Daily Archives: Juli 31, 2018

Guru & Cinta

Guru dan Cinta

Oleh : Hastuti Wibowo

img_2443

Guru identik dengan Cinta karena selama menjadi guru selalu ada cinta buat saya. Bahagia rasanya mendapat cinta dari semua yang berinteraksi dengan saya sebagai guru. Ibu guru sebuah panggilan yang menggetarkan hati dari kata inilah saya merasakan adanya cinta di kehidupan. Mereka memanggil Ibu Guru rasanya sejuta harapan yang mereka inginkan dari saya. Begitu nyaman dan indahnya setiap kata itu terucap dari mereka anak-anak saya di sekolah. Tidak salah lagi Cinta yang membingkai Ibu Guru dengan semua anak didik di sekolah.

Cinta sebagai guru sudah saya rasakan mulai dari 29 tahun lalu, saat saya mengawali aktivitas sebagai guru. Menjadi guru baru memberi tantangan tersendiri untuk membuktikan eksistensi sebagai guru yang dapat dihandalkan. Meski masih sebagai guru honorer tidak menyurutkan semangat saya untuk menunjukkan kualitas pembelajaran.

Waktu terus berlalu sampai menginjak tahun ke 12 saya masih berstatus sebagai guru honorer di sekolah swasta ini yang merupakan sekolah ternama di Provinsi Jambi. Sampai pada akhirnya ada pertemuan antara guru dan pimpinan Yayasan Pusat. Pada pertemuan tersebut banyak diantara guru mengajukan protes kenaikan kesejahteraan. Kebanyakan dari mereka sudah berpredikat guru tetap dengan gaji yang jauh lebih besar dari gaji saya. Saya berpikir inilah saatnya saya mengajukan diri di forum yang langka ini. Dengan lantang saya berkata : “ Maaf bapak/Ibu Guru kalau kalian menginginkan kesejahteran yang lebih lalu bagaimana dengan saya?”. “Saya hanya guru honorer dengan masa kerja 12 tahun, seharusnya yang harus diprioritaskan adalah saya”. Ucap saya dengan semangat. “ Karena saya sudah banyak membawa nama sekolah dengan membimbing siswa sampai ke tingkat Nasional, tolong Bapak Pimpinan memperhatikan keinginan saya untuk dijadikan guru tetap bukan meminta tambahan kesejahteraan”. Ucap saya sambil menganggukan kepala dan duduk kembali. Alhamdulillah di tahun itu juga Tahun 2002 saya menjadi guru tetap dengan masa kerja diperhitungan setengah dari 12 tahun. Predikat ini semakin membuat saya semangat memajukan kualitas pendidikan di sekolah ini.

Sampai lupa ya.. saya belum mengenalkan diri. Nama saya Hastuti Wibowo merupakan anak kelima dari pasangan Suhawariatin dan Supardi Hendro Wibowo. Saya memiliki 2 putra dan 1 putri bersama suami saya alm Ismet Muhamad. Delapan tahun lalu suami tercinta mendahui saya dan ketiga buah hati. Keadaan terberat yang pernah saya rasakan karena harus berjuang menghidupi ketiga anak yang sedang butuh materi dan moril. Menjadi guru sangat menguatkan saya menghadapi semua ini. Saat ini kedua putra saya sudah sarjana dan gadis bungsu yang cantik cerdas dibiayai Provinsi karena diterima di SMA Negeri Titian Teras HAS milik Provinsi Jambi. Umur saya saat ini sudah mencapai 54 tahun.

Kembali lagi pada cerita saya tentang suka duka menjadi guru yang didominasi suka karena cinta dan dukungan dari semua pihak. Saya sebagai guru IPA selalu mendukung siswa beprestasi di sekolah maupun di luar sekolah. Saya menekuni Olimpiade Sains mulai dari membimbing di sekolah sampai membimbing di Provinsi. Semakin banyak saya berbuat rasanya semakin kurang upaya yang sudah saya lakukan. Saya bertekad akan selalu mendukung dunia pendidikan sampai akhir hayat.

Guru tidak hanya mendukung tetapi ada kalanya harus memberi contoh. Contoh yang sering saya tunjukkan pada murid antara lain saya aktif belajar dan aktif mengikuti lomba guru. Saya belajar dengan mengikuti pendidikan S2 diusia 48 tahun dan Alhamdulillah saya wujudkan menjadi lulusan terbaik wisuda tahun 2015 dengan IPK 4,00. Bahagia rasanya dengan penuh cinta murid-murid saya datang di hari ujian sidang dengan bunganya. Lomba yang sudah saya ikuti dari tingkat kota sampai nasional. Pengalaman nasional saya rasakan pada tahun  2009, 2010, 2016, 2017. Pengalaman lomba membuat saya semakin belum maksimal dalam berkarya karena masih banyak guru hebat diluaran sana yang patut diacungi jempol.

Menjadi finalis guru berprestasi nasional 2016 memberi pelajaran tersendiri buat saya kalau guru harus menulis karena dengan menulis ada yang ditinggalkan pada generasi berikutnya. Guru tidak hanya meninggalkan ilmunya saja tapi meninggalkan tulisan yang penuh makna bagi dunia pendidikan.

Berlatar belakang ini tolong ajari saya untuk terus menulis tentang fiksi dan non fiksi. Kemampuan saya yang masih minim perlu bimbingan dan belajar lebih lanjut. Terimakasih Bapak Wijaya Kusumah (Omjay) yang bersedia menjadi mentor saya dalam menulis. Meski baru belajar saya sudah menerbitkan 4 buku dengan penuh perjuangan. Ingin rasanya dimasa pensiun saya kelak Insya Allah saya menjadi penulis yang mendidik untuk perkembangan anak-anak dalam masa pendidikan.

Saya Seorang Guru

SAYA SEORANG GURU

Oleh: RICKY ANHAR LUBIS, S.T

 


img_2469            Awalnya saya menjadi guru dimulai saat saya pertama kali INTERVIEW disekolah saya dimedan. Basic pendidikan saya bukan seorang sarjana keguruan melainkan sarjana teknik. Saat interview pertama kali disekolah ini saya duduk didepan kantin mengikuti antrian wawancara kepala sekolah kepada calon gurunya.

Awalnya saya bingung kenapa saya mau melamar menjadi guru disekolah tersebut. Kemudian antrian pun terus berkurang saya mulai menanyakan kepada pelamar yang sudah ikut tes wawancara lalu mereka menjawab “SEPERTI BIASA NANTI KAMI KABARI LAGI” begitu ucapan mereka sambil menirukan ekspresi kepala sekolah yang mereka jumpai tadi. Kemudian giliran saya pun datang, saat memasuki pintu kantor kepala sekolah jantung mulai berdetak kencang, saya takut jika menjadi guru begitu ucap hatiku. Kemudian saya diwawancarai dijejali beberapa pertanyaan mulai dari materi ajar, rpp, silabus, kesiapan mengajar dan lain-lain yang semua itu tidak saya dapat dari perkuliahan saya. Lalu akhirnya kepala sekolah berunding dan mengucapkan “SELAMAT DATANG DISEKOLAH KAMI” kepada saya. Saya bingung padahal tadi pelamar yang lain pulang dengan wajah kesal.

            Hari pertama saya mengajar langsung ditempatkan di tingkatan SMA. Saya mengajar komputer (TIK). Saya gugup dan tidak mengerti bagaimana caranya mengajar. Saya lihat buku pelajaran mereka, saya mengerti tapi susah menjelaskannya di papan tulis dan dihadapan mereka. Sampai saya bolak-balik keluar kelas menarik nafas dalam-dalam lalu kembali ke dalam kelas.

Akhirnya saya mengajarkan materi yang saya kuasai kepada mereka. Hari berikutnya saya masuk dikelas berbeda dikelas ini terkenal dengan siswa laki-lakinya yang sedikit lebih banyak siswa perempuannya. Saya gugup dikelas ini apalagi waktu itu saya masih belum menikah semua siswa perempuannya meminta no HP saya, alamat saya, facebook saya dll. Jelas saya kasih ke mereka kemudian saya ganti semua no HP, Facebook saya.

            Tahun berganti tahun saya mulai terbiasa mengajar di tingkat SMA. Kemudian saya ditugaskan mengajar ditingkatan SD. Awalnya saya tidak merasakan kekhawatiran saat ditugaskan ditingkatan SD tapi pada saat pembagian kelas saya ditempatkan dikelas I, II dan III SD di kelas-kelas kecil. Disini saya merasakan bagaimana guru itu sebenarnya. Saya harus membukakan tas siwa-siswa saya dan mengeluarkan buku TIK mereka satu per satu sampai-sampai bel berbunyi hanya untuk mengajarkan mereka mengeluarkan buku ke atas meja. Ada juga siwa yang belum bisa membaca, menulis, berbahasa indonesia dsb. Mulailah rasa malas dan menyerah mengajar itu datang terus menerus kepada saya.

Sampai suatu saat niat saya untuk menjadi guru mulai pudar tetapi sebelum niat-niat itu pudar saya tidak menyerah untuk menjadi seorang guru walapun seperti kata lirik lagu “GAJI GURU OEMAR BAKRIE SEPERTI DIKEBIRI”, “JADI GURU JUJUR BERBAKTI MEMANG MAKAN HATI” tapi saya tetap mengajar sampai saat ini.

            Sekarang tujuh tahun sudah saya mengajar di beberapa sekolah mulai dari sekolah negeri, swasta, pesantren dsb. Saya sangat bangga menjadi guru. Saya bangga jika siswa/i yang saya bimbing dulu menjadi orang penting, pejabat, polisi atau menjadi orang sukses di indonesia. Apalagi saat saya bertemu dengan mereka dan mereka dengan bangga menyebutkan “Saya bisa begini karena bapak dulu mengajar saya denga rasa sayang dan seperti orang tua bagi saya disekolah”.

            Inilah suka duka saya saat menjadi guru di indonesia.

Salam dari saya

RICKY ANHAR LUBIS, S.T

Sekarang mengajar di PERGURUAN HUSNI THAMRIN MEDAN.