Cerpen: Mutiara Bangsaku

Mutiara Buat Bangsaku

Malam ini saya ingin menulis lagi pengalaman yang kudapat hari ini di sekolah. Saya mulai membiasakan diri sebelum tidur di malam hari, menuangkan pengalaman dengan mengetikkan pada laptopku. Harapanku beberapa bulan ke depan, bisa menjadi kumpulan cerita pengalamanku dalam satu buku.

Tadi pagi saya mengamati seorang siswa pada kelas yang saya ajar, seorang anak laki-laki bernama La Tappa. Menurut saya anak ini unik, dia sederhana namun cerdas dan banyak kelebihannya dibanding teman-teman lainnya. Tapi saya belum tahu secara detail latar belakang keluarga anak ini, dimana dia tinggal, dan lain-lainnya.

Saking penasaranku, saya menemui wali kelasnya, Bu Ratna. Dari Bu Ratna informasi kudapatkan bahwa La Tappa tinggal di pinggiran pantai Mallawa, sekitar 2 kilometer dari sekolah. Dia sudah yatim piatu dan hanya tinggal berempat bersaudara di rumah yang kecil peninggalan orang tuanya. La Tappa anak ke-2, kakaknya hanya sampai tamat SMA saja, dan lebih memilih bekerja apa saja yang penting halal demi membiayai ketiga adiknya sekolah, termasuk La Tappa.

Saya perhatikan pada wajah La Tappa sehari-hari di sekolah, tidak menampakkan kesedihan karena dia seorang yatim piatu, malah sebaliknya, dia seorang periang, ramah, ulet, dan selalu bersemangat dalam belajar dan bergaul dengan kawan-kawannya. Saya tertarik dan sengaja saya panggil di ruangan saya disaat waktu istirahat tadi untuk mengobrol dengan dia.

Ternyata saya tidak menduga, La Tappa bercita-cita menjadi guru. Saya tanya, “kenapa tidak mau jadi dokter? kan bisa dapat uang banyak tuh…”. Diluar dugaan saya, dia menjawab “Saya ingin seperti Bapak, selalu bersemangat mengajari kami, selalu memberi motivasi dan dorongan untuk menggapai cita-cita di masa yang akan datang, dan selalu menanamkan cinta Indonesia. Saya ingin seperti Bapak, akan mengajarkan hal-hal kebaikan dan berbagai pengetahuan yang sangat berguna kepada kami. Saya juga mau mencerdaskan anak-anak Indonesia dimasa yang akan datang”. Alhamdulillah, saya terharu dengan jawaban La Tappa, mata saya berkaca-kaca. “Aamiin, semoga Allah meridhai cita-citamu itu ya nak”.  “Iya pak, terima kasih”.

Dalam percakapan saya tadi dengan La Tappa, ternyata dia berjalan kaki saja kesekolah, tidak seperti teman-temannya yang lain, banyak yang naik sepeda atau diantar jemput oleh orang tuanya, bahkan beberapa anak yang memakai motor ke sekolah, padahal sudah dilarang oleh pihak sekolah dan Kepolisian, tapi mereka menitip parkirnya di rumah-rumah penduduk di sekitar sekolah.

La Tappa juga setelah pulang sekolah, tidak seperti anak-anak lainnya yang bermain di lapangan, tapi dia berusaha mencari penghasilan tambahan misalnya turun ke laut mencari ikan. Dari hasil ini dia bisa membeli kebutuhan pangan di rumahnya, membeli buku dan perlengkapan sekolah, dan membantu kedua adik perempuannya yang masih duduk di SD kelas III dan VI, sungguh anak yang mulia dan bertanggungjawab, semoga kelak engkau menjadi guru yang penuh semangat dan menginspirasi anak-anak didikmu.

Semoga sosok La Tappa ini yang akan membangun Indonesia di masa yang akan datang. Di pundaknya kita titipkan negeri kita ini. Saya bertekad akan terus mencari dan mendidik anak-anakku yang lain di sekolah ini untuk menjadi sosok seperti La Tappa. Jadilah generasi emas untuk Indonesia di masa yang akan datang, padamulah kami titipkan cita-cita bangsa ini.

Sering saya menatap wajah-wajah mereka, dalam hati yang paling dalam saya berkata, diantara mereka ini pasti ada yang menjadi mutiara bangsa ini, mutiara yang mengharumkan bangsa ini, mutiara yang mengangkat negeri ini semakin maju. Tapi saya tidak tahu, siapa di antara mereka yang menjadi mutiara bangsaku, saya hanya mendidik, memotivasi, dan menginspirasi mereka semuanya, semoga kelak berguna bagi negeriku ini.

Sebelum pulang sekolah, saya menemui Bu Rahma, yang mengurusi tentang beasiswa di sekolahku. Kusampaikan bahwa La Tappa sangat wajar diberi beasiswa, selanjutnya diusulkannya lewat Data Pokok Pendidikan (Dapodik) sekolah.

Malam ini aku tersenyum sebelum tidur, tersenyum membayangkan La Tappa yang walaupun sudah tidak memiliki orang tua tapi dia periang, penuh semangat, selalu membantu dalam belajar teman-temannya, dan dekat dengan semua guru. La Tappa membuatku lebih semangat lagi dalam mengajar. Guru yang mengajar anak-anak Indonesia.

BIODATA PENULIS

Nama                            :    SARWAN

Tempat/Tgl. Lahir         :    Soppeng, 16 Mei 1970

Pekerjaan                      :    Guru (IPA)

Unit Kerja                     :    SMP Negeri 1 Mallusetasi

Alamat Sekolah            :    Palanro Kec. Mallusetasi, Kab. Barru, Sulsel. Kode Pos 90753

Alamat Rumah              :    Jl. A.M. Yahya P.Nai No.17, Kel. Sumpang Binangae, Kec. Barru, Kab. Barru. Sulsel. 90711

No. HP.                         :    085299633747

Email                             :    sarwanpawiseang@gmail.com

Komentar ditutup.