bahkan bukan cuma rajin membaca buku tapi juga membaca berbagai media informasi termasuk whatshap yang berisi pengetahuan dan wawasan.
 
Bagi guru membaca dan menulis adalah sebuah kebutuhan. Namun sayangnya, masih banyak guru yang menganggap menulis adalah beban dan bukan kebutuhan. Karena dianggap suatu beban sehingga tidak ada guru yang mau menerima beban menulis. Akan berbeda jika beban itu adalah sebuah gaya hidup, pasti semua akan rebutan agar bisa memiliki gaya hidup terbaik. Untuk hal ini guru harus merubah pola pikir dan berani melawan dirinya sendiri bahwa menulis itu bukan suatu beban tapi sebuah perjalanan pikir yang menyenangkan.
 
Hingga kini belum banyak guru yang menulis buku, padahal buku adalah jendela pengetahuan yang bisa melihat kemajuan zaman dan kemajuan hidup berbagai pembangunan seluruh peradaban dunia. Om jay mengatakan “mereka yang telah mampu menulis dan menerbitkan buku adalah mereka yang melatih dirinya dengan penuh kesabaran. Sebab menulis bukanlah pekerjaan instan. Ada proses yang harus dilalui dari mulai belajar menulis sampai kemudian menerbitkannya.
Menulis yang baik dan bisa menambah wawasan dapat terwujud dari seorang penulis yang bisa memberi jalan keluar dari sebuah kesulitan, memberi solusi bagi siapa saja yang mengalami tragedi, juga memberi inspirasi bagi siapa saja yang sedang butuh air yang menyejukkan hati. Semua itu tidak bisa dengan hanya abakadabra, butuh proses dan perjuangan. Apalagi kalau kalau kita belum punya ilmu menulis, baru memiliki minat atau keinginan untuk menulis, pastinya tahapan-tahapan untuk menulis harus diikuti dan dilalui agar berhasil sampai penerbit untuk diterbitkan menjadi buku yang diakui.
 
Guru adalah sumber ilmu yang bisa langsung ditanya dan langsung menjawab. Itu kemungkinan juga terbatas dan terjadi hanya di sekolah atau pada tatap muka dalam proses belajar mengajar. Namun akan lebih bermanfaat jika semua ilmu yang bapak ibu guru miliki bisa tertuang dalam tulisan apalagi dalam buku. Karena menurut Om Jay dengan menerbitkan buku, maka semakin banyak guru yang menjadi lebih menguasai materinya dengan baik. Selain itu ilmunya dapat tersebar luas kepada orang banyak. Guru tidak hanya mengajar muridnya di kelas tapi juga mereka yang belajar melalui membaca buku. Semakin banyak buku akan semakin membantu membuka jendela dunia kepada semua pembaca.
Dengan menerbitkan buku akan turut menuliskan sejarah perkembangan pengetahuan dan pembelajaran. Buku yang bagus tidak diselesaikan dengan cara cepat. Guru menuliskannya sedikit demi sedikit. Bila dilakukan setiap hari maka lama-lama menjadi bukit. Artinya semaki rajin kita menabung tulisan berarti kita akan semakin kaya dengan ide,gagasan dan ilmu yang telah kita kuasai bisa dipelajari juga oleh orang lain. Semakin banyak buku yang kita terbitkan, berarti pula kita sudah memberi solusi pada setiap kesulitan yang dialami manusia. Ilmu yg didapat dapat tersebar dengan cepat.
 
Itu sekelumit tulisan hasil pemahaman saya terhadap apa yang sudah disampaikan Om Jay pada pada pertemuan pertama dan materi pertama belajar menulis bersama Om Jay. Semoga bisa memberi manfaat dan membuka wawasan serta memotivasi kita untuk segera menulis sebanyak-banyaknya tanpa harus merasa rugi karena sudah memberi pintu dan jendela dunia melalui kemampuan menulis bersama Om Jay ini.
 
Ayo segera luangkan waktu, tulislah sedikit demi sedikit biar lama-lama akan menjadi bukit pengetahuan yang memberi penawar dahaga bagi siapa saja yang haus dan membutuhkan air kesejukan yang berupa ilmu pengetahuan.

Baca lebih lanjut

HIJRAH SUKSESKAN PENDIDIKAN ABAD 21

HIJRAH SUKSESKAN PENDIDIKAN ABAD 21

Oleh

Sis Ariyanti, S.S.

Kemajuan teknologi saat ini sangat menguntungkan dan mendukung dunia pendidikan. Guru dapat berkreasi dan berinovasi dalam menyajikan materi yang menarik untuk peserta didik. Jika sebelumnya, guru kesulitan menemukan cara yang mampu membuat peserta didik paham serta menikmati pembelajaran. Kini dengan bantuan berbagai aplikasi seperti lectora, microsoft 365, mindlite, dan lain-lain, guru mampu menciptakan pembelajaran interaktif. Melalui classedmodo misalnya, guru dapat mengirim file materi dan latihan soal yang dapat dikerjakan di rumah. Menciptakan pembelajaran jarak jauh. Peserta didik dapat belajar kapan saja tanpa harus bertatap muka.

Baca lebih lanjut

Berani Belajar Menulis

Tugas 1

Berani Belajar Menulis

Oleh: Nunuk Marsiti

WhatsApp Image 2017-10-02 at 15.46.55

            Saya orang yang introvert dan pemalu. Meskipun saya sering naik panggung untuk pentas menari sewaktu masih sekolah dan meraih beberapa kejuaraan lomba tari, tapi sebenarnya saya tidak suka orang lain tahu siapa diriku dan lebih cenderung tidak ingin dikenal orang. Meski begitu ternyata banyak juga orang yang mengenal dan tahu siapa namaku. Saking tertutupnya, maka saya lebih suka menuliskan apa yang terjadi, apa yang terpikir, dan apa yang saya alami dalam bentuk tulisan walaupun masih dibuku harian. Soalnya kalau sudah menulis rasanya plong, seperti sudah bercerita ke orang lain dan bercerita ke banyak orang. Padahal masih di buku Diary.

Baca lebih lanjut

Etika TIK Masuk Kurikulum Kita

Etika TIK Masuk Kurikulum Kita

Oleh: Agus Sukamto

Melihat begitu cepatnya perkembangan teknologi dan informasi sekarang ini membuat hati ini merasa senang. Perkembangan teknologi sekarang ini tidak lagi dihitung dengan tahun, tetapi dihitung dengan bulan. Bahkan, teknologi berubah saat hari berganti. Perkembangan itu tentu saja menjadikan segala urusan kita menjadi lebih mudah. Segala kebutuhan yang kita inginkan dapat kita peroleh dengan mudah.

Baca lebih lanjut

Belajar Menulis Bersama Omjay Gelombang 5

BELAJAR MENULIS BERSAMA OMJAY

Oleh: Riza Fitriyah

Bismillahirrahmanirrohim.

Assalamualaikum Wr. Wb.

Akhirnya saya beranikan diri untuk mengerjakan tugas pertama dari omjay yang sebelumnya saya masih kurang faham tentang apa yang harus ditulis. Dari hasil membaca artikel-artikel yang diposting oleh omjay di blognya dan bertanya ke sesama teman di wa grup ”Belajar Menulis Bersama Omjay gelombang 5”, akhirnya saya mendapat gambaran tentang tugas pertama ini.

Baca lebih lanjut

Abah

Abah

Oleh:Ririn Arini

Abah. itulah panggilanmu saat ini. saat anak perempuanmu melahirkan anak laki-laki. sekarang kau sudah memiliki cucu. abah kau sudah semakin tua, rambutmu yang hitam kini berubah menjadi putih. Tubuhmu yang kekar kini mulai mengeluh lelah.

Baca lebih lanjut

Aku Ingin Menulis

Aku Ingin Menulis

Oleh Remy Setyowati

 

Kata Om Jay, “Seorang guru harus bisa menulis”. Tentu dong! Kalau buta huruf tidak bisa jadi guru. He…he…he… piss Om Jay.

Saya adalah seorang guru SD. Menulis itu menjadi momok yang menakutkan bagi saya. Rasanya itu seperti dapat hukuman kalau di suruh menulis. Padahal dalam pelajaran Bahasa Indonesia saya sering menyuruh murid – murid untuk menulis pengalaman pribadi mereka yang menyenangkan atau menyedihkan.

Baca lebih lanjut