Aku, Cita-citaku dan Panggilanku

Aku, Cita-citaku dan Panggilanku.

Oleh: Chrestian Wawoh

Menjadi guru adalah sebuah profesi yang tak pernah kubayangkan dalam benak masa kecilku. Dalam impianku sejak kecil hanyalah menjadi 3P yaitu Pendeta, Polisi dan Presiden. Harapan yang besar dengan menyelesaikan pendidikan dari TK sampai dengan STM kala itu tentu membawaku lebih dekat dengan salah satunya. Setelah menyelesaikan STM tahun 1995 ketika teman-teman lainnya bergiat untuk meraih mimpi mereka. Saya sempat mencoba menyiapkan diri dalam pendidikan Polisi namun mundur setelah menyadari secara fisik tubuhku terlalu lemah untuk profesi itu.

Sekitar bulan Oktober 1995 saya merantau ke Papua (kala itu Irian Jaya). Kota Biak adalah tempatku tinggal. Seorang saudara bernama Jimmy Lengkong Rooroh mengajakku bertemu dengan bapak Daniel Alexander. Seorang Penginjil dan pimpinan dari Yayasan Pelayanan Desa Terpadu (PESAT) di Nabire. Daniel Alexander adalah sosok pria berhati Bapa Sorgawi yang memberikan dirinya menjadi orang tua asuh bagi banyak anak yang kehilangan figur bapa. Saya bersyukur kepada Tuhan menjadi salah satu anak asuhnya. Tahun 1996 saya dikuliahkan di jurusan teknik Elektro di Universitas Pelita Harapan (UPH). Semua biaya hidup sayapun ditanggungnya. Di tahun 1998 saya sempat kabur dari kampus. Saya begitu berniat menjadi pendeta hingga mengabaikan kuliahku. Selama 2 tahun saya mengikuti pelatihan hingga akhirnya saya mendapatkan sebuah peneguhan dari seorang Pendeta dari Singapura untuk kembali menyelesaikan kuliah saya di UPH. Tahun 2000 saya kembali berkuliah di UPH di jurusan Sistem Informasi.

Setelah menamatkan pendidikan di Universitas Pelita Harapan. Pada Juli 2007 saya kemudian bergabung dengan Yayasan PESAT di Kota Nabire. Saat pertama kali mengajar di SMP Kristen Anak Panah saya mengajar mata pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Sungguh suatu pengalaman yang mendebarkan ketika berada ditengah-tengah murid yang sebagian besar berasal dari anak-anak Papua. Berkulit hitam dan rambut keriting serta aroma tubuh yang khas menjadikan mereka spesial dimataku. Rasa haus akan pengetahuan tentang komputer dari anak-anak tersebut memicu saya pun untuk belajar bagaimana menjadi seorang guru yang baik. Dengan berjalannya waktu saya belajar bagaimana mempersiapkan perangkat mengajar. Sebagai guru yayasan pendapatan sebulan tidaklah banyak hanya sekitar Rp. 250.000 per bulan. Beruntung dari sekolah masih memberikan honor berdiri per jam. Ya kalau dijumlahkan cukuplah untuk kebutuhan seorang bujangan seperti saya.

Di tahun 2007 itu pun saya melamar di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Informatika Universitas Satya Wiyata Mandala, satu-satunya kampus swasta di kota Nabire. Profesi Dosen pun ku sandang walau saya sendiri menyadari semua jauh dari harapanku. Di tahun 2009 saya mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Hasanuddin di kota Makassar. Saya melanjutkan pendidikan di jurusan Teknik Komputer dan Kontrol Elektronik. Selama 2 tahun saya disana dan kembali lagi kepada aktifitas semula sebagai guru dan dosen di kota Nabire. Walaupun masih berstatus guru yayasan dengan gaji dibawah UMR namun semangatku tidaklah pudar. Bagiku uang bukanlah tujuan saya berada di kota ini.

Di awal tahun 2012 saya memutuskan untuk fokus mengajar di sekolah saja dan mengakhiri kegiatan di kampus. Sejak saat itu saya mulai memberi waktu saya kepada 2 sekolah lain selain sekolah induk saya. Adalah SMA YPBI Sion Nabire sebuah sekolah swasta yang berjarak sekitar 35 KM dari tempat saya tinggal. Untuk sampai ke sana saya harus menumpang kendaraan umum 2 kali atau bisa dengan naik ojek. Lokasi yang terbilang jauh tidak menghalangi saya untuk terus berkiprah dalam berbagi ilmu. Bila hitung-hitungan secara ekonomis maka dari gaji honor yang saya dapatkan dengan biaya transportasi maka hasilnya tidaklah seberapa. Dengan bermodalkan sebuah laptop milik pribadi saya mengajar mata pelajaran TIK kepada mereka. Sekitar beberapa bulan setelah kehadiranku disekolah itu kepala sekolah melakukan pengadaan komputer dan proyektor dari dana sekolah.  Anak-anak lebih bersemangat dengan adanya komputer baru disekolah. Namun sangat disayangkan beberapa komputer mengalami kerusakan karena listrik yang tidak stabil dan seringnya mati lampu didaerah itu.

Sekolah lainnya yang saya pilih untuk bergabung adalah SMA Negeri 1 Plus KPG Nabire. Sebuah sekolah menengah atas yang mempersiapkan anak didiknya menjadi calon guru. KPG (Kolese Pendidikan Guru) adalah sebuah sekolah setara SPG (Sekolah Pendidikan Guru) pada jaman dulu. Mengapa saya memilih bergabung dengan sekolah ini? Satu kerinduan saya agar para calon guru memiliki pengetahuan dan ketrampilan pengelolaan komputer yang lebih baik.  Sekolah ini berjarak sekitar 30 KM dari kediamanku. Untuk ke sekolah saya menggunakan ojek sebagai sarana transportasi yang lebih cepat. Fasilitas laboratorium komputer yang memadai memotivasi saya mengajar disekolah ini. Di sekolah ini saya pernah diterima sebagai guru kontrak Provinsi namun sayangnya hanya berlangsung  selama 1 tahun.

Sejak tahun 2012-2015 dalam seminggu saya memberi waktu sekitar 2 hari mengajar di masing-masing sekolah ini sambil menyesuaikan jam mengajar saya di SMK Kristen Anak Panah. Hari berganti hari mengajar kini menjadi profesiku. Aku tak menghiraukan kondisi kesehatanku. Dipertengahan Agustus tahun 2015 kesehatan saya terganggu. Ketika sedang mengantar siswa SMK prakerin di Surabaya saya merasakan kondisi badan tidak stabil. Setelah dibawa ke dokter hasil pemeriksaan ginjal saya bermasalah. Dokter kemudian menyarankan dilakukan pemeriksaan lanjutan. Sayapun melakukan pemeriksaan darah, USG, CT Scan sampai akhirnya CT Scan Contrast untuk mengetahui lebih jelas kondisi ginjal saya. Positif saya di vonis mengalami Hydrofrenosis atau pembengkakan ginjal karena cairan. Dokter menjelaskan bahwa ada batu ginjal yang menyumbat saluran ureter sehingga ginjal kiri saya membengkak dan sudah memenuhi ¾ bagian perut saya. Bertempat di RS. Siloam Surabaya saya menjalani operasi ditangani oleh timnya dr. Adi Santoso, Sp.B, Sp.U(K). Puji Tuhan proses operasi berjalan dengan baik. Dalam operasi itu bukan hanya batu ginjal yang diangkat namun ginjal kiri saya yang sudah membengkak pun terpaksa diangkat. Dokter menjelaskan bahwa secara medis ginjal kiriku sudah tidak bisa berfungsi normal sehingga harus diangkat. Selama 6 bulan proses penyembuhan saya kembali ke kota Tomohon tinggal bersama orang tuaku.

Bulan Januari 2016 saya kembali ke kota Nabire untuk mulai mengajar. Walaupun kondisi tubuh masih belum terlalu pulih namun kerinduan berjumpa dengan anak didik memberikanku kekuatan baru. Saya memutuskan hanya mengajar di SMK saja karena kondisi tubuh saya yang tidak boleh terlalu capek. Dokter menyarankan saya harus lebih banyak istirahat dan mengkonsumsi air mineral serta makanan yang sehat.

Pada bulan Juni 2016 saya mengakhiri masa lajang saya dengan menikahi seorang wanita  berdarah Timor bernama Anastasia Ninotshka, S.Pd. Seorang guru matematika yang juga memberikan hidupnya untuk berbagi ilmu pengetahuan di tanah Papua. Walaupun secara pengalaman saya lebih banyak namun secara kependidikan saya juga belajar dari isteriku yang merupakan sarjana kependidikan jebolan Universitas Cenderawasih Papua.

Di tahun 2017 saya mendapatkan kesempatan mengikuti seleksi sertifikasi guru melalui program PPG pada mata pelajaran TIK. Dari 200 guru lebih di Nabire yang mengikuti tes online saya termasuk dari 11 orang yang dinyatakan lulus tes. Proses pemberkasan berlangsung baik sampai di tingkat dinas provinsi Papua. Namun ketika verifikasi berkas oleh operator LPMP Papua, berkas saya dan 2 orang guru lainnya ditolak. Penolakan berkas saya dengan alasan waktu menjadi guru yayasan hanya berselang 5 bulan dari bulan kelulusanku. Saya mencoba untuk menjelaskan namun kondisiku sepertinya belum bisa di mengerti. Dari pihak yayasan mencoba mengklarifikasi dengan mengirimkan surat ke pihak LPMP untuk menjelaskan mengapa saya langsung diterima sebagai guru yayasan yaitu karena saya dibiayai oleh bapak Daniel Alexander sebagai pimpinan Yayasan sehingga langsung diangkat tanpa harus menunggu 2 tahun. Alasan inipun masih belum bisa diterima oleh petugas LPMP. Ada rasa kecewa yang berat ketika harapan untuk mengikuti proses pendidikan profesional guru sepertinya terhalang. Dalam hatiku biarlah Tuhan yang tahu setiap pengorbananku di tanah ini.

Tahun 2018 adalah tahun anugerah buat saya dan keluarga. Sebagai pembuka tahun di tanggal 2 Januari saya dan isteri mengalami musibah kecelakaan mobil. Kami bersyukur masih diberi kehidupan. Tulang belikat kiri saya patah dan harus mendapatkan perawatan serius sampai dirujuk ke Jayapura. Seminggu dalam perawatan saya dan isteri kembali ke Nabire. Walau dalam kondisi tangan masih dipasang penyangga saya kembali mengajar. 3 bulan berlalu tanganku kembali berfungi dengan baik. Pada tanggal 17-21 April saya membimbing salah satu siswa terbaik kami untuk mengikuti LKS SMK tingkat provinsi Papua dalam bidang Web Design. Gilbard Yizreel akhirnya mendapatkan juara I dan mendapatkan kesempatan mengikuti LKS SMK tingkat Nasional di Mataram Lombok. Pada tanggal 6-12 Mei 2018 saya mendampinginya berlaga dalam even nasional tersebut. Walau tidak mendapatkan juara namun Gilbard sangatlah senang. Sayapun bangga dengan prestasi sekolah kami yang terbilang pendatang baru di Nabire. Sebuah prestasi bagi provinsi Papua bisa mengirimkan wakilnya pada bidang lomba tersebut. Semoga di lain waktu dan kesempatan kami bisa mengukir prestasi kembali.

Bulan Agustus 2018 ini adalah tahun ke-11 saya menjadi seorang guru. Sudah 3 tahun menjalani hidup dengan hanya memiliki sebuah ginjal. Sudah 2 tahun 2 bulan usia pernikahanku. Kami berdua belum dikarunia anak kandung namun kami bangga memiliki banyak anak didik dalam hidup kami.

Sungguh hidup ini hanyalah kesempatan dari Sang Langit

Torehkanlah sejarah bagi dirimu sendiri dimana waktu tak mampu menghapuskannya.

Berkaryalah baik di siang nan cerah maupun malam pekat

Jangan matikan dirimu sebelum waktunya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s