Komunikasikan Hati dan Pikirmu

Komunikasikan Hati dan Pikirmu

Oleh: Raihana Rasyid

Ternyata, seringnya kita meluangkan waktu dan berkumpul dengan anak-anak  di luar jam pelajaran membuat kita banyak memperoleh pelajaran sebagai bahan kajian dan evaluasi untuk perbaikan diri ke arah yang lebih baik dalam mengemban tugas-tugas kita di dalam kelas. Tulisan ini pun kuramu berdasarkan hasil “kongkow-kongkow” dengan siswa di sela-sela  canda tawa setelah kegiatan ekskul yang kami lakukan.  Tulisan ini kubuat sebagai ibrah dalam rangka muhasabah untuk diri sendiri, tidak ada niat untuk mengajari limau berduri apalagi mengajari ikan berenang.

Suasana sangat hening, sang guru terlihat duduk di depan kelas sambil menulis sesuatu, ntah apa. Para siswa “khusyu” dengan pikirannya masing-masing.  Meski terlihat seolah membaca, namun wajah mereka menyiratkan ketidakmengertian, kejenuhan bahkan ketakutan. Mereka diam dengan mata yang tertuju ke halaman buku, namun pena yang ada di tangan tidak juga bergerak menulis ditambah nafas yang sesekali dihelakan dengan irama yang terkadang dihentakkan.

Suasana ini dipertegas pula dengan sesekali saling berpandangan menggambarkan mereka tidak mengerti apa yang akan dilakukan. Namun tak ada keluar “sebait” tanya pun dari mulut mereka untuk gurunya yang terlihat masih saja tenang di “singgasananya”. Beberapa siswa memandang dengan tatap kosong ke papan tulis yang penuh dengan tulisan sang guru yang tadinya wajib mereka pindahkan ke dalam lembaran- lembaran buku catatan mereka.

Ternyata saat itu anak-anak ditugaskan untuk mengerjakan soal-soal latihan dari pelajaran yang baru saja mereka catat materinya dari papan tulis dengan jumlah mencapai hampir 5 halaman buku catatan mereka. Setelah beberapa lama, “Ayo…anak-anak waktunya sudah habis, kalian kumpulkan buku latihannya,” terdengar suara sang guru memberi perintah untuk mengumpulkan buku latihan tersebut. Terlihat ekspresi resah di wajah anak-anak, namun dengan berat hati harus pula mematuhi perintah gurunya, apalagi sejurus kemudian bel tanda pergantian pelajaran berbunyi.

Ilustrasi di atas masih banyak terjadi didalam kelas. Kehadiran seorang guru yang begitu menakutkan yang mengharuskan anak-anak mengikuti perintahnya. Tidak ada komunikasi dua arah yang mewarnai pembelajaran. Suasana tenang yang tercipta justru memunculkan aura yang menakutkan. Bandingkan dengan ilustrasi berikut ini:

Di awal pembelajaran seorang guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memancing minat belajar anak dengan memunculkan pertanyaan-pertanyaan dari kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan materi pelajaran yang akan disampaikan. Ketika minat dan rasa ingin tahu anak sudah muncul, guru pun mulai menjelaskan materi pelajaran dengan “berbagai macam metode atau model” pembelajaran yang harus pula disesuaikan dengan karakter anak-anak yang ada di kelas itu. Karena bisa jadi materi pelajaran yang sama disampaikan dengan cara yang berbeda pada kelas yang berbeda disebabkan karakter anak-anaknya yang berbeda.

Menciptakan suasana yang tenang namun menyenangkan merupakan syarat berikutnya yang harus dipenuhi oleh seorang guru agar benih-benih minat yang sudah muncul tadi dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.  Maka seorang guru harus pula menguasai trik-trik bagaimana mencairkan susana ketika anak-anak sudah mencapai titik jenuh.

Seorang guru dengan “ olah pikirnya” harus menguasai materi pelajaran  sebaik mungkin serta mampu mentransferkannya dengan baik pula. Modal pengetahuan dan wawasan yang luas menjadikan seorang guru dapat menganalogikan contoh- contoh dalam kehidupan nyata dengan materi pelajaran yang disampaikannya sehingga anak menjadi tertarik dan berpikir bahwa ia akan mengalami hal tersebut. Aku menyakini, jika aku pun sebagai gurunya tidak memahami apa yang  kusampaikan bagaimana pula anak-anak dapat memahami hal tersebut. Sementara itu, dengan “olah hatinya” seorang guru harus bisa mengerti apa yang dirasakan dan dibutuhkan anak dalam rangka tercapainya tujuan proses pembelajaran.

Disinilah guru diharuskan mampu mengkomunikasikan hati dan pikirannya. Aku harus memahami bahwa anak-anak yang   kuajar dan kudidik ini, bukanlah mahluk tanpa hati yang wajib melaksanakan perintahku meski yang ku ajarkan pastinya sesuatu yang baik.  Mampu masuk ke ruang-ruang hatinya adalah hal yang wajib dilakukan oleh seorang guru agar minat dan keinginan belajarnya dapat tumbuh secara wajar dari dalam hati. Bagaimana hal ini bisa tercapai kalau akupun tidak memberikan hatiku pada mereka?

Hati, baik secara jiwa ataupun raga merupakan sesuatu yang sangat menentukan kehidupan seseorang. Hati secara jiwa, berisi semua “rasa” yang sangat menentukan kondisi seseorang secara keseluruhan. Sedangkan hati secara raga merupakan organ tubuh yang memiliki peran sangat penting dalam proses metabolisme didalam tubuh.  Dalam hal proses pembelajaran, hati secara jiwa pada anak-anak hendaklah bisa kita rebut sehingga kita bisa masuk kedalamnya dan proses pembelajaran pun dapat belangsung sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Wallahu a’lam bishawab

#edisiemuhasabah#

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 2 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s