My Trip My Stories

My Trip My Stories

Oleh: Joko Hariaji

Tanggal 1 april 2015 masih teringat didalam pikiranku. Tidak akan pernah sirna dan terus teringat sampai saat ini, karena tanggal tersebut adalah tanggal yang menjadi titik awal perubahan didalam hidupku. Tanggal dimana diriku mulai menginjakkan kaki pertama kali di bumi serambi mekkah atau yang mendapat julukan lain tanah rencong. Tanggal dimana diriku mendapatkan tugas yang sangat luar biasa dan begitu berat namun sekaligus membahagiakan karena di tanggal itulah diriku memulai pengabdian yang sangat kunanti nantikan selama ini. Iya benar 1 april 2015 tanggal dimana diriku mendapatkan tugas menjadi CPNS tepatnya sebagai pengajar di daerah terpencil atau yang biasa disebut Guru Garis Depan disingkat juga dengan GGD.

Sebelum tanggal itu kami sudah berada diperbatasan aceh timur dengan aceh tamiang tepatnya ditualang cut, disana saya tinggal sementara dengan Orang tua angkat kawan SM-3T dari UPI bandung tepatnya 3 hari, pak wagimin namanya. Disana saya mendapatkan berbagai cerita tentang kondisi aceh dari masa ke masa, sehingga membuat saya semakin besar rasa ingin tahu untuk segera menuju  ke tempat pengabdian saya.

Tanggal 1 april 2015 pada Pagi hari yang indah pada tanggal tersebut saya sudah didalam kendaraan umum berupa mobil elf atau disebut juga jumbo diaceh, kencangnya mobil jumbo membuat pikiranku melayang membayangkan bagaimana kondisi dinas pendidikan aceh timur serta sekolah mana saya akan ditempatkan, dengan penuh semangat serta rasa ingin tahu yang besar membuat semakin berdebar jantung ini setelah mobil saya memasuki kawasan perkatoran aceh timur. Kawasan perkantoran yang bergaya timur tengah membuat saya semakin kagum dengan kondisi di aceh timur. Ternyata setelah menunggu beberapa saat saya bersama kawan yang lain disambut oleh kepala dinas beserta kabib dan sekdis di aula pertemuan, pada waktu bersamaan diundang juga kepala sekolah dimana kami mengajar untuk diperkenalkan kepada kami. Sehingga setelah acara selesai kami langsung dijemput oleh kepsek masing masing untuk menuju sekolah yang baru sekaligus memperkenalkan dengan kepala desa atau disebut juga geuchik di aceh. Pada hari itu juga kami tinggal di rumah geuchik yang dekat dengan sekolah saya mengajar yang akhirnya secara tidak langsung menjadi ayah angkat saya selama tinggal di aceh.

SMP Negeri 3 Indra Makmu adalah nama sekolah saya mengajar, kondisi sekolah yang terletak diatas bukit dan iklim pegunungan serta curah hujan tropis membuat suasana sekolah tampak asri dan segar dipagi hari. Hampir mayoritas penduduknya orang aceh atau disebut “orang kita aceh” dalam logat disini. Banyak cerita yang saya alami dari awal sampai sekarang dan tidak akan habis ditulis dalam kertas ini tentu ada cerita suka dan duka.

Diantaranya salah satu cerita adalah pernah saya dirotasikan ke SMP Negeri 4 Pantee Bidari selama setahun karena di sana juga kekurangan guru matematika, saya kira sekolah yang baru ini terletak dipinggir pantai karena nama sekolahnya itu senangnya pasti akan dengan mudah mendapatkan ikan karena didekat pantai apalagi saya pak guru pasti mendapatkan banyak diskon jika saya yang membeli ikan, namun ternyata setelah saya datang kesekolah saya yang baru ini terletah diatas gunung jauh dari pemukiman warga, bahkan mayoritas penduduknya Suku gayo atau disebut “orang kita Gayo” dalam logat di aceh yang memiliki ciri unik selalu berpindah pindah tempat tinggal sesuai dengan gaya pertaniannya yang selalu berpindah tempat jika sudah tidak subur lagi (nomaden).

Cerita duka yang ada disekolah baru ini tetap sama dengan sekolah yang lama kurangnya sarana dan prasarana sekolah, belum lagi kesadaran orang tua tentang pentingnya pendidikan serta kualitas pengajar yang minim sehingga kita perlu bekerja ekstra baik waktu mengajar maupun sewaktu berinteraksi dengan kawan sejawat dengan tujuan untuk memberikan pengaruh perubahan menuju hal yang lebih baik sedikit demi sedikit. Karena perubahan pendidikan tidak bisa serta merta langsung berubah namun perlu proses sedikit demi sedikit, setahap demi setahap. Ditambah belum lagi masalah kondisi geografis wah sungguh mantap mirip acara televisi “my trip my adventure” namun ini versi the lost word gak usah dibayangi oke pokoknya.

Nah sekarang cerita sukanya hampir semua semua warga sangat ramah dan baik memang benar pepatah aceh “kalau kita baik maka orang aceh akan dua kali lebih baik”, karena setiap saya lewat selalu memberikan bantuan baik tumpangan atau sekadar menyapa atau berbicara sebentar terkadang berbagi kue dan makanan, ternyata tidak disangka pada waktu panen buah buahan mengalir deras ke rumah sekolah berbagai macam buah buahan dan sayuran, memang rejeki anak sholeh. Inilah sekelumit cerita saya tentang beberapa tahun mengajar di aceh tepatnya dikabupaten aceh timur propinsi aceh masih banyak cerita lain yang ingin saya bagi untuk memotivasi beberapa kawan guru yang mungkin senasib dan sepenanggungan tapi tidak sekandungan. Semoga cerita saya yang singkat ini bisa memberikan kontribusi bagi kebijakan pendidikan di indonesia terutama didaerah daerah terpencil.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s