Daily Archives: Agustus 12, 2018

Mendulang Pahala di Awal Dhulhijjah

MENDULANG PAHALA DI AWAL DZULHIJJAH

Oleh: Siti Nuryani

Berdasarkan sidang Isbat yang dilaksanakan hari Sabtu, 11 Agustus 2018, Kementerian Agama menetapkan tanggal 1 Dzulhijjah 1439 H jatuh pada hari Senin, 13 Agustus 2018. Dengan demikian Hari Raya Idul Adha jatuh pada tanggal 22 Agustus 2018.

Dalam Tafsir surat Al Fajr ayat ke-2, Allah berfirman:

Wa layaalin ‘asyr

“Demi malam yang sepuluh,”

Sebagian besar ahli tafsir mengatakan, Allah bersumpah untuk 10 hari-hari awal di bulan Dzulhijjah. Hari-hari dilipatgandakannya pahala dan juga sebagai hari yang menjadi kuburan para pelaku maksiat. Karena akan dilipatgandakannya dosa.

Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya:

“Tidak ada hari yang amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini (sepuluh awal Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya, “Apakah lebih baik daripada jihat fii sabilillah?” Beliau bersabda, “ Iya. Lebih baik daripada jihat fii sabilillah, kecuali seseorang keluar berjihat dengan harta dan jiwa raganya kemudian dia tidak pernah kembali lagi (mati syahid).” (HR Al Bukhari).

Berdasarkan firman Allah dan sabda Rasul tersebut dapat kita simpulkan bahwa sepuluh hari pada awal bulan Dzulhijjah merupakan hari-hari yang terbaik di antara hari-hari yang terdapat dalam satu tahun. Dalam sepuluh hari tersebut terkumpul semua ibadah, antara lain: puasa, takbir dan dzikir, haji, qurban, amal shalih, dan sholat Ied.

Untuk itu, sebagai umat muslim. kita harus berusaha sekuat tenaga untuk melakukan amal-amal shalih semaksimal mungkin. Amalan yang bisa kita lakukan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, antara lain:

Kita berusaha untuk bisa melaksanakan puasa selama 9 hari. Mulai tanggal 1 sampai dengan tanggal 9 Dzulhijjah. Sekaligus juga bisa kita niatkan puasa Ayyamul bidh (puasa putih) untuk 3 harinya. Jika tidak mampu kita puasa Dawud, sehari puasa dan sehari berbuka. Jika masih terasa berat kita bisa berpuasa Senin, Kamis, dan tanggal 9. Jika masih tidak mampu, puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah. Dengan puasa tanggal 9 Dzulhijjah atau puasa Arafah, insya Allah dosa-dosa kita diampuni setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Maka pada tanggal tersebut kita usahakan bisa berpuasa.

  1. Takbir dan dzikir

Pada tanggal 1-9 kita bisa memperbanyak takbir mutlak. Takbir yang tidak dibatasi waktu dan tempat. Kita bisa melakukannya di mana saja dan kapan saja. Misalnya kita terus bertakbir di rumah, di sekolah, di kantor, di pasar, di kendaraan, di jalan. Tita  bertakbir seperti layaknya takbiran hari raya.

Pada tanggal 9 Dzulhijjah ba’da Subuh hingga waktu Asyar hari Tasyrik yang terakhir (13 Dzulhijjah) kita memperbanyak takbir muqayyat, yaitu takbir yang kita lakukan setelah shalat lima waktu maupun shalat Sunnah. Takbir tersebut sebaiknya dilakukan setelah dzikir.

  1. Memperbanyak amalan shalih, seperti bersedekah

Pada 10 hari di awal Dzulhijjah, kita usahakan bisa bersedekah. Berapa pun jumlahnya yang penting kita lakukan dengan ikhlas. Amal sedekah yang kita keluarkan dengan ikhlas, pahalanya  akan dilipatgandakan oleh Allah.

  1. Membaca Al Quran

Setiap hari hendaknya kita membaca Al Quran. Berapa pun yang bisa kita baca, istiqamahkan. Mungkin 1 halaman, 2 halaman, atau lebih. Akan lebih bagus lagi jika disertai membaca terjemah atau tafsirnya.

  1. Menuntut ilmu

Kita usahakan pada 10 hari pertama menuntut ilmu. Menuntut ilmu bisa kita lakukan dengan mendatangi kajian-kajian atau mendengarkan ceramah. Bisa juga denga membaca buku-buku keagamaan, membaca postingan yang berisi kajian Al Quran atau hadis. Tujuan kita adalah untuk menghilangkan kebodohan dan menambah ilmu agama.

  1. Memperbanyak doa pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Pada tanggal 9 Dzulhijjah sebaiknya kita memperbanyak bacaan LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIR (tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, segala pujian, dan Allah yang menguasai segala sesuatu).

Sebaik-baik doa adalah yang kita panjatkan pada hari Arafah. Apa pun bentuknya, kita berdoa kepada Allah. Insya Allah akan dikabulkan.

  1. Shalat Ied dan Qurban

Pada tanggal 10 Dzulhijjah kita lakukan shalat Idul Adha. Jika kita mampu hendaknya menyembelih qurban. Nabi melarang umatnya mendekati tempat shalat jika kita memiliki kelapangan rizki dan tidak mau mengeluarkan qurban.

Pada hari tasyrik (11-13 Dzulhijjah) kita memperbanyak doa sapu jagad (Rabbana aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa adzaaban naar).

Mari kita berdoa agar diberi kekuatan untuk bisa mengamalkan amalan-amalan yang pahalanya dilipatgandakan. Kita juga harus berusaha sekuat tenaga untuk meninggalkan kemaksiatan sehingga kita terhindar dari dosa-dosa yang juga dilipatgandakan.

Semoga Allah meridhoi niat kita. Aamiin ya Robbal Aalamiin.

(Disarikan dari berbagai sumber)

Aksi Peduli Gempa Lombok

lombokAKSI PEDULI GEMPA LOMBOK

Oleh: Siti Nuryani

Saat ini saudara-saudara kita yang ada di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat sedang berduka. Sejak Minggu pagi, 29 Juli 2018 sampai tanggal 10 Agustus 2018 telah terjadi gempa bumi sekitar 450 kali. Gempa bumi yang awalnya dengan kekuatan 6,4 pada skala Richter (SR) hingga puncaknya pada tanggal 5 Agustus 2018 sebesar 7 SR. Gempa terbesar tersebut dirasakan di seluruh pulau Lombok, Pulau Bali, Pulau Sumbawa, Pulau Madura, Pulau Sumba, Pulau Flores, bahkan Pulau Jawa bagian timur.

Gempa tersebut telah merusak banyak bangunan pada daerah yang terdampak gempa. Kerusakan yang paling parah terdapat di Pulau Lombok sebagai pusat gempa. Gempa bumi telah memporak-porandakan sebagian besar wilayah Lombok. Ribuan rumah mereka rusak. Harta benda mereka habis. Bahkan, ternak dan sawah pun habis terdampak gempa. Tidak sedikit sarana ibadah dan fasilitas umum lainnya rusak parah. Rumah ibadah, rumah sakit, perkantoran, jembatan, dan sekolah rusak. Jaringan telekomunikasi dan listrik pun mengalami kerusakan. Jumlah kerugian akibat gempa tersebut mencapai trilyunan rupiah.

Korban akibat bencana tersebut terus bertambah. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sampai saat ini warga yang dinyatakan meninggal sekitar 300 orang. Anak-anak menjadi yatim, piatu, bahkan yatim piatu. Bahkan orangtua kehilangan anaknya. Ribuan orang mengungsi.

Di tengah-tengah warga yang menderita, terdapat orang yang jahat. Mereka justru memanfaatkan kesempatan untuk menjarah harta benda milik korban. Rumah yang ditinggal pemiliknya mengungsi, dijarah. Toko-toko yang rusak juga tidak luput dari jarahan mereka. Sungguh, mereka tidak punya rasa kasihan. Mestinya mereka membantu mengamankan harta benda milik korban. Bukannya malah menjarahnya. Akhirnya, sebagian warga bergiliran untuk menjaga harta benda milik korban yang tersisa.

Sejak awal terjadi gempa, banyak pihak yang turut serta membantu para korban. Banyak relawan dan komunitas memberikan bantuan. Mereka tidak hanya dari wilayah tersebut, namun datang dari berbagai penjuru negeri. Bantuan yang datang berupa tenaga, pikiran, bahkan materi. Bantuan terus mengalir. Namun, masih ada beberapa daerah terisolasi belum menerima bantuan.

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, kami juga ikut berduka. Dalam apel pagi kemarin, kami mengetuk hati warga sekolah untuk menumbuhkan rasa empati. Kami mengimbau para siswa untuk ikut serta merasakan derita saudara-saudara kita di Lombok. Ibaratnya seperti tubuh. Jika ada anggota tubuh yang sakit, seluruh badan juga merasakan sakit. Bagamana mungkin kita enak-enakan berpangku tangan. Sementara ada saudara kita sedang mengalami musibah. Mereka sedang mengalami ujian dari Allah yang sangat berat.

Anak-anak yang ada di Lombok tidak bisa bersekolah. Sekolah mereka roboh. Perabotan sekolah rusak. Buku-buku tertimbun tanah. Seragam mereka sudah terkubur tanah. Bahkan sepatu, buku, tas, semuanya tiada. Di sini kami harus bersyukur. Anak-anak bisa bersekolah tanpa dihantui rasa takut akan terjadi gempa susulan. Sementara mereka di sana terus merasa was-was jika terjadi gempa susulan.

Kita bayangkan, bagaimana seandainya kita yang mengalami musibah tersebut. Tentu akan mengalami trauma, sedih, menderita, lapar, kedinginan, tidak bisa bersekolah. Untuk itu, kita harus turut serta merasakan kepedihan mereka. Sisihkan uang saku untuk kita sumbangkan kepada mereka. Sedikit bagi kita, sangat berharga bagi mereka. Besarnya sumbangan tidak ditentukan. Yang penting menyumbang dengan diikuti rasa ikhlas karena Allah. Apa yang disumbangkan akan dibalas oleh Allah dengan balasan yang lebih baik. Selain itu para siswa juga bisa menyumbangkan pakaian layak pakai untuk para korban.

Usai apel pagi ini, kami kembali mengingatkan, bahwa hari ini mereka diminta menyumbangkan sebagian uang sakunya. Pengurus OSIS mengambil tempat di depan untuk menerima sumbangan. Para siswa ada yang menyumbangkan uangnya langsung ada juga yang dikoordinir oleh ketua kelasnya. Mereka secara bergantian memasukkan sumbangannya di kardus yang sudah disiapkan.

Kami merasa bangga melihat antusiasme para siswa. Mereka sangat bersemangat untuk menyumbang para korban. Ternyata mereka mimiliki kepedulian yang cukup tinggi. Rasa sosial, solidaritas, empati, peduli kepada sesama memang harus ditanamkan sejak dini. Harapan kita, kelak setelah dewasa anak-anak sudah terbiasa dengan karakter yang baik.

Semoga apa yang kami lakukan bermanfaat untuk para korban gempa di Lombok. Demikian juga, semoga musibah tersebut dapat memperkuat rasa nasionalisme bangsa Indonesia. Peristiwa tersebut juga bisa membentuk karakter bangsa agar lebih baik lagi. Mengingat, akhir-akhir ini karakter bangsa sudah mengalami degradasi akibat berbagai faktor.

Dibalik Sang Juara Ada Banyak Doa

Dibalik Sang Juara Ada  Banyak Doa
Oleh : Siti Romdiyah
Menyaksikan pertandingan sepak bola malam ini,  membuat hati gelisah dan jantungpun berdetak semakin kencang bahkan tidak beraturan.
Bagaimana tidak,  dalam hitungan menit semua harus diketahui siapa pemenangnya.  Sementara perjuangan dari masing-masing tim sangat kuat. Dengan sekuat tenaga mereka tetap berusaha,  agar pintu gawangnya tidak kebobolan bola.
Namun upaya dari masing-masing tim juga tidak kenal lelah.  Untuk bisa memasukkan bola ke gawang lawan mereka rela bertabrakan.  Bahkan tabrakan antar kepalapun harus terjadi demi kata “gol.”
Kaki saling adu bahkan tergelincir bagi pemain sepak bola sudah menjadi hal biasa bahkan _lumrah._ walau sebenarnya itu sudah mereka hindari.  namun karena sebuah obsesi dan cita-cita yang tinggi,  hal itu kadang terjadi.
Yang lebih ekstrim lagi tidak menutup kemungkinan terjadi cidera di tubuh karena upaya dalam merebut bola.  Bahkan bisa berakibat cacat pada fisik.  Di sinilah diperlukannya persiapan fisik maupun psikis.
Seringnya latihan dan selalu berdoa itu bisa sebagai upaya dalam keberhasilan sebuah usaha.  Karena meskipun kita sudah berusaha tapi kita tidak berdoa,  sombong namanya.  Atau berdoa tanpa usaha bodoh namanya.
Hal itu telah dialami oleh Tim Nasional sepak kita.  Dalam peristiwa eksekusi atau pinalti sungguh peristiwa yang mendebarkan hati.  Karena  di samping faktor kemampuan diri yang diuji,  yang paling penting adalah faktor qudratullah.
Atas ijin Allah melalui doa seluruh warga negara Indonesia.
Saat itu tanpa dikomando mereka  ikut berdebar,  bergetar dan bermunajat kepada Allah demi keberhasilan Indonesia. Dan Alhamdulillaah Allah meridhoi Indonesia menjadi “Sang Juara.”
Di situlah bukti bahwa dengan doa dan ikhtiar yang tulus ikhlas.  Kita bisa  meraih cita-cita.  Selamat Tim Nasional Garuda Indonesia malam ini kau berhasil menjadi juara.  Salam kami untuk seluruh keluarga yang tulus ikhlas mendoakan kalian.  Karena tanpa doa mereka kau tidak akan bisa meraih cita-cita.  Good Jobs Tim Nasional..  Barakallah
“Bahagia karena bisa ikut berdoa untuk kalian Tim Nasku”
“Salam literasi Abadi di Hati”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Wling,  11 Agustus 2018