Guru & Cinta

Guru dan Cinta

Oleh : Hastuti Wibowo

img_2443

Guru identik dengan Cinta karena selama menjadi guru selalu ada cinta buat saya. Bahagia rasanya mendapat cinta dari semua yang berinteraksi dengan saya sebagai guru. Ibu guru sebuah panggilan yang menggetarkan hati dari kata inilah saya merasakan adanya cinta di kehidupan. Mereka memanggil Ibu Guru rasanya sejuta harapan yang mereka inginkan dari saya. Begitu nyaman dan indahnya setiap kata itu terucap dari mereka anak-anak saya di sekolah. Tidak salah lagi Cinta yang membingkai Ibu Guru dengan semua anak didik di sekolah.

Cinta sebagai guru sudah saya rasakan mulai dari 29 tahun lalu, saat saya mengawali aktivitas sebagai guru. Menjadi guru baru memberi tantangan tersendiri untuk membuktikan eksistensi sebagai guru yang dapat dihandalkan. Meski masih sebagai guru honorer tidak menyurutkan semangat saya untuk menunjukkan kualitas pembelajaran.

Waktu terus berlalu sampai menginjak tahun ke 12 saya masih berstatus sebagai guru honorer di sekolah swasta ini yang merupakan sekolah ternama di Provinsi Jambi. Sampai pada akhirnya ada pertemuan antara guru dan pimpinan Yayasan Pusat. Pada pertemuan tersebut banyak diantara guru mengajukan protes kenaikan kesejahteraan. Kebanyakan dari mereka sudah berpredikat guru tetap dengan gaji yang jauh lebih besar dari gaji saya. Saya berpikir inilah saatnya saya mengajukan diri di forum yang langka ini. Dengan lantang saya berkata : “ Maaf bapak/Ibu Guru kalau kalian menginginkan kesejahteran yang lebih lalu bagaimana dengan saya?”. “Saya hanya guru honorer dengan masa kerja 12 tahun, seharusnya yang harus diprioritaskan adalah saya”. Ucap saya dengan semangat. “ Karena saya sudah banyak membawa nama sekolah dengan membimbing siswa sampai ke tingkat Nasional, tolong Bapak Pimpinan memperhatikan keinginan saya untuk dijadikan guru tetap bukan meminta tambahan kesejahteraan”. Ucap saya sambil menganggukan kepala dan duduk kembali. Alhamdulillah di tahun itu juga Tahun 2002 saya menjadi guru tetap dengan masa kerja diperhitungan setengah dari 12 tahun. Predikat ini semakin membuat saya semangat memajukan kualitas pendidikan di sekolah ini.

Sampai lupa ya.. saya belum mengenalkan diri. Nama saya Hastuti Wibowo merupakan anak kelima dari pasangan Suhawariatin dan Supardi Hendro Wibowo. Saya memiliki 2 putra dan 1 putri bersama suami saya alm Ismet Muhamad. Delapan tahun lalu suami tercinta mendahui saya dan ketiga buah hati. Keadaan terberat yang pernah saya rasakan karena harus berjuang menghidupi ketiga anak yang sedang butuh materi dan moril. Menjadi guru sangat menguatkan saya menghadapi semua ini. Saat ini kedua putra saya sudah sarjana dan gadis bungsu yang cantik cerdas dibiayai Provinsi karena diterima di SMA Negeri Titian Teras HAS milik Provinsi Jambi. Umur saya saat ini sudah mencapai 54 tahun.

Kembali lagi pada cerita saya tentang suka duka menjadi guru yang didominasi suka karena cinta dan dukungan dari semua pihak. Saya sebagai guru IPA selalu mendukung siswa beprestasi di sekolah maupun di luar sekolah. Saya menekuni Olimpiade Sains mulai dari membimbing di sekolah sampai membimbing di Provinsi. Semakin banyak saya berbuat rasanya semakin kurang upaya yang sudah saya lakukan. Saya bertekad akan selalu mendukung dunia pendidikan sampai akhir hayat.

Guru tidak hanya mendukung tetapi ada kalanya harus memberi contoh. Contoh yang sering saya tunjukkan pada murid antara lain saya aktif belajar dan aktif mengikuti lomba guru. Saya belajar dengan mengikuti pendidikan S2 diusia 48 tahun dan Alhamdulillah saya wujudkan menjadi lulusan terbaik wisuda tahun 2015 dengan IPK 4,00. Bahagia rasanya dengan penuh cinta murid-murid saya datang di hari ujian sidang dengan bunganya. Lomba yang sudah saya ikuti dari tingkat kota sampai nasional. Pengalaman nasional saya rasakan pada tahun  2009, 2010, 2016, 2017. Pengalaman lomba membuat saya semakin belum maksimal dalam berkarya karena masih banyak guru hebat diluaran sana yang patut diacungi jempol.

Menjadi finalis guru berprestasi nasional 2016 memberi pelajaran tersendiri buat saya kalau guru harus menulis karena dengan menulis ada yang ditinggalkan pada generasi berikutnya. Guru tidak hanya meninggalkan ilmunya saja tapi meninggalkan tulisan yang penuh makna bagi dunia pendidikan.

Berlatar belakang ini tolong ajari saya untuk terus menulis tentang fiksi dan non fiksi. Kemampuan saya yang masih minim perlu bimbingan dan belajar lebih lanjut. Terimakasih Bapak Wijaya Kusumah (Omjay) yang bersedia menjadi mentor saya dalam menulis. Meski baru belajar saya sudah menerbitkan 4 buku dengan penuh perjuangan. Ingin rasanya dimasa pensiun saya kelak Insya Allah saya menjadi penulis yang mendidik untuk perkembangan anak-anak dalam masa pendidikan.

One response to “Guru & Cinta

  1. Terimakasih…Blog menjadi tempat guru menulis…sukses buat Om Jay Guru Hebat Penuh Dedikasi…Alhamdulillah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s