Sinopsis Buku Jurnalis Muslim

Bismillah.

Sinopsis BUKU JURNALIS MUSLIM

Ada rencana, untuk menulis buku tentang jurnalisme Islam. Yaitu, tentang bagaimana memberitakan hal-hal positif tentang Islam dan bisa menconter pemikiran menyimpang dari Islam yang sesungguhnya. Dalam buku ini, tentu banyak meletakkan dasar-dasar kepenulisan, lalu bagaimana menulis berita yang baik, pembahasan media-media, dll.

Diantaranya cuplikan buku ini, sebagai berikut:

Dasar-dasar kepenulisan:

  1. Ikhlas
  2. Mengikuti Jalan Salafus Shalih
  3. Senantiasa Takut kepada Allah azza wajalla

Rasa takut seorang jurnalis muslim, baik di kala ia sendiri, apalagi ramai, merupakan pondasi kuat. Ia akan menjadikan pribadi jurnalis lebih profesional. Ia senantiasa merasa diawali oleh Allah azza wajalla.

  1. Berhias dengan Ilmu

Kesibukan mencari berita, jangan sampai menjadikan jurnalis melupakan majelis ilmu.

  1. Berjiwa Ksatria

Berani, tangguh, berakhlak mulia, mengedepankan kebaikan dan kebenaran, berkorban di jalan kebaikan, adalah jiwa jurnalis muslim. Ia bukanlah sosok lemah, kurang sabar, mudah menyerah, dan berakhlak buruk.

  1. Gemar Menulis
  2. Menyeleksi Sahabat
  3. Amanah
  4. Jujur

Rasulullah sholllahu alayhi wasallam bersabda, “Sesungguhnya kejujuran itu akan mengantarkan kepada jalan kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu akan mengantarkan ke dalam surga. Sesungguhnya orang yang benar-benar jujur akan dicatata di sisi Allah sebagai ash-shiddiq (orang yang jujur)….”(HR. Bukhari No. 2079)

  1. Senang Membaca

Al-Mubarrid rohimahulloh menceritakan kisah hidup Isma’il bin Ishaq rohimahulloh, “Saya tidak pernah menemuinya melainkan di tangannya pasti terdapat sebuah kitab yang ia baca, atau ia sedang membongkar kitab-kitab untuk mencari kitab yang akan dibacanya.”

(Taqyidul Ilmi, oleh Khatib Al- Baghdadi)

  1. Tidak Tergesa-tega dalam Memberitakan

Abdullah bin Mas’ud rodiyallahu anhu berkata, “Termasuk tanda kefaqihan seseorang adalah mengucapkan allahu a’lam terhadap sesuatu yang tidak ia ketahui.”

(Jami’ Bayanil Ilmi II/52)

  1. Mengklarifikasi Berita

Jabir bin Abdillah, sahabat yang mulia menceritakan kisah perjalanannya, beliau berkata, “Telah samapai kepadaku hadits dari Rasulullah yang akan belum mendengarnya. Maka, aku membeli unta dan aku ikat bekal perjalananku di atasnya. Aku berjalan selama 1 bulan hingga sampai ke Syam.

Aku lalu datang kepada Abdullah bin Unais. Aku berkata kepada penjaga pintu, “Katakan kepadanya, Jabir berada di depan pintu.”

Maka, penjaga itu pun mendatanginya. Abdullah bin Unais berkata kepadanya, “Jabir bin Abdillah?”

Penjaga itu pun datang kepadaku maka aku menjawab, “Benar.”

Penjaga itu pun kembali dan memberitakannya. Maka, Abdullah berdiri mengenakan bajunya hingga menemuiku maka dia memelukku dan aku pun memeluknya.

Aku berkata, “Satu hadits yang telah sampai kepadaku dari Anda dan Anda mendengarnya dari Rasulullah tentang qishash dan aku belum mendengarnya. Maka aku khawatir Anda mati atau aku mati belum aku mendengarnya.”

Maka, dia pun berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallahu alayhi wasallam bersabda, ‘….’(lalu menyebutkan hadits tersebut.”

  1. Semua Tulisan Akan Dipertanggungjawabkan di sisi Allah azza wajalla

Bagi jurnalis muslim, dia paham betul akan adanya hari akhir. Artinya, semua perilaku akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah azza wajalla. Pemberitaan akan dimintai tanggungjawab, menulis feature pun dimintai pertanggungjawaban, dan segalanya. Maka, kecerdasan jurnalis muslim ialah ia berfikir apakah efek yang akan muncul dari pemberitaan.

***

 Nah, itulah beberapa cuplikan awalnya.

Lalu, di bab berikutnya, ada pembahasan tentang media sekuler saat ini. AM. Waskito, menyebutkan, 10 Peran Destruktif Media Massa Sekuler di tengah Kehidupan Kaum Muslimin:

  1. Menyebarkan Kekufuran

Ajaran kekufuran (non Islam) banyak bertebaran di media-media, baik dituangkan secara vulgar maupun samar. Film kartun Bima Sakti yang ditayangkan untuk anak-anak, jelas merupakan dakwah ajaran Hindu. Film-film impor dari India, China, Thailand, dan lainnya juga pekat berisi pesan-pesan dakwah non Islam. Maka, di sinilah pentingnya Jurnalis Muslim mengedukasi pembelajaran tauhid kepada masyarakat. Sehingga, tidak terjerumus kepada tontonan beraroma kesyirikan (kekufuran).

  1. Menyebarkan Paganisme

Yaitu, liputan yang mengangkat tema kesyirikan, semisar film Harry Potter. Hal seperti ini harusnya dijauhi.

  1. Menyebarkan Aliran Sesat

Yaitu menjadi corong pembela Ahmadiyah, Syiah, dan sebagainya.

  1. Menyebarkan Hedonisme

Acara-acara entertainment yang bersifat destruktif, seperti konser musik, goyang dangdut, party-party, pornografi, dsb.

  1. Menyebarkan Konsumerisme
  2. Menyebarkan Kapitalisme
  3. Menyebarkan Kolonialisme
  4. Menyebarkan Konflik
  5. Menyebarkan Kebingungan Publik
  6. Menyebarkan Kepalsuan Informasi

Karena itulah, kehadiran jurnali muslim, insyaallah menjadi tameng dari segala penyesatan semua ini. Karena, kalau media itu bisa dimanfaatkan dengan baik, bisa mejadi seperti ini:

  1. Media menjadi sarana menyebarkan Ilmu syar’i
  2. Menjadi sebab tersebarnya dakwah
  3. Membela Islam
  4. Menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran
  5. Mendidik masyarakat
  6. Membangun peradaban

Tapi, kalau mindset pengelola media kurang baik, akan sulit mencapai hasil yang maksimal.

“Jurnalis merupakan profesi yang langka, apalagi jurnalis muslim, itu merupakan suatu hal yang harus disyukuri. Seorang dai juga seorang jurnalis karena dapat membela kepentingan Islam, menyerukan manusia kepada Allah,” kata Toni Syarqi—Anggota Dewan Syuro JITU–, dalam dauroh penerimaan JITU, Bogor (29/5/2016), dikutip dari jurnalisislam.com

Ok, terima kasih.

 

Komentar ditutup.