Menulis Itu Butuh Proses

MENULIS ITU BUTUH PROSES

Oleh: Siti Rusmiyatun

siti.rusmiyatun@yahoo.com

Berawal dari pertemuan, obrolan dan diskusi dengan teman-teman penggiat literasi dalam forum ilmiah tingkat nasional di Batam. Diskusi kamipun santai tetapi penuh dengan arti. Bagaimana tidak santai, obrolan itu dilakukan saat kami istirahat makan, duduk satu meja. Karena kegiatan kami berbeda, antara para penggiat literasi dan inovasi pembelajaran, sehingga waktu ketemu hanya pada saat istirahat. Clingak clinguk…..nah ini dia, teman-teman literasi, saya ambil posisi duduk.

“Keluarlah dari zona nyaman, maka kamu akan menemukan teman baru dan ilmu baru” ungkap salah satu teman secara tiba-tiba. Dari obrolan itu saya mulai mengartikan kata-kata tersebut. Kata-kata yang penuh makna, kata yang mempunyai arti tersirat didalamnya, kata yang mampu meluluhlantakkan hatiku, kata yang sangat luar biasa, kata yang mampu merubah pola pikirku sedikit demi sedikit. Alangkah hebat teman-teman saya ini. Kapan saya bisa seperti mereka, bisa sehebat mereka.

Tidak berhenti sampai disitu, sayapun tertarik dengan buku-buku yang ditulisnya dan berusaha untuk memilikinya.  Yaahhh….saya harus mencari kamarnya biar obrolan lebih tuntas. Ternyata ada disamping kamar saya. Beberapa buku sudah saya dapat, masih ada buku yang saya pesen lagi. Akhirnya seminggu setelah itu, bukupun sampai ditangan saya. Kubaca dengan penuh hati-hati, kupahami satu demi satu makna dari buku tersebut. Memang sudah lama saya ingin belajar menulis, entah bagaimanapun caranya. Tetapi belum juga saya mendapatkan ide-ide yang cemerlang dan belum mendapatkan pencerahan dari orang-orang hebat. Baru sekarang ini saya bertemu dengan teman-teman yang pas. “Bagaimana caranya saya harus bisa menulis” tekat saya waktu itu.

Luangkan waktu untuk menulis, jangan menulis diwaktu luang. Nah…..saya bertemu lagi dengan orang-orang hebat penggiat literasi dalam forum perlombaan tingkat nasional di Bali. Ternyata teman-teman saya semua sudah menghasilkan tulisan bahkan buku yang mereka tulis sudah tidak bisa dihitung lagi dengan jari. Berarti selama ini saya menyia-nyiakan waktu untuk belajar menulis. Banyak waktu luang saya tetapi tidak saya manfaatkan untuk belajar menulis. Ahh…belum telat kalau saya mulai bergerak menulis. Saya banyak bertemu dengan teman-teman hebat yang mempunyai jiwa penulis dan penggiat literasi, tetapi saya belum mampu menghasilkan tulisan. Rugi kalau saya tidak cepat bergerak. Tetapi menulis itu bukan sekedar aktifitas menggerakkan tangan untuk menggoreskan pena di atas kertas dan bukan untuk memainkan jari di atas keyboard….aahh, masih ragu lagi saya. Menulis adalah kerja otak. Latihan berpikir dan perlu waktu. Mampukah saya untuk menulis?…Latihan berpikir bukan sesuatu yang instan. Semua butuh waktu, semua perlu proses.

Teringat juga dengan kata Om Jay…sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit. Itu juga merupakan kata bijak yang pernah saya peroleh dari orang-orang hebat sekelas Om Jay. Saya mengenal Om Jay pada forum perlombaan tingkat nasional di Bali juga. Walaupun tidak begitu kenal dengan beliau namun setidaknya saya bisa berbincang-bincang lewat obrolan kecil secara langsung. Obrolan kecil tetapi besar artinya. “Menulislah sedikit demi sedikit nanti lama-lama akan menjadi buku” ungkap beliau. Gayungpun bersambut, setelah sekian lama saya ingin bisa menulis…..cuiiiit….terdengar suara bunyi WA dari salah satu grup. Isinya mengajak bergabung untuk belajar menulis.

Hari ini terbukti, tanggal 1 Oktober 2017 bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila, saya tergugah untuk mulai mencintai pekerjaan menulis. Walaupun bagi saya menulis itu sulit dan untuk melakukannya membutuhkan proses dan bakat khusus. Saya sekarang bergabung dalam grup belajar menulis yang dipromotori oleh Om Jay sendiri. Menulis memerlukan proses, motivasi menjadi pemacu utama untuk menghasilkan sebuah tulisan. Motivasi itu yang bisa menggantarkan hati untuk bisa membuat tulisan. Motivasi itu yang bisa mengusir hambatan-hambatan dalam menulis.

Menulis itu sebenarnya mudah banget, yang paling penting adalah kita punya kemauan menulis yang kuat dan punya disiplin diri untuk praktek menulis setiap hari. Materi itulah yang dapat saya simpulkan dari obrolan-obrolan melalui WA grup belajar menulis. Jadi bisa untuk menulis itu melalui proses panjang, apalagi saya tidak punya bakat apapun tentang menulis. Yang saya punya hanya kemauan berlatih menulis. Menulis apa yang pernah saya alami dalam hidup. Karena cara menulis yang paling mudah untuk penulis pemula menurut saya ada tiga. Pertama menulis tentang hobi kita, kedua menulis apa yang dikuasai dan yang ketiga menulis apa yang pernah dialami. Ide tulisan itu bisa didapat dari manapun juga. Ide tulisan yang paling mudah didapat dari pengalaman hidup sehari-hari yang pernah kita alami

Ternyata menulis itu tidak perlu harus punya bakat menulis tetapi harus punya kemauan dan tekun berlatih menulis, menurut saya. Pada saat kita belajar menulis, tidak perlu memikirkan segala macam aturan terlebih dahulu. Tulis saja apa yang ada di otak, saya mempunyai jari untuk menulis dan mengetik. Hhmmm….ini bukan mimpi tetapi ini kenyataan bahwa mimpi saya selama ini untuk bisa menulis sudah pada jalan yang benar, bersama teman-teman penggiat literasi. Semoga jari tangan saya selalu bergerak untuk terus menulis. Insya Allah. Aamiin***

 

Komentar ditutup.