Daily Archives: Agustus 3, 2018

Aku Sadar Setelah 10 Tahun Jadi Guru

AKU SADAR SETELAH 10 TAHUN

Oleh: Mahdiah Apandi, S.Pd

twc6

Sebenarnya, aku tak pantas dikatakan seorang guru yang mengajar di sebuah marasah. Tahun 2003 aku baru saja tamat SLTA di sebuah Madrasah Aliyah Negeri di Medan. Aku tak lulus ke universitas negeri yang kupilih. Jadi aku  melanjutkan sekolahku ke sebuah lembaga tinggi selama 1 tahun dengan jurusan Informatika Komputer.

Alhamdulillah aku adalah salah satu mahasiswa terbaik di kampusku. Usiaku yang begitu muda tidak membuatku ragu menerima tawaran mengajar komputer di sebuah Madrasah di dekat rumahku. Beruntungnya, karena kepala sekolahnya adalah kakak kandungku sendiri sehingga bisa meminta keringanan waktu agar aku bisa mengajar sambil melanjutkan kuliah S1, namun dengan jurusan berbeda yaitu Pendidikan Bahasa Inggris. Hingga akhirnya aku bisa menyelesaikan S1 di tahun 2010.

Selama mengajar guru-guru mengenalku sebagai guru yang multi talenta, istilah tersebut sangat tidak kusuka, karena bisa membuat kita berbangga diri. Terkadang aku mengajar yang bukan jurusanku. Aku pernah mengajar IPA, Seni Budaya, TIK dan sampai sekarang aku mengajar bidang studi Bahasa Inggris.

Pengalaman mengajar membuat aku semakin PD mengajar, terkadang tanpa membuat RPP, tanpa buku pendukung. Aku lebih banyak melakukan pendekatan dengan siswa, lebih banyak berdiskusi tentang masalah siswa. Hal ini kulakukan karena aku tahu bahwa pelajaran Bahasa Inggris adalah pelajaran yang kurang disukai oleh murid di daerah kami. Bisa dikatakan daerah kampung yang kurang pengetahuannnya tentang bahasa asing, sehingga aku kesulitan untuk mengajar dan berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris dengan murid. Bahasa Inggrisku fakum, aku terlena selama 10 Tahun dengan metode mengajar yang ku anggap mujarab untuk menyenangkan hati murid muridku.

Setiap masuk kelas waktu 2 x 40 menit kupakai sekitar 20 menit untuk menyampaikan materi yang tak beraturan, karena bercampur dengan cerita kehidupan pribadiku, motivasi, darah humor yang sudah ada dalam diriku kujadikan tambahan materi di sela sela materi inti. Menurutku siswa sangat senang ketika aku masuk kelas, aku terus bercerita kehidupanku agar bisa diambil sebagai motivasi. Hingga aku tersadar dari lenaku yang begitu panjang.

Aku lupa entah apa yang membuatku tersadar. Mungkin pada tahun 2013 mulai diisukan tentang kurikulum yang baru, kemudian banyak sekali seminar seminar dan pelatihan guru yang ku ikuti, sehingga aku banyak mendapatkan ilmu bagaimana cara mengajar dan sebagainya.

Hingga diakhir tahun 2013 tepatnya akhir semester ganjil, aku memutuskan untuk mencari tahu, meneliti bahasa ilmiahnya, “bagaimana sebenarnya aku mengajar ?”. “Apakah murid muridku menerima ilmu yang kuberikan atau ternyata mereka tidak paham sama sekali?”. Aku meminta siswa membuat sebuah komentar negatif tentang diriku dan cara mengajarku. Didalam tulisan siswa tanpa nama tersebut, siswa tidak boleh memuji diriku, mereka hanya memberikan komentar negatif  dan memberikan masukan positif.

Betapa terkejutnya aku, dari dua kelas IX-A/B 10 % mengatakan bahwa suaraku sangat kuat jadi murid terkejut ketika aku berbicara, ada juga yang mengatakan aku kadang lucu, tapi kadang kejam jadi sebelum aku masuk murid sudah deg degan. Nah….yang 90% memberikan komentar yang sama yaitu   “Miss Diah kalo ngajar kebanyakan cerita, jadinya kami ga belajar”.

Sungguh sangat terpukul aku membaca tulisan tulisan siswa tersebut. aku tidak menyangka kalau mereka akan berbicara seperti itu. Berarti selama ini tidak semua siswaku senang mendengar ceritaku, motivasiku. Tapi aku tak pernah memperdulikannya. aku asyik dengan diriku sendiri. Hingga aku teringat dengan salah satu dosen di kampusku yang lebih banyak bercerita tentang dirinya, keluarganya untuk memotivasi mahasiswa daripada menyampaikan materi, dan aku pun sangat tidak menyukai dosen seperti itu, kapan aku belajarnya…bosan.. pikirku terhadap dosen tersebut. Berarti seperti itulah aku dimata murid muridku. Bahkan salah seorang muridku yang sudah tamat dan ia juga keponakanku pernah berkata  “ dari semua guru di MTs, cuma Buk Diah yang paling enak ngajar”. terus kutanya kenapa, dia menjawab “ Buk Diah lucu, aku ingat semua cerita cerita nya di kelas”. ku Tanya lagi “ kalau pelajarannya?” dia menjawab sambil tertawa “ ga ada yang ingat buk.” semakin hancur hatiku mendengarnya.

Aku meminta maaf kepada semua murid muridku atas sikap mengajarku selama ini. Aku mulai mempersiapkan perangkat mengajarku, buku pegangan, buku nilai harian dan sikap siswa agar materi yang kuberikan sampai kepada murid meskipun tidak banyak tetapi maksimal. dan aku meminta izin kepada murid muridku 5 menit diakhir pelajaran untuk berbicara, bercerita singkat untuk memotivasi siswa agar lebih baik belajar.

Aku tetap merasa belum professional dan aku juga merasa tetap belum sempurna saat mengajar tapi aku ingin menjadi ibu dan sahabat bagi muridku, aku ingin mereka tidak takut ataupun malas belajar bahasa Inggris.

Aku juga ingin belajar lagi, ingin lancar berbahasa inggris, ingin kuliah S2 untuk memantapkan ilmuku. Mudah mudahan sepenggal pengalamanku ini menjadi manfaat bagi para pembaca. Aku juga yakin banyak kesalahan disana sini baik dalam berbahasa atau pun dalam tulisan, oleh karena itu aku minta maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan.

Terima Kasih.

“be the best teacher”

                                                Medan,  02 Agustus 2018

                                                            Penulis

                                                Mahdiah Apandi, S.Pd

Menjadi Guru Adalah Cita-cita Muliaku

“ MENJADI GURU ADALAH CITA CITA MULIAKU “

Oleh: Andi Priyatna

 img_2469

Perkenalkan saya Andi ….

Sejak kecil memang sudah menjadi keinginanku menjadi pengajar,, sembari main sama adik adik di rumah , aq suka bikin sekolah sekolahan dan menjadi guru nya..

Ternyata Alloh Mengabulkan apa yang menjadi cita citaku ini…

Tahun 2017 awal memulai karirku menjadi pengajar .. mengabdi di sekolah yang jauh dari keramaian  kota ..namun anak anaknya yang imut dan lucu membuat aku senang mengajar anak anak SD itu…

Banyak suka dan duka yang dirasakan mulai dari lokasi jauh dari rumah .. harus berjalan kaki karena waktu itu tidak memiliki kendaran dan ya honorer SD terkadang gaji tak sebanding .. untuk ongkos aja harus minta sama orang tua karena tidak cukup..

Namun hal itu tidak menjadi alasan untuk terus mengabdi .. sampai akhirnya aku harus pindah mengajar meninggalkan anak anak yang imut dan lucu yang penuh canda dan tawa karena harus pindah mengajar ke tempat lain .

Akhirnya tahun 2018 mulai mengabdi di salah satu SMP yang cukup favorit di daerahku ini.. 2008  sampai  hari ini aku mengajar dengan penuh semangat menjadi tenaga Honorer tak terlepas dari suka dan duka namun tetap dijalani sampai detik ini..

Dari sini mulai banyak pengalaman bagaimana mengajar dengan baik , menghadapi siswa dengan bijak,, karena ternyata tugas guru itu bukan hanya mengajar , tapi mendidik, melatih dan harus menjadi tauladan yang baik , berbagai pelatihan pun sering aku ikuti , seminar seminar pun sering dijumpai karena ingin mengabdikan semaksimal mungkin menjadi pengajar yang baik..

Di sekolah ku kegiatan nya cukup bagus mulai dari kegiatan keagamaan dimulai dengan solat dhuha bersama sebelum KBM ,, melaksanakan solat berjamaah duhur , kegiatan menghafal qur’an menjadi energi positif yang menjadikan aku semakin bersemangat mengajar , karena secara tidak langsung mengajarkan saya pula untuk ikut melaksanakn kegiatan tersebut bersama anak didik tercinta..

Dari segi penghasilan memang tidak besar ,, gaji dibawah UMR, jikalau lah dihitung besar pasak dari pada tiang,, namun bukan alasan untuk menyusutkan semangat ku untuk berhenti mengajar. Ada berbagai tawaran berdatangan untuk bekerja yang penghasilan nya jauh lebih besar, dan bahkan bisa berkali kali lipat . Namun  kecintaan ku utuk mengabdi mendidik melatih dan mengajar anak – anak jauh lebih besar. Ya mudah mudahan suatu saat bisa menjadi PNS sehingga dari segi penghasilan bisa mencukupi untuk anak dan istri.

Senang rasa nya ketika mendengar anak didik kita menjadi orang – orang sukses . Itu rasanya menjadi obat haus penghilang dahaga.

Sudah 12 tahun memang bukan waktu yang sebentar menjadi pengajar. Hanya satu pintaku pada Tuhan selalu berikan kesehatan. Aku juga minta agar tetap senantiasa istiqomah dan semangat mendidik anak – anak bangsa agar menjadi orang yang beretika dan mampu berkarya untuk bangsa dan negara.

Itulah sepenggalan kisahku menjadi seorang pengajar. Semoga saja teman teman lain yang masih honorer bisa terus bersemangat mengabdikan dirinya untuk mencerdaskan anak bangsa. Kepada para penguasa mohon perhatian nya untuk para pengajar , apalagi yang sudah lama mengabdi yang sampai saat ini belum diangkat, agar semakin bersemangat mengajar, karena memang kita sebagai pengajar butuh untuk melanjutkan kehidupan yang lebih layak, dan mampu menyekolahkan anak anak kita ke perguruan tinggi dan kebutuhan lain nya,,

Spesial buat istri ku tercinta yang tidak mengeluhkan penghasilan suami nya, dan selalu memberikan semangat untuk selalu aktif mendidik , tidak bolos mengajar, dan selalu tersenyum apabila menerima gaji dari suami.

Merajut Asa di Sekolah

Merajut Asa Dakwah Di Sekolah
Oleh :Siti Romdiyah

surakarta

Menjadi Guru adalah cita-citaku. Walau awalnya tiada restu dari orang tuaku.
Karena berpendidikan formal tingkat SMA dan lulus Madrasah di Ma’had, itu sudah menjadi status tertinggi menurut orang-orang di sekelilingku termasuk keluargaku.

Aku memaklumi semua itu. Karena memang di keluargaku tidak ada satupun yang berstatus sebagai guru. Terutama guru yang berstatus PNS.

Hanya aku saja yang teguh pendirian untuk sekolah lagi dan bercita-cita menjadi seorang guru. Banyak hambatan dan tantangan dalam perjalananku menjadi seorang guru. Mulai cibiran dari keluarga ayah dan ibuku, hingga biaya kuliahku. Hambatan dan tantangan itu justru menjadi motivasi terindah bagiku.

Walau harus kuliah sambil bekerja di rentalan komputer atau kuliah sambil menerima les privat. Semua aku jalani dengan penuh semangat, hingga gelar sarjana aku dapatkan.

Bayangan untuk menjadi guru, tetap tertambat di hatiku. Lagi-lagi hambatan datang menghadang. Statusku sebagai asisten dosen di sebuah perguruan tinggi harus aku lepaskan demi pernikahan.

Sudah menjadi adat di keluargaku, seorang wanita yang sudah menikah seyogyanya berada di rumah, mengurus rumah dan keperluan lainnya.

Betul-betul masa depan menjadi guru sudah hal yang tidak mungkin lagi aku raih. Meskipun statusku adalah sarjana fakultas tarbiyah.

Saat aku pindah ikut suami, disitulah baru aku tahu bahwa kesempatanku menjadi guru masih terbuka lebar. Karena mertua dan suamiku memiliki yayasan pendidikan. Mulai dari TK, MI dan Pondok pesantren putra maupun putri.

Tanpa aku sangka, saat itu salah satu guru di MI sedang purna. Dan guru kelas di lembaga itu kurang. Mengetahui aku seorang sarjana dan punya pengalaman mengajar juga, tanpa basa-basi dan berdasarkan kesepakatan pengurus yayasan aku diminta sebagai guru di sana.

Bagaikan kejatuhan bulan, tawaran itu aku terima dengan senang hati.
Suka duka sebagai guru tidak tetap pada lembaga swasta aku jalani penuh semangat dan keikhlasan. Walau gajiku tidak seberapa namun bisa mentransfer ilmu dan pengalaman, itu sungguh membahagiakanku.

Pagi, siang, sore hingga malam hari anak-anak dari MI adalah prioritas keduaku. Tidak jarang mereka juga tidur di rumahku demi bisa belajar bersamaku. Kebersamaan yang saat ini sulit sekali aku dapatkan.

Target bisa meraih nilai UN tertinggi se Kecamatan disetiap tahunnya, dan bisa mewakili diajang aksioma pada tingkat provinsi Alhamdulillaah selalu terwujud.

Peribahasa ada gula ada semut, aku rasakan saat itu. Yang awalnya jumlah siswa di MI tersebut selalu di bawah 85. Lambat laun selalu bertambah hingga 150 siswa. Bahagia hatiku saat itu tiada tara.

Namun, Allah berkehendak lain. Di tahun 2003 ada rekrutmen guru honorer dan PNS. Akupun didaftarkan oleh suami didua jalur bersama dengannya. Dan Alhamdulillaah suami diterima menjadi PNS sedang aku di jalur honorer, hingga membawaku menjadi PNS.

Mau tidak mau aku harus meninggalkan tempat berdakwahku. Sedih rasanya harus berpisah dengan keluarga besar MI ku. Namun aku harus tetap maju demi keluarga dan masa depanku. Motivasi dari suami sebagai modal utamaku.

Akupun melangkah untuk berdakwah di sekolah yang jaraknya sekitar 17 km dari rumahku. Namun tetap berdakwah di YPI “Darul ‘Ulum” melalui program tambahan pelajaran pada sore hari hingga sekarang tetap menjadi prioritasku.

Kebahagiaan tersendiri bagiku, tatkala para alumni disetiap tahunnya berkunjung ke rumahku. Melihat mereka berkembang iman, ilmu dan amalnya membuat diriku bangga.

Benar kata bijak yang aku dengar, “bangganya seorang guru bukan karena gajinya. Tapi bangganya seorang guru karena keberhasilan muridnya.”

Dan ada satu lagi yang membanggakanku, saat ini status guru dan gelar sarjana telah merambah serta berkembang di lingkungan keluargaku. Subhaanallaah menjadi pioner dalam dunia keguruan sungguh membanggakanku.

Semoga Allah selalu meridhoi langkah dakwahku di sekolah untuk meraih mardhotillah. Aamiin

Blitar, 1 Agustus 2018

Menjadi Guru Merdeka

Menjadi Guru Merdeka!!!

Oleh: Willhelmina

 

 20160410_133118

Sebagai guru yang mengajar di pinggiran kota kecil di Jawa Timur, kemerdekaan berpikir dan kebebasan melakukan sesuatu di kelas menjadi impian utama saya untuk mewujudkan kelas yang efektif. Kebebasan pemikiran akan melahirkan kreativitas dan inovasi yang akan saya implementasikan dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan yang efektif. Kreativitas yang saya lakukan berupaya menyingkap batas dinding-dinding kelas yang mengkooptasi eksplorasi ruang gerak saya selama ini.

 

Dibenakku saya selalu ingin menjadi guru yang merdeka”. Bebas berkreasi, mengajar dengan hati, serta melakukannya sepenuh jiwa. Namun apa lacur, setiap kali saya dituntut untuk segera menyelesaikan materi, membuat kelengkapan administrasi yang rigid, lebih banyak disibukkan dengan tugas tambahan yang melelahkan dan tak kunjung usai.

 

Saya menyadari selama ini, ketika melakukan pembelajaran, masih terbatasi oleh tuntutan materi yang sangat padat, dengan waktu yang sangat terbatas. Anak-anakpun dijejali dengan materi yang padat kontennya. Duduk berderet rapi dari depan ke belakang, dan guru sebagai satu-satunya pusat sumber informasi. Pembelajaran seolah skenario yang kaku, dan rutinitas yang membosankan.

 

Pembelajaran yang kulakukan akhirnya kering kreativitas, karena padatnya isi materi dan keterbatasan waktu. Padahal saya meyakini bahwa mengajar dengan kreatif dapat mengembangkan kualitas pendidikan, membuat pembelajaran menjadi bermakna dan menyenangkan. Seperti pagi itu, saya membawa laptop di punggungku, dan tas jinjing di tangan. RPP harian yang harus kutandatangankan kepada Kepala Sekolah, dan poster untuk pembelajaran nanti, serta tak luoa sebungkus bekal makan siangku. Langkah pastiku, menyibak rerumputan halaman sekolah yang basah oleh embun pagi.

 

Kulihat wajah-wajah mungil para siswaku yang menunggu di depan pintu kelasku. Segera saja kumulai pelajaran di pagi itu, di jam pertama ketika asyik memulai pembelajaran, tiba-tiba kepala sekolah memangilku. Pelajaran sejenak terhenti, saya keluar kelas, dan tiba-tiba… “ Bu tolong, segera di kerjakan ya laporannya, terus tolong dibuatkan power point nya sekalian. “Segera ya bu! Baik bu, akan saya kerjakan setelah jam istirahat”. Peristiwa ini sering terjadi, ketika saya sedang fokus melakukan pembelajaran yang seru, saya dibebani dengan tugas-tugas diluar tanggung jawab dan wewenang saya.  

 

Dampaknya saya harus membagi waktu antara tugas pokok dan tugas tambahan. Siswa, jarang teramati perkembangannya satu persatu, alih-alih mengulang materi, mengamati keaktifan 32 siswa saya saja tidak mampu saya lakukan sendiri, saya butuh kolaborator, tapi jumlah guru di sekolahku pas-pasan.

 

Saya merasa bagaikan robot dewasa yang datang memberi materi, memberi soal lalu mengoreksi. Sedikit sekali sentuhan hati dalam pembelajaran yang kulakukan, siswakupun bagaikan robot kecil, mendengarkan, mencatat, mengerjakan soal, seolah rutinitas yang tiada henti. Dimana kebebasan para siswa jika materi dan tuntutan yang diberikan sangat banyak?

 

Siswa yang aktif seperti terpenjara, perlu energi ekstra untuk mengembalikan perhatian nya, siswa yang tidak bisa diam di tempat, yang berbicara dengan teman sebangkunya, berlarian, melempar-lempar benda, perlu metode agar memusatkan perhatian pada pebelajaran yang kulakukan. Saya dituntut harus kreatif, tapi saya juga ingin menjadi guru yang merdeka.

Menjadi guru merdeka adalah impian semua guru, dan untuk mewujudkannya harus dimulai dari diri sendiri. Kemerdekaan guru terletak ditangan guru, dan kita harus mampu melawan diri kita sendiri. Birokrasi adalah salah satu belenggu dalam kemerdekaan guru. Namun melawan kemalasan diri dan mampu menaklukan diri sendiri adalah cara saya menjadi guru yang merdeka. Bagaimana dengan anda?