Dan Akhirnya, Saya(pun) Menulis

Dan Akhirnya Saya(pun) Menulis

Oleh: Nining Fatmawati

 

Menulis? Wow, itu ‘kan pekerjaan kaum intelek ? pekerjaan yang sangat bergengsi dan terdengar sangat hebat. Hmmm, seperti itulah kesan saya tentang pekerjaan yang satu ini. Ya, menulis ! Kalau boleh meminjam istilah kekinian “menulis itu keren”.

Luar biasa sekali bisa menuangkan ide, gagasan, dan apapun itu namanya ke dalam kalimat-kalimat yang baik, runtut dan dimengerti orang lain. hebat ‘kan ? Ya, menurut saya itu sangat luar biasa. Apalagi sampai bisa membuat sebuah buku, sungguh sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Tetapi,  untuk memulai pekerjaan hebat ini terasa sangat sulit. Lebih sulit dari menahan keinginan untuk makan cokelat tapi sedang ingin kurus, duh tersiksanya (hehehe, saya tersenyum sendiri).

Bisa dibayangkan ‘kan bagaimana perasaannya ketika merasa memiliki puluhan bahkan ratusan ide di kepala tapi tidak bisa dikeluarkan dalam bentuk susunan abjad. Hanya menari-nari memenuhi kepala dan kadang bisa mengundang migrain, hehehe.

Ini yang saya alami, orang lain mungkin berbeda lagi. Tetapi saya yakin, banyak juga yang mengalami hal yang sama dengan saya yang sering dihampiri ide ketika sedang melakukan aktifitas-aktifitas yang tidak berhubungan dengan “menulis”. Betul tidak?

Baiklah, saya ambil contoh saja ketika perjalanan menuju ke tempat kerja, misalnya. Saat-saat seperti itu ide-ide bagus bermunculan. Hebatnya lagi kalimat-kalimatnya pun tersusun dengan baik sekali dan sangat lancar. Jika sudah begitu, setibanya di tempat kerja, selagi ada waktu luang cepat-cepatlah saya membuka laptop dan mencoba menuliskan apa yang sepanjang perjalanan sudah saya rencanakan dengan sempurna.

Tapi, oh tidak! Begitu sudah berhadapan dengan laptop saya selalu diam membisu layaknya remaja yang jatuh cinta, berhadapan dengan pujaan hati dan tidak bisa harus berkata apa, membisu!  Jari-jari kedua tangan saya berhenti tepat beberapa mili saja di atas keypad dan tidak sampai menyentuhnya.

Saya tidak tahu apa kata pertama yang harus saya tulis. Saya tidak tahu huruf mana dulu yang harus saya klik! Dan akhirnya, tutup lagi deh laptopnya. Gagal saya untuk yang ke sekian kalinya. Maaf, Ibu…! Lirih suara saya, Seperti lagunya Iwan Fals.

Dan akhirnya setelah demikian lelahnya liku-liku perjalanan “keinginan” saya di kepala, Allah SWT menuntun saya ke sebuah jalan. Dan di jalan itu saya bertemu seseorang, dialah Om Jay yang bersedia mengajari saya menulis. Panggilan  yang sangat  bersahabat, akrab, dan nyaman di hati ketika diucapkan di mulut. Menurut saya begitu. Oh, apa saya berlebihan? Tidak, saya ‘kan hanya mencoba belajar menulis apapun yang ada dalam hati saya tanpa takut salah. Sudah itu saja!

Om Jay adalah guru menulis saya, panggilannya sangat “welcome” tidak angker. Coba kalau panggilannya “Prof. Jay” minder duluan saya. Hehehe… Bersama Om Jay saya menemukan nyali untuk kembali membuka laptop. Dan Bismilah, saya berhasil menggerakkan jari-jari di atas abjad pada laptop. Alhamdulillah saya bisa memulainya. Mematahkan kekakuan saya yang sudah sekian abad (eh sekian lama maksud saya) menyiksa batin, aduh sampai sebegitunya. Kata Om Jay  tulis saja hal yang  paling disukai, jadi menulislah saya tentang apa yang saya sukai.

Eh, ternyata keluar dari topik yang diminta Om Jay. Tertawalah saya pada diri sendiri. Sepertinya saya butuh minum yang banyak untuk mengembalikan kon-sen-tra-si, iya konsentrasi!. Tidak masalah, it is not the end of the world. Ayo, menulis lagi. Semangat ya, Ning!

Baiklah, hal yang saya pelajari dari Om Jay diantaranya adalah mengingatkan saya kembali bahwa menulis adalah pekerjaan seorang guru yang profesional. Ya, karena memang salah satu tugas pokok dan fungsi guru adalah menuliskan perencanaan pembelajaran. Dan seperti kita ketahui bersama menuliskan rencana pembelajaran ini adalah pekerjaan yang kita lakukan setiap hari. Tapi rata-rata guru, salah satunya adalah saya mengatakan dengan sangat tegas bahwa “ tidak bisa menulis”. Benarkah begitu? Saya pun bingung untuk menjawabnya. Tapi kali ini  saya tidak khawatir, karena Om Jay membagi pengalamannya dalam menulis dan menerbitkan buku.

Menurut Om Jay, hanya sedikit guru yang mampu menulis dan menerbitkan buku. Iya, benar sekali! Bagaimana mau menerbitkan buku, jika minat membaca sangat rendah. Wawasan guru sangat terbatas, kalaupun membaca mungkin hanya buku-buku pelajaran sekolah yang saya baca. Itu juga karena tuntutan pekerjaan saja yang mengharuskan saya membaca materi pelajaran. Apalagi untuk membeli buku baru, bahkan tidak terpikirkan oleh guru. Mungkin lebih penting membeli baju baru atau model jilbab yang up to date ya?!

Padahal dengan membaca, wawasan menjadi lebih luas, kosakata untuk menulis juga akan bertambah. Karena para penulis adalah mereka yang rajin membaca, mereka yang menjadikan menulis dan membaca adalah kebutuhan. Bukan mereka yang merasa terbebani dengan pekerjaan yang satu ini. Jadi, benar jika saya harus bisa menaklukkan diri sendiri melawan rasa malas. Bukankah musuh yang nyata adalah diri kita sendiri, benar ?

Pepatah mengatakan berdikit-dikit lama-lama menjadi bukit. Saya tidak perlu memikirkan akan menjadi seperti apa tulisan saya. Hal yang terpenting adalah terus saja menggerakkan jari-jari meng-klik abjad demi abjad karena pekerjaan menulis memang bukan pekerjaan yang instan. Sim salabim cling langsung jadi dan mendadak hebat. Oh, tentu tidak!

Om Jay mengatakan kalau mereka yang mampu menulis dan menerbitkan buku adalah mereka yang terus melatih dirinya dengan penuh kesabaran dan melalui banyak proses sampai kemudian bisa jadi sebuah buku. Hmmm, tidak mudah ya kalau kita bicara tentang proses dan kesabaran. Sama sulitnya ketika menghadapi anak didik yang sudah sekian kali ikut remidi tetapi nilainya tetap saja di bawah KKM. Sungguh, harus sabar!

Dengan membuat buku, betul jika guru akan lebih menguasai materinya karena sebelum menulis ada proses membaca terlebih dahulu. Selain itu ilmu yang terpendam tidak lagi dinikmati diri sendiri tetapi bisa disebarkan kepada orang lain.

Sebaik-baiknya orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain, kata ustad saya. Benar,’kan? Dengan menulis buku, orang lain bisa belajar dari membaca buku kita. Akan tetapi untuk menghasilkan sebuah buku yang bagus perlu waktu yang tidak singkat. Buku yang bagus perlu proses panjang. Proses memang tidak akan mengkhianati hasil. Saya rasakan benar sekali pepatah itu. Dengan menulis sedikit demi sedikit hasil tulisan akan lebih bagus. Menulis juga tidak terasa sebagai beban berat yang menakutkan. Dan pada akhirnya jadilah deretan buku-buku berkualitas dan keren, istilah saya begitu.

Ini adalah langkah pertama saya menulis. Yang penting rajin membaca, sabar, dan sering-sering menulis meskipun tentang sesuatu yang amat sederhana sekalipun. Dan sering-sering membaca tulisan orang lain untuk memodifikasinya menjadi bentuk yang lain yang lebih menarik kalau bisa.  Begitu tips Om Jay.  Jadi, benar kata Om Jay teruslah menulis dan buktikan apa yang terjadi. So, saya mau menunggu apalagi? Saya yang tidak memiliki wawasan cukup ini pun mengadu nyali untuk menulis. Dan, akhirnya saya (pun) menulis.

Salam….

 

Komentar ditutup.