Menulis adalah Suatu Pekerjaan

Tugas 1

Oleh : Yessy Citra

Menulis, adalah sesuatu yang pernah saya lakukan ketika masih di bangku SMP dan SMA, itupun sebatas menulis di diary dan menulis puisi. Lalu seiring kesibukan kuliah dan dilanjutkan pekerjaan setelah lulus kuliah, maka kegiatan tersebut hilang dengan sendirinya. Sekarang saya sebagai seorang guru, dalam 2 tahun belakangan ini punya atau tepatnya timbul kerinduan untuk menulis kembali, hanya saja, terkadang ragu bagaimana memulai menulis, bagaimana mendapat inspirasi dengan ide-ide yang menarik, mengingat buku-buku terbitan sekarang bagus-bagus dan menarik.

Sampai kemudian saya masuk ke grup FB terlebih dulu yaitu ikatan profesi guru Indonesia dan bertemulah dengan tulisan-tulisan pak Wijaya Kusumah.

Jujur tulisan beliau mudah dipahami, simpel dan menarik. Akhirnya pada suatu saat om Jay – sebutan yang sering diucapkan beliau sendiri, membuat status, pelatihan guru gelombang ke 5 secara online di grup wa secara gratis.

Langsung saya tertarik, saya berpikir kok sudah ke 5 ya? Gratis lagi!

Padahal saya sering buka statusnya om Jay loh Saya pikir, sebelumnya diadakan di suatu tempat tertentu begitu, sehingga keingiman saya  bergabung, saya urungkan terlebih dulu, barulah pada gelombang ke 5 ini saya berminat sekali.

Saya tambah senang diterima pada saat saya mengontak wa om jay. Bagi saya ini peluang atau kesempatan berharga, jadi harus cepat diantisipasi. Lalu, saya dapat berhubungan dengan tema-tema di grup dari berbagai daerah di Nusantara.

Wow senangnya! Kemudian dengan menggunakan wa atau online ini berarti mengefisienkan waktu. Tugas-tugas saya yang banyak tetap bisa dikerjakan, dan yang terpenting, saya mendapatkan ilmu dari orang yang berkompeten di bidangnya ini yaitu BP. Wijaya Kusumah, dan keinginan saya untuk bisa menjadi penulis apalagi bisa menerbitkan buku, semoga bisa menjadi kenyataan. Itulah alasan saya mengikuti kursus/kalau boleh dibilang kursus ya.

Menulis adalah suatu pekerjaan yang melatih kedisiplinan, ketekunan, keseriusan dan berkesinambungan menurut hemat saya. Menulis adalah sebuah proses yang tidak bisa dilakukan secara instan tetapi ada alur dan tahapannya, demikian yang di sampaikan om Jay.

Menulis adalah pekerjaan seorang guru, Karena guru  diminta membuat perencanaan pembelajaran. Oleh karenanya, sudah seharusnya menulis adalah sesuatu kebiasaan yang umum dilakukan oleh seorang guru. Namun, menurut om Jay tidak banyak guru yang mampu menulis dan menerbitkan buku, mengapa demikian ?  Di karenakan guru kurang banyak membaca buku. Wawasan guru jadi kurang, apalagi banyak guru jarang membeli buku. Dengan berbagai alasan ini itu jadi sebuah pembenaran. Padahal banyak sekali manfaat dari membaca buku, begitu juga dengan buku baru, sangat penting dibaca guru untuk menambah ilmunya.

Bagi guru yang mampu menulis adalah guru yang banyak membaca, sehingga menulis ini menjadi kebutuhan, bukanlah sebagai beban, seperti umumnya kebanyakan guru berpikir demikian. Untuk itu dibutuhkan usaha untuk mengalahkan kemalasan diri sendiri. Bagi guru yang telah mampu menulis dan menerbitkan buku inilah yang telah melatih dirinya dengan penuh kesabaran, sebab menulis adalah proses sampai menerbitkan buku.

Sesungguhnya dengan menerbitkan buku, maka guru menjadi lebih menguasai materinya, keuntungan lain dengan menerbitkan buku, berarti ilmunya menjadi lebih tersebar luas dan jangkauannya meluas tidak hanya sekedar di ruang kelas saja.

Dalam menghasilkan buku yang sampai diterbitkan, membutuhkan waktu yang tidak sedikit, proses menulis yang tidak instan, malainkan sedikit demi sedikit, yang nantinya menjadi bukit. Inilah juga pengalaman yang om Jay sampaikan dalam menerbitkan buku-bukunya, hingga sekarang telah sampai 10 buku yang diterbitkan.

Pengalaman beberapa teman guru di grup wa juga ada kesamaan yaitu, bagaimana memulai menulis, bagaimana melahirkan ide, sampai bagaimana alur penerbitan buku. Semua itu dijawab dengan sabar oleh om Jay. Beliau mengatakan yang terpenting adalah fokus menulis pada bidang yang disukai dan yang dikuasai.  Mungkin dengan begitu akan lebih memudahkan ide-ide mengalir  ya om .

Menulis bisa dilakukan dengan menulis materi yang mudah sampai yang susah. Bisa juga  awalnya menulis dengan 3 alinea, yaitu alinea pertama yang biasa disebut alinea pembuka, kedua alinea untuk isinya dan terakhir alinea penutup dimana kita menutup tulisan dengan baik. Terkesan simpel ya om!

Dari ketiga alinea itu ya diharapkan ide akan mengalir. Jika kita banyak membaca dan sering silahturahim, maka ide akan semakin mudah mengalir. Dengan kita banyak silahturahim maka ide dapat bermunculan kapanpun, dan dimanapun. Apalagi dengan kemudahan teknologi informasi saat ini.

Menulis harus terus menerus dilatih, itu makanya om Jay memberikan tugas pertama yaitu menulis minimal 700 kata setiap hari dan membaca 70.000 kata setiap hari.

Hal yang menjadi pertanyaan mengapa muncul angka 700 kata? Saya coba pikirkan kemungkinan jawabannya. Mungkin bisa untuk melatih kita terus menulis, terus berpikir, mendobrak dan menerobos kesulitan dalam tiap ide yang mengalir dan pada akhirnya membiasakan diri disiplin menulis.

Yah itu pendapat saya, tidak salah kan ya om Jay? Lalu membaca 70.000 kata, berarti itu membaca buku, dengan baca demikian banyak kata. Kita menjadi semakin tambah wawasan pengetahuan. Makin diasah kemampuan kita dalam menulis teratur melalui bacaan yang kita baca, dan makin memampukan kita mengeluarkan ide-ide lainnya untuk nanti dituliskan kembali. Sekali lagi, ini logika berpikir saya ya om. Biarkanlah saya punya keberanian menyampaikan hal tersebut disini dalam tugas pertama ini.

Metode menulis sederhana lainnya bisa dilakukan dengan ATM yaitu amati, guru dan modifikasi, menurut om Jay ini bukan plagiat, dikarenakan ada bagian yang dimodifikasi, jadi tidak sama persis sampai habis

Hal lain lagi yang dapat dilakukan dalam menulis yaitu menulis secara kolaborasi atau berjamaah.

Terakhir menulis buku dari sudut pandang yang berbeda sehingga menarik untuk dibaca.

Tidak sampai disitu saja om Jay juga membuka sedikit informasi bagaimana buku dapat diterbitkan. Mulanya dengan mempersiapkan naskah, mengaturnya dengan rapi, kemudian memberi judul yang menarik, mungkin judul bisa dipulihkan yang sesuai dengan selera penerbit berdasarkan segmen pasarnya, lalu menghubungi penerbit yang dapat dilakukan melalui media sosial saat ini.

Nah era digital ini memudahkan penulis dalam berbagai hal, sampai ketika naskah sudah ditangan penerbit barulah penulis dihubungi untuk bukunya diterbitkan.

Bagaimana ya rasanya kalau buku karangan kita diterbitkan? Pasti..sesuatu sekali itu.

Hal-hal hal tersebut diatas yang menjadi materi awal yang disampaikan kepada kami para peserta belajar menulis gelombang 5. Harapan saya, apa yang saya tulis sebagai tugas pertama ini, mendapat masukannya dari mentor om Jay, sehingga membuat semangat dan motivasi saya terus meningkat dalam menulis.

Akhir kata terimakasih om Jay, karena tanpa saya sadari saya sudah menulis lebih dari 1000 kata, wow ini melebihi yang diminta minimal 700 kata, akhirnya keraguan itu bisa dipatahkan juga, sekali lagi terima kasih banyak BP Wijaya Kusumah.

Komentar ditutup.