Daily Archives: Agustus 11, 2018

Guru Financial Mandiri

Guru Financial Mandiri

Ridwan Setiawan, S.Pd

Menjadi seorang guru? Hmm

Itu sebuah pilihan yang saya buat ketika lulus kuliah tahun 2013, ketika pilihan teman seangkatan lebih berminat untuk menjadi dosen dan karyawan Bank saya memutuskan untuk menjadi guru. Keputusan yang saya buat ini berdampak ke khawatir dari kedua orangtua. Pada waktu yang sama saya juga mendapatkan penawaran untuk bekerja di salah satu Bank. Khawatiran orangtua beralasan, susahnya jenjang karir guru menjadi dasar mereka. Peluang menjadi PNS semakin kecil ketika pelaksanaan CPNS tidak kunjung datang mengandalkan gaji guru yang sangat tidak manusiawi membuat orangtuaku semakin cemas akan masa depan anaknya. Hal tersebut tidak mengurangi keputusanku untuk menjadi guru karena saya berpikir kalau menjadi guru adalah sebuah kewajiban manusia dimana manusia mempunyai kewajiban untuk menyampaikan kebeneran.

Untuk menjadi guru sekolah saya harus menunggu sampai 6 bulan lamanya, tidak ada sekolah yang mau menerima saya. Kebetulan saya tinggal di Daerah. Luar biasa rekrutmen guru di sekolah negeri daerah. Saya berpikir bahwa menjadi guru akan sama dengan bekerja di tempat-tempat lain ternyata tidak, untuk bisa mengajar di salah satu sekolah kita harus mempunyai kenalan didalamnya bisa saudara kita atau bisa teman dari orangtua kita jika tidak ada itu peluang untuk menjadi guru akan sangat susah sampai akhirnya saya mendapatkan sekolah yang terbaik menurut Allah yaitu sekolah swasta.

Ketika kuliah, saya sering membaca beberapa buku yang membahas tentang sikap seorang guru, saya beranggapan berkarir di dunia pendidikan akan menjadi perjalan karir yang sangat menyenangkan karena berada pada lingkungan dimana orang-orang yang mencintai ilmu berkumpul. Tapi ternyata anggapan itu saya belum temukan disekolah tersebut. Setiap akhir bulan yang sering dibahas adalah masalah Gaji. Iya. Tema yang sering saya dengan setiap hari, minggu sampai bulan adalah gaji. Saya berpikir kenapa masih mengharapkan uang di tempat yang mulia ini. Ini adalah sekolah dimana tempat ini kita berlomba-lomba untuk beribadah. Untuk saya yang baru pertama terjun di dunia pendidikan sebenarnya menjadi kaget melihat kenyataan di lapangan.

Ketika memutuskan menjadi guru, saya pun sudah memikirkan untuk menjadi guru yang mandiri secara finasial. Keinginan saya adalah mengajar dengan tenang dan fokus dalam mengembangkan potensi anak-anak tanpa harus memikirkan hal-hal lain terutama masalah gaji. Pada waktu gajian pertama saya pun kaget juga ketika saya dibayar hanya Rp 600.000 per bulan padahal secara kerja saya mengajar dari pagi sampai sore dari senin sampai sabtu. Mungkin ini yang disebut Kerja Superman dibayar Supermie.

Keinginan saya untuk menjadi guru mandiri finasial pun dimulai ketika saya masuk dibulan kedua. Kegiatan apa atau bisnis apa yang bisa saya lakukan dengan menghasilkan uang yang banyak tetapi tidak menggangu mengajar saya. Akhirnya saya memutuskan untuk terjun di bidang Teknologi. Iya teknologi. Keputusan yang saya ambil untuk bisa mewujudkan cita-cita saya. Bidang teknologi yang saya ambil adalah bidang web development dan Blog. Kebetulan saya dulu kuliah di Matematika jadi ada sedikit gambaran dengan alogaritma karena di jurusan saya ada 4 SKS belajar bahasa pemograman.

Selama empat bulan saya fokus untuk mempelajari bahasa pemograman dari mulai belajar HTML, CSS, Javascript dan PHP dan dalam empat bulan itu juga saya sudah mulai mencoba menjadi seorang content writer dari sebuah media online. Dari sana saya mencoba mendapatkan project-project selain sambil belajar saya juga sering mengajak guru-guru yang mau ikut tidak harus semuanya saya sering lebih menyarankan untuk memulai dari blog untuk guru-guru yang masih kurang di bidang Teknologi.

Sampai saat ini saya masih melakukan itu, saya juga sudah membuat beberapa tim dibidang programing dan blog. Menjadi guru adalah sebuah kewajiban maka fokuslah untuk mengajar untuk menjadikannya nilai ibadah. Masalah Rezeki biar Allah yang menentukan dan kita yang membuat jalannya.

Suka Duka Menjadi Guru

SUKA DUKAKU MENJADI GURU
Oleh: Dismi Fitri
 
Mendengar kata “Guru” tidak pernah terbayangkan olehku semasa kecil untuk menjadikan pekerjaan guru sebagai profesiku, apalagi menjadi seorang pendidik yang memiliki kharisma, berwibawa, profesional dan dapat menjadi inspirator untuk banyak orang khususnya bagi siswa siswinya.
 
Hal Yang ada dalam benakku ingin menjadi pegawai kantoran, karena menurutku pegawai kantoran merupakan pekerjaan yang mempunyai banyak uang dan bisa berpenampilan menarik serta cantik. Namun seiring berjalannya waktu sampai waktu setelah menyelesaikan Pendidikan Strata Satu jurusan Teknik Informatika saya mulai mencoba masuk menjadi Guru Honorer atau sebagai Guru Tidak Tetap disalah satu Sekolah Menengah Atas Negeri yang ada di Kabupatenku tepatnya Kabupaten Bengkulu Utara.
 
Disinilah menurutku pertualangan dalam babak baru hidupku dimulai resmi menjadi guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
 
Tanpa memiliki bekal ilmu yang cukup dalam kegiatan belajar mengajar, cara mengajar yang baik, cara penguasaan kelas, peserta didik atau apapun yang berhubungan dengan belajar mengajar karena memang bukan dari basic keguruan ilmu pendidikan, semua terasa meraba, samar dan sulit bagiku.
 
Beruntung dan bersyukurnya sifat mau mencoba dan mau berlajar dalam diriku mulai perlahan merubah semua keadaan sedikit mencair meskipun di sana sini sangat banyak sekali kekurangan. Dengan banyak bertanya dengan rekan-rekan sejawat yang senior menurutku sangatlah membantu.
 
Dalam perjalananku menjadi seorang guru khususnya guru mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi tentunya banyak kendala yang dihadapi salah satunya pasilitas atau sarana prasarana di sekolah tempatku mengajar yang tidak memadai hingga kemampuan siswa siswi yang masih awam sekali dengan komputer. Karena memang tempat tinggalku merupakan sebuah desa yang rata-rata penghasilan penduduknya adalah dari bertani. Jangankan untuk memiliki barang yang mewah untuk makan dan biaya sekolah anak-anak saja untung bisa terpenuhi.
 
Minimnya fasilitas serta sarana dan prasarana komputer yang ada di sekolah memaksaku bekerja ekstra untuk membuat siswa siswiku mengerti dan bisa menerapkan akan materi-materi Teknologi informasi dan Komunikasi yang kuajarkan. Tak heran kadang diri ini merasa seperti mengajarkan siswa siswi menghayal, karena materi yang seharusnya di praktekkan malah di ajarkan dengan cara teori dan hanya melihat gambar-gambar saja.
 
Di sisi lain dengan pekerjaan ini besaran honor yang diterima dari sekolah tempatku mengajar terbilang lumayan kecil itupun dibayar kadang tiga bulan sekali bahkan lebih. Sehingga bagaimana caraku semua kebutuhanku bisa terpenuhi mulai dari biaya transport, biaya pulsa dan biaya untuk makan.
 
Gejolak dalam hati ini sudah pasti ada. Walaupun dengan kondisi penghasilan yang terbilang minim anehnya profesi ini kujalani dengan rasa senang dan timbul dalam dadaku menyukai pekerjaan ini. Apalagi jika bertemu dengan siswa siswiku yang beraneka ragam pola tingkah laku dan kebiasaannya. Mulai dari yang baik, rajin, butuh perhatian, senang di sanjung atau bahkan butuh motivasi yang lebih. Ini semua membuatku semakin menjadi pribadi yang ingin terus belajar dan semakin merasa tertantang. Terlebih lagi dorongan hati merasa siswa siswiku butuh pengetahuan tentang Teknologi khususnya berhubungan dengan komputer. Karena yang kita ketahui yang namanya perkembangan teknologi selalu mengalami perkembangan yang sangat pesat.
 
Akhirnya profesi ini kujalani dari tahun ke tahun dan saat ini sudah hampir 10 tahun masa pengabdianku di sekolah ini. Banyak hal yang sudah kulalui dan sudah silih berganti pergantian pemimpin dengan berbagai macam karakter kepemimpinan yang diterapkan. Saat inipun dengan rasa syukur yang tiada duanya menyatakan senang bangga menjadi guru karena pekerjaan ini sungguh mulia. Dalam hati inipun tertanam ini adalah ladang amal bagiku, karena tidak bisa beramal lewat uang yang banyak, membangun sebuah masjid yang mewah namun beramal lewat ilmu yang bermanfaat. Aku ingin terus belajar dan semoga bisa menjadi manusia yang bisa menginspirasi banyak orang terutama bagi siswa siswiku.

Jumat Bersih di Sekolahku

Jum’at Bersih di Sekolahku
(Mey Nia)
Di tulisanku yang lalu kuceritakan sedikit perjalanan tentang pengalaman mengajar dan menjadi guru di daerah Tangerang, tepatnya di desa Tegalkunir Lor.
IMG20180810082613
SD Tegalkunir Lor,  SD yang berada di lingkungan desa Tegalkunir Lor. Unik sekolahnya.
Desa dengan penduduk yang sangat sangat padat. Bahkan sangking padatnya jalan pun sempit. Lingkungan yang kumuh dan kurang tertata rapih menjadikannya terlihat sumpek. Dengan rumah yang berpetak-petak  tak ada halaman apalagi lapangan luas tempat anak bermain bebas. Jika kita berjalan menyusuri desa,  bau tak sedap dari saluran air yang hitam dan kotor pun akan tercium.
Kurangnya pohon besar yang tumbuh di sekitar rumah-rumah, membuat udara semakin tak segar dan indah dipandang. Selain itu banyak pula masyarakat yang belum memiliki sanisek sendiri. Masih banyaknya masyarakat yang buang air besar di sawah juga dikali.
Kebiasaan buruk masyarakat lainnya yaitu senangnya membuang sampah di kali. Sehingga kali menjadi bau dan tidak mengalir dengar lancar. Sehingga banyak sampah tertimbun diujung saluran air yang menimbulkan bau tak sedap di sekitar. Apalagi saluran air itu berada persis di depan sekolahanku. Jika musim kemarau dan kering, bau tak sedap dari kali akan sangat menyengat tercium sampai kelas.
IMG20180810084925
Kini setiap hari Jum’at , setelah selesai acara pengajian pagi,  aku mengajak anak-anak muridku khususnya kelas 6 untuk membersihkan kali bersama-sama. Mereka ku tugaskan untuk membuat dan membawa sebilah kayu atau bambu dengan memasangkan kaitan diujungnya untuk mengambil sampah di kali. Dengan kegiatan ini aku berharap anak dapat belajar hidup bersih dan lebih mencintai lingkungannya.
Semoga.

Sulitnya Membangun Kebiasan Sholat

SULITNYA MEMBANGUN KEBIASAAN SHALAT

Oleh: Siti Nuryani

Menjalankan shalat merupakan kewajiban setiap muslim. Di sekolah kami, semua siswa, guru, maupun staf Tata Usaha beragama Islam. Untuk menanamkan kebiasaan shalat di sekolah merupakan tantangan tersendiri. Dibutuhkan tenaga dan pikiran yang luar biasa untuk menumbuhkan pembiasaan tersebut.

Sekolah kami menerapkan 6 hari masuk sekolah. Hari Senin sampai dengan Kamis, pelajaran berakhir pukul 14.00. Kebanyakan siswa maupun guru rumahnya cukup jauh. Jika mereka shalat di rumah, tentu akan kehabisan waktu shalat. Kami membuat program shalat dhuhur secara berjamaah di sekolah.

Program pembiasaan shalat dhuhur berjamaah di sekolah sudah tersusun. Panitia dan petugas sudah ditetapkan. Shalat dhuhur dilaksanakan saat istirahat kedua. Awal pembiasaan, hampir seratus persen siswa mengikuti shalat berjamaah. Kami sangat senang melihatnya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, siswa yang tidak shalat terus bertambah. Meskipun sudah diterapkan tanda tangan presensi, masih saja terdapat siswa yang tidak shalat.

Melihat situasi seperti ini, kami mengambil inisiatif. Shalat dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama, siswa laki-laki shalat terlebih dahulu. Guru perempuan memastikan semua siswa laki-laki menuju ke mushola. Ibu-ibu guru menggiring siswa dan menyisir semua tempat. Tahap kedua siswa perempuan dan Ibu-ibu giliran shalat. Bapak-bapak guru yang selesai shalat, bertugas menggiring anak perempuan ke mushola.

Awalnya, kegiatan berjalan dengan lancar. Kami sangat senang melihat situasi seperti ini. Anak-anak antusias menuju mushola. Namun, beberapa saat kemudian, para guru juga merasa bosan. Setiap hari harus menggiring anak ke mushola. Kesadaran anak untuk shalat berjamaah juga belum tumbuh.  Jumlah siswa yang shalat juga terus menurun. Anak laki-laki terkadang bersembunyi di kolong meja. Ada juga yang bersembunyi di balik tembok sekolah. Bahkan ada yang di gudang. Anak perempuan pun tidak mau shalat dengan dalih berhalangan atau tidak membawa mukena.

Melihat kenyataan seperti ini, kami kembali mencari solusi. Bagaimana caranya supaya anak mau shalat berjamaah tanpa harus disuruh. Kami kembali mengadakan rapat. Banyak usulan yang diberikan oleh para guru. Akhirnya kami sepakat untuk menggunakan kartu tanda shalat. Dengan dibantu para siswa, kami menyiapkan kartu tersebut.

Saat upacara bendera, kami umumkan bahwa semua siswa wajib shalat dhuhur berjamaah di sekolah. Mengingat mushola yang kecil, shalat dilaksanakan secara bertahap. Setelah shalat, siswa akan memperoleh kartu bernomor. Siswa kelas 7 memperoleh kartu berwarna biru, kelas 8 warna kuning, dan kelas 9 warna merah. Kartu tersebut harus diserahkan kepada guru yang mengajar jam ke-7. Siswa yang tidak menyerahkan kartu, harus melaksanakan shalat terlebih dahulu. Setelah itu,  baru boleh mengikuti pembelajaran.

Program ini ternyata cukup efektif. Saat waktu shalat dhuhur tiba, guru piket cukup memberi pengumuman. Muadzin yang mendapat giliran, segera mengumandangkan adzan. Siswa yang rajin, segera menuju ke mushola. Siswa yang malas masih enggan untuk segera ke mushola. Mereka berusaha mengulur-ulur waktu. Namun, akhirnya mereka pun shalat. Alhamdulillah, para guru tidak lagi berkeliling sekolah untuk menyisir para siswa.

Para siswa kelihatan antusias untuk menunaikan shalat berjamaah di mushola. Setelah bel istirahat berbunyi, mereka menuju ke mushola. Anak-anak perempuan lebih antusias dibanding anak laki-laki.

Dalam melaksanakan shalat, masih ada siswa yang shalatnya tidak khusyu. Mereka terkesan shalat hanya agar bisa memperoleh kartu. Menurut pengamatan kami, anak laki-laki ada yang shalat sambal menoleh kanan atau kiri. Shalat sambil berbicara dengan teman, bahkan shalat sambil bergurau. Hal ini merupakan tantangan bagi kami. Kami harus memutar otak, bagamana caranya agar siswa bisa shalat dengan khusyu.

Semula, pembagian kartu dilaksanakan setelah shalat. Siswa yang bertugas membagi kartu berdiri di depan mushola. Siswa harus antri untuk mengambil kartu. Namun kebiasaan untuk antri juga masih belum membudaya. Para siswa tidak mau mengantri, khususnya siswa laki-laki. Mereka berebut untuk mendapatkan kartu. Akibatnya, jamaah yang shalat pada tahap berikutnya terganggu. Suara gaduh terdengar sampai di dalam mushola.

Pembagian kartu di luar mushola tidak efektif. Terdapat beberapa siswa yang tidak shalat tetapi meminta kartu. Pembagian kartu kita ubah. Kartu dibagikan kepada siswa sebelum shalat di dalam mushola. Mereka pun berebut untuk mendapat kartu. Suasana pun menjadi gaduh. Akhirnya, kartu kami letakkan di tempat masuk mushola. Tempatnya terpisah antara laki-laki dan perempuan. Siswa bisa mengambil kartu ketika masuk mushola. Cara ini lebih efektif untuk mengantisipasi kecurangan yang dilakukan para siswa. Dengan cara pemberian kartu ini, mudah-mudahan semangat para siswa untuk shalat berjamaah terus terjaga.

Membiasakan shalat memang butuh konsistensi dari semua pihak. Sekali saja kita bosan untuk mengingatkan, mereka tidak akan shalat. Kecuali, anak-anak yang sudah tertanam kebiasaan positif di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Pembiasaan sesuatu di sekolah akan mudah dilaksanakan jika didukung oleh semua pihak. Di sekolah semua warga sekolah ikut berpartisipasi. Di rumah orang tua juga harus selalu mengingatkan putra-putrinya.

Sekolah sudah mati-matian membiasakan anak-anak untuk melaksanakan shalat. Namun, jika di rumah orang tua melakukan pembiaran, niscaya anak akan merasa malas untuk shalat. Jadi kerjasama yang baik antara sekolah dengan keluarga sangat penting. Hal ini akan menjadikan anak-anak terbiasa melakukan hal-hal yang positif. Mereka tidak akan berat untuk melaksanakan shalat lima waktu.

Belajar dan Berbagi Ilmu PTK di Kampus UNJ Rawamangun

Sabtu, 11 Agustus 2018 pukul 08.00-17.00 wib saya diundang untuk menjadi narasumber Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di Gedung Ki Hajar Dewantara lantai 8 dan 9 Kampus A UNJ Rawamangun Jakarta Timur. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Ikatan Alumni (IKA) UNJ dan Kelompok Peneliti Muda (KPM) UNJ. Ada sekitar 70 orang guru hadir dalam kegiatan ini.

peserta-ptk-unj

Selain saya, ada pak Dr. Khaerudin dan pak Dr. Uwes Chaeruman yang juga ikut memberikan materinya. Selain itu, ada beberapa dosen dan alumni UNJ yang ikut menjadi pembimbing penulisan PTK yang dipimpin oleh bapak Dr. Muhammad Yusro. Peserta sangat antusias kalau dilihat dari wajah dan tubuh mereka. Saya sempat memotretnya saat mereka sedang menonton film PTK.

peserta-ptk-unj1

PTK sangat penting dikuasai oleh guru dalam rangka meningkatkan pembelajarannya di kelas. Saya mendapatkan kesempatan memberikan materi teknik penyusunan proposal PTK. Adapun materi yang saya sampaikan dapat diunduh di sana dan di sini.