Akupun Berhenti Menulis

Aku pun Berhenti Menulis

Begitu mengetahui bahwa menulis merupakan kemampuan berbahasa dengan tingkatan tertinggi atau tingkatan paling sulit, maka akupun berhenti menulis. Karena ternyata menulis membutuhkan banyak keahlian untuk menghasilkan tulisan yang “renyah dan gurih”  tambah lagi  “padat serta bergizi” yang membuat  para pembaca menjadi nikmat dalam melahapnya.

Menulis membutuhkan keahlian dari penulisnya untuk bisa mengkolaborasikan dengan baik antara olah hati, olah pikir, olah rasa dan olah raga. Berhenti menulis merupakan jalan satu-satunya untuk bisa memenuhi syarat-syarat tersebut. Tetapi yang kumaksudkan di sini adalah berhenti menulis untuk membaca . Untuk hal yang satu ini, lagi-lagi aku juga terinspirasi dari pesan yang dikirimkan ke grup WA Guru Menulis Gelombang 6 hasil bentukan bapak Wijaya Kusumah, S.Pd, M.Pd (Omjay) seorang blogger ternama yang siap berbagi ilmu menulis bagi para guru.

Dalam buku Omjay  “Menulislah Setiap Hari dan Temukan Apa yang Terjadi”, aku menemukan istilah “deep reading” yang katanya berarti suatu proses dimana penulis melakukan proses membaca secara mendalam.

Proses ini menjadi syarat mutlak bagi seseorang yang akan menulis karena dengan demikian dia akan benar-benar memahami apa yang akan ditulisnya. Adalah merupakan “pantangan” besar bagi penulis untuk menulis apa yang tidak dimengerti dan dikuasai.

Pesan yang berbunyi berhenti menulis untuk membaca, membuat  kepalaku pun terangguk-angguk dan hatiku menyetujui pendapat spektakuler ini. Tidak lupa aku pun merujuk pada firman Allah dalam surah Al Alaq ayat 1-5 yang merupakan wahyu pertama bagi Rasulullah SAW:

  1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.
  2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
  3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang maha pemurah.
  4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
  5. Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.

Siapa yang berani mengingkari firmanNya? Allah SWT sang maha pencipta yang langsung mengajarkan pada kita untuk membaca karena dengan membaca kita dapat mengeksplorasi semua ciptaan Allah melalui kalam-Nya. Senantiasa melibatkan nama Allah ketika tiap kali kita membaca (baca: bekerja) merupakan satu hal yang mutlak pula agar apa yang kita lakukan senantiasa didalam ridhoNya.

Karena menulis merupakan tingkatan tertinggi dari kemampuan berbahasa, maka tahap demi tahap dalam setiap tingkatan haruslah bisa kita lalui dengan baik.  Tahap pertama, jadilah pendengar yang baik sehingga kita mampu pula menaiki tingkatan yang kedua yaitu mampu menjadi pembicara yang  baik tentang segala sesuatu  yang sudah kita dengarkan.

  Selanjutnya ketika kita sudah mampu berbicara dengan baik,  maka kita dapat menaiki tingkat selanjutnya yaitu  bisa “membaca” dan peka terhadap semua yang ada di sekitar kita. Kemampuan membaca yang baik inilah yang kemudian akan mengantarkan pemiliknya menjadi penulis yang baik. Bagaimana mungkin seseorang akan dapat menuliskan sesuatu dengan baik jika dia pun tak mampu membaca dengan baik.

Membaca, memilki artian yang sangat luas. Dapat diartikan sebagai usaha untuk dapat memperoleh informasi dari buku-buku atau bahan bacaan lain  yang sangat beraneka ragam jenisnya pada masa sekarang ini. Atau  bisa pula berarti mengamati sehingga  dapat mengetahui,  merasakan dan peka terhadap perubahan- perubahan yang terjadi di sekitar kita. Pada gilirannya, hasil membaca inilah yang  dapat menjadi ide dan bahan  untuk tulisan yang akan ditulis.

Seorang penulis haruslah selalu “up date” dan senantiasa harus melatih kepekaannya terhadap apa yang terjadi, karena ini merupakan salah satu faktor yang dapat menjadikan tulisannya menjadi “gurih, renyah, padat dan bergizi”.  Maka, menjadi pembaca yang baik haruslah kita lalui sebelum kita berusaha naik ketingkat berikutnya yaitu menjadi penulis yang baik.  Jangan coba menaiki anak tangga dengan cara melompati tahapannya, karena hal demikian akan  dapat membuat kita terjatuh dan cidera.

Yuk, kita berhenti menulis untuk membaca sehingga bisa menjadi penulis yang baik.

Wallahu a’lam bishawab

#edisibelajarmembacauntukmenulis#

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 5 Agustus 2018

One response to “Akupun Berhenti Menulis

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s