Cerpen: Aku Indonesia

Cerita Pendek

Tema Lomba : “ Aku Indonesia”

Ibuku, Ibu Pertiwiku

 

Hari ini bertepatan dengan hari Kamis tanggal 30 September 2017. Pukul 21.41 WIB. Aku duduk didepan notebook tuaku. Note book yang pernah kubeli di sebuah Toko Elektronik di kota Bandung. Dengan harga 3.5 juta pada saat kubeli, dan  sempat kujual ke kakakku dalam kondisi baru dengan harga 2.5 juta. Dan note book ini  berada ditangan kakakku selama 4 tahun lamanya. Tibalah tahun kemarin kakakku menjual note book ini yang sudah beralih ke pamanku. Kubeli kembali dengan harga 700 ribu rupiah.

Kugunakan  note book ini,  yang baru satu bulan kutuliskan beberapa ide, dan karya tulis yang akan ku ikutkan lomba. Ku kirimkan naskah, dari lima yang terkirim  kudapatkan 4  undangan dari yang kuajukan dari note book ini. Hingga sekarang baru enam bulan  note book ini telah mengantarku ke Seminar Nasional, Literasi Nasional, Workshop Inovasi Belajar, dan Workshop Jurnal yang diadakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Alhamdulillh ilmuku bertambah dengan memulai menggoreskan pena diatas kertas putih yang menyalurkan isi pikiranku, gagasan, keinginan, juga seberkas  pengalaman yang ingin kutuangkan agar bermanfaat bagi dunia pendidikan ataupun bidang lainnya.

***

Saat ini aku mengingat masa kecilku yang begitu bahagia, sangat bahagia. Tempat bermainku yang begitu alami dan banyak lahan luas yang bisa jelajahi. Sempatnya aku bermain di perkebunan, menaiki pohon kelapa, bermain ke pesawahan,  kadang bermain sendiri dengan beraninya ke pesawahan yang begitu luas, saat itu usiaku menginjak 9 tahun, kalau  bagi perempuan itu dibilang pemberani.  Ketemu ular yang cukup besar  panjang yang ada di sawahpun tak ada rasa takut, karena berpikiran ular juga pasti takut sama manusia, aku biarkan saja dia meneruskan perjalananya menyebrangi  jalan yang akan kulewati.

Permainan tradisional yang kualami begitu menyenangkan. Salah satunya permainan Galah Asin. Saya ajak  teman-teman sekitar 9 orang. Disitu kita harus melewati lawan dengan  begitu cepat dan hati-hati jangan sampai tersentuh atau tertangkap.  Jantung begitu berdebar saat akan melewati garis lawan. Satu persatu aku dapat melewati  garis lawan dengan sangat tangkas  dan lolos ke garis final. Permainan  Galah asin mendidik  para generasi muda agar bersikap hati-hati, bersikap cekatan dan harus menjaga garis lawan atau musuh yang hendak melawan kita.

Ada perminan lan lagi, yaitu Hahayaman. Dalam permainan hahayaman salah seorang akan bertindak sebagai hayam (ayam) dan seorang menjadi careuh (musang), musang akan mengejar ayam sampai tertangkap.Permainan ini biasanya dimainkan beramai-ramai, pemain lain selain ayam dan musang akan membuat lingkaran yang berfungsi sebagai kandang atau tempat perlindungan ayam. jika ayam masuk kedalam kandang maka pemain yang membuat lingkaran harus cepat menurunkan pegangan tangannya untuk menutup kandang. Permainan selesai kalau ayam tertangkap atau musang menyerah tidak dapat menangkap ayam. dan dilanjutkan dengan mengundi permain baru.                                                                    Budaya Indonesia.org

Permainan itu sangat membuat anak-anak sekampungku bergembira, beradu tawa, kebersamaan begitu terasa.

***

Masakan yang begitu sederhana, namun begitu menggugah selera dan lidah ku tak sabar menunggunya,  ibuku  memasak di dapur. Ibu ku yang senantiasa cekatan memenuhi kebutuhan  adik kakakku, yang selalu membuat keadaan rumah aman, nyaman dan tentram. Semua kujalani begitu indah masa kecilku. Ibuku tidak membebaskan ku liar bermain, namun memperkenalkan aku dengan alam yang begitu mempesona. Dan memuaskan masa kecilku yang penuh dengan petualang.

 

Ibuku bercerita padaku :

 Nak, ingatkah  kamu saat kecil dulu, saat berusia 6 tahun, mengambil layangan diatas rumah ?

Aku teringat kembali dari perkataan ibuku :  Iya bu, aku ingat bu…

 

Ibu :

Kenapa kamu bisa begitu berani naik keatas rumah membawa layangan itu, padahal sudah sobek.. he…. (ibuku terlihat manis saat tersenyum mengetawakan masa kecilku itu )?

Aku :

Gak tau bu,  waktu itu aku ingn mengambil layangan , kebetulan yang aku lihat dipinggir rumah ada tangga sederhana buatan ayah. Rumah setinggi 5 meter aku naiki. Kutelusuri  atap berbahan asbes untuk melewati rumah agar sampai ke antenna tv. Karena ada layangan tersangkut di antenna itu… aku dapatkan .. berkata Horreeee !!. akupun balik kembali  memegang paku yang menempel asbes  hingga merangkak menuju tangga  diujung sana . kakiku langsug tertuju ke tangga .. akupun turun.. dibawah  ternyata pada berkumpul  ayah ibu dan saudara lain saat melihat aku mengambil layangan ..

Ibu : Kamu ini nak, ada ada saja.. sampai bikin ibu khawatir.

Kami berdua tertawa mengingat pengalamanku mengambil layangan sobek diatap rumah. Dari pengalaman itu begitu beraninya seorang anak menghadapi rintangan hingga memperoleh apa yang ditujunya.

***

Masa anak-anaku telah beralih ke  tahapan remaja akupun disekolahkan  ibuku dengan biaya seadanya, Karena perekonomian kami  bisa dibilang cukup Alhamdulillah. Namun saat itu ayah memiliki penghasilan yang berkecukupan . ibu ku memiliki usaha jahit yang diminati  warga, hingga ibu dapat menyekolahkan kami.  Saat itu aku teringat apa kata ibu.

Ibu :

Nak, ibu dapat menyelolahkan kamu dengan membekali uang 250 rupiah. Nanti kalau mau jajan  berarti  pulangnya jalan kaki.

 

Aku pun menjawab :

 Iya ibu, siap saya ikuti kata ibu, yang penting  aku bisa sekolah bu..

Perjalanan kulalui selama remaja. Ibuku menghidupi keluarga juga peran ayah sebagai kepala keluarga yang begitu berjasa membesarkan dan mendidik kami. Waktu  berjalan aku menjalani ujian Nasional kelas tiga di Madrasah Tsanawiyah Bandung.

Aku melihat ada ambulan berbunyi disuatu rumah sakit yang kulihat.. dan aku melihat tulisan Innalillahiiwainnailaihi roojiuun.  Akupun terbangun ternyata hanyalah mimpiku. Aku menuju kesekolah dan melaksanakan Ujian Nasional  waktu itu tahun 1995, ujian kujalani dengan sungguh-sungguh. Namun perasaanku terasa tak nyaman dan gelisah. Aku pulang kerumahku  tidak ada ada orang satu pun dirumahku.. “kemana  semua orang yang dirumah?” sahutku. Lalu tetanggaku datang dan mengatakan bahwa ibuku dibawa kerumah sakit Hasan Sadikin Bandung. Akupun lemas, dan  bergegas ke rumah sakit kutemui ibuku terbaring. Hidungnya terpasang saluran selang yang memasukkan makanan ke pencernaannya. Ibuuuuu …(akupun sedih lemas tak berdaya). Ibuku terkena strok (pecahnya pembuluh darah di otak kepala belahan kanan dan belhan kiri.Sehingga kemungkinan lumpuh. dikedua otaknya. Ibu gak bisa berkomunikasi, hanya dzikir yang dapat ku  ucapkan ke teling ibuku.

Ruangan itu UGD (unit Gawat Darurat). Satu persatu pasien meninggal, akupun sangat takut malaikat ijrail mencabut nyawa pasien yang ada di depan   barisan ibuku.  Hingga ibuku yang terpanggil oleh-Nya.. Ibu…….Ibu……..  aku iklhaskan ibu, dipanggil-Nya karena Allah Swt Sayang Ibu.

Ibuku Sayang

Dalam janin aku dijaganya

Ketika lahir, aku diberinya asi,

Kumenangis  diberinya pelukan kehangatan

Ketakutan, ibu beri aku rasa aman

Hari-hariku  tak dapat kujalani tanpamu ibu

Sedikitpun belum pernah tanpamu

Masa kecilku kau jaga aku

Masa remajaku, ka bimbing, nasehati aku

Tetap  sebagai seorang perempuan baik

Ibu, ,,, senyummu

Ibu .. pelukanmu

Ibu .. kasih saayangmu

Kini  tak ada lagi, namun tetap tertanam diingatanku

Kuberdoa Pada-Nya Berikan tempat mulia buat ibuku

Hanya satu pesanmu padaku

Jadilah wanita kuat

(kuat dalam menghadapi segala rintangan,  meneruskan pendidikan, menggapai cita-cita, tentunya jadi anak shalehah)

           Aku mulai saat itu bertekad menjadi anak perempuan yang  kuat, menempuh pendidikan dengan bersungguh-sungguh hingga saat ini  aku dapat menjadi seoang guru. Seorang guru yang diinginkan ibu. Seorang guru yang dapat mengabdikan diri buat keluarga, masyarakat, bangsa yang utama agama.

          Saat ini zaman telah berubah menjadi berbeda. Aku alami perubahan masa  dulu ke masa modern sekarang. Generasi sekarang anak-anak sudah tidak mengalami masa permainan tradisional. Sudah layaknya kita harus  lestarikan budaya bangsa  dengan berbagai bidang. Walau sedikit kita lakukan namun memberikan makna membangun cinta budya bangsa.

         Kini aku sebagai pendidik, aku merasa bangga dapat meneruskan perjuangan para pahlawan untuk mempertahankan kemerdekaan dengan membentuk karakter dan budaya literasi generasi mendatang. Hingga mereka menjadi generasi berkarakter dan cinta literasi di tahun 2045 nanti. Aamiin ya Rabb

 Ibuku yang mengantarkanku hingga kini, namanya tak akan pernah hilang dihatiku. Indonesia Ibu pertiwiki yang harus ku jaga. Sedih teriris saat menyanyikan lagu ibu pertiwi ini..

Ibu Pertiwi

Cipta : Ismail Marzuki

kulihat ibu pertiwi
sedang bersusah hati
air matamu berlinang
mas intanmu terkenang

hutan gunung sawah lautan
simpanan kekayaan
kini ibu sedang susah
merintih dan berdoa

Aku tidak mau membuat ibuku bersedih, walau tak sempat ku membalas jasanya yang tak pernah bisa terbalaskan.  Indonesia  sebagai ibu pertiwiku yang harus aku jaga  seperti aku menjaga ibuku. Karena aku dan ibuku lahir dan menetap di Indonesia.  Yang harus kita jaga  jangan sampai hilang Indonesia dirampas oleh bangsa lain.

 

Jadi guru aku bisa jaga ibu pertiwiku, semoga

Sumber bacaan :

cikguujang.blogspot.com diunduh 22.32 WIB Sabtu 30 september 2017

Selesai jam 11.53 WIB tanggal 30 september 2007

 

Komentar ditutup.