Implementasi Gerakan Literasi di Sekolah Dasar

Implementasi Gerakan Literasi di Sekolah Dasar

 fathonah-artikel feature

Oleh Fathonah, S.Pd, M.Pd.

Guru SMPN 1 Peudawa

Literasi tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana siswa dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatnya di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan siswa, baik dirumah maupun di lingkungan sekitarnya untuk menumbuhkan budi pekerti mulia. Bahkan perintah pertama yang turun dalam Al- Quran adalah perintah membaca “Bacalah dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan” (Q.S. Al – Alaq).

Literasi pada awalnya dimaknai ‘keberaksaraan’ dan selanjutnya dimaknai ‘melek’ atau ‘keterpahaman’ . Pada langkah awal, “melek baca tulis” ditekankan karena kedua keterampilan berbahasa ini merupakan dasar bagi pengembangan melek dalam berbagai hal.

Upaya sistematis dan berkesinambungan perlu dilakukan untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa. GLS untuk menumbuhkan minat baca dan kecakapan literasi telah dicanangkan sejak tahun 2016, UNESCO (1996) mencanangkan 4 prinsip belajar abad 21 yaitu: learnign to think, learning to do, learning to be, learning to life together , namun saat ini belum sepenuhnya menyentuh aspek pembelajaran di kelas karena kondisi sekolah dan kelas berbeda-beda. Pengembangan kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan literasi khususnya mengembangkan minat baca belum berjalan secara optimal di sekolah karena beberapa guru memiliki pemahaman berbeda atau kurang memadai tentang literasi. Guru seharusnya dapat menjadi teladan yang baik bagi siswanya. Saat guru meminta siswa membaca, guru pun juga perlu membaca untuk memberi contoh yang baik bagi siswanya. Tradisi literasi (kemampuan komunikasi yang artikulatif secara verbal dan tulisan serta kemampuan menyerap informasi melalui teks) juga belum tumbuh secara koheren dalam diri beberapa guru.

Upaya untuk mensosialisasikan dan meningkatkan kemampuan literasi di sekolah belum membuahkan hasil yang optimal karena kurangnya pendampingan dan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan literasi guru. Materi ajar dan teks yang tersedia di sekolah belum dimanfaatkan secara optimal untuk mengembangkan kemampuan literasi siswa. Selain itu, strategi literasi dalam pembelajaran belum diterapkan secara optimal.

Implementasi penumbuhan budaya literasi di sekolah memerlukan langkah-langkah sebagai berikut: persiapan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan tindak lanjut. Persiapan merupakan kegiatan menyiapkan bahan, personal, dan strategi pelaksanaan. Pelaksanaan merupakan operasionalisasi hal-hal yang telah dipersiapkan. Pemantauan, evaluasi, dan tindak lanjut merupakan kegiatan untuk mengetahui efektivitas kegiatan literasi yang telah dilaksanakan.

Tiga tahapan pelaksanaan literasi sekolah

  1. Tahap Pembiasaan

Penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca (permendikbud 23/2015). Kegiatan pelaksanaan pembiasaan gerakan literasi pada tahap ini bertujuan untuk menumbuhkan minat peserta didik terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca.

Prinsip-prinsip kegiatan membaca pada tahap pembiasaan diantaranya:

  1. Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku bacaan, bukan buku teks pelajaran.
  2. Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku yang diminati oleh peserta didik, diperbolehkan untuk membaca buku yang dibawa dari rumah.
  3. Diskusi informal tentang buku yang dibaca/dibacakan, atau kegiatan yang menyenangkan terkait buku yang dibacakan.
  4. Berlangsung dalam suasana yang santai dan menyenangkan.

Kegiatan membaca dan penataan lingkungan kaya literasi antara lain:

  1. Membaca buku cerita/pengayaan selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Kegiatan membaca yang dapat dilakukan adalah membacakan buku dengan nyaring dan membaca dalam hati.
  2. Memperkaya koleksi bacaan untuk mendukung kegiatan 15 menit membaca.
  3. Memfungsikan lingkungan fisik sekolah melalui pemanfaatan sarana dan prasarana sekolah, seperti perpustakaan, sudut buku kelas, area baca, kebun sekolah, kantin, Unit Kesehatan Sekolah (UKS), dan lain-lain. Sarana dan prasarana ini dapat diperkaya dengan bahan kaya teks.
  4. Melibatkan komunitas di luar sekolah dalam kegiatan 15 menit membaca dan pengembangan sarana literasi, serta pengadaan buku-buku koleksi perpustakaan dan sudut baca kelas.
  5. Memilih buku yang sesuai dengan minat peserta didik
  6. Tahap Pengembangan

Meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan atau media pembelajaran lain.

Kegiatan literasi pada tahap pengembangan bertujuan untuk mempertahankan minat terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca, serta meningkatkan kelancaran dan pemahaman membaca peserta didik.

Prinsip-prinsip kegiatan pada tahap pengembangan, diantaranya:

  1. Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku selain buku teks pelajaran.
  2. Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku yang diminati oleh peserta didik. Peserta didik diperkenankan untuk membaca buku yang dibawa dari rumah.
  3. Kegiatan membaca buku di tahap ini dapat di ikuti oleh tugas0tugas menggambar, menulis, kriya, seni gerak dan peran untuk menanggapi bacaan, yang disesuaikan dengan jenjang dan kemampuan peserta didik.
  4. Penilaian tanggapan peserta didik terhadap bacaan bersifat non-akademik dan berfokus pada sikap peserta didik dalam kegiatan. Masukan dan komentar pendidik terhadap karya peserta didik bersifat memotivasi.
  5. Kegiatan membaca buku berlangsung dalam suasana yang menyenangkan

Terdapat beberapa alternatif cara membaca pada tahap pengembangan, sebagai berikut:

  1. Membacakan nayring interaktif (interactive read aloud)

Cara ini dilakukan dengan guru membacakan buku/bahan bacaan dan mengajak peserta didik untuk menyimak dan menanggapi bacaan dengan aktif. Proses membacakan buku ini bersifat interaktif karena guru memperagakan bagaimana berpikir menanggapi bacaan dan menyuarakannya serta mengajak peserta didik untuk melakukan hal yang sama. Fokus kegiatan membaca nyaring alternatif untuk memahami kosakata baru.

  1. Membaca terpandu (guided reading)

Cara ini dilakukan dengan guru memandu peserta didik dalam kelompok kecil (4-6 siswa) dalam kegiatan membaca untuk meningkatkan pemahaman. Fasilitas pendukung yang perlu tersedia, berupa buku untuk dibaca, alat tulis, kertas besar (flip chart), perekat, dan papan untuk menempelkan kertas.

  1. Membaca bersama (shared reading)

Cara ini dilakukan dengan guru mendemonstrasikan cara membaca kepada seluruh peserta didik di kelas atau kepada satu persatu peserta didik. Guru dapat membaca bersama-sama peserta didik, lalu meminta peserta didik untuk bergiliran membaca. Metode ini bertujuan memberikan pengalaman kepada peserta didik untuk membaca dengan nyaring dan meningkatkan kefasihan membaca. Fasilitas pendukung yang perlu tersedia, berupa buku besar (big book, apabila dibacakan kepada banyak peserta didik), buku bacaan, kertas besar (flip chart) dan alat tulis.

  1. Membaca mandiri (independent reading)

Kegiatan membaca mandiri dilakukan dengan peserta didik memilih bacaan yang disukainya dan membacanya secara mandiri. Kegiatan membaca mandiri ini bisa diikuti oleh kegiatan tindak lanjut seperti membuat peta cerita atau kegiatan lain untuk menanggapi cerita.

Pada tahap pengembangan ini juga dibentuk Tim Literasi Sekolah (TLS) yang bertanggung jawab langsung kepada kepala sekolah dan terdiri dari: anggota komite sekolah, orang tua/wali murid, pustakawan dan tenaga kependidikan, guru kelas, dan relawan literasi atau elemen masyarakat lain yang membantu pelaksanaan kegiatan literasi di sekolah. Adapun pera TLS diantaranya:

  1. Memastikan keberlangsungan kegiatan 15 menit membaca setiap hari.
  2. Memastikan ketersediaan koleksi buku pengayaan di perpustakaan dan sudut-sudut baca di sekolah.
  3. Mengawasi pengelolaan perpustakaan sekolah dan sudut-sudut baca di sekolah.
  4. Memastikan keterlaksanaan kegiatan di perpustakaan sekolah minimal 1 jam dalam seminggu.
  5. Mengkoordinir pelaksanaan festival literasi, minggu buku, atau perayaan hari-hari besar lain yang berbasis literasi.
  6. Mengkoordinir upaya pengembangan kegiatan literasi melalui penggalangan dana kepada pelaku bisnis atau penyandang dana lain di luar lingkungan sekolah.
  7. Mengkoordinir upaya promosi kegiatan literasi sekolah kepada orang tua/wali murid, misalnya melakukan pelatihan membacakan buku dengan nyaring dan promosi kegiatan membaca di rumah.
  8. Mempublikasikan kegiatan literasi di sekolah, di media cetak, audiovisual, dan daring agar memperoleh dukungan lebih luas dari masyarakat.
  9. Membangun jaringan dengan pemangku kepentingan terkait literasi, TLS di sekolah lain, dan pegiat literasi untuk bekerjasama mengupayakan GLS yang berkelanjutan.
  • Tahap Pembelajaran

Meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran, menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran.

Kegiatan literasi pada tahap ini bertujuan untuk mempertahankan minat peserta didik terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca, serta meningkatkan kecakapan literasi peserta didik melalui buku-buku pengayaan dan buku teks pelajaran.

Kegiatan literasi pada tahap pembelajaran berfokus pada peningkatan kemampuan berbahasa repesif (membaca dan menyimak) dan aktif (menulis dan berbicara) yang disajikan secara rinci dalam konteks dua kegiatan utama, yakni membaca dan menulis. Kemampuan membaca dan menulis dijenjangkan agar peningkatan kecakapan di empat area bahasa (membaca, menyimak, menulis, dan berbicara) dapat dilakukan secara terukur dan berkelanjutan.

Kegiatan yang dilakukan pada tahap pembelajaran antara lain:

  1. Guru mencari metode pengajaran yang efektif dalam mengembangkan kemampuan literasi peserta didik. Untuk mendukung hal ini, guru dapat melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
  2. Guru mengembangkan rencana pembelajaran sendiri dengan memanfaatkan berbagai media dan bahan ajar.
  3. Guru melaksanakan pembelajaran dengan memaksimalkan pemanfaatan sarana dan prasarana literasi untuk memfasilitasi pembelajaran.
  4. Guru menerapkan berbagai strategi membaca untuk meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran.

Akhirnya, GLS di Sekolah Dasar  ada untuk mengembangkan pelaksanaan kegiatan literasi sekolah di SD yang efektif dan berkelanjutan. Penumbuhan budaya literasi pada diri peserta didik bukan hanya tugas sekolah, namun juga merupakan tanggungjawab keluarga, pelaku bisnis dan media, pemangku kebijakan, dan elemen masyarakat.

Penulis adalah Guru SMPN 1 Peudawa Kabupaten Aceh Timur.

Fathonah_15januari83@gmail.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s