Saya Tidak Bisa Menulis

SAYA TIDAK BISA MENULIS

Oleh: Rahayu Widayanti

 

Saya tidak bisa menulis, saya tidak yakin apakah saya bisa menulis. Seandainya saya menulis, saya tidak yakin apakah tulisan saya layak dibaca, ataukah hanya sekedar membuang waktu bagi pembaca saja. Yang jelas, tulisan ini adalah TULISAN PERTAMA saya.

Belakangan ini, nampaknya sedang marak gerakan literasi. Saya perhatikan, banyak sekali pelatihan menulis digelar diberbagai kota, dan selalu dibanjiri oleh peserta yang antusias mengikutinya. Beberapa bahkan menerapkan kuota terbatas untuk menyaring pesertanya. Beberapa lagi bahkan menetapkan tarif yang mahal untuk pelatihan menulis yang diadakan dihotel, namun tidak mengurangi minat peserta untuk mengikutinya.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun tahun ini menggelar ajang bergengsi mengenai workshop literasi, yang tentu saja pesertanya adalah orang-orang pilihan yang telah berprestasi di even nasional sebelumnya. Dan tentu saja bukan orang seperti sayalah yang diundang di event berkelas seperti itu…hahaha…apalah saya ini, remah-remah rengginang saja…he he he…

Tidak hanya kegiatan workshop kepenulisan, banyak pula informasi lomba menulis yang digelar, baik untuk guru maupun untuk pelajar. Hal ini menunjukkan, betapa seriusnya dunia pendidikan kita saat ini menanamkan gerakan literasi, agar pelajar dan juga guru, terbiasa untuk membaca, terbiasa membuat karya tulis, dan terbiasa untuk berinovasi tiada henti melalui berbagai kegiatan perlombaan tersebut. Dan sekali lagi, saya belum menjadi bagian dari kompetisi tersebut, sekali lagi karena saya tidak bisa menulis menurut saya, dan saya tidak yakin apakah saya bisa menulis. Bagaimana dengan siswa saya? Ah, gurunya saja –saya- tidak bisa menulis, bagaimana cara saya mengajari siswa saya untuk menulis? Apalagi kok mau diikutkan lomba. Hmmm….

Ingatan saya tiba-tiba muncul kembali ke masa SD saya yang aktif dan bahagia, he he he…. saya ingat, saat itu sering mendengarkan sandiwara radio Nini Pelet yang disiarkan setiap hari pukul 17.00 dan melihat serial Wiro Sableng di RCTI setiap hari minggu. Ternyata imajinasi saya begitu terbawa dengan kisah-kisah berbau kolosal, dan saya pernah menulis sebuah cerita kolosal juga akhirnya, yang jalan ceritanya berkisah tentang petualangan, pengembaraan, bela diri, dan cinta…. sekitar 100 halaman juga saya membuat cerita itu. Ah, entah seperti apa cerita yang dibuat seorang anak SD waktu itu, mungkin saya akan tertawa kalau buku bersampul karton warna coklat itu ketemu, sayangnya buku itu sudah hilang.

Ketika SMP, saya hobi korespondensi, bisa dikatakan menulis apa tidak ya…, hampir setiap hari saya mendapat surat dari beberapa sahabat pena dari luar kota, dan kami rutin berbalas surat sampai saya lulus SMP. Ratusan surat saya simpan, ratusan perangko melengkapi koleksi filateli saya. Tetapi tetap saja, saya tidak bisa menulis kan…?

Saat kuliah, saya paling suka mengikuti kegiatan pelatihan atau workshop mahasiswa apapun tema nya. Setiap workshop akan saya simpan berkas-berkasnya untuk dokumentasi pribadi saya. Mulai undangan, brosur, tanda peserta, handout materi, catatan tulisan tangan hingga sertifikatnya, Lengkap!. Dan ini sangat membantu saya ketika saya diminta untuk mengisi adik-adik mahasiswa ketika itu, dalam beberapa acara pelatihan yang meminta saya untuk menjadi salah satu pematerinya. Tentu saya harus menulis handout materi saya, tetapi saat itu yah, hanya sebatas apa yang menurut saya perlu saya tulis begitu saja. Entah seperti apa tulisan saya waktu itu, beberapa masih saya simpan tulisan saya, tetapi sampai saat ini saya masih merasa, saya tidak bisa menulis.

Awal menjadi guru, seorang teman menawari saya untuk mencoba membuat blog. Saya membuat, belum tau juga blog itu arahnya kemana, hanya saya isi dengan artikel-artikel yang copas dari sana sini, dengan menyebutkan sumbernya tentu saja, dan akhirnya juga tidak saya manfaatkan karena saat itu waktu dan pikiran saya habis untuk mengurus 3 balita putri kecil saya, selain mengajar dengan jarak tempuh Pergi Pulang (PP) 90-an Kilometer. Sayapun sekarang sudah lupa dengan password akun blog saya tersebut. Hmmm….

Akhirnya saya berpikir, jika saya begini terus, tidak mau belajar menulis, tidak mau memulai untuk mencoba menulis, saya akan ditinggalkan jauh oleh jaman. Teman-teman sudah banyak yang mengikuti pelatihan menulis, sudah banyak yang membuat buku, sementara saya sama sekali belum mengenal dunia kepenulisan.

Kesadaran inilah yang mendorong saya untuk menghubungi Bpk Wijaya Kusumah, M.Pd agar saya dapat bergabung di grup belajar menulis via aplikasi Whattsapp pada tanggal 30 September 2017. Om Jay –nama sapaan beliau- sungguh guru yang inspiratif dan sangat murah berbagi ilmu. Dengan segudang prestasi nasional beliau, berbagai kejuaraan beliau, dan puluhan buku bermutu yang beliau telah tulis, justru menjadikan beliau bersemangat untuk selalu berbagi ilmu.

Saya sempat berpikir, dengan beliau membuat grup belajar menulis ini, bukankah beliau justru bertambah repot harus melayani berbagai pertanyaan dari kami para peserta, yang diantara kami ada yang benar-benar dari nol pengalaman menulis, seperti saya ini contohnya. Tetapi beliau tidak tampak keberatan menjawab semua pertanyaan kami. Semua dijawab dengan tulus, gamblang, penuh kesabaran. Dan jika anda tau, tulisan pertama saya ini merupakan Tugas Pertama kami peserta grup belajar menulis. Kami diminta menulis minimal 700 kata, dengan diberikan waktu deadline 2 hari. Apakah ini sudah 700 kata? Karena sudah injury time ini saya menulis, karena hari ini jadwal saya mengajar full 8 jam.he he he…

Akhirnya, terimakasih om jay, memberikan saya kesempatan bergabung di grup belajar menulis. Terimakasih untuk ilmunya, semoga senantiasa membawa keberkahan bagi om jay karena selalu berbagi ilmu dengan tulus. Saya tidak yakin sebenarnya apakah saya bisa mengerjakan 7 tugas berikutnya yang akan om jay berikan sebagai bekal kami untuk berlatih menulis, tetapi Bismillah, saya ingin mencobanya. Seperti yang om jay selalu katakan kepada kami, menulislah setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi. Jadikanlah membaca sebagai makananmu, dan menulis sebagai minuman pelepas dahagamu.

Saya punya mimpi, kisah perjuangan kami dalam kegiatan pramuka, berkemah dari satu hutan ke hutan lain yang pernah saya alami bersama kontingen jambore nasional 2016 lalu, yang penuh dengan kucuran keringat dan airmata, sungguh ingin rasanya saya wujudkan kisah tersebut dalam sebuah buku…

Seperti yang om jay katakan, menulislah dari yang paling kamu senangi, dan yang paling kamu kuasai…

Mendung tebal, masih tertahan sendirian di sekolahku,

Wonogiri 3 Oktober 2017

Komentar ditutup.