Aku Sadar Setelah 10 Tahun Jadi Guru

AKU SADAR SETELAH 10 TAHUN

Oleh: Mahdiah Apandi, S.Pd

twc6

Sebenarnya, aku tak pantas dikatakan seorang guru yang mengajar di sebuah marasah. Tahun 2003 aku baru saja tamat SLTA di sebuah Madrasah Aliyah Negeri di Medan. Aku tak lulus ke universitas negeri yang kupilih. Jadi aku  melanjutkan sekolahku ke sebuah lembaga tinggi selama 1 tahun dengan jurusan Informatika Komputer.

Alhamdulillah aku adalah salah satu mahasiswa terbaik di kampusku. Usiaku yang begitu muda tidak membuatku ragu menerima tawaran mengajar komputer di sebuah Madrasah di dekat rumahku. Beruntungnya, karena kepala sekolahnya adalah kakak kandungku sendiri sehingga bisa meminta keringanan waktu agar aku bisa mengajar sambil melanjutkan kuliah S1, namun dengan jurusan berbeda yaitu Pendidikan Bahasa Inggris. Hingga akhirnya aku bisa menyelesaikan S1 di tahun 2010.

Selama mengajar guru-guru mengenalku sebagai guru yang multi talenta, istilah tersebut sangat tidak kusuka, karena bisa membuat kita berbangga diri. Terkadang aku mengajar yang bukan jurusanku. Aku pernah mengajar IPA, Seni Budaya, TIK dan sampai sekarang aku mengajar bidang studi Bahasa Inggris.

Pengalaman mengajar membuat aku semakin PD mengajar, terkadang tanpa membuat RPP, tanpa buku pendukung. Aku lebih banyak melakukan pendekatan dengan siswa, lebih banyak berdiskusi tentang masalah siswa. Hal ini kulakukan karena aku tahu bahwa pelajaran Bahasa Inggris adalah pelajaran yang kurang disukai oleh murid di daerah kami. Bisa dikatakan daerah kampung yang kurang pengetahuannnya tentang bahasa asing, sehingga aku kesulitan untuk mengajar dan berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris dengan murid. Bahasa Inggrisku fakum, aku terlena selama 10 Tahun dengan metode mengajar yang ku anggap mujarab untuk menyenangkan hati murid muridku.

Setiap masuk kelas waktu 2 x 40 menit kupakai sekitar 20 menit untuk menyampaikan materi yang tak beraturan, karena bercampur dengan cerita kehidupan pribadiku, motivasi, darah humor yang sudah ada dalam diriku kujadikan tambahan materi di sela sela materi inti. Menurutku siswa sangat senang ketika aku masuk kelas, aku terus bercerita kehidupanku agar bisa diambil sebagai motivasi. Hingga aku tersadar dari lenaku yang begitu panjang.

Aku lupa entah apa yang membuatku tersadar. Mungkin pada tahun 2013 mulai diisukan tentang kurikulum yang baru, kemudian banyak sekali seminar seminar dan pelatihan guru yang ku ikuti, sehingga aku banyak mendapatkan ilmu bagaimana cara mengajar dan sebagainya.

Hingga diakhir tahun 2013 tepatnya akhir semester ganjil, aku memutuskan untuk mencari tahu, meneliti bahasa ilmiahnya, “bagaimana sebenarnya aku mengajar ?”. “Apakah murid muridku menerima ilmu yang kuberikan atau ternyata mereka tidak paham sama sekali?”. Aku meminta siswa membuat sebuah komentar negatif tentang diriku dan cara mengajarku. Didalam tulisan siswa tanpa nama tersebut, siswa tidak boleh memuji diriku, mereka hanya memberikan komentar negatif  dan memberikan masukan positif.

Betapa terkejutnya aku, dari dua kelas IX-A/B 10 % mengatakan bahwa suaraku sangat kuat jadi murid terkejut ketika aku berbicara, ada juga yang mengatakan aku kadang lucu, tapi kadang kejam jadi sebelum aku masuk murid sudah deg degan. Nah….yang 90% memberikan komentar yang sama yaitu   “Miss Diah kalo ngajar kebanyakan cerita, jadinya kami ga belajar”.

Sungguh sangat terpukul aku membaca tulisan tulisan siswa tersebut. aku tidak menyangka kalau mereka akan berbicara seperti itu. Berarti selama ini tidak semua siswaku senang mendengar ceritaku, motivasiku. Tapi aku tak pernah memperdulikannya. aku asyik dengan diriku sendiri. Hingga aku teringat dengan salah satu dosen di kampusku yang lebih banyak bercerita tentang dirinya, keluarganya untuk memotivasi mahasiswa daripada menyampaikan materi, dan aku pun sangat tidak menyukai dosen seperti itu, kapan aku belajarnya…bosan.. pikirku terhadap dosen tersebut. Berarti seperti itulah aku dimata murid muridku. Bahkan salah seorang muridku yang sudah tamat dan ia juga keponakanku pernah berkata  “ dari semua guru di MTs, cuma Buk Diah yang paling enak ngajar”. terus kutanya kenapa, dia menjawab “ Buk Diah lucu, aku ingat semua cerita cerita nya di kelas”. ku Tanya lagi “ kalau pelajarannya?” dia menjawab sambil tertawa “ ga ada yang ingat buk.” semakin hancur hatiku mendengarnya.

Aku meminta maaf kepada semua murid muridku atas sikap mengajarku selama ini. Aku mulai mempersiapkan perangkat mengajarku, buku pegangan, buku nilai harian dan sikap siswa agar materi yang kuberikan sampai kepada murid meskipun tidak banyak tetapi maksimal. dan aku meminta izin kepada murid muridku 5 menit diakhir pelajaran untuk berbicara, bercerita singkat untuk memotivasi siswa agar lebih baik belajar.

Aku tetap merasa belum professional dan aku juga merasa tetap belum sempurna saat mengajar tapi aku ingin menjadi ibu dan sahabat bagi muridku, aku ingin mereka tidak takut ataupun malas belajar bahasa Inggris.

Aku juga ingin belajar lagi, ingin lancar berbahasa inggris, ingin kuliah S2 untuk memantapkan ilmuku. Mudah mudahan sepenggal pengalamanku ini menjadi manfaat bagi para pembaca. Aku juga yakin banyak kesalahan disana sini baik dalam berbahasa atau pun dalam tulisan, oleh karena itu aku minta maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan.

Terima Kasih.

“be the best teacher”

                                                Medan,  02 Agustus 2018

                                                            Penulis

                                                Mahdiah Apandi, S.Pd

Komentar ditutup.