Daily Archives: Agustus 2, 2018

SK Membuatku Jadi Mandiri

SK Membuatku Jadi Mandiri

(Mey Nia)
Peserta Guru Menulis Gelombang 6
img_9944-copy
Sudah 19 tahun aku mengajar di daerah Tangerang yang jauh dari tanah kelahiranku. Asliku dari Bogor. Dari kecil aku tinggal di Bogor bersama keluarga. Tahun 1994 aku lulus D2 IKIP Jakarta. Setelah honor selama kurang lebih 4 tahun di sebuah Yayasan di daerah Ciawi,  tahun 1999 aku ikut tes CPNS  di IKIP Bandung dan mendapat SK di daerah Tangerang. Ketika itu Tangerang masih wilayah Jawa Barat belum menjadi bagian dari Provinsi Banten.
Sedih sekali begitu pembagian SK,  semua teman-teman mendapat SK tak jauh dari tempat asal. Hanya aku sendiri yang mendapat SK  jauh di Tangerang. Mau protes juga aku tak tahu mau protes ke siapa. Akhirnya terpaksa  kuterima dan kubawa pulang SK itu. Aku pasrah saja ketika itu. Menjadi guru dan ikut tes CPNS memang keinginanku sendiri.
Ditemani seorang teman, berangkatlah aku menuju Tangerang ketika itu. Kucari-cari alamat yang tertera di SK, sambil bertanya sepanjang jalan dengan menumpang sebuah bus.
Alamat SDN Mauk 3 tertera di SK itu. Ternyata lumayan jauh juga tempatnya. Hampir dekat dengan pantai. Saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya ketika itu di daerah Tangerang. Daerah yang gersang dan panas. Terbayang sudah pasti akan sangat menyiksaku. Aku yang biasa tinggal di daerah gunung dengan udara yang sejuk, mau tidak mau harus menerima kenyataan yang 360 derajat terbalik. Ingin rasanya ketika itu menyerah, tapi aku berpikir lagi mungkin ini sebuah tantangan dan ujian yang sudah  Allah rencanakan dan harus kujalani.
Ternyata memang banyak tantangan yang harus kujalani ketika itu. Dari adaptasi cuaca,  lingkungan , bahasa dan adat istiadat yang sungguh berbeda dan bertolak belakang. Seperti peribahasa di mana bumi dipijak,  di situ langit dijungjung. Mau tidak mau,  suka tidak suka aku harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Aku harus dapat menyesuaikan diri agar dapat bersosialisasi.
Tantangan terberat bagiku adalah ketika aku dihadapkan dengan anak-anak murid yang berasal dari latar belakang lingkungan dengan tingkat pendidikan dan sosial yang rendah. Mengubah prilaku dan kebiasaan itulah yang sulit. Prilaku dan kebiasaan masyarakat yang tidak dan kurang mengerti tata krama, sopan santun juga kebersihan.
Kini 19 tahun sudah berlalu,  banyak yang berubah dariku. Dari yang biasa berbicara pelan,  kini nadanya mulai naik. Dari tak suka ikan laut kini berbagai jenis ikan laut suka kumakan. Dari tak suka daging bebek,  kini sering sekali masak bebek. Dulu tak pernah main ke sawah kini tinggal dekat sawah. Banyak pelajaran hidup yang aku dapatkan. Dari tak pernah nimba air di sumur pun,  aku jadi bisa nimba. Dari tak bisa masak aku  jadi bisa masak. Aku jadi mandiri. Hidup prihatin dan sendiri jauh dari keluarga dan saudara, dengan lingkungan yang jauh berbeda. Banyak hikmah dan pelajaran hidup yang aku dapatkan.
Sudah 19 tahun berlalu. Kini kebiasaan buruk anak anak dan masyarakat di sekitar lingkungan sekolah sudah mulai berubah. Tak ada lagi anak yang suka ngadu-ngadu ke orang tua, sehingga orang tua datang ke sekolah membawa golok. Tidak ada lagi anak yang berbicara teriak-teriak di depan guru. Tidak ada lagi anak-anak yang buang air ludah sembarangan terutama di kelas. Sekarang mereka lebih mengerti tentang sopan santun, hidup bersih dan sehat.

Perjalanan Hidup Seorang Guru Gado-gado

PERJALANAN HIDUP SEORANG GURU GADO-GADO
Oleh : Much Rojaki (SMKUN 2 Banyuasin III)
Peserta guru menulis gelombang 6
DWITAGAMA BAKTI MULYA 400 A
Menjadi seorang guru sebenarnya bukanlah cita-citaku, karena hobiku yang sebenarnya adalah elektronika walaupun pernah jatuh cinta kepada dunia komputer. Latar belakang pendidikan saya juga bukan pendidikan guru walaupun akhirnya juga mengambil kuliah akta IV.
Awal cerita dimulainya saya terjun kedunia guru adalah selepas wisuda S1 Peternakan. Lalu beberapa bulan kemudian sambil menunggu panggilan kerja dari lamaran yang saya masukkan ternyata bekal sisa tabungan sewaktu kuliah makin menipis, dan akhirnya saya memutuskan pulang kekampung halaman.
Pada waktu itu tahun 2002 perkembangan teknologi informatika dan komunikasi (TIK) belum seperti saat ini, dan saya sudah menduga bahwa di kampung pasti akan ketinggalan informasi lowongan kerja.
Setahun kurang saya menganggur padahal saya hidup dengan dua saudara kandungku. Semenjak ibu meninggal menjelang saya wisuda sarjana rasanya hampa.  Akhirnya saya memutuskan mengambil kesibukan dengan ikut organisasi kepemudaan dan kuliah lagi mengambil akta IV.
Pada saat saya mengikuti organisasi kepemudaan itu saya banyak memperoleh teman baru dari berbagai macam tipe dan karakter serta latar belakang pendidikan. Kalau boleh jujur sebelumnya saya nol besar dalam masalah organisasi.
Pada suatu saat organisasi mengadakan acara pelatihan komputer bagi anak SD, guru dan kepala sekolah, kades serta perangkat desa, dan saya dipercaya menjadi tutor pelatihan.  Pada saat itu pelatihan diadakan menumpang di laboratorium komputer milik madrasah. Ternyata selama saya jadi tutor,  kepala madrasah memperhatikan saya.  Setelah kegiatan pelatihan selesai beberapa hari kemudian ketua organisasi kepemudaan saya yang ternyata juga merupakan salah satu guru dari madrasah itu datang kerumah saya dan menyampaikan bahwa saya sebaiknya bergabung untuk menjadi pendidik di madrasah itu.
Pada waktu itu saya masih bimbang menerima tawaran itu atau tidak, apakah saya bisa jadi seorang pendidik? Sedangkan latar belakang saya S1 “Murtat”(murni+akta empat). Setelah itu saya diberi waktu  tiga hari, akhirnya saya menerima tawaran tersebut dan memasukkan lamaran.
Pada rapat pembagian tugas pertama kali, saya di beri tugas 28 jam dengan mata pelajaran gado-gado  yaitu biologi kelas 7, 8, dan 9 kemudian fisika kelas 8, geografi kelas 7,8,9 dan ketika ada mapel baru TIK saya juga ditugasi mengajar TIK serta ekstrakurikuler komputer juga.
Pada waktu itu sebenarnya banyak guru yang iri, karena saya sebagai guru baru langsung dipercaya mengampu banyak jam yang biasanya guru yang belum diangkat jadi guru tetap yayasan paling maksimal diberi tugas 12 jam.
Setahun sudah saya mengajar, ternyata ada lowongan tenaga kontrak sarjana pendamping  program dari pemerintah daerah saya. dan karena persyaratan kualifikasi pendidikan S1-nya memenuhi akhirnya saya mencoba memasukkan lamaran.
Dari hasil seleksi dari 300 lebih pelamar diambil 100 dan ternyata saya juga lulus dan ditempatkan di wilayah kecamatan saya tinggal. Kemudian saya berniat mengundurkan diri dari guru. Namun kepala madrasah tidak memperbolehkan saya mundur, dan akhirnya saya mengurangi jumlah jam. Saya cuma mengajar biologi dan TIK.
Disela-sela mengajar dan melayani masyarakat saya juga sempat mencoba kuliah lagi mengambil D3 Teknik Informatika namun tidak selesai karena kendala waktu dan keuangan.  Selama saya jadi guru di madrasah itu alhamdulillah mengalami kemajuan yang sangat pesat yang semula cuma 9 rombel dengan kelas kurus menjadi 15 rombel kelas gemuk.
Kemajuan sekolah tidak terlepas dari kekompakan dan kenyamanan guru dan karyawan dalam bekerja di sekolah tersebut, kebetulan teman guru disitu kebanyakan adalah teman-teman sekolah waktu di SMP sehingga kami lebih kompak dalam bekerja.  Disamping jadi guru di madrasah tersebut juga menjadi tutor paket C yang kebetulan tempat kegiatan belajarnya dimadrasah tersebut, dan sebagian besar warga belajarnya adalah perangkat desa di wilayah kecamatan tersebut sehingga kerja saya dalam melayani warga masyarakat pada program pendampingan pemberdayaan juga semakin mudah.
Rajin silaturahim mempermudah banyak hal, walaupun pada saat itu kegiatan saya sangatlah banyak.  Dalam waktu yang bersamaan saya harus jadi guru di madrasah, tutor di paket C, melayani masyarakat sebagai tenaga kontrak sarjana pendamping dan menjadi anggota BPD  serta kader pemberdayaan di desa.  Serasa waktu saya habis untuk mengabdi waktu itu pergi pagi pulang petang hari minggu pun tidak bisa libur.  Dan akhirnya pada tahun 2012 ada bukaan lowongan formasi guru SMK saya mencoba ikut tes CPNS di Sumatera, dengan modal nekat saya terbang ke Sumatera dan ternyata alhamdulillah saya lulus dan ditempatkan di daerah eks transmigrasi sebagai guru SMK.
Ternyata takdir saya menjadi guru. Padahal sebelumnya, totalitas menjadi guru hampir saya habiskan untuk melayani masyarakat menjadi sarjana pendamping. Terakhir sebelum diterima CPNS saya cuma mengajar TIK dua jam.
Suka duka mengajar di tempat yang baru sungguh terbalik 180o dari yang semula. Dulu biarpun mengajar disekolah swasta, tapi fasilitas slide proyektor dan multimedia ada disetiap ruangan, LAN dan WIFI internet tersedia. Kini yang saya hadapi menjadi seperti kembali ke tahun 80-an ketika saya masih usia TK. Dimana jalan ke sekolah berlumpur dan terpaksa pakai sepatu boot. Di sana, boro-boro ada slide proyektor dan internet, jaringan telefon saja cuma satu operator. Sinyalnya itupun timbul tenggelam.
Namun disinilah saya merasa terpanggil jadi guru yang sebenarnya. Ternyata biarpun sekolahnya gratis masih banyak anak yang bermasalah keuangan, karena untuk ke sekolah harus pakai kendaraan dengan harga bensin yang jauh dari harga di POM.  Lagi-lagi di sekolah yang baru ternyata saya mengajar tidak sesuai dengan latar belakang S1 saya, disini saya mengajar mapel matematika dan mapel produktif Kejuruan Rekayasa Perangkat Lunak.
Satu tahun saya ditempatkan di daerah eks transmigrasi, saya dipanggil BKD diminta untuk bersama-sama guru-guru pilihan untuk mendirikan SMK Pertanian dan saya ditugasi membuka jurusan sesuai S1 saya.
Perjuangan mendirikan SMK pertanian tidak mudah di era sekarang, pandangan orang tua dan calon siswa beranggapan bahwa jurusan pertanian adalah jurusan kampung dan biasa dengan kotor-kotor nanti lulusannya bukan kerja dikantoran.  Padahal menurut saya beruntunglah yang memlilih dunia pertanian karena berkesempatan jadi bos atau pengusaha bukan pekerja.
Seiring waktu, alhamdulillah berkat jaringan alumni, sekolah banyak MOU dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri. Salah satu perusahaan yang kebetulan manajer areanya adalah adik tingkat saya sewaktu kuliah banyak membantu menyalurkan kerja lulusan SMK jurusan yang saya bimbing.  Kebanggaan seorang guru adalah ketika menyaksikan anak didiknya sukses mengejar cita-citanya.
Pengalaman yang saya alami selama menjadi guru lumayan banyak diantaranya menyaksikan lulusan paket C yang kebanyakan adalah sekretaris desa. Mereka banyak yang datang kerumah menyampaikan terima kasih. Mereka lebih dulu menjadi PNS dibandingkan tutornya.
Ketika saya belum lama di tempat tugas yang baru dan sedang jalan-jalan di kota tersebut, tiba-tiba ada polisi menghentikan motor saya. Hehehe ternyata dia adalah siswa saya dulu di madrasah. Sungguh kebahagiaan tak ternilai, ternyata dia masih mengenali saya. Padahal sudah lama tak bertemu dan posisi sama-sama di perantauan.
Pengalaman yang lain ternyata siswa saya juga sudah banyak yang berprofesi menjadi guru juga, yang dulu bandel sekarang sudah jadi orang dan lain sebagainya.  Demikian cerita suka duka perjalanan menjadi seorang guru. Semoga bermanfaat buat pembaca.

Asa Seorang Guru

ASA SEORANG GURU

Oleh: Dyahni Mastutisari

 foto p2m17-6

Saya mempunyai ijazah S1 dari perguruan tinggi yang lumayan ternama. Lantas tidak kemudian memudahkan saya mencari pekerjaan. Setelah lulus kuliah dari jurusan Pendidikan Matematika, cita-cita saya hanya satu yaitu menjadi guru matematika. Sehingga saya pun harus mempunyai keberanian dan sedikit menahan rasa malu ketika harus memasukkan lamaran ke sekolah-sekolah di sekitar tempat tinggal saya.

Dua minggu saya berkeliling ke sekolah negeri maupun swasta berharap ada   sekolah yang kemudian memanggil dan menjadikan saya sebagai salah satu guru di sekolah tersebut. Tapi agaknya saya harus bersabar. Satu bulan setelah surat lamaran diserahkan. Belum ada satu pun surat panggilan yang datang ke rumah. Saya pun mulai merasa khawatir.

Hingga suatu siang salah seorang saudara yang sudah menjadi guru memberikan  informasi  bahwa sekolahnya  sedang membutuhkan guru matematika. Alhamdullilah puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT cita-cita saya menjadi guru matematika akhirnya terwujud.

Perjuangan menjadi guru dimulai. Pertama mengajar sempat merasa gugup, apalagi ada beberapa siswa yang kemudian membandingkan cara mengajar saya dengan guru matematika sebelumnya. Yang katanya lebih mudah dipahami. Aku pun tak putus arang. Setiap hari berusaha belajar untuk meningkatkan kemampuan menyampaikan materi di depan kelas. Supaya semua siswa dapat memahaminya. Terlebih matematika, mata pelajaran yang sering menjadi momok bagi sebagian siswa.

Seiring berjalannya waktu saya pun mulai bisa membuat siswa nyaman dengan pelajaran saya. Perasaan senang dan puas ketika kemudian siswa dapat mengerjakan soal-soal yang saya berikan. Sebagai guru honorer dengan gaji jauh di bawah UMR. Sudah membuat saya merasa cukup senang. Dengan gaji itu saya bisa membeli buku-buku yang saya inginkan dan selebihnya untuk membeli keperluan pribadi. Karena pada waktu itu saya masih berstatus single.

Hingga beberapa waktu kemudian Allah SWT mempertemukan saya dengan seseorang yang kemudian menjadi suami saya. Suami seorang wiraswasta yang baru merintis usaha. Dengan gaji yang tidak seberapa, alhamdullilah saya masih bisa menabung. Waktu itu kami masih menumpang di rumah mertua.

Sebelumnya tidak pernah terpikir bahwa suatu saat saya akan menjadi guru PNS. Saya sudah sangat menikmati menjadi guru di madrasah ini. Sehingga ketika ada informasi tentang sekolah negeri yang sedang membutuhkan guru matematika masuk ke telinga. Pada saat itu saya tidak tertarik untuk mengajukan surat lamaran. Padahal saat itu guru yang mengajar di sekolah negeri mempunyai masa depan yang lebih cerah. Tapi entahlah saya merasa nyaman mengajar di sekolah yang sebenarnya dari segi input siswanya memiliki IQ rata-rata bahkan cenderung di bawah. Mungkin ini konsekuensi sekolah swasta yang harus menerima apapun kondisi siswa. Jika tidak demikian sekolah kami tidak mendapatkan murid. Di tambah lagi dari segi ekonomi, mereka termasuk golongan ekonomi menengah ke bawah.

Disinilah tantangannya sebagai guru, membuat siswa yang nilai UN matematika di SD rendah menjadi siswa yang minimal bisa menghitung. Mengapa saya katakan minimal karena sering saya menjumpai siswa kelas 7 yang belum hafal perkalian. Bahkan banyak siswa yang masih kesulitan dalam hal pembagian. Jadilah saya mengulang kembali materi perkalian dan pembagian. Yang semestinya sudah mereka peroleh di SD kelas IV. Bagi saya menemukan siswa yang belum bisa perkalian dan pembagian sangatlah disayangkan. Karena dasar dari ilmu matematika adalah penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.

Dengan kemampuan siswa yang pas-pasan membuat saya tidak terlalu banyak menggunakan metode yang macam-macam. Dalam pikiran saya yang penting siswa paham. Itu pun sudah dilakukan dengan pelan-pelan, masih ada saja siswa yang belum memahaminya. Akhirnya kadang saya harus mengulangi materi dua hingga tiga kali.

Entah karena ketelatenan saya atau memang sudah menjadi takdir Allah, setelah 6 tahun menjadi guru honorer. Akhirnya saya mendapat SK CPNS. Perasaan haru dan senang bercampur menjadi satu. Dua tahun berikutnya saya resmi menjadi PNS dengan status guru DPK yaitu guru yang diperbantukan di sekolah swasta. Saya mengajukan untuk DPK di sekolah yang dulu. Karena saya merasa di sekolah itulah saya mendapatkan banyak sekali pengalaman yang berharga menjadi seorang guru. Hingga sampai sekarang pun saya masih mengajar di MTs Muhammadiyah Patikraja Kabupaten Banyumas.

Aku Guru Pembelajar

AKU GURU PEMBELAJAR

Oleh: Mirna Eriva

foto p2m17-3

Benarkah Aku seorang guru? Itulah pertanyaan yang sering muncul dibenakku. Terkadang ada rasa tak percaya walaupun ini kenyataannya. Sebab, menjadi seorang guru bukanlah cita-citaku sejak dulu kendati guru adalah salah satu profesi yang aku kagumi. Namun, Allah telah menuntunku dan melekatkan profesi yang mulia ini dengan skenario-Nya yang sangat indah dan tiada terkira. Sungguh sangat indah bagiku!

Namaku Mirna Eriva, lahir di Sukabumi tahun 1992. Aku terlahir dari keluarga yang amat sederhana. Ayahku, Ujang Saepudin tak memiliki selembar ijazahpun sepanjang hidupnya, begitupula dengan Ibuku, Iis Sunarsih yang hanyalah seorang ibu rumah tangga tapi bagiku sungguh sangat luar biasa. Aku anak kedua dari enam bersaudara. Walaupun orangtuaku bukanlah orang berada, namun mereka tak ingin nasib serupa menimpa putra-putrinya.

Aku mulai belajar mengamalkan ilmu sejak tahun 2006. Tepatnya sejak duduk di kelas 8 sekolah menengah pertama. Diawali dari permintaan guru madrasahku yang tengah kesulitan mengelola madrasah diniyah yang memiliki 6 kelas sementara guru yang ada hanya beliau sendiri dan dibantu ayahandanya yang sudah tidak lagi muda. Awalnya aku menolak, mana mungkin aku anak kelas 8 bisa mengajar adik-adik yang usianya hanya terpaut beberapa tahun saja. Tapi karena beliau meyakinkanku akhirnya aku terima dengan syarat ingin selalu dibimbing kalau-kalau aku dihadapkan pada kesulitan.

Hari demi hari kujalani. Setiap pulang sekolah, kusimpan tas dan kuganti seragamku. Aku bergegas menuju madrasah tempatku menuntut ilmu dulu. 2 tahun sudah aku lulus dan kembali lagi dengan status yang berbeda. Adik-adik kelasku yang kini jadi muridku memanggilku ragu dengan sebutan Bu Guru. Panggilan yang menggetarkan jiwaku saat itu.” Subhaanallah ternyata begini menjadi guru,”ujarku. Bermacam-macam karakter ada dihadapanku, belum lagi tangisan yang selalu menghias suasana kelas disetiap harinya. Segala yang dulu kulakukan kini berbalik padaku. Kadang ingin menyerah namun selalu ada anak yang seolah menguatkanku. Dengan tingkah polosnya mereka menunjukkan berartinya diriku bagi mereka. Sampai akhirnya dengan berat hati aku harus pergi melanjutkan pendidikanku yang lumayan jauh dari tempat tinggalku.

Singkat cerita, tahun 2011 aku mulai mengajar sebagai tenaga sukwan (sukarelawan) disalah satu SD Negeri. Waktu itu aku baru saja menikah dan masuk kuliah jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Kini kerinduan mengajar anak-anak madrasah sedikit terobati. Di sini banyak hal yang kupelajari. Dari mulai administrasi kelas sampai latihan mengendalikan kesabaran atas kenakalan yang mungkin tak sengaja murid-muridku lakukan. Kurang dari setahun Allah menitipkan janin dalam rahimku. Sungguh berat rasanya mengajar saat tengah berbadan dua. Hingga dipenghujung tahun 2012 putri pertamaku lahir dengan selamat. Hal ini membuat aku sedikit ragu untuk melanjutkan kiprahku didunia pendidikan.

Kondisi ini diperparah dengan penyakit menular yang menyerang paru-paruku dan sewaktu-waktu bisa merenggut nyawaku. Selain itu, kudengar ada peraturan yang mengharuskan guru SD berijazah S1 PGSD. Entahlah, semua rasa berkecamuk saat itu. Namun dengan langkah tertatih menahan kesakitan karena penyakitku, aku tetap mengajar dan sesekali kubawa bayiku ke sekolah. Tak dapat diungkapkan betapa sukar jalan hidup yang kususuri saat itu. Derai tangis tak pernah absen menemani peliknya hidupku.

Tahun 2014 karena harus melakukan penelitian disemester akhir, aku pindah ke Madrasah Aliyah tempatku sekolah dulu. Aku mengajar mata pelajaran bahasa Inggris sesuai dengan jurusan kuliah. Aku juga mengajar Bahasa Indonesia di SMP dan mengikuti UKG serentak di tahun 2015.

Tak kusangka UKG itu membawaku pada ladang ilmu yang tak pernah kusangka sebelumnya. Aku mendapat panggilan pembekalan calon instruktur nasional tahun 2016 dan dinyatakan lulus sebagai Instruktur nasional Guru Pembelajaran Bahasa Indonesia SMP.

Senang bercampur bingung apa yang harus dilakukan. Lagi-lagi aku bertanya apakah bisa aku yang baru beberapa semester mengajar Bahasa Indonesia menjadi IN bagi guru-guru senior yang pengalamannya sangat jauh berbeda? Mungkin hanya kebetulan nilaiku baik di UKG itu.” Aku tidak bisa apa-apa Ya Allah,”rintihku. Namun aku yakin Allah tidak akan membiarkanku dalam kesulitan.

Alhamdulillah, atas bantuan dan dukungan dari semuanya, tugas pertama itu dapat ku selesaikan. Banyak hikmah yang aku dapatkan. Teman baru, keluarga baru, ilmu baru sungguh tak ternilai bagiku. Tahun 2017 aku terpanggil lagi untuk menjadi Mentor Program PKB dan tugasku berjalan lancar tanpa ada kendala yang berarti.

Pengalaman ini membuatku semangat menuntut ilmu lagi jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia.Tak henti-hentinya aku bersyukur atas limpahan nikmat-Nya yang dianugerahkan kepadaku. Kini aku sadar, Skenario-Nya sungguh indah. Semua yang kujalani membuat aku semakin bersyukur dan takjub atas kuasa-Nya.

Sukabumi, 1 Agustus 2018

Mirna Eriva

Guru Penebar Virus

Guru Penebar Virus

Sumintarsih, guru SMP Al Irsyad Purwokerto

 kaos-guru

Berstatus sebagai guru aku sandang 18 tahun sudah. Sebuah masa yang tidak sebentar. Terbukti, sudah puluhan undangan pernikahan sering aku terima dari para murid yang hendak mengakhiri masa lajangnya. Sebuah rasa syukur tersendiri. Sebagai guru SMP-nya, aku masih mereka ingat untuk menyaksikan hari bersejarah mereka.

Banyak kenangan tentunya, yang telah terangkai menjadi penghias  hari-hariku membersamai mereka. Ya, tepatnya sejak Pebruari 2000, awal aku melibatkan seluruh perhatian dan pengabdianku untuk membantu menyiapkan penerus masa depan bangsa di dunia pendidikan.

Dari pintu ke pintu, kucoba tawarkan nama….

Sepotong syair itu dari penyanyi kawakan, Ebiet G. Ade, pernah mengiringi perjalananku pada awal menjadi guru. Kegiatan pemasaran dari pintu ke pintu pernah aku lakukan. Aku yang baru saja bergabung di yayasan tempatku sekarang bekerja, diberi  tantangan merasakan layaknya sales girl.

Sebagai sekolah swasta yang sepi peminat, semua guru dikerahkan untuk menjaring siswa. Kala itu, awal sistem dan kurikulum baru akan diterapkan. Sekolah biasa bahkan berlabel sekolah “buangan”, bermimpi ingin menjadi sekolah unggulan.

Seiring berjalannya waktu, aneka program dan kegiatan dilakukan sudah. Target akademis dan nonakademis digenjot pula. Waktu telah menjawab, masyarakat pun semakin mengakui kini. Input yang aneka rupa, diupayakan untuk bagus dalam akademis, hafalan Alquran, serta pembiasaan berperilaku dan beribadah.

Dan kini, aku melakukan hal yang sama seperti 18 tahun lalu. Dari pintu ke pintu. Tentunya bukan untuk menjual sekolah lagi. Akan tetapi, dengan bangga dan bermurah-murah senyum, kuucapkan, “Ibu, saya datang bersilaturahmi dan ingin menunjukkan dua buku karya saya. SMP Al Irsyad Purwokerto, Perjalanan Menuju Sekolah Unggulan dan Ada Bioskop di  Sekolah (perjalanan pribadi 18 tahun menjadi guru).” Dua buku ini sebagai hasil pelatihan bersama Mediaguru akhir 2017 dan awal 2018. Mereka pun dengan senang hati menghargai karyaku.

Alhamdulillah, sejak memiliki buku, aku makin percaya diri mengajar di depan kelas. Terlebih bila aku mengajak dan memotivasi murid-muridku untuk membaca dan menulis. Rupanya memang guru harus menjadi teladan dalam segala hal agar nasihat dan  ilmu yang diberikan lebih mantap  disampaikan. Bisa kita ingat kembali Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005.

Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama: mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada penddikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Disebutkan juga bahwa suatu pekerjaan profesional jelas memerlukan keahlian, kemadirian, atau kecakapan, dan sebagainya.

Pengalaman lain yang selalu terkenang adalah tatkala pantunku dihargai lima juta rupiah.

Tahun 2006, saat aku menjadi moderator bedah buku biografi Bapak Suchari di depan ratusan siswa dan guru. Sang Pembicara, Pak Eling, orang tua siswa yang merupakan salah satu putra pengusaha/ pendiri Sambas Purbalingga, akan menutup pembicaraan. Saya lancarkan pantun sanjungan dan penyemangat untuk Sambas Grup. Seketika itu juga, takdir dari Allah, Pak Eling kontan menyerahkan catatan, sedekah lima juta rupiah. Alhamdulillah, pantunku membuahkan lima juta rupiah untuk para guru. Seusai acara itu, beredarlah berita “pantun 5 juta” di kalangan para guru. Sejak saat itu pula, aku lebih PD berpantun di dalam forum-forum kegiatan guru, apalagi di dalam kelas.

Syukur dan haruku yang tengah kurasakan kini, sukses mengumpulkan  53 naskah cerita alumni dari tahun lulusan 2002 sampai 2018,  tujuh belas angkatan. Dan ternyata, di antara rekan guru, tinggal aku seorang yang tersisa sebagai saksi sejarah keberadaan mereka, khususnya angkatan-angkatan awal.

Setelah satu per satu naskah aku baca, ada rasa syukur dan bangga bahwa beberapa nasihatku dulu masih mereka ingat. Aku pun menyimpulkan bahwa menjadi guru harus bersyukur karena bisa menebarkan nasihat dan kebaikan. Apalagi, keteladanan dalam pembentukan karakter para peserta didik.

Alhamdulillah, tuntas sudah mimpiku sebagai penggagas dan editor buku Apa Kata Mereka Saja, Antologi Cerita Alumni SMP Al Irsyad Purwokerto 2002 – 2018. Buku cantik berkover hitam elegan dengan judulnya bertuliskan warna emas. Buku ini sebagai persembahan dan dedikasiku untuk sukses pendidikan sekolah Islam.

Tidak berlebihan bila aku katakan bahwa menjadi guru itu keren sekali. Setiap hari bisa memvirusi banyak kepala dan kepala-kepala itu adalah masa depan Indonesia.  Semangat yang aku punya tidak untuk diriku saja. Insyaallah, semoga aku bisa terus memberikan sesuatu yang berarti.*

Biodata Penulis

Nama:Sumintarsih, guru SMP Al Irsyad Purwokert

            Jalan Prof. Dr. Suharso, Purwokerto

Email: sumintarsihpurwokerto@gmail.com

(085726427549)