Daily Archives: Agustus 6, 2018

Ketika Cucu Perwira Kecanduan Mengajar & Menulis

saksi-tronton

KETIKA CUCU PERWIRA KECANDUAN
MENGAJAR DAN MENULIS

Oleh : Jhon Anderson Hutapea, S.Pd
Guru : SMP Fatima 2 Sibolga

Daerah terpencil desa Siandor-Andor kabupaten Tapanuli Utara ayahku dilahirkan. Desa terpencil ini tidak ada listrik, jalan belum diaspal, sekolahpun tidak ada. Ayahku sering mengajak aku untuk berlibur mulai usiaku masih kecil hingga remaja. Masyarakat di desa itu sangat senang setiap kedatangan kami bahkan melayani segala keperluan yang kami butuhkan. Saya sering bertanya kepada ayahku, “Mengapa masyarakat desa ini sangat baik sekali kepada keluarga kita?’’, ternyata karena kakekku kepala kampung yang sangat baik di desa Siandor-Andor.

Kakekku seorang perwira tentara yang memiliki banyak prestasi ketika merebut kemerdekaan republik Indonesia, namanya Gading Hutapea. Kakekku mengakhiri jabatannya dan menjadi kepala desa di desa Siandor –Andor Tapanuli Utara. Setiap kali aku berlibur ke desa itu kakekku selalu menyuruh untuk mengajari anak-anak seusiaku untuk belajar membaca dan berhitung, aku selalu mengeluh kepada kakekku karena anak-anak SD seusiaku di desa itu tidak juga bisa menulis dan berhitung setelah aku ajari. Kakekku memberi petunjuk kepadaku bagaimana cara mengajari anak-anak SD di desa itu agar bisa menulis dan berhitung sambil berkata, “ Jangan khawatir mereka mengerti atau tidak yang penting kamu mengajari dengan iklas” dan akhirnya anak-anak SD di desa itu dapat menulis, membaca dan berhitung.

Kakekku melihat bahwa aku punya bakat menjadi guru dan beliau berpesan agar aku menjadi guru. Aku janji kepada kakekku bahwa aku akan menjadi guru dengan syarat kakekku harus membangun sekolah di desa ini baik SD mapun sekolah SMP. Janji kakekku ditepati bukan hanya sekolah yang dibangun tetapi listrikpun dimasukkan ke desa tersebut hingga jalanpun diperbaiki. Suatu ketika kakekku rindu dengan kedatanganku, dia menjemputku dari kota Sibolga untuk liburan ke desa tersebut. Hatiku sangat senang karena kakekku menunjukkan sekolah dan jalan yang dibangunnya, bukan hanya itu aku dan temanku sangat senang pada malam hari karena desa tersebut tidak gelap lagi karena listrik sudah masuk.

Kebahagiaan itu hilang ketika setahun kemudian kakekku meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya. Aku marah kepada semua orang karena kakekku tidak ada yang bisa menyembuhkannnya. Pada saat acara penguburan banyak para tentara dengan membawa senjata datang kepemakaman kakekku. Aku marah dan menangis sambil menyerukan, “Jangan tangkap kakekku…!” Ayahku menggendongku dan mengatakan, “ Itu semua teman kakekmu dan mereka ingin memberi penghormatan terakhir.”

Walaupun kakek dan nenekku sudah tiada namun aku tetap pergi berlibur ke desa itu setiap tahun. Saudara ayahku tidak ada yang tinggal di desa itu, semua merantau, ada yang dijakarta dan ada di Kalimantan. Masyarakat desa itu tetap baik dan selalu melayani kami setiap kedatangan kami ke desa tersebut. Sewaktu aku duduk di bangku SMP dan SMA, setiap liburan aku sering pergi ke desa tersebut ternyata anak-anak seusiaku selalu minta diajari baik pelajaran matematika dan bahasa inggris setiap malam hari tetapi pada siang hari anak-anak seusiaku minta diajari sepakbola. Dan ayahku membeli bola sehingga setiap hari kami bermain bola dengan gembira.
Masa anak-anak dan remajaku berakhir ketika aku lulus SMA. Aku mencoba mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Ketika itu aku bingung untuk memilih jurusan tapi aku ingat pesan kakekku agar aku menjadi guru. Ternyata aku lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN) dan mengambil Fakultas Keguruan Jurusan Matematika.
Ketika jadi mahasiswa ada tawaran menjadi tentor di bimbingan belajar ternyata lulus dan menjadi tentor di bimbingan belajar. Dua tahun menjadi tentor di bimbingan belajar dipercaya menjadi pimpinan di bimbingn belajar. Sejak menjadi mahasiswa aku tidak pernah liburan ke desa Siandor-Andor, kerinduanku tertahan dengan padatnya jadwal kuliah dan jadwal mengajar di bimbingan belajar. Tamat kuliah aku ditawarkan bekerja di instansi bank, perusahaan lainnya tetapi aku sudah kecanduan mengajar jadi kuputuskan untuk tetap menjadi pengajar dibimbingan belajar.

Ayahku sakit kanker memaksaku untuk pulang kekampung halamanku. Seminggu di kampung halamanku banyak anak-anak sekolah datang kerumah untuk belajar matematika mulai dari SD hingga SMA. Kepercayaan masyarakat padaku tentang bimbingan belajar pada anaka-anaknya membuat ayahku senang melihat keramaian dirumah walaupun kondisi ayahku sakit. Suatu ketika ada tawaran menjadi guru di sekolah swasta, mendengar hal ini ayahku meminta agar aku menjadi guru di sekolah tersebut.

Menjadi guru swasta di SMP Fatima 2 Sibolga dengan gaji kecil membuatku menjadi patah semangat. Namun keinginan ayahku yang besar membuat aku bertahan di sekolah tersebut. Namun banyaknya anak-anak sekolah lain yang ingin les privat membuatku kekurangan waktu bahkan banyak yang kutolak karena tidak ada waktu. Setiap hari aku mengajar dari pagi hingga malam hari membuat pengahasillanku menjadi besar. Namun dapat kulalui karena kecanduan mengajar ada dalam diriku. Suatu hari aku menyewa gedung untuk membuka bimbingan belajar karena banyak anak –anak yang meminta les matematika kepadaku.

Sebulan kubuka bimbingan belajar ternyata banyaknya siswa les dibimbingan belajar yang kubuka tiga ratus siswa . Hal ini mengundang perhatian pemilik gedung tersebut untuk menaikkan harga gedung yang tidak masuk akal. Tiga ratus siswa di bimbingan tersebut setengahnya tidak bayar uang les bagi siswa miskin, yatim maupun piatu karena program yang saya buat sebagai sosial untuk masyarakat kota Sibolga. Namun keterbatasan dana membuat saya berhutang kepada pemilik gedung dan akhirnya saya menyerahkan bimbingan belajar tersebut kepada sang pemilik gedung. Kesedihan saya terhadap bimbingan belajar yang sudah dua tahun saya bentuk ketika saya keluar dari bimbingan belajar tersebut dan nama bimbingan itu diganti. Namun selang setahun kemudian bimbingan belajar itu ditutup Karena tidak ada siswa lesnya. Banyaknya tawaran untuk mengajak kerjasama dalam membentuk bimbingan les membuat saya trauma dan takut untuk membuka kembali bimbingan belajar.

Saya mencoba untuk tidak mengajar les di bimbingan belajar manapun dengan beralih mengikuti segala kegiatan lomba-lomba guru antara lain lomba guru berprestasi, lomba olimpiade guru nasional, lomba kreatifitas guru, lomba inovasi pembelajar bahkan lomba menulis buku literasi tingkat nasional. Semua lomba yang saya ikuti pernah meraih juara 1 tingkat kota, provinsi hingga menjadi finalis tingkat nasional.
Meskipun saya guru swasta dengan gaji yang kecil tidak menjadi penghalang untuk berprestasi diberbagai kompetisi dengan peserta lomba guru-guru PNS dan sudah sertifikasi. Prestasi yang saya raih sebagai guru, itu semua berkat kecanduan saya mengajar dan menulis sejak kecil yang ditanamkan oleh kakek saya Gading Hutapea perwira tentara sang pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia.

Guru Ganda

GURU GANDA

Oleh: Imam Syafi’i Tuban

 DWITAGAMA BUNDA KANDUNG7

            Tahun 2009, saya mendapat tawaran dari bapak dekan untuk mengabdi pada almamater setelah menamatkan jenjang s1, pada prodi teknik informatika yang sangat saya cintai. Bagaimana tidak, hampir 90% waktu ini, hanya teruntuk mengembangkan dan aktif dalam kegiatan kemahasiswaan di kampus tercinta UIN Maulana Malik Ibrahim. Namun, suara panggilan ibundaku untuk kembali lebih membuatku terpesona karena karier dunia tak seindah telapak kakinya, begitu gumamku setelah mendapat ceramah dari salah satu Bpk. Dewan Kiyai kala itu.

            Setiba dikampung halaman yang nampak kusam oleh kemarau, kusiapkan puluhan lamaran ke berbagai instansi, karena menurut pengalaman langsung dari bapak, semakin banyak menabur benih maka panenpun melimpah, begitu ajaran beliau, yang sangat mencintai sawahnya. Saban hari ditengoknya sawah itu, dipikirkan siang malam, tak jarang pula ia seminarkan diwarung kopi mbok patimah, ahh..sertinya tak pernah saya ditengok macam itu saat kuliah dulu. Rupaya benar kata bapak, tak sampai ½ hari, telepon berbunyi, kukira dari kantor bupati, pabrik semen, atau BUMN, seperti halnya kawan-kawan seperjuangan, namun ternyata alam lebih memilihku untuk menjadi seorang Guru.

            Mengawali karier sebagai guru, sungguh tak mudah. Kucium aroma senang, kagum, bercampur ragu di wajah anak-anak itu, dan segera ku lempar senyum pada mereka, tapi dengan kejamnya mereka membalas senyum tulus itu, dengan pertanyaan tentang berapa KKM untuk matapelajaran TIK…?, untung masih kuhapal mantra untuk mengatur suasana saat didipan para mahasiswa dulu, sambil melamat mantra, tangan kanan bergegas mencari jawaban perihal KKM, ohh rupaya KKM itu adalah Kriteria Ketuntasan Minimum, dengan penuh percaya diri ku balas mereka dengan pertanyaan balik memangnya berapa KKM tertinggi disini…? 75 pak,.. kata mereka serempak. Kalau begitu KKM untuk TIK adalah 100, Haaa…ohh no.. Mereka tampak seperti pucat, kaget, dan mau pingsan, saya pun tersenyum penuh kemenangan, dan itu menjadi kemengan pertama sebagai guru di SMPN 2 Bangilan.

            Selang 6 bulan kemudian, Bapak Rusmiadi, tiba-tiba memanggil agar saya menghadap ke ruang kepala sekolah. Beliau bercerita tetang kepergianya mengikuti workshop di kota Batu, dan menyarankan agar mengikuti Program Double Degree yang ada di Universitas Negeri Malang. Kala itu memang pemerintah sedang megalakan agar guru ber ijazah non kependikan untuk mengikuti program akta 4 atau program gelar ganda, dan salah satu sasarannya adalah guru TIK yang kala itu masih menjadi pelajaran baru di kurikulum KBK. Sungguh, kepiawaian Bpk.Kepala sekolah dalam menjelaskan, memberi motivasi, serta dukungan penuh membuat saya memberanikan diri mengikuti seleksi dan kembali berhasil merasakan dinginya kota malang selama 1.5 Tahun.

             Menjalani program gelar ganda memang tidak mudah, karena statuspun juga berbah menjadi ganda, di hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis saya berstatus Mas Mahasiswa dan di hari Sabtu Jam 07.00 s/d 13.00 status berubah menjadi pak guru, sedangkan hari Jum’at dan Ahad mejadi penumpang tetap sopir bus yang selalu tidak percaya kalau saya ini adalah mahasiswa meski sudah dijelaskan berkali-kali, ini lah yang membuat masalah semakin pelik, meski begitu pak sopir sering memberi harga khusus sehingga masalah semakin absurd selama 1 tahun.

            Ketika menginjak semester ke-tiga (semester akhir program double degree) di UM. Kampus mewajibkan untuk mengikuti program PKL di sekolah yang sudah ditunjuk dalam wilayah Kota Malang, dan sekaligus harus merampungkan skripsi sebagai syarat kelulusan, dalam waktu yang sama, jauh dikampung halaman sekolah, terdengar kabar pergantian kepala sekolah,…Ahh semoga bukan menjadi masalah, gumamku. Malam sehabis penempatan PKL di SMPN 13 Malang, tepatnya sehabis sholat isya’ telepon kembali berdering, dan memintaku untuk langsung memilih lanjut studi atau kembali mengajar disekolah,. Benar waktu itu memang tidak memungkinkan untuk kuliah sambil mengjar seperti 2 semester sebelumnya, Namun dengan segala resiko dan tanggungjawab, akhirnya saya putuskan untuk tetap menyelesaikan studi.

            Bulan Nopember 2011, setelah menamatkan program gelar ganda, SMPN 2 Bangilan melalui Ibu Asih, yang menjadi sahabat, kakak, sekaligus simpatisan setia saya selama mengabdi disana, telah berhasil mengajak saya untuk kembali bergabung hingga saat ini. Namun sayang Matapelajaran TIK sudah dihapus pas ketika saya lulus seiring dengan di berlakukannya kurikulum 2013. Saai ini, saya juga aktif mengajar di beberapa sekolah lain yaitu di MTs. Islamiyah Banat dan Program Kerjasama MA Islamiyah Sunnatunnur dengan Prodistik ITS Surabaya. Rupanya Program Ganda telah memberi impact yang luar biasa sehingga meski diwaktu yang begitu padat 7 hari full tanpa libur, Allah S.W.T selalu memberi kekuatan, kesabaran, dan Jalan Keluar dari setiap masalah.

Oleh: Imam Syafi’i Tuban Jawa Timur

Salam kenal dan salam hormat untuk Om Jay. Semoga sehat dan selalu berprestasi..

Mohon koreksi dan pencerahannya om..

Guru diantara Jerat Hilangnya Kepercayaan Orang Tua

apks-pengukuhanGuru diantara Jerat Hilangnya Kepercayaan Orang Tua

“Selamat pagi, bu…,” sapa seorang bapak yang terlihat berpakaian dinas lengkap pada suatu pagi. “Selamat pagi, pak,” jawab bu guru dengan ramahnya. “Saya mau menemui anak saya, ada sesuatu urusan keluarga yang ingin saya sampaikan. Boleh bu?”, demikian ucap bapak tersebut pada bu guru yang kebetulan saat itu bertugas sebagai piket. “Oh…bisa pak, nama anak bapak siapa dan kelas berapa?” tanya bu guru pula. “Namanya si Fulan bu, kelas….” Si bapak berhenti sejenak sambil mengingat-ingat anaknya duduk di kelas berapa.

Baca lebih lanjut