Ketika Menulis Bukanlah Lagi Sebuah Beban

KETIKA MENULIS BUKANLAH LAGI SEBUAH BEBAN…

Oleh : Yulia Nur Yanti, S.Pd (SMPN 1 Negara)

 

            Menulis… mendengar kata ini tidak jarang membuat kepala langsung pusing. Pekerjaan menulis adalah salah satu pekerjaan yang cukup berat bagi sebagian besar orang, termasuk saya yang notabene seorang guru.

Tugas keseharian seorang guru menuntut untuk dapat menulis, minimal menuliskan rencana pembelajaran yang akan digunakan sebagai bahan acuan dalam mengajar.

Pekerjaan menulis sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi kita semua, karena kita selalu melakukannya hampir setiap hari saat duduk dibangku sekolah.

Saat di bangku sekolah saya juga memiliki hobi berkorespondensi melalui surat dengan teman-teman  yang tinggal di kota berbeda. Mengingat pada saat itu komunikasi tidak secanggih seperti saat ini.

Tetapi sampai saat inipun, ketika mendapatkan tugas untuk menuliskan sesuatu, saya masih tetap merasa seperti mendapat beban yang berat. Walaupun begitu, saya masih bersyukur karena masih memiliki semangat untuk tetap bisa menulis.

            Beban membuat tulisan itu ternyata tidak menyurutkan niat saya untuk tetap bisa membuat tulisan yang baik, minimal enak dibaca oleh saya sendiri.

Alhamdulillah akhirnya gayung bersambut. Saya diterima ikut bergabung dalam grup menulis yang dibuka oleh Bapak Wijaya Kusumah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Om Jay dari SMP Labschool Jakarta.

Pertama kali saya bertemu beliau adalah ketika acara final inobel 2017 di hotel Mercure Harvestland Kuta Bali. Saat itu saya terpilih sebagai salah seorang finalis inobel MIPA dan beliau sebagai finalis inobel SORAM.

Saya beranikan diri untuk berkenalan dan menyapa beliau saat itu. Ternyata beliau adalah seorang yang sangat ramah.

Sebenarnya sudah lama saya mendengar nama beliau. Beliau yang selalu gigih menyuarakan ketidaksetujuannya terhadap perubahan kurikulum yang akhirnya membuat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) tidak lagi menjadi mata pelajaran bagi siswa di sekolah.

Padahal seperti yang kita ketahui, kemajuan jaman saat ini menuntut siswa-siswa kita sebagai generasi milenial untuk melek teknologi. Saya sangat bersyukur bisa bergabung di grup menulis yang beliau bentuk.

Selain bangga mengenal beliau, saya juga bangga karena di grup itu saya tergabung dengan sekitar 49 guru hebat dari seluruh Indonesia yang juga sudah memiliki berbagai prestasi dalam kancah nasional. Saya sangat senang bisa bertukar fikiran dan mendapat ilmu baru tentang menulis.

Pembelajaran pertama saat itu dimulai pada hari Minggu tanggal 1 Oktober 2017 jam 19.00 WIB. Sedari awal grup ini dibentuk, para anggotanya sangat antusias dan sudah tidak sabar untuk menerima materi dari Om Jay.

Hari yang ditunggu pun tiba, walaupun telah diumumkan bahwa pembelajaran baru akan dimulai jam 19.00 WIB, tapi sejak pagi saya  sudah standbay di grup WA karena saya tidak mau ketinggalan materi ataupun tidak tau informasi mengenai tugas yang akan diberikan.

Pada pertemuan pertama  tersebut, Om Jay memberi materi perkenalan tentang menulis dan “quote-quote” tentang menulis. Om Jay juga berbagi pengalaman tentang bagaimana menulis dan menerbitkan buku.

Beberapa materi yang saya rangkum dari pertemuan pertama tersebut antara lain menulis adalah pekerjaan guru profesional karena salah satu tugas guru adalah menuliskan perencanaan pembelajaran.

Jadi, guru profesional dituntut untuk dapat menulis minimal dapat menulis dengan baik rencana pembelajaran yang akan digunakan untuk panduan mengajar. Untuk saat ini, belum banyak guru yang mampu menulis dan menerbitkan buku. Hal ini dikarenakan guru kurang membaca buku yang menyebabkan wawasan guru masih kurang.

Disisi lain beberapa guru lain sudah mampu menyusun bahkan menerbitkan buku. Bukan hanya 1 atau 2 buku saja tetapi sudah beberapa buku yang diterbitkan. Guru yang mampu menulis adalah para guru yang rajin membaca karena bagi mereka membaca dan menulis adalah sebuah kebutuhan.

Oleh karena itu, para guru harus mampu melawan rasa kemalasan dalam dirinya. Guru yang telah mampu menulis dan menerbitkan buku adalah guru yang melatih dirinya dengan penuh kesabaran karena menulis sebuah buku membutuhkan ketelatenan dan kekonsistenan.

Buku yang bagus bukanlah buku yang dapat diselesaikan dengan cepat. Menurut Om Jay, dengan menulis dan menerbitkan buku (buku pelajaran) maka secara tidak langsung guru pun akan memiliki penguasaan yang lebih baik mengenai materi yang akan diajarkan karena untuk menulis sebuah buku maka guru harus membaca banyak buku.

Selain itu dari hasil diskusi dengan Om Jay juga saya mendapatkan informasi bahwa menerbitkan buku sebenarnya sangat mudah yaitu dengan cara mengirimkan naskah buku ke penerbit yang dapat dilakukan melalui surat elektronik atau yang dikenal dengan email. Jika ternyata naskah yang kita tulis cukup menarik dan layak terbit, maka penerbit akan menerbitkannya tanpa modal uang.

 Nah…ternyata menulis tidaklah sesulit yang kita bayangkan. Menulis sebenarnya adalah pekerjaan yang asyik dan mampu menyalurkan perasaan kita. Apalagi disaat kita sedang tertekan dan banyak masalah, sepertinya menulis menjadi salah satu cara kita untuk menyalurkan stres dan membuat pikiran kembali plong dan segar.

Jadi menulis bukanlah lagi menjadi sebuah beban tetapi menulis merupakan cara untuk menyalurkan beban yang ada di pikiran kita. Yuukkk…mari kita mulai menulis dan menulislah dari hal yang paling sederhana yang kita sukai.

Salam Semangat Literasi

(yulia.almaghfira@gmail.com)

Komentar ditutup.