Guru Ganda

GURU GANDA

Oleh: Imam Syafi’i Tuban

 DWITAGAMA BUNDA KANDUNG7

            Tahun 2009, saya mendapat tawaran dari bapak dekan untuk mengabdi pada almamater setelah menamatkan jenjang s1, pada prodi teknik informatika yang sangat saya cintai. Bagaimana tidak, hampir 90% waktu ini, hanya teruntuk mengembangkan dan aktif dalam kegiatan kemahasiswaan di kampus tercinta UIN Maulana Malik Ibrahim. Namun, suara panggilan ibundaku untuk kembali lebih membuatku terpesona karena karier dunia tak seindah telapak kakinya, begitu gumamku setelah mendapat ceramah dari salah satu Bpk. Dewan Kiyai kala itu.

            Setiba dikampung halaman yang nampak kusam oleh kemarau, kusiapkan puluhan lamaran ke berbagai instansi, karena menurut pengalaman langsung dari bapak, semakin banyak menabur benih maka panenpun melimpah, begitu ajaran beliau, yang sangat mencintai sawahnya. Saban hari ditengoknya sawah itu, dipikirkan siang malam, tak jarang pula ia seminarkan diwarung kopi mbok patimah, ahh..sertinya tak pernah saya ditengok macam itu saat kuliah dulu. Rupaya benar kata bapak, tak sampai ½ hari, telepon berbunyi, kukira dari kantor bupati, pabrik semen, atau BUMN, seperti halnya kawan-kawan seperjuangan, namun ternyata alam lebih memilihku untuk menjadi seorang Guru.

            Mengawali karier sebagai guru, sungguh tak mudah. Kucium aroma senang, kagum, bercampur ragu di wajah anak-anak itu, dan segera ku lempar senyum pada mereka, tapi dengan kejamnya mereka membalas senyum tulus itu, dengan pertanyaan tentang berapa KKM untuk matapelajaran TIK…?, untung masih kuhapal mantra untuk mengatur suasana saat didipan para mahasiswa dulu, sambil melamat mantra, tangan kanan bergegas mencari jawaban perihal KKM, ohh rupaya KKM itu adalah Kriteria Ketuntasan Minimum, dengan penuh percaya diri ku balas mereka dengan pertanyaan balik memangnya berapa KKM tertinggi disini…? 75 pak,.. kata mereka serempak. Kalau begitu KKM untuk TIK adalah 100, Haaa…ohh no.. Mereka tampak seperti pucat, kaget, dan mau pingsan, saya pun tersenyum penuh kemenangan, dan itu menjadi kemengan pertama sebagai guru di SMPN 2 Bangilan.

            Selang 6 bulan kemudian, Bapak Rusmiadi, tiba-tiba memanggil agar saya menghadap ke ruang kepala sekolah. Beliau bercerita tetang kepergianya mengikuti workshop di kota Batu, dan menyarankan agar mengikuti Program Double Degree yang ada di Universitas Negeri Malang. Kala itu memang pemerintah sedang megalakan agar guru ber ijazah non kependikan untuk mengikuti program akta 4 atau program gelar ganda, dan salah satu sasarannya adalah guru TIK yang kala itu masih menjadi pelajaran baru di kurikulum KBK. Sungguh, kepiawaian Bpk.Kepala sekolah dalam menjelaskan, memberi motivasi, serta dukungan penuh membuat saya memberanikan diri mengikuti seleksi dan kembali berhasil merasakan dinginya kota malang selama 1.5 Tahun.

             Menjalani program gelar ganda memang tidak mudah, karena statuspun juga berbah menjadi ganda, di hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis saya berstatus Mas Mahasiswa dan di hari Sabtu Jam 07.00 s/d 13.00 status berubah menjadi pak guru, sedangkan hari Jum’at dan Ahad mejadi penumpang tetap sopir bus yang selalu tidak percaya kalau saya ini adalah mahasiswa meski sudah dijelaskan berkali-kali, ini lah yang membuat masalah semakin pelik, meski begitu pak sopir sering memberi harga khusus sehingga masalah semakin absurd selama 1 tahun.

            Ketika menginjak semester ke-tiga (semester akhir program double degree) di UM. Kampus mewajibkan untuk mengikuti program PKL di sekolah yang sudah ditunjuk dalam wilayah Kota Malang, dan sekaligus harus merampungkan skripsi sebagai syarat kelulusan, dalam waktu yang sama, jauh dikampung halaman sekolah, terdengar kabar pergantian kepala sekolah,…Ahh semoga bukan menjadi masalah, gumamku. Malam sehabis penempatan PKL di SMPN 13 Malang, tepatnya sehabis sholat isya’ telepon kembali berdering, dan memintaku untuk langsung memilih lanjut studi atau kembali mengajar disekolah,. Benar waktu itu memang tidak memungkinkan untuk kuliah sambil mengjar seperti 2 semester sebelumnya, Namun dengan segala resiko dan tanggungjawab, akhirnya saya putuskan untuk tetap menyelesaikan studi.

            Bulan Nopember 2011, setelah menamatkan program gelar ganda, SMPN 2 Bangilan melalui Ibu Asih, yang menjadi sahabat, kakak, sekaligus simpatisan setia saya selama mengabdi disana, telah berhasil mengajak saya untuk kembali bergabung hingga saat ini. Namun sayang Matapelajaran TIK sudah dihapus pas ketika saya lulus seiring dengan di berlakukannya kurikulum 2013. Saai ini, saya juga aktif mengajar di beberapa sekolah lain yaitu di MTs. Islamiyah Banat dan Program Kerjasama MA Islamiyah Sunnatunnur dengan Prodistik ITS Surabaya. Rupanya Program Ganda telah memberi impact yang luar biasa sehingga meski diwaktu yang begitu padat 7 hari full tanpa libur, Allah S.W.T selalu memberi kekuatan, kesabaran, dan Jalan Keluar dari setiap masalah.

Oleh: Imam Syafi’i Tuban Jawa Timur

Salam kenal dan salam hormat untuk Om Jay. Semoga sehat dan selalu berprestasi..

Mohon koreksi dan pencerahannya om..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s