TANTANGAN SEORANG GURU

TANTANGAN SEORANG GURU

Oleh: Siti Nuryani

Menjadi guru adalah cita-citaku sejak kecil. Ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, aku suka bermain bersama teman-teman. Permainan yang paling kusukai adalah sekolah-sekolahan, dan akulah yang menjadi gurunya. Dengan bangga aku berdiri di depan teman-temanku menjadi guru.

Aku terpesona melihat guru-guru SD yang sedang mengajar. Mereka berpakaian rapi, tutur katanya sopan dan ramah. Mereka juga mengajar dengan cara yang menyenangkan.

Ketika bersekolah di SMP, aku bercita-cita ingin menjadi guru Matematika. Aku terinspirasi oleh Ibu guru Matematika. Beliau mengajar dengan tegas dan mudah diterima. Aku sering disuruh mengerjakan soal di depan kelas. Jika jawabanku salah, beliau tidak memarahiku. Beliau tetap memujiku, memberi motivasi agar tetap belajar dan tidak putus asa. Hal itu semakin menguatkan cita-citaku menjadi guru.

Keinginanku menjadi guru terus menggelora. Cita-cita itu aku wujudkan dengan masuk di SPG. Aku sadar orang tuaku kurang mampu. Jika nantinya tidak bisa melanjutkan kuliah, dengan lulus SPG, saya sudah bisa menjadi guru.

Saat itu, sekitar tahun delapan puluhan, guru merupakan jabatan yang kurang diminati anak-anak. Mereka sangat bangga jika bersekolah di SMA. Siswa SMA sering mengolok-olok siswa SPG. “Selamat pagi, Bu Guru,” begitulah ucapan mereka jika bertemu dengan siswa SPG. Meskipun dalam hati ini sakit sekali, aku hanya berdoa semoga Allah memberi petunjuk kepada mereka dan menguatkan cita-cita muliaku ini.

Lulus SPG, aku berkesempatan melanjutkan kuliah di D2 Kependidikan Bahasa Indonesia. Alhamdulillah, setelah lulus, saya diangkat di sebuah SMP negeri yang terletak di pinggiran Kabupaten Bojonegoro. Awalnya saya merasa berat untuk melaksanakan tugas di sana. Waktu itu suasana masih sepi, belum ada listrik, dan transportasi masih sangat terbatas.

Lama aku merenung. Dengan dukungan orang tua, kuputuskan untuk mengabdikan diri di tempat itu. Kukembalikan hatiku pada cita-citaku semula yaitu menjadi guru. Aku ingin mengabdi kepada nusa, bangsa, dan agama, untuk memajukan negeri ini melalui pendidikan. Dengan tekad yang bulat, aku menerima takdir ini. Aku yakin, Allah menugaskan saya di tempat itu pasti ada rencana besar yang aku tidak mengetahuinya.

Dengan melihat anak-anak desa yang polos, teman-teman guru dan staf TU yang baik hati, membuatku kerasan mengajar di sana. Aku mulai terbiasa dengan keterbatasan yang ada. Membaca di bawah lampu petromaks atau lampu tempel sudah mulai familier. Bangun tidur dengan hidung penuh ingus hitam sudah biasa. Jalan kaki dari kos menuju sekolah atau sebaliknya sudah menjadi kebiasaan yang menyehatkan.

Kulihat anak-anak desa yang polos. Usia mereka tidak begitu jauh dariku. Aku dan mereka seperti kakak dengan adik-adiknya. Orang tua siswa sebagian besar petani. Ini mengajarku untuk hidup dengan kesederhanaan.

Mengajar di desa dengan segala keterbatasan membuatku berpikir bagaimana supaya anak-anak bisa belajar dengan maksimal. Perpustakaan dengan buku yang minim kumanfaatkan untuk mengajak anak-anak mau membaca. Mereka sangat antusias membaca buku. Buku yang mereka senangi adalah buku-buku cerita. Maklum mereka haus akan hiburan.

Saat itu aku mengajar seperti mengisi gelas kosong dengan air sampai penuh. Kujejali mereka dengan berbagai teori-teori tata bahasa. Aku sangat bangga bisa memberi mereka ilmu yang menurutku sangat penting. Aku cekoki mereka dengan teori-teori sastra dan pengetahuan bahasa yang lain. Aku berharap mereka pandai akan ilmu bahasa. Aku tidak menyadari bahwa belajar bahasa itu agar anak bisa berbicara, mendengar, membaca, maupun menulis. Aku baru tersadar setelah melihat anak-anak tidak bisa bicara ketika disuruh bercerita di depan kelas. Demikian juga ketika disuruh membuat karangan. Anak-anak cenderung memulai kalimat dengan kata hubung. Isinya pun juga tidak jelas.

Aku berusaha untuk mengubah cara mengajar. Aku sudah tidak banyak memberi teori tetapi langsung praktik berbahasa. Pengetahuan aku sampaikan ketika menemui hal-hal yang tidak sesuai dengan kaidah. Dengan langsung praktik berbahasa, membuat anak tidak jenuh dan mudah memahami.

Awal-awal mengajar, aku mengajar secara monoton. Aku hanya menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas. Anak-anak kelihatan jenuh. Mereka kelihatan tidak bergairah ketika kujelaskan maupun menyelesaikan tugas.  Akhirnya, aku berupaya menerapkan pembelajaran kontekstual yang menghubungkan pembelajaran dengan dunia nyata. Pembelajaran juga kukemas dengan permainan sehingga lebih menyenangkan. Dengan begitu anak-anak lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran.

Kini perkembangan teknologi sangat pesat. Teknologi digital berkembang luar biasa. Anak-anak sangat cepat menerima perubahan itu. Mau tidak mau aku harus mengikuti perkembangan tersebut. Pembelajaran harus mempersiapkan anak-anak menghadapi abad ke-21. Sebagai guru, aku harus terus meningkatkan kompetensi agar bisa merencanakan, melaksanakan pembelajaran, menilai, maupun membimbing/melatih anak.

Meskipun masih sulit dilaksanakan, aku harus membiasakan anak-anak untuk berpikir kritis. Mereka melihat model atau contoh kemudian mencoba menemukan sendiri kaidah bahasa. Anak-anak aku biasakan bekerja sama atau berkolaborasi dalam menyelesaikan tugas. Mereka juga kubiasakan untuk bisa mengomunikasikan hasil kerjanya. Tak kalah pentingnya mereka juga kutumbuhkan daya kreativitasnya melalui tulisan, baik prosa maupun puisi.

Memang tidak mudah mengubah pola pembelajaran yang selama ini kulakukan. Demikian juga membiasakan anak-anak melakukan hal-hal baru butuh kesabaran, kekuatan hati, dan ketekunan. Meskipun sangat sulit dan lambat, aku yakin anak-anak pasti bisa.

Agar bisa menerapkan pembelajaran tersebut, aku harus terus belajar. Aku harus bisa mempersiapkan anak-anak untuk mampu hidup di abad ke-21. Dengan mengikuti pelatihan menulis ini, aku berharap bisa terus meningkatkan kompetensiku.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s