Menulis Versus Waktu

Menulis Versus Waktu

Oleh Eka Priyatna

Budaya menulis merupakan hal yang biasa di telinga kita namun terasa sulit untuk dikerjakan. Mengapa semua itu terjadi? Banyak hal yang menyebabkannya. Diantara penyebab yang biasa hadir di tengah lingkungan kita adalah kurangnya usaha kita untuk disiplin terhadap waktu. Meskipun kita telah memiliki rencana yang matang dan cita-cita tinggi, jika tanpa realisasi maka kita tidak akan bisa membuat atau menciptakan sebuah karya nyata berupa tulisan atau buku.

            Kegiatan menulis adalah sebuah kegiatan yang mirip dengan berbicara. Kedua kemampuan berbahasa ini memiliki kesamaan yaitu memproduksi kata-kata yang memiliki maksud agar pendengar atau penyimak dapat memahami perihal yang kita maksudkan. Informasi yang disampaikan dalam tulisan bersifat satu arah yaitu dari penulis kepada pembaca. Oleh karena itu data yang disampaikan harus merupakan sebuah olahan kata-kata yang sempurna, yaitu dapat difahami oleh pembaca dengan mudah dan lancar.

            Keterampilan menulis menjadi sebuah skill yang memiliki ciri khas tersendiri dalam kecakapan hidup seseorang. Seiring dengan perkembangan kepribadian, pendewasaan dan kebiasaan untuk mengungkapkan isi hati dan pikiran. Bagi orang yang memiliki sifat introvert, tulisan bisa menjadi salah satu sarana untuk mengungkapkan isi hati dan pikiran. Sedangkan untuk orang yang terbiasa berkomunikasi secara lisan verbal, tulisan bisa menjadi hal yang cukup memberatkan karena melibatkan simbol-simbol dan lambang yang dihasilkan dengan bantuan tangan dan mata sebagai alat reseptif-nya.

            Berbagi waktu antara kegiatan menulis dengan aktifitas yang harus dikerjakan sehari-hari merupakan sebuah perjuangan yang tidak mudah. Setiap orang memiliki jatah waktu yang sama, yaitu 24 jam, namun ada yang berhasil memanfaatkan waktu secara produktif dan ada yang hanya bisa melewati dan menghabiskan waktu dengan cepat. Semua hasil yang diraih akan sebanding dengan usaha yang diperbuat. Dalam kegiatan menulis, seseorang harus menyiapkan waktu dan tenaga untuk berkonsentrasi memilih kata-kata yang sesuai dengan pemikirannya.

            Lalu bagaimana cara agar kita bisa menjadi seorang penulis yang produktif? Tentu saja hal ini menjadi sebuah tantangan yang cukup berat untuk dilakukan. Namun dalam hidup ini tidak ada sesuatu yang berat apabila dilaksanakan. Kata kunci dalam masalah ini adalah bagaimana kita memulai dan kapan kita harus memulai. Jawabannya adalah mulai sedini mungkin, secepat mungkin dan sesering mungkin, meskipun hanya sedikit demi sedikit. Peribahasa yang lama kita kenal di Indonesia yaitu sedikit-sedikit menjadi bukit dalam hal menulis menjadi sebuah hal yang nyata. Tanpa kita sadari apabila kita belajar untuk konsisten dengan waktu, maka tulisan kita akan semakin banyak dan semakin mahir.

            Membuat jadwal pribadi dan komitmen terhadap waktu menjadi hal yang utama dalam meraih keberhasilan dalam menulis. Selain itu situasi hati dan pikiran yang matang dan nyaman, juga menjadi faktor yang mempengaruhi hasil tulisan kita. Semakin relak maka hasil tulisan akan semakin jelas. Keadaan ini bisa juga disebut sebagai situasi berkonsentrasi penuh. Melatih konsentrasi dapat dilatih dengan cara terus menulis dan mengulang untuk membaca tulisan yang telah dibuat. Semakin sering kita melakukannya, maka kita akan semakin terlatih untuk berkonsentrasi.

            Dalam kegiatan sehari-hari seorang guru di zaman milenial ini berbeda dengan situasi guru pada zaman dahulu. Saat ini seorang guru di sekolah manapun memiliki tugas-tugas yang banyak dan padat. Bagaimana kegiatan menulis ini bisa menjadi sebuah kegiatan yang rutin dilakukan? Sepertinya seorang guru perlu memiliki kesadaran bahwa kegiatan menulis merupakan sebuah kegiatan yang wajib dilaksanakan baik oleh seorang pengajar dan pendidik.

            Dalam upaya memberikan contoh yang baik terhadap siswa didiknya, maka kegiatan menulis dapat dijadikan sebuah kebiasaan yang positif di kalangan anak muda. Dewasa ini semakin mudah akses terhadap gawai dan media sosial, menjadikan kebiasaan menulis ini perlu dilatih dan diajarkan kepada para siswa agar mereka dapat memanfaatkan teknologi secara tepat guna. Kebiasaan menulis status yang tidak penting di media sosial dapat dialihkan menjadi sebuah kebiasaan membuat kata-kata yang bermakna, seperti cerita pendek, puisi, kata-kata mutiara, uraian info penting atau sekedar membuat jadwal atau rencana kerja.

            Guru dan murid harus berlomba-lomba untuk mencapai target dalam kegiatan menulis. Hal ini akan menimbulkan situasi yang saling bersinergi. Dengan patuh terhadap manajerial waktu diharapkan kegiatan menulis menjadi lebih efektif dan menghasilkan karya nyata yang bermanfaat untuk orang lain. Jika di luar negeri kita mengenal istilah “time is money”maka di Indonesia kita mengenal “rajin pangkal pintar dan hemat pangkal kaya”. Jika kita dapat menjaga kedisiplinan kita terhadap waktu  untuk menulis tentu saja akan menjadikan kita semakin pintar dalam wawasan dan pola pikir kita. Inilah yang menjadi kekayaan hakiki, yaitu kesenangan, kebahagiaan, dan ilmu yang bermanfaat.

 

Komentar ditutup.