Bahagianya Menjadi Anak Desa

Nama                   : Ai Imas Mustikawati, S.Pd

Instansi                : SMPN 1 Labuan

BAHAGIANYA MENJADI ANAK DESA

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Belakangan ini dampak kerusakan alam akibat ulah manusia mulai kita rasakan, banjir dimana – mana, tanah longsor, pencemaran udara, air dan tanah yang kian menjadi–jadi. Jika kerusakan demi kerusakan kita  biarkan, lalu apa yang akan kita wariskan pada anak cucu kita ?. Apa yang patut kita banggakan dari Negeri kita?. Apakah syair lagu tentang negeri elok nan amat subur hanya ungkapan semata?, sementara yang terjadi sebenarnya adalah Negeri yang alamnya mulai rusak.

Namun, patut kita syukuri, bahwa pemerintah tetap peduli dengan dimasukannya pendidikan karakter “peduli  lingkungan” kedalam kurikulum sekolah. Oleh karena itu mari kita dukung dan realisasikan program pemerintah dalam hal peduli lingkungan.  Sekolah – sekolah  gencar melaksanakan pengamanan dan kebersihan lingkungan contohnya program “Go green”, pengelolaan sampah, menanam satu pohon untuk masa depan. Bahkan, beberapa sekolah sering menyelenggarakan pembelajaran outclass bagi anak didiknya. Tujuannya, mengajak para peserta didik untuk mencintai dan lebih mengenal alam dari dekat.

Ada beberapa permainan atau outbond yang biasa mereka lakukan. Seperti contohnya permainan di sawah yang berlumpur  yaitu  tandur (menanam benih padi),  lomba menaiki alat bajak yang dikendalikan kerbau kemudian menikmati makan siang di saung atau pematang sawah. Dan yang sedang trend sekarang ini yaitu, menyantap makanan beralaskan daun pisang.  Anak – anak sangat antusias, dan kegembiraan tampak dari wajah mereka.

Selain karakter “peduli lingkungan”, peserta didik juga diharapkan memiliki karakter “tanggung jawab”, dengan mengajak dan melibatkan mereka untuk selalu menjaga dan melestarikan lingkungan hidup. Jika semua pihak peduli maka Insyaalloh, kita akan selalu hidup dengan nyaman di Negeri yang kita cintai ini. Alam yang indah, sejuk, segar harapan kita.  Kenangan – kenangan indah sewaktu kecilpun menari – nari di pelupuk mata, alangkah serunya jika kenangan – kenangan itu dituangkan menjadi rangkaian tulisan. Suguhan cerita dengan nuansa pedesaan  yang penuh keteladanan. Oleh karena itu, buku ini sangat cocok digunakan sebagai buku pengayaan di sekolah tingkat dasar. Buku yang disusun dengan tujuan untuk memotivasi  generasi muda sejak dini, untuk selalu mencintai  dan melestarikan alam.   Mendorong mereka untuk senantiasa berprilaku baik, dengan tidak merusak alam, juga   memberikan tuntunan  supaya mereka memiliki pribadi yang santun, pantang menyerah, jujur, peduli pada sesama, serta berbudi pekerti luhur.

 Buku ini berkisah tentang kehidupan seorang gadis, di sebuah dusun yang terletak di kaki gunung Cikuray. Alam pedesaan yang masih sejuk dan segar  menjadi latar cerita.   Diperkaya dengan kehidupan penduduknya yang sederhana, senang bergotong royong dan juga  ramah. Wati adalah nama gadis yang diceritakan dalam buku ini, orangtua Wati merupakan Pegawai Negeri. Bapaknya seorang kepala sekolah di sebuah SD di dusun terpencil sedangkan ibunya adalah guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Berbeda dari sang suami, ibu Wati mengajar di sebuah SD yang letak sekolahnya tidak terlalu jauh dari rumah kediamannya. Mata pencaharian penduduk bervariasi, ada yang berdagang, bertani tapi kebanyakan mereka bekerja sebagai buruh tani.

Cerita dalam buku ini dimulai saat Wati dan beberapa temannya menjadi guru cilik. Ketika para guru disekolahnya, yang hanya berjumlah empat orang itu, harus mengikuti sebuah pertemuan mendadak. Wati, yang kala itu sudah menginjak kelas 6, ditunjuk oleh gurunya untuk mengajar adik – adik kelasnya  yang masih duduk di kelas 2, betapa bangga dan bahagianya dia berada didepan kelas, semua mata mengarah kepadanya dengan antusias. Dan sejak saat itu dia bertekad, kelak jika ia sudah dewasa, ingin menjadi seorang guru seperti ibunya.  Lalu selanjutnya kisah kocak Wati, saat sepulang sekolah berpapasan dengan  kerbau – kerbau yang sedang merumput. Terngiang obrolan teman – temannya, kalau kerbau itu suka sekali melihat warna merah. Kebetulan tas selempang yang ia pakai berwarna merah, juga rok dan rompinya pun berwarna sama.  Sementara kerbau itu seakan sengaja menghalangi perjalanan Wati. Gadis kecil itu maju mundur, maju mundur mengikuti langkah kerbau.

Baca juga kisah wati yang panik saat tanpa sengaja menjatuhkan rantang berisi makanan yang harus ia antar ke tetangganya. Ada lagi kisah menegangkan saat ia tertidur pulas menjelang maghrib, padahal tidur terlalu sore mendekati maghrib itu jelas – jelas tidak diperbolehkan, tapi karena kelelahan akhirnya wati tertidur pulas dan hal aneh pun menimpanya. Ada lagi kisah keseruan  Wati dan teman – temannya saat mandi disungai, tapi siapa sangka hal yang menakutkan  terjadi padanya.

 Kisah  seru lainnya saat ia ikut memanen padi, tubuh mungilnya begitu lelah tapi ia melakukannya dengan penuh semangat, karena setelah hasil panennya ditimbang dan padinya diserahkan kepada ibunya, maka ia akan dapat bagian  upah, berupa  uang jajan.  Jalan – jalan sambil belanja ke kota adalah impian orang – orang kampung jika telah musim panen padi.  Begitupun dengan gadis kecil itu, alangkah  girangnya ia, ketika diajak bapaknya ke kota. Ada lagi cerita kepanikan Wati dan temannya saat dia tersesat di hutan, ketika mencari tongkat untuk pramuka. Buku ini diakhiri dengan cerita  Wati kecil, yang dengan nikmatnya menyantap makan siang di pematang sawah dengan para pekerja.

Itulah sekilas ulasan tentang buku  “Bahaginya Menjadi  Anak Kampung”. Walaupun buku ini mengulas tentang kehidupan di desa, dijamin pembaca tidak akan menjadi ndeso. Justru dengan membaca buku ini, kita menjadi tahu bahwa, alangkah menyenangkan kehidupan orang desa beserta segala kesederhanaannya. Selamat membaca.

Komentar ditutup.