Daily Archives: Agustus 4, 2018

Komunikasikan Hati dan Pikirmu

Komunikasikan Hati dan Pikirmu

Oleh: Raihana Rasyid

Ternyata, seringnya kita meluangkan waktu dan berkumpul dengan anak-anak  di luar jam pelajaran membuat kita banyak memperoleh pelajaran sebagai bahan kajian dan evaluasi untuk perbaikan diri ke arah yang lebih baik dalam mengemban tugas-tugas kita di dalam kelas. Tulisan ini pun kuramu berdasarkan hasil “kongkow-kongkow” dengan siswa di sela-sela  canda tawa setelah kegiatan ekskul yang kami lakukan.  Tulisan ini kubuat sebagai ibrah dalam rangka muhasabah untuk diri sendiri, tidak ada niat untuk mengajari limau berduri apalagi mengajari ikan berenang.

Suasana sangat hening, sang guru terlihat duduk di depan kelas sambil menulis sesuatu, ntah apa. Para siswa “khusyu” dengan pikirannya masing-masing.  Meski terlihat seolah membaca, namun wajah mereka menyiratkan ketidakmengertian, kejenuhan bahkan ketakutan. Mereka diam dengan mata yang tertuju ke halaman buku, namun pena yang ada di tangan tidak juga bergerak menulis ditambah nafas yang sesekali dihelakan dengan irama yang terkadang dihentakkan.

Suasana ini dipertegas pula dengan sesekali saling berpandangan menggambarkan mereka tidak mengerti apa yang akan dilakukan. Namun tak ada keluar “sebait” tanya pun dari mulut mereka untuk gurunya yang terlihat masih saja tenang di “singgasananya”. Beberapa siswa memandang dengan tatap kosong ke papan tulis yang penuh dengan tulisan sang guru yang tadinya wajib mereka pindahkan ke dalam lembaran- lembaran buku catatan mereka.

Ternyata saat itu anak-anak ditugaskan untuk mengerjakan soal-soal latihan dari pelajaran yang baru saja mereka catat materinya dari papan tulis dengan jumlah mencapai hampir 5 halaman buku catatan mereka. Setelah beberapa lama, “Ayo…anak-anak waktunya sudah habis, kalian kumpulkan buku latihannya,” terdengar suara sang guru memberi perintah untuk mengumpulkan buku latihan tersebut. Terlihat ekspresi resah di wajah anak-anak, namun dengan berat hati harus pula mematuhi perintah gurunya, apalagi sejurus kemudian bel tanda pergantian pelajaran berbunyi.

Ilustrasi di atas masih banyak terjadi didalam kelas. Kehadiran seorang guru yang begitu menakutkan yang mengharuskan anak-anak mengikuti perintahnya. Tidak ada komunikasi dua arah yang mewarnai pembelajaran. Suasana tenang yang tercipta justru memunculkan aura yang menakutkan. Bandingkan dengan ilustrasi berikut ini:

Di awal pembelajaran seorang guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memancing minat belajar anak dengan memunculkan pertanyaan-pertanyaan dari kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan materi pelajaran yang akan disampaikan. Ketika minat dan rasa ingin tahu anak sudah muncul, guru pun mulai menjelaskan materi pelajaran dengan “berbagai macam metode atau model” pembelajaran yang harus pula disesuaikan dengan karakter anak-anak yang ada di kelas itu. Karena bisa jadi materi pelajaran yang sama disampaikan dengan cara yang berbeda pada kelas yang berbeda disebabkan karakter anak-anaknya yang berbeda.

Menciptakan suasana yang tenang namun menyenangkan merupakan syarat berikutnya yang harus dipenuhi oleh seorang guru agar benih-benih minat yang sudah muncul tadi dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.  Maka seorang guru harus pula menguasai trik-trik bagaimana mencairkan susana ketika anak-anak sudah mencapai titik jenuh.

Seorang guru dengan “ olah pikirnya” harus menguasai materi pelajaran  sebaik mungkin serta mampu mentransferkannya dengan baik pula. Modal pengetahuan dan wawasan yang luas menjadikan seorang guru dapat menganalogikan contoh- contoh dalam kehidupan nyata dengan materi pelajaran yang disampaikannya sehingga anak menjadi tertarik dan berpikir bahwa ia akan mengalami hal tersebut. Aku menyakini, jika aku pun sebagai gurunya tidak memahami apa yang  kusampaikan bagaimana pula anak-anak dapat memahami hal tersebut. Sementara itu, dengan “olah hatinya” seorang guru harus bisa mengerti apa yang dirasakan dan dibutuhkan anak dalam rangka tercapainya tujuan proses pembelajaran.

Disinilah guru diharuskan mampu mengkomunikasikan hati dan pikirannya. Aku harus memahami bahwa anak-anak yang   kuajar dan kudidik ini, bukanlah mahluk tanpa hati yang wajib melaksanakan perintahku meski yang ku ajarkan pastinya sesuatu yang baik.  Mampu masuk ke ruang-ruang hatinya adalah hal yang wajib dilakukan oleh seorang guru agar minat dan keinginan belajarnya dapat tumbuh secara wajar dari dalam hati. Bagaimana hal ini bisa tercapai kalau akupun tidak memberikan hatiku pada mereka?

Hati, baik secara jiwa ataupun raga merupakan sesuatu yang sangat menentukan kehidupan seseorang. Hati secara jiwa, berisi semua “rasa” yang sangat menentukan kondisi seseorang secara keseluruhan. Sedangkan hati secara raga merupakan organ tubuh yang memiliki peran sangat penting dalam proses metabolisme didalam tubuh.  Dalam hal proses pembelajaran, hati secara jiwa pada anak-anak hendaklah bisa kita rebut sehingga kita bisa masuk kedalamnya dan proses pembelajaran pun dapat belangsung sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Wallahu a’lam bishawab

#edisiemuhasabah#

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 2 Agustus 2018

Aku, Cita-citaku dan Panggilanku

Aku, Cita-citaku dan Panggilanku.

Oleh: Chrestian Wawoh

Menjadi guru adalah sebuah profesi yang tak pernah kubayangkan dalam benak masa kecilku. Dalam impianku sejak kecil hanyalah menjadi 3P yaitu Pendeta, Polisi dan Presiden. Harapan yang besar dengan menyelesaikan pendidikan dari TK sampai dengan STM kala itu tentu membawaku lebih dekat dengan salah satunya. Setelah menyelesaikan STM tahun 1995 ketika teman-teman lainnya bergiat untuk meraih mimpi mereka. Saya sempat mencoba menyiapkan diri dalam pendidikan Polisi namun mundur setelah menyadari secara fisik tubuhku terlalu lemah untuk profesi itu.

Sekitar bulan Oktober 1995 saya merantau ke Papua (kala itu Irian Jaya). Kota Biak adalah tempatku tinggal. Seorang saudara bernama Jimmy Lengkong Rooroh mengajakku bertemu dengan bapak Daniel Alexander. Seorang Penginjil dan pimpinan dari Yayasan Pelayanan Desa Terpadu (PESAT) di Nabire. Daniel Alexander adalah sosok pria berhati Bapa Sorgawi yang memberikan dirinya menjadi orang tua asuh bagi banyak anak yang kehilangan figur bapa. Saya bersyukur kepada Tuhan menjadi salah satu anak asuhnya. Tahun 1996 saya dikuliahkan di jurusan teknik Elektro di Universitas Pelita Harapan (UPH). Semua biaya hidup sayapun ditanggungnya. Di tahun 1998 saya sempat kabur dari kampus. Saya begitu berniat menjadi pendeta hingga mengabaikan kuliahku. Selama 2 tahun saya mengikuti pelatihan hingga akhirnya saya mendapatkan sebuah peneguhan dari seorang Pendeta dari Singapura untuk kembali menyelesaikan kuliah saya di UPH. Tahun 2000 saya kembali berkuliah di UPH di jurusan Sistem Informasi.

Setelah menamatkan pendidikan di Universitas Pelita Harapan. Pada Juli 2007 saya kemudian bergabung dengan Yayasan PESAT di Kota Nabire. Saat pertama kali mengajar di SMP Kristen Anak Panah saya mengajar mata pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Sungguh suatu pengalaman yang mendebarkan ketika berada ditengah-tengah murid yang sebagian besar berasal dari anak-anak Papua. Berkulit hitam dan rambut keriting serta aroma tubuh yang khas menjadikan mereka spesial dimataku. Rasa haus akan pengetahuan tentang komputer dari anak-anak tersebut memicu saya pun untuk belajar bagaimana menjadi seorang guru yang baik. Dengan berjalannya waktu saya belajar bagaimana mempersiapkan perangkat mengajar. Sebagai guru yayasan pendapatan sebulan tidaklah banyak hanya sekitar Rp. 250.000 per bulan. Beruntung dari sekolah masih memberikan honor berdiri per jam. Ya kalau dijumlahkan cukuplah untuk kebutuhan seorang bujangan seperti saya.

Di tahun 2007 itu pun saya melamar di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Informatika Universitas Satya Wiyata Mandala, satu-satunya kampus swasta di kota Nabire. Profesi Dosen pun ku sandang walau saya sendiri menyadari semua jauh dari harapanku. Di tahun 2009 saya mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Hasanuddin di kota Makassar. Saya melanjutkan pendidikan di jurusan Teknik Komputer dan Kontrol Elektronik. Selama 2 tahun saya disana dan kembali lagi kepada aktifitas semula sebagai guru dan dosen di kota Nabire. Walaupun masih berstatus guru yayasan dengan gaji dibawah UMR namun semangatku tidaklah pudar. Bagiku uang bukanlah tujuan saya berada di kota ini.

Di awal tahun 2012 saya memutuskan untuk fokus mengajar di sekolah saja dan mengakhiri kegiatan di kampus. Sejak saat itu saya mulai memberi waktu saya kepada 2 sekolah lain selain sekolah induk saya. Adalah SMA YPBI Sion Nabire sebuah sekolah swasta yang berjarak sekitar 35 KM dari tempat saya tinggal. Untuk sampai ke sana saya harus menumpang kendaraan umum 2 kali atau bisa dengan naik ojek. Lokasi yang terbilang jauh tidak menghalangi saya untuk terus berkiprah dalam berbagi ilmu. Bila hitung-hitungan secara ekonomis maka dari gaji honor yang saya dapatkan dengan biaya transportasi maka hasilnya tidaklah seberapa. Dengan bermodalkan sebuah laptop milik pribadi saya mengajar mata pelajaran TIK kepada mereka. Sekitar beberapa bulan setelah kehadiranku disekolah itu kepala sekolah melakukan pengadaan komputer dan proyektor dari dana sekolah.  Anak-anak lebih bersemangat dengan adanya komputer baru disekolah. Namun sangat disayangkan beberapa komputer mengalami kerusakan karena listrik yang tidak stabil dan seringnya mati lampu didaerah itu.

Sekolah lainnya yang saya pilih untuk bergabung adalah SMA Negeri 1 Plus KPG Nabire. Sebuah sekolah menengah atas yang mempersiapkan anak didiknya menjadi calon guru. KPG (Kolese Pendidikan Guru) adalah sebuah sekolah setara SPG (Sekolah Pendidikan Guru) pada jaman dulu. Mengapa saya memilih bergabung dengan sekolah ini? Satu kerinduan saya agar para calon guru memiliki pengetahuan dan ketrampilan pengelolaan komputer yang lebih baik.  Sekolah ini berjarak sekitar 30 KM dari kediamanku. Untuk ke sekolah saya menggunakan ojek sebagai sarana transportasi yang lebih cepat. Fasilitas laboratorium komputer yang memadai memotivasi saya mengajar disekolah ini. Di sekolah ini saya pernah diterima sebagai guru kontrak Provinsi namun sayangnya hanya berlangsung  selama 1 tahun.

Sejak tahun 2012-2015 dalam seminggu saya memberi waktu sekitar 2 hari mengajar di masing-masing sekolah ini sambil menyesuaikan jam mengajar saya di SMK Kristen Anak Panah. Hari berganti hari mengajar kini menjadi profesiku. Aku tak menghiraukan kondisi kesehatanku. Dipertengahan Agustus tahun 2015 kesehatan saya terganggu. Ketika sedang mengantar siswa SMK prakerin di Surabaya saya merasakan kondisi badan tidak stabil. Setelah dibawa ke dokter hasil pemeriksaan ginjal saya bermasalah. Dokter kemudian menyarankan dilakukan pemeriksaan lanjutan. Sayapun melakukan pemeriksaan darah, USG, CT Scan sampai akhirnya CT Scan Contrast untuk mengetahui lebih jelas kondisi ginjal saya. Positif saya di vonis mengalami Hydrofrenosis atau pembengkakan ginjal karena cairan. Dokter menjelaskan bahwa ada batu ginjal yang menyumbat saluran ureter sehingga ginjal kiri saya membengkak dan sudah memenuhi ¾ bagian perut saya. Bertempat di RS. Siloam Surabaya saya menjalani operasi ditangani oleh timnya dr. Adi Santoso, Sp.B, Sp.U(K). Puji Tuhan proses operasi berjalan dengan baik. Dalam operasi itu bukan hanya batu ginjal yang diangkat namun ginjal kiri saya yang sudah membengkak pun terpaksa diangkat. Dokter menjelaskan bahwa secara medis ginjal kiriku sudah tidak bisa berfungsi normal sehingga harus diangkat. Selama 6 bulan proses penyembuhan saya kembali ke kota Tomohon tinggal bersama orang tuaku.

Bulan Januari 2016 saya kembali ke kota Nabire untuk mulai mengajar. Walaupun kondisi tubuh masih belum terlalu pulih namun kerinduan berjumpa dengan anak didik memberikanku kekuatan baru. Saya memutuskan hanya mengajar di SMK saja karena kondisi tubuh saya yang tidak boleh terlalu capek. Dokter menyarankan saya harus lebih banyak istirahat dan mengkonsumsi air mineral serta makanan yang sehat.

Pada bulan Juni 2016 saya mengakhiri masa lajang saya dengan menikahi seorang wanita  berdarah Timor bernama Anastasia Ninotshka, S.Pd. Seorang guru matematika yang juga memberikan hidupnya untuk berbagi ilmu pengetahuan di tanah Papua. Walaupun secara pengalaman saya lebih banyak namun secara kependidikan saya juga belajar dari isteriku yang merupakan sarjana kependidikan jebolan Universitas Cenderawasih Papua.

Di tahun 2017 saya mendapatkan kesempatan mengikuti seleksi sertifikasi guru melalui program PPG pada mata pelajaran TIK. Dari 200 guru lebih di Nabire yang mengikuti tes online saya termasuk dari 11 orang yang dinyatakan lulus tes. Proses pemberkasan berlangsung baik sampai di tingkat dinas provinsi Papua. Namun ketika verifikasi berkas oleh operator LPMP Papua, berkas saya dan 2 orang guru lainnya ditolak. Penolakan berkas saya dengan alasan waktu menjadi guru yayasan hanya berselang 5 bulan dari bulan kelulusanku. Saya mencoba untuk menjelaskan namun kondisiku sepertinya belum bisa di mengerti. Dari pihak yayasan mencoba mengklarifikasi dengan mengirimkan surat ke pihak LPMP untuk menjelaskan mengapa saya langsung diterima sebagai guru yayasan yaitu karena saya dibiayai oleh bapak Daniel Alexander sebagai pimpinan Yayasan sehingga langsung diangkat tanpa harus menunggu 2 tahun. Alasan inipun masih belum bisa diterima oleh petugas LPMP. Ada rasa kecewa yang berat ketika harapan untuk mengikuti proses pendidikan profesional guru sepertinya terhalang. Dalam hatiku biarlah Tuhan yang tahu setiap pengorbananku di tanah ini.

Tahun 2018 adalah tahun anugerah buat saya dan keluarga. Sebagai pembuka tahun di tanggal 2 Januari saya dan isteri mengalami musibah kecelakaan mobil. Kami bersyukur masih diberi kehidupan. Tulang belikat kiri saya patah dan harus mendapatkan perawatan serius sampai dirujuk ke Jayapura. Seminggu dalam perawatan saya dan isteri kembali ke Nabire. Walau dalam kondisi tangan masih dipasang penyangga saya kembali mengajar. 3 bulan berlalu tanganku kembali berfungi dengan baik. Pada tanggal 17-21 April saya membimbing salah satu siswa terbaik kami untuk mengikuti LKS SMK tingkat provinsi Papua dalam bidang Web Design. Gilbard Yizreel akhirnya mendapatkan juara I dan mendapatkan kesempatan mengikuti LKS SMK tingkat Nasional di Mataram Lombok. Pada tanggal 6-12 Mei 2018 saya mendampinginya berlaga dalam even nasional tersebut. Walau tidak mendapatkan juara namun Gilbard sangatlah senang. Sayapun bangga dengan prestasi sekolah kami yang terbilang pendatang baru di Nabire. Sebuah prestasi bagi provinsi Papua bisa mengirimkan wakilnya pada bidang lomba tersebut. Semoga di lain waktu dan kesempatan kami bisa mengukir prestasi kembali.

Bulan Agustus 2018 ini adalah tahun ke-11 saya menjadi seorang guru. Sudah 3 tahun menjalani hidup dengan hanya memiliki sebuah ginjal. Sudah 2 tahun 2 bulan usia pernikahanku. Kami berdua belum dikarunia anak kandung namun kami bangga memiliki banyak anak didik dalam hidup kami.

Sungguh hidup ini hanyalah kesempatan dari Sang Langit

Torehkanlah sejarah bagi dirimu sendiri dimana waktu tak mampu menghapuskannya.

Berkaryalah baik di siang nan cerah maupun malam pekat

Jangan matikan dirimu sebelum waktunya.

TANTANGAN SEORANG GURU

TANTANGAN SEORANG GURU

Oleh: Siti Nuryani

Menjadi guru adalah cita-citaku sejak kecil. Ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, aku suka bermain bersama teman-teman. Permainan yang paling kusukai adalah sekolah-sekolahan, dan akulah yang menjadi gurunya. Dengan bangga aku berdiri di depan teman-temanku menjadi guru.

Aku terpesona melihat guru-guru SD yang sedang mengajar. Mereka berpakaian rapi, tutur katanya sopan dan ramah. Mereka juga mengajar dengan cara yang menyenangkan.

Ketika bersekolah di SMP, aku bercita-cita ingin menjadi guru Matematika. Aku terinspirasi oleh Ibu guru Matematika. Beliau mengajar dengan tegas dan mudah diterima. Aku sering disuruh mengerjakan soal di depan kelas. Jika jawabanku salah, beliau tidak memarahiku. Beliau tetap memujiku, memberi motivasi agar tetap belajar dan tidak putus asa. Hal itu semakin menguatkan cita-citaku menjadi guru.

Keinginanku menjadi guru terus menggelora. Cita-cita itu aku wujudkan dengan masuk di SPG. Aku sadar orang tuaku kurang mampu. Jika nantinya tidak bisa melanjutkan kuliah, dengan lulus SPG, saya sudah bisa menjadi guru.

Saat itu, sekitar tahun delapan puluhan, guru merupakan jabatan yang kurang diminati anak-anak. Mereka sangat bangga jika bersekolah di SMA. Siswa SMA sering mengolok-olok siswa SPG. “Selamat pagi, Bu Guru,” begitulah ucapan mereka jika bertemu dengan siswa SPG. Meskipun dalam hati ini sakit sekali, aku hanya berdoa semoga Allah memberi petunjuk kepada mereka dan menguatkan cita-cita muliaku ini.

Lulus SPG, aku berkesempatan melanjutkan kuliah di D2 Kependidikan Bahasa Indonesia. Alhamdulillah, setelah lulus, saya diangkat di sebuah SMP negeri yang terletak di pinggiran Kabupaten Bojonegoro. Awalnya saya merasa berat untuk melaksanakan tugas di sana. Waktu itu suasana masih sepi, belum ada listrik, dan transportasi masih sangat terbatas.

Lama aku merenung. Dengan dukungan orang tua, kuputuskan untuk mengabdikan diri di tempat itu. Kukembalikan hatiku pada cita-citaku semula yaitu menjadi guru. Aku ingin mengabdi kepada nusa, bangsa, dan agama, untuk memajukan negeri ini melalui pendidikan. Dengan tekad yang bulat, aku menerima takdir ini. Aku yakin, Allah menugaskan saya di tempat itu pasti ada rencana besar yang aku tidak mengetahuinya.

Dengan melihat anak-anak desa yang polos, teman-teman guru dan staf TU yang baik hati, membuatku kerasan mengajar di sana. Aku mulai terbiasa dengan keterbatasan yang ada. Membaca di bawah lampu petromaks atau lampu tempel sudah mulai familier. Bangun tidur dengan hidung penuh ingus hitam sudah biasa. Jalan kaki dari kos menuju sekolah atau sebaliknya sudah menjadi kebiasaan yang menyehatkan.

Kulihat anak-anak desa yang polos. Usia mereka tidak begitu jauh dariku. Aku dan mereka seperti kakak dengan adik-adiknya. Orang tua siswa sebagian besar petani. Ini mengajarku untuk hidup dengan kesederhanaan.

Mengajar di desa dengan segala keterbatasan membuatku berpikir bagaimana supaya anak-anak bisa belajar dengan maksimal. Perpustakaan dengan buku yang minim kumanfaatkan untuk mengajak anak-anak mau membaca. Mereka sangat antusias membaca buku. Buku yang mereka senangi adalah buku-buku cerita. Maklum mereka haus akan hiburan.

Saat itu aku mengajar seperti mengisi gelas kosong dengan air sampai penuh. Kujejali mereka dengan berbagai teori-teori tata bahasa. Aku sangat bangga bisa memberi mereka ilmu yang menurutku sangat penting. Aku cekoki mereka dengan teori-teori sastra dan pengetahuan bahasa yang lain. Aku berharap mereka pandai akan ilmu bahasa. Aku tidak menyadari bahwa belajar bahasa itu agar anak bisa berbicara, mendengar, membaca, maupun menulis. Aku baru tersadar setelah melihat anak-anak tidak bisa bicara ketika disuruh bercerita di depan kelas. Demikian juga ketika disuruh membuat karangan. Anak-anak cenderung memulai kalimat dengan kata hubung. Isinya pun juga tidak jelas.

Aku berusaha untuk mengubah cara mengajar. Aku sudah tidak banyak memberi teori tetapi langsung praktik berbahasa. Pengetahuan aku sampaikan ketika menemui hal-hal yang tidak sesuai dengan kaidah. Dengan langsung praktik berbahasa, membuat anak tidak jenuh dan mudah memahami.

Awal-awal mengajar, aku mengajar secara monoton. Aku hanya menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas. Anak-anak kelihatan jenuh. Mereka kelihatan tidak bergairah ketika kujelaskan maupun menyelesaikan tugas.  Akhirnya, aku berupaya menerapkan pembelajaran kontekstual yang menghubungkan pembelajaran dengan dunia nyata. Pembelajaran juga kukemas dengan permainan sehingga lebih menyenangkan. Dengan begitu anak-anak lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran.

Kini perkembangan teknologi sangat pesat. Teknologi digital berkembang luar biasa. Anak-anak sangat cepat menerima perubahan itu. Mau tidak mau aku harus mengikuti perkembangan tersebut. Pembelajaran harus mempersiapkan anak-anak menghadapi abad ke-21. Sebagai guru, aku harus terus meningkatkan kompetensi agar bisa merencanakan, melaksanakan pembelajaran, menilai, maupun membimbing/melatih anak.

Meskipun masih sulit dilaksanakan, aku harus membiasakan anak-anak untuk berpikir kritis. Mereka melihat model atau contoh kemudian mencoba menemukan sendiri kaidah bahasa. Anak-anak aku biasakan bekerja sama atau berkolaborasi dalam menyelesaikan tugas. Mereka juga kubiasakan untuk bisa mengomunikasikan hasil kerjanya. Tak kalah pentingnya mereka juga kutumbuhkan daya kreativitasnya melalui tulisan, baik prosa maupun puisi.

Memang tidak mudah mengubah pola pembelajaran yang selama ini kulakukan. Demikian juga membiasakan anak-anak melakukan hal-hal baru butuh kesabaran, kekuatan hati, dan ketekunan. Meskipun sangat sulit dan lambat, aku yakin anak-anak pasti bisa.

Agar bisa menerapkan pembelajaran tersebut, aku harus terus belajar. Aku harus bisa mempersiapkan anak-anak untuk mampu hidup di abad ke-21. Dengan mengikuti pelatihan menulis ini, aku berharap bisa terus meningkatkan kompetensiku.

My Trip My Stories

My Trip My Stories

Oleh: Joko Hariaji

Tanggal 1 april 2015 masih teringat didalam pikiranku. Tidak akan pernah sirna dan terus teringat sampai saat ini, karena tanggal tersebut adalah tanggal yang menjadi titik awal perubahan didalam hidupku. Tanggal dimana diriku mulai menginjakkan kaki pertama kali di bumi serambi mekkah atau yang mendapat julukan lain tanah rencong. Tanggal dimana diriku mendapatkan tugas yang sangat luar biasa dan begitu berat namun sekaligus membahagiakan karena di tanggal itulah diriku memulai pengabdian yang sangat kunanti nantikan selama ini. Iya benar 1 april 2015 tanggal dimana diriku mendapatkan tugas menjadi CPNS tepatnya sebagai pengajar di daerah terpencil atau yang biasa disebut Guru Garis Depan disingkat juga dengan GGD.

Sebelum tanggal itu kami sudah berada diperbatasan aceh timur dengan aceh tamiang tepatnya ditualang cut, disana saya tinggal sementara dengan Orang tua angkat kawan SM-3T dari UPI bandung tepatnya 3 hari, pak wagimin namanya. Disana saya mendapatkan berbagai cerita tentang kondisi aceh dari masa ke masa, sehingga membuat saya semakin besar rasa ingin tahu untuk segera menuju  ke tempat pengabdian saya.

Tanggal 1 april 2015 pada Pagi hari yang indah pada tanggal tersebut saya sudah didalam kendaraan umum berupa mobil elf atau disebut juga jumbo diaceh, kencangnya mobil jumbo membuat pikiranku melayang membayangkan bagaimana kondisi dinas pendidikan aceh timur serta sekolah mana saya akan ditempatkan, dengan penuh semangat serta rasa ingin tahu yang besar membuat semakin berdebar jantung ini setelah mobil saya memasuki kawasan perkatoran aceh timur. Kawasan perkantoran yang bergaya timur tengah membuat saya semakin kagum dengan kondisi di aceh timur. Ternyata setelah menunggu beberapa saat saya bersama kawan yang lain disambut oleh kepala dinas beserta kabib dan sekdis di aula pertemuan, pada waktu bersamaan diundang juga kepala sekolah dimana kami mengajar untuk diperkenalkan kepada kami. Sehingga setelah acara selesai kami langsung dijemput oleh kepsek masing masing untuk menuju sekolah yang baru sekaligus memperkenalkan dengan kepala desa atau disebut juga geuchik di aceh. Pada hari itu juga kami tinggal di rumah geuchik yang dekat dengan sekolah saya mengajar yang akhirnya secara tidak langsung menjadi ayah angkat saya selama tinggal di aceh.

SMP Negeri 3 Indra Makmu adalah nama sekolah saya mengajar, kondisi sekolah yang terletak diatas bukit dan iklim pegunungan serta curah hujan tropis membuat suasana sekolah tampak asri dan segar dipagi hari. Hampir mayoritas penduduknya orang aceh atau disebut “orang kita aceh” dalam logat disini. Banyak cerita yang saya alami dari awal sampai sekarang dan tidak akan habis ditulis dalam kertas ini tentu ada cerita suka dan duka.

Diantaranya salah satu cerita adalah pernah saya dirotasikan ke SMP Negeri 4 Pantee Bidari selama setahun karena di sana juga kekurangan guru matematika, saya kira sekolah yang baru ini terletak dipinggir pantai karena nama sekolahnya itu senangnya pasti akan dengan mudah mendapatkan ikan karena didekat pantai apalagi saya pak guru pasti mendapatkan banyak diskon jika saya yang membeli ikan, namun ternyata setelah saya datang kesekolah saya yang baru ini terletah diatas gunung jauh dari pemukiman warga, bahkan mayoritas penduduknya Suku gayo atau disebut “orang kita Gayo” dalam logat di aceh yang memiliki ciri unik selalu berpindah pindah tempat tinggal sesuai dengan gaya pertaniannya yang selalu berpindah tempat jika sudah tidak subur lagi (nomaden).

Cerita duka yang ada disekolah baru ini tetap sama dengan sekolah yang lama kurangnya sarana dan prasarana sekolah, belum lagi kesadaran orang tua tentang pentingnya pendidikan serta kualitas pengajar yang minim sehingga kita perlu bekerja ekstra baik waktu mengajar maupun sewaktu berinteraksi dengan kawan sejawat dengan tujuan untuk memberikan pengaruh perubahan menuju hal yang lebih baik sedikit demi sedikit. Karena perubahan pendidikan tidak bisa serta merta langsung berubah namun perlu proses sedikit demi sedikit, setahap demi setahap. Ditambah belum lagi masalah kondisi geografis wah sungguh mantap mirip acara televisi “my trip my adventure” namun ini versi the lost word gak usah dibayangi oke pokoknya.

Nah sekarang cerita sukanya hampir semua semua warga sangat ramah dan baik memang benar pepatah aceh “kalau kita baik maka orang aceh akan dua kali lebih baik”, karena setiap saya lewat selalu memberikan bantuan baik tumpangan atau sekadar menyapa atau berbicara sebentar terkadang berbagi kue dan makanan, ternyata tidak disangka pada waktu panen buah buahan mengalir deras ke rumah sekolah berbagai macam buah buahan dan sayuran, memang rejeki anak sholeh. Inilah sekelumit cerita saya tentang beberapa tahun mengajar di aceh tepatnya dikabupaten aceh timur propinsi aceh masih banyak cerita lain yang ingin saya bagi untuk memotivasi beberapa kawan guru yang mungkin senasib dan sepenanggungan tapi tidak sekandungan. Semoga cerita saya yang singkat ini bisa memberikan kontribusi bagi kebijakan pendidikan di indonesia terutama didaerah daerah terpencil.

Perjalanan Hidup Guru

literasi-digitalPerjalanan Hidup Guru

Komitment Kompetensi dan Kepedulian Seorang Guru GTT Guru Honor Sekolah

Guru adalah sebuah profesi dan pekerjaan mulia, di masyarakat pun seorang guru termasuk salah satu orang yang dihormati, kedudukannya sejajar dengan tokoh agama atau tokoh masyarakat, bahkan banyak posisi atau jabatan di masyarakat yang diisi oleh guru, misalkan ketua RT, RW, ataupun menjadi sekertaris dusun atau kampung. Benar adanya bahwa Allah SWT menjanjikan sebuah kedudukan dan derajad yang lebih tinggi bagi seorang yang berilmu, dalam hal ini guru merupakan salah satu insan yang berilmu. Tidak sedikit orang yang bercita cita sebagai guru.

Saya seorang guru di SMK Negeri ternama di Kabupatenku, kebetulan SMK tersebut adalah tempat saya dulu menimba ilmu ketika duduk di bangku SMK, ada sebuah ikatan batin, ikatan emosional yang mendalam terhadap SMK tempat saya menimba ilmu. Saya mengajar di SMK di jurusan atau kompetensi keahlian teknik permesinan. Sebagian besar pengajar di SMK adalah guru guru saya dahulu ketika menimba ilmu disini, dan banyak juga guru guru seusia saya adalah teman teman aendiri, teman semasa SMK, dan teman semasa kuliah. Keseharian saya di SMK sama dengan guru guru yang lain, mengajar. Saya seorang guru honor sekolah dan saat ini sudah 13 tahun lamanya sebagai guru honor sekolah, dan usia saat ini sudah di atas 35 tahun. Sudah tidak bisa lagi memenuhi persyaratan sebagai calon pegawai negeri sipil jalur umum.

Menjadi guru GTT atau guru honor sekolah mungkin banyak dukanya daripada sukanya. Salah satunya dan yang saat ini sudah bukan rahasia lagi adalah masalah gaji. Begitu juga yang saya alami. Saya sadar sebagai guru honor sekolah, gaji yang saya terima secara matematis tidak akan cukup memenuhi kebutuhan saya, apalagi saat ini saya sudah berkeluarga dan mempunyai seorang anak, tentu kebutuhan keluarga akan lebih banyak lagi. Seperti guru honor sekolah pada umumnya, kami yang lebih umum disebut GTT, hanya mendapatkan gaji dari jumlah jam mengajar di SMK. Bagi yang jumlah jam mengajarnya banyak, akan mendapat penghasilan lebih banyak, sebaliknya bagi yang sedikit, penghasilannya juga sedikit.

Sebuah dilema berkepanjangan yang dialami oleh hampir semua guru GTT. Sementara dilain sisi banyak guru swasta yang sejahtera karena menerima tunjangan sertifikasi, hanya dengan masa kerja yang tidak terlalu lama, para guru swasta sudah menerima tunjangan sertifikasi, belum lagi besar gaji per jam nya yang diperoleh juga sebagian lebih besar dari jumlah gaji per jam guru GTT. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, saya terpaksa harus berwira usaha, membuka sebuah jasa cetak foto dan konter pulsa, bahkan saya sempat membuka usaha warung internet. Alhamdulillah hasil usaha sampingan bisa mencukupi kebutuhan keluarga, bahkan bisa menyerap tenaga kerja. Sudah banyak orang alumni anak buah di usaha sampingan saya yang membuka usaha baru meneruskan lengalaman kerja yang didapat di tempat saya.

Terkadang saya sedikit merasa iri kepada teman teman guru PNS yang bisa bersantai di rumah setelah bekerja tanpa harus susah susah mencari uang tambahan lain, sementara saya harus bersusah susah mencari tambahan penghasilan, ya, namanya juga manusia pasti ada rasa iri maupun ingin hidup lebih baik, namun ternyata yang dilihat sebagian teman PNS katanya malah enak jadi orang seperti saya, pagi ngajar, siang atau malamnya mempunyai pekerjaan sampingan dan bisa mengkaryakan orang lain. Seperti pepatah jawa, hidup itu sawang sinawang, dan mungkin ini yang terjadi pada kehidupan saya dan teman teman.

Menjadi seorang guru bagi saya adalah sebuah pekerjaan dengan berbagai konsekwensi dan resiko pekerjaan yang tinggi, selain dituntut kompeten, juga harus komitmen dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sekolah. Guru harus kompeten, komitment dan peduli.

Mengajar di SMK negeri memiliki keuntungan tersendiri, salah satunya adalah dalam hal kedisiplinan siswa, siswa SMK negeri lebih disiplin dan lebih mudah dibina mental dan kedislinannya. Alhamdulillah, di jurusan Teknik Permesinan, seluruh teman teman seperti keluarga sendiri, kebersaman dan persaudaraan selalu ada dan mengiringi hari hari mengajar kami.

Khusus SMK sering diadakan kegiatan kegiatan Lomba kompetensi siswa dan kompetensi Guru. Dalam ajang kompetensi guru, sering diadakan lomba LKG, namun karena masalah persyaratan administrasi harus guru PNS atau Tetap Yayasan, membuat kesempatan mengikuti kegiatan tersebut sirna. Alhamdulillah saya masih bisa berkiprah di ajang perlombaan kompetensi siswa. Salah satunya adalah kegiatan Lomba Kompetensi Siswa (LKS). Pada 2 tahun terakhir ini tepatnya tahun 2017 dan 2018, siswa bimbingan saya berhasil meraih peringkat 3 LKS Tingkat provinsi Jawa Timur pada bidang lomba CADD, sebuah prestasi yang membanggakan sekolah.

Di dalam benak saya, walau saya seorang GTT, namun saya bisa menunjukkan kompetensi, komitment dan kepedulian saya terhadap SMK dengan memberikan berbagai prestasi SMK. Dengan bangga dalam benak saya saya bisa tersenyum dan berkata dalam hati, saya seorang GTT, namun jangan ragukan kompetensi, komitment dan kepedulian saya terhadap SMK, saya siap dan mampu bersaing positif dengan teman PNS maupun teman sesama GTT.

Suka Duka Seorang Guru

Suka Duka Seorang Guru

omjay-hgn

Hai teman-teman! Saya Abdul Mu’in, guru SD Negeri Glawan Semarang. Saat ini saya dipercaya mengajar kelas V. Kelas yang sering mewakili sekolah mengikuti berbagai lomba yang diadakan oleh Dinas Pendidikan. SD Negeri Glawan merupakan sekolahan ketiga yang sudah saya ajar. Saya mengajar di sekolahan ini sejak tahun 2015, tepatnya pada tanggal 1 Juli 2015. Sebelumnya saya mengajar di SD Negeri Bendungan yang letaknya masih satu kecamatan. Mengajar di SD Negeri Bendungan hampir 11 tahun. Sebelum di SD Negeri Bendungan saya menajar di SD Negeri Kambangan 03 Kecamatan Blado Kabupaten Batang. Pertama kali menjadi guru saya ditempatkan di sekolah ini pada tanggal 1 Maret tahun 1996. Kalau ditotal masa kerja saya sudah lebih dari 22 tahun.

Pada awalnya cita-cita saya bukan menjadi guru, tetapi karena desakan dari orang tua. Setelah menamatkan pendidikan di SMA, orang tua menyarankan untuk melanjutkan di sebuah institut keguruan di Semarang. Alasan orang tua agar cepat kerja, karena pada waktu itu masih ikatan dinas. Tahun-tahun pertama mengajar, saya belum bisa menikmati pekerjaan. Apalagi perasaan bangga menjadi guru.

Namun pendapat itu berangsur-angsur mulai memudar. Ternyata menjadi seorang guru itu menyenangkan dan membanggakan. Hidup kita dapat berguna bagi orang lain merupakan kebahagiaan tersendiri. Anak-anak yang dulunya belum apa-apa, akhirnya bisa membaca dan menulis. Apalagi mengetahui anak didiknya berhasil dalam kehidupan.

Pada waktu itu saya baru dalam perjalanan dari Batang ke Semarang mengendarai sepeda motor. Naik sepeda motor lebih menyenangkan daripada naik kendaraan umum. Kita dapat beristirahat kapanpun dan dimanapun. Saat kita merasa lelah kita bisa istirahat di pom bensin atau di pinggir sawah sambil menikmati indahnya pemandangan alam pedesaan. Saat lapar kita juga bisa mampir di warung di pinggir jalan.

Seperti pada waktu itu saat saya sedang beristirahat di sebuah warung makan di pinggir jalan sambil menikmati es buah yang segar. Ada sebuah mobil sedan merk honda keluaran terbaru berhenti di depan warung. Sekilas terlihat dari plat mobilnya adalah mobil Jakarta. Di dalam mobil duduk seorang pria mudah gagah. Pakaiannya rapi dan berdasi serta memakai sepatu hitam. Kaca mata hitam menempel di wajahnya yang menambah gagahnya pria tersebut.

Awalnya saya pikir dia ingin beristirahat juga di warung seperti orang yang lain. Saya pun melanjutkan menikmati es buah yang tinggal setengah mangkok. Setelah keluar dari mobil pria tersebut duduk di dekatku. Dia menyapaku dengan ramah sambil mengatakan bahwa ia adalah murid saya dari SD Kambangan 03 Batang. Karena sudah lama, saya sulit mengenalinya. Sambil menikmati segarnya es buah kami terlibat obrolan yang akrab. Saat ini dia bekerja di salah satu perusahaan terkenal di Jakarta. Sebelum berpisah dia memberikan kartu nama, dan mengundangku untuk datang ke Jakarta. Senang rasanya mengetahui muridnya menjadi orang sukses.

Namun di dunia ini semua berpasangan, ada yang sukses dan ada yang kurang beruntung seperti murid saya dari SD Bendungan Semarang. Kabarnya saya ketahui melalui media sosial. Setamat dari sekolah dasar dia tidak melanjutkan sekolah tetapi malah menikah. Saya merasa heran, zaman sekarang ternyata masih ada pernikahan dini. Saat ini dia sudah memiliki seorang anak. Mungkin karena masih muda pernikahan mereka kandas di tengah jalan. Sebagai gurunya saya juga turut prihatin.

PENGALAMAN MENGAJAR DI SMP NEGERI 2 ARUT SELATAN

20160126_101713PENGALAMAN MENGAJAR DI SMP NEGERI 2 ARUT SELATAN

Nama lengkap saya Agustini Rahmadany Rachman S.Kom, Saya lulusan Universitas Dian Nusantoro Semarang tahun 2002 dengan jurusan Sistem Informasi, setelah selesai kuliah Saya pulang ke kampung halaman yaitu di kota Manis Pangkalan Bun Kalimantan tengah, sengaja Saya pulang ke kampung karena kalau mencari pekerjaan di kota banyak saingannya dan orang tua juga menginginkan agar Saya mencari pekerjaan di kampung halaman saja.

Beberapa bulan Saya sempat menganggur dan Saya pernah mengajar di tempat kursus komputer. Tahun 2004 Saya ikut test CPNS di kota Saya. Saya mendaftar CPNS dengan jurusan umum, namun Saya gagal tidak lulus test saat itu.

Saya mendapatkan informasi tahun depan yaitu tahun  2005 akan dibuka kembali test CPNS dan yang banyak dibutuhkan adalah tenaga guru dan kesehatan. Orang tua Saya menginginkan Saya untuk menjadi seorang Pegawai Negeri. Saya pun berpikir apakah Saya harus menjadi seorang guru agar bisa diterima menjadi seorang Pegawai Negeri?, akhirnya Saya mengambil akta mengajar dengan sekolah kembali selama satu tahun di Universitas Palangka Raya yaitu di provinsi Palangka Raya.

Setelah lulus dan mendapatkan ijasah Akta mengajar saya mencoba mengajar di sekolah swasta yaitu SMP Islam Al Hasyimiyyah di kota Saya. Saya diminta mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia dan TIK. Pertama kali mengajar Saya merasa gugup karena memang Saya tidak terbiasa berbicara di depan orang banyak.

Baru beberapa bulan Saya mengajar di sekolah tersebut pada tahun 2005 kembali dibuka penerimaan CPNS di daerah Saya, Sayapun ikut test CPNS kembali dengan mengambil formasi sebagai guru. Waktu itu Saya memilih menjadi guru SMP.

Alhamdulillah Saya diterima menjadi seorang Pegawai Negeri, sujud syukur Saya berterima kasih kepada Allah SWT, atas terkabul nya doa Saya dan Orang tua Saya. Pada saat saya menerima SK penempatan, Saya ditetapkan mengajar di SMP Negeri 2 Arut Selatan di kota Pangkalan Bun Kalimantan tengah sampai sekarang.

Pertama kali Saya mengajar di SMP Negeri 2 Arut Selatan Saya tidak langsung mengajar mapel TIK tetapi Saya di beri jam mengajar mapel Kesenian karena pada saat itu sekolah masih bekerja sama dengan sebuah lembaga untuk pengadaan komputer berserta guru pengajarnya. Berat sekali rasanya harus mengajar mata pelajaran yang tidak Saya kuasai, walaupun hanya mapel Kesenian, Saya harus mengajar menyanyi dengan suara yang pas-pasan serta mengajar menggambar dengan keahlian seadanya, tetapi ada perasaan senang melihat hasil gambaran siswa Saya lebih bagus dari gambaran Saya.

Alhamdulillah tahun ajaran baru Saya sudah diberi jam mengajar mapel TIK, Saya mengajar dengan senang hati walaupun dengan peralatan komputer yang terbatas yaitu hanya 20 PC untuk jumlah siswa 38 – 40 orang. Jadi satu PC digunakan untuk 2 orang secara bersama-sama, walaupun agak kesulitan juga karena terkadang yang bekerja dengan komputer hanya siswa yang pandai saja sedangkan yang merasa tidak bisa malah diam saja.

Kemampuan siswa belajar komputer sangat minim sekali karena rata-rata siswa baru mendapatkan pelajaran komputer di SMP, bahkan mereka  tidak punya komputer ataupun laptop di rumahnya. Sehingga Saya harus dengan sabar mengajarkan mereka sampai mereka mampu membuat atau mengolah sesuatu dengan komputer. Saya tekankan kepada siswa Saya  semua harus sama-sama bisa menggunakan komputer karena pada saat ulangan TIK nanti akan Saya ujikan secara perorangan, agar Saya tahu mana siswa yang sudah bisa dan mana yang belum bisa.

Untuk mengajar mapel TIK Saya berbagi jam mengajar dengan guru mata pelajaran lainnya karena Saya hanya seorang diri sebagai guru TIK di sekolah Saya. Kami bergantian menggunakan ruangan Laboratorium Komputer karena sekolah kami hanya memiliki satu Laboratorium Komputer, walaupun jadwal penggunaan Laboratorium Komputer bisa bersamaan dengan kelas yang lainnnya sehingga ada kelas yang diajarkan teorinya saja terutama untuk siswa kelas 7. Sekolah Saya termasuk sekolah terbesar di kota Pangkalan Bun dengan jumlah kelas 27 rombel.

Demikian pengalaman mengajar pribadi Saya, semoga Saya bisa menjadi guru terbaik untuk siswa – siswa Saya, Aamiin. Mohon maaf apabila ada yang salah dari penulisan artikel ini.