Menjadi Guru Merdeka

Menjadi Guru Merdeka!!!

Oleh: Willhelmina

 

 20160410_133118

Sebagai guru yang mengajar di pinggiran kota kecil di Jawa Timur, kemerdekaan berpikir dan kebebasan melakukan sesuatu di kelas menjadi impian utama saya untuk mewujudkan kelas yang efektif. Kebebasan pemikiran akan melahirkan kreativitas dan inovasi yang akan saya implementasikan dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan yang efektif. Kreativitas yang saya lakukan berupaya menyingkap batas dinding-dinding kelas yang mengkooptasi eksplorasi ruang gerak saya selama ini.

 

Dibenakku saya selalu ingin menjadi guru yang merdeka”. Bebas berkreasi, mengajar dengan hati, serta melakukannya sepenuh jiwa. Namun apa lacur, setiap kali saya dituntut untuk segera menyelesaikan materi, membuat kelengkapan administrasi yang rigid, lebih banyak disibukkan dengan tugas tambahan yang melelahkan dan tak kunjung usai.

 

Saya menyadari selama ini, ketika melakukan pembelajaran, masih terbatasi oleh tuntutan materi yang sangat padat, dengan waktu yang sangat terbatas. Anak-anakpun dijejali dengan materi yang padat kontennya. Duduk berderet rapi dari depan ke belakang, dan guru sebagai satu-satunya pusat sumber informasi. Pembelajaran seolah skenario yang kaku, dan rutinitas yang membosankan.

 

Pembelajaran yang kulakukan akhirnya kering kreativitas, karena padatnya isi materi dan keterbatasan waktu. Padahal saya meyakini bahwa mengajar dengan kreatif dapat mengembangkan kualitas pendidikan, membuat pembelajaran menjadi bermakna dan menyenangkan. Seperti pagi itu, saya membawa laptop di punggungku, dan tas jinjing di tangan. RPP harian yang harus kutandatangankan kepada Kepala Sekolah, dan poster untuk pembelajaran nanti, serta tak luoa sebungkus bekal makan siangku. Langkah pastiku, menyibak rerumputan halaman sekolah yang basah oleh embun pagi.

 

Kulihat wajah-wajah mungil para siswaku yang menunggu di depan pintu kelasku. Segera saja kumulai pelajaran di pagi itu, di jam pertama ketika asyik memulai pembelajaran, tiba-tiba kepala sekolah memangilku. Pelajaran sejenak terhenti, saya keluar kelas, dan tiba-tiba… “ Bu tolong, segera di kerjakan ya laporannya, terus tolong dibuatkan power point nya sekalian. “Segera ya bu! Baik bu, akan saya kerjakan setelah jam istirahat”. Peristiwa ini sering terjadi, ketika saya sedang fokus melakukan pembelajaran yang seru, saya dibebani dengan tugas-tugas diluar tanggung jawab dan wewenang saya.  

 

Dampaknya saya harus membagi waktu antara tugas pokok dan tugas tambahan. Siswa, jarang teramati perkembangannya satu persatu, alih-alih mengulang materi, mengamati keaktifan 32 siswa saya saja tidak mampu saya lakukan sendiri, saya butuh kolaborator, tapi jumlah guru di sekolahku pas-pasan.

 

Saya merasa bagaikan robot dewasa yang datang memberi materi, memberi soal lalu mengoreksi. Sedikit sekali sentuhan hati dalam pembelajaran yang kulakukan, siswakupun bagaikan robot kecil, mendengarkan, mencatat, mengerjakan soal, seolah rutinitas yang tiada henti. Dimana kebebasan para siswa jika materi dan tuntutan yang diberikan sangat banyak?

 

Siswa yang aktif seperti terpenjara, perlu energi ekstra untuk mengembalikan perhatian nya, siswa yang tidak bisa diam di tempat, yang berbicara dengan teman sebangkunya, berlarian, melempar-lempar benda, perlu metode agar memusatkan perhatian pada pebelajaran yang kulakukan. Saya dituntut harus kreatif, tapi saya juga ingin menjadi guru yang merdeka.

Menjadi guru merdeka adalah impian semua guru, dan untuk mewujudkannya harus dimulai dari diri sendiri. Kemerdekaan guru terletak ditangan guru, dan kita harus mampu melawan diri kita sendiri. Birokrasi adalah salah satu belenggu dalam kemerdekaan guru. Namun melawan kemalasan diri dan mampu menaklukan diri sendiri adalah cara saya menjadi guru yang merdeka. Bagaimana dengan anda?

 

One response to “Menjadi Guru Merdeka

  1. Good Jobs bapak

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s