Tulisan Adalah Cerminan Diri

Tulisan adalah Cerminan Diri

Oleh: Arlin Mahardika

 

            Menulis merupakan salah satu kegiatan literasi. Menulis adalah keterampilan yang sulit, jika tidak berminat dan tidak pula ingin mengasah bakat. Dari semua keterampilan yang ada, menulis adalah keterampilan yang berada pada tingkat tertinggi, atau yang paling sulit.

Menulis kurang di gemari di kalangan masyarakat Indonesia. Hanya segelintir orang atau komunitas saja yang mau menulis.  Hal ini dikarenakan, di butuhkan banyak aspek keterampilan dalam menulis. Seseorang haruslah memiliki kosa kata yang banyak, struktur kata yang padu, pemilihan tema yang tepat, pemilihan topik yang benar dan kalimat-kalimat pendukung yang bersinergi sehingga sebuah tulisan dapat dipahami oleh pembaca dengan baik. Belum lagi teknik penulisan dan tanda baca yang selalu menjadi aturan permainan dalam sebuah tulisan, sehingga jika seseorang tidak biasa menulis, hal ini kan menjadi momok luar biasa.

            Kesulitan dalam menulis bukanlah hal yang mutlak, yang tidak ada solusinya. Rasa tidak percaya diri membuat seseorang tidak akan memulai pekerjaannya. Rasa rendah diri juga akan membuat sesorang malu dan tidak ingin mengembangkan potensi dirinya. Malas, bahkan lebih buruk. Meski seseorang memiliki bakat, jika malas sudah mengrogoti jiwa dan pikirannya, maka sesorang itu bahkan tidak bisa menolong dirinya untuk menulis, apa lagi orang lain.

            Keinginan yang kuat dan  kerja keras yang continue adalah kunci utama. Dengan keinginan yang kuat dan pembiasaan yang continue, maka seseorang akan mampu menulis. Keinginan adalah bagian dari motivasi. Motivasi terbagi atas dua, yaitu motivasi dari dalam dan dari luar. Dari dalam diri seseorang, artinya ia memiliki kesadaran akan pentingnya menulis dan keinginan untuk menulis yang diselaraskan oleh kebutuhan dirinya untuk menulis. Motivasi dari luar adalah stimulasi atau rangsangan dari luar diri seseorang, yang bisa saja ia peroleh dari teman,  lingkungan, tugas, dan peraturan.

Untuk mendapatkan motivasi dari luar diri yang optimal, seseorang dapat saja melakukan hal-hal yang membuatnya termotivasi seperti berteman dengan seorang penulis atau orang-orang yang gemar menulis, berada di lingkungan orang-orang penulis baik di lingkungan pergaulan nyata maupun di dunia maya,  dan melatih diri dengan mengikuti berbagai ajang menulis hingga ia termotivasi untuk belajar  dan mengup-grade kemampuan dirinya dalam menulis.

            Sejatinya, menulis adalah ungkapan hati dan pikiran seseorang. Dalam sebuah tulisan, kita dapat melihat gambaran hati seseorang, apa yang telah di laluinya, dan apa yang  di rasakannya. Begitu pun dengan pikiran. Melalui tulisan, kita bisa tahu pendapat seseorang, apa yang di pikirkannya, apa yang disarankannya dan sejauh apa pemikirannya tetentang sesuatu.  Hal itu bisa kita lihat dari bagaimana cara ia menyajikan informasi  dan argumentasinya dalam sebuah tulisan.

            Menulis adalah pembelajaran seumur hidup. Ia membutuhkan proses yang panjang. Dalam proses menjadikan sebuah tulisan itu bermakna dan bernilai, seseorang haruslah belajar seumur hidupnya. Tulisan menjadi bermakna dan bernilai, jika  didalamnya terdapat nilai-nilai yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Nilai-nilai ini sangat erat kaitannya dengan kebutuhan pembaca. Untuk memuat  nilai-nilai yang tepat, seorang penulis haruslah memiliki wawasan yang luas. Hal itu dikarenakan, tulisan seorang penulis haruslah memenuhi kebutuhan orang banyak. Wawasan yang luas tentu saja di peroleh dari kegiatan membaca sumber-sumber pengetahuan dan informasi yang banyak. Memiliki pengetahuan yang luas dan informasi yang banyak itulah yang akhirnya menjadi inspirasi bagi bagi penulis. Dengan membaca, penulis juga mampu mengetahui banyak informasi tentang apa yang di butuhkan oleh pembaca dan mengarahkan tulisannya pada kategori pembaca baik pada usia, gender, bidang pekerjaan, dan jenis tulisan lain baik fiksi mau pun non-fiksi.

            Tulisan dapat berupa fiksi dan non-fiksi. Tulisan fiksi merupakan karya sastra yang sedangkan tulisan non-fiksi bersifat ilmiah. Adapun tulisan-tulisan sastra antara lain buku cerita, autobography, buku puisi, naskah drama, dan lain-lain. Sedangkan  tulisan non-fiksi dapat berupa buku pelajaran, artikel, skripsi atau tulisan akademis lainnya.

Ketertarikan seseorang dalam menulis sebenarnya juga mengidentifikasi jati dirinya. Ada penulis yang tertarik dan memiliki bakat serta minat pada bidang fiksi. Dan aja juga yang tertarik menulis tulisan ilmiah. Bagi penulis fiksi, ia lebih membutuhkan banyak rasa dalam tulisannya. Sedangkan non-fiksi, membutuhkan logika, fakta, kebenaran dan argumentasi yang tepat. Ada juga penulis yang mau dan mampu menulis di kedua jenis tulisan ini. Hal ini tentu saja bisa terjadi. Karena menulis adalah sebuah keterampilan yang bisa dipelajari. Tentu saja, untuk menjadi penulis yang serba bisa, seorang penulis haruslah melewati latihan menulis dalam waktu yang lama dan panjang.

            Jadi dapat di simpulkan bahwa menulis adalah keterampilan tingkat tinggi yang bisa di pelajari dengan kerja keras yang continue dan motivasi yang tinggi. Hal ini dikarenakan banyak aspek yang harus di pelajari dalam menghasilkan sebuah tulisan yang bagus.

Menulis adalah proses pembelajaran seumur hidup, yang didalam hidupnya ia akan selalu belajar dan belajar. Membaca informasi dari segala sumber pengetahuan adalah usaha peningkatan wawasannya sebagai seorang penulis karena baginya itu adalah suatu kebutuhan. Pada tulisan, penulis mencurahkan rasa dan pikirannya yang merupakan cerminan dirinya. Hal ini dapat dilihat dari cara seorang penulis mengemas tulisannya. Hasil tulisan, baik fiksi maupun non-fiksi adalah karya seorang penulis yang mencerminkan jati dirinya.

Komentar ditutup.