Guru diantara Jerat Hilangnya Kepercayaan Orang Tua

apks-pengukuhanGuru diantara Jerat Hilangnya Kepercayaan Orang Tua

“Selamat pagi, bu…,” sapa seorang bapak yang terlihat berpakaian dinas lengkap pada suatu pagi. “Selamat pagi, pak,” jawab bu guru dengan ramahnya. “Saya mau menemui anak saya, ada sesuatu urusan keluarga yang ingin saya sampaikan. Boleh bu?”, demikian ucap bapak tersebut pada bu guru yang kebetulan saat itu bertugas sebagai piket. “Oh…bisa pak, nama anak bapak siapa dan kelas berapa?” tanya bu guru pula. “Namanya si Fulan bu, kelas….” Si bapak berhenti sejenak sambil mengingat-ingat anaknya duduk di kelas berapa.

Namun si bapak tidak berhasil mengingat dan menjawab pertanyaan bu guru. “Ibu ini kelihatannya mempersulit saja, kan tinggal ibu umumkan bahwa  si Fulan orangtuanya datang,” si bapak malah mulai marah pada bu guru untuk menutupi kesalahannya yang tidak mengetahui anaknya duduk di kelas berapa. “Bukan mempersulit pak, anak kita yang bernama Fulan ada banyak, kalau disebutkan kelasnya kan lebih mudah. Di sekolah kita ini ada 24 kelas, mana mungkin kita datangi satu per satu kelas itu,” bu guru masih dengan suara yang ramah berusaha memberikan penjelasan.  Sekali lagi, untuk menutupi kesalahannya , si bapak malah nekat untuk mencari sendiri anaknya ke dalam kelas-kelas yang ada. Hhhhhh……..

Pada kesempatan yang lain, ada pula cerita seperti ini:

Ruang kantor guru dipenuhi oleh suara seorang bapak dan istrinya  yang mendebat seorang guru muda yang merupakan wali kelas dari anaknya. Kedua orangtua itu tidak terima dengan nilai mata pelajaran anaknya yang di bawah KKM.  Menurut mereka anaknya adalah anak yang baik dan rajin belajar di rumah. Sang wali kelas pun berusaha menjelaskan keberadaan anaknya di dalam kelas. Nilai-nilai itu merupakan nilai yang diberikan oleh guru mata pelajarannya dari hasil pencapaian anaknya didalam kelas.

 Namun orang tua tersebut tidak juga mau menerima keterangan dari wali kelas. Tidak ada jalan lain bagi wali kelas saat itu kecuali meminta daftar nilai asli beserta keterangan sikap si anak dari beberapa guru mata pelajaran yang ada untuk ditunjukkan pada orang tua tersebut.

Di kesempatan lain, ada pula orang tua yang datang marah-marah bahkan berani bertindak kekerasan ketika mendengar pengaduan dari anaknya tentang perlakuan gurunya didalam kelas. Padahal tidak keseluruhan pengaduan si anak benar adanya.  Masih banyak cerita dimana orang tua seolah kehilangan kepercayaan pada guru-guru yang mengajar dan mendidik anaknya di sekolah.

 Jika sudah demikian tidak harmonisnya hubungan guru dengan orang tua bagaimana mungkin akan mengantarkan anak pada tujuan pendidikan yang diharapkan.Padahal dalam mencapai tujuan pendidikan bagi anak, salah satu faktor yang menentukan adalah adanya kerjasama antara pihak sekolah dengan orang tua.  Karenanya menjaga keharmonisan hubungan sekolah dengan orang tua harus senantiasa dijaga agar tetap baik.

Sejatinya, ketika orang tua telah memilih dan menentukan sekolah bagi pendidikan anaknya haruslah dibarengi dengan kepercayaan bahwa sekolah akan mampu memberikan yang terbaik. Kepercayaan dan dukungan dari orang tua kepada sekolah, sangatlah membantu bagi perkembangan prestasi anak. Dengan kepercayaan dan dukungan yang diberikan orang tua kepada sekolah, maka program-program bagi pengembangan prestasi anak akan lebih mudah dilaksanakan.

Namun seringkali tidak demikian halnya.Banyak  orang tua yang  merasa curiga dan tidak memberikan dukungan  penuh terhadap kebijakan yang diberlakukan di sekolah. Bahkan ada orang tua yang merasa lebih pintar dari guru disebabkan strata pendidikannya yang lebih tinggi sehingga sempat melecehkan guru anaknya, sementara anaknya tetap saja di sekolahkan di sekolah itu.  Ini yang terasa sangat aneh.  Jika ia pun tidak percaya pada gurunya, kenapa sih tidak dididik saja anaknya di rumah sendiri?

Bagaimana cara guru melepaskan diri dari jaring-jaring ketidak percayaan orang tua yang menjeratnya?  Sebagai guru, selalu belajar dan memperbaiki kekurangan diri adalah jalan yang paling baik.  Anak-anak didik yang kita hadapi memiliki karakter yang berbeda dan berubah sesuai “zamannya”.  Mempersiapkan “bekal” yang cukup agar ilmu pengetahuan yang ditransferkan selalu “up date”,  tidak  malah tertinggal dari anak didik. Karena di era globalisai ini , anak-anak  dapat dengan mudah mengakses berbagai informasi melalui “ujung jarinya”.

Guru harus selalu siap sedia dengan perangkat pembelajaran yang merupakan senjata utama dalam melakukan “pertempuran” didalam kelas. Selain itu harus dengan cermat mencatat dan menyimpan rekam jejak perkembangan prestasi, sikap dan prilaku anak sebagai bentuk pertanggung jawaban kepada orang tua. Sehingga jika ada orang tua yang tidak terima dengan hasil yang dicapai oleh buah hatinya, kita bisa menjawab dengan didukung data yang ada, tidak asal ngomong doang. Berikutnya jangan lalai menyampaikan setiap perkembangan anak, karena  jika pun terjadi sesuatu yang buruk, orang tuanya sudah diberi gambaran sejak awal.

Kesabaran, keikhlasan dan kebersediaan  untuk selalu mengembangkan diri, terbuka menerima saran dan kritikan, juga menjadi modal utama bagi seorang guru. Karena anak-anak yang kita hadapi pun berubah mengikuti perubahan dan pergeseran peradaban yang terjadi. Semoga dengan demikian kita dapat melepaskan diri dari jeratan ketidak percayaan orang tua kepada guru anaknya.

Wallahu a’lam bishawab

#edisimuhasabah#

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 6 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s