73 Tahun Negeriku

73 Tahun Negeriku, Semoga Menjadi  Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofuur

Oleh: Raihana Rasyid

Salam Merdeka.

Jumat 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta sang proklamator, memproklamirkan kemerdekaan bangsa ini. Merdeka untuk terlepas dari belenggu penjajahan bangsa asing  hingga bisa berdaulat di negeri sendiri. Esok  di hari yang sama, Jum’at 17 Agustus 2018 kemerdekaan negeriku  ini sudah mencapai usia 73 tahun.

Selama 350 tahun dijajah bangsa Belanda ditambah 3 tahun oleh Jepang meninggalkan banyak keterbelakangan di negeriku. Melakukan pembenahan di berbagai bidang bukanlah hal yang mudah, meski telah merdeka dan berdaulat sendiri. Karena pada kenyataannya tidak  sedikit peristiwa yang mengharuskan rakyat ini melakukan “perang saudara”.

Negeri yang dijuluki “Zamrud di Khatulistiwa” ini, terbentang diantara dua benua dan dua samudera. Dengan anugerah keaneka ragaman suku dan bangsa serta kekayaan alam yang melimpah ruah. Tak heran jika fakta sejarah menunjukka  negeriku ini menjadi “rebutan” bangsa asing.

Setelah 73 tahun merdeka, sudahkah negeriku ini bisa disebut sebagai negeri yang baldatun thayyibatun wa robbun ghofuur?

Secara bahasa, baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur berarti negeri yang baik dengan Rabb yang maha pengampun.  Artinya suatu negeri dengan kehidupan rakyatnya yang terjamin dan menjalankan agama dengan baik sehingga selalu diliputi oleh keampunan oleh Tuhannya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Saba’ ayat 15:

Dalam ayat tersebut Allah mengabadikan negeri Saba untuk dijadikan contoh bagi kita. Tidak ada pelajaran yang paling baik kecuali apa yang diajarkan oleh segenap pemilik alam yaitu Allah SWT yang terkandung didalam Al Quranul Karim. Saba menjadi contoh satu negeri yang makmur namun kemudian hancur dengan kehendak allah SWT.

Saba dengan  negeriku “zamrud di khatulistiwa” memiliki banyak persamaan. Jika Allah menggambarkan Saba sebagai negeri dengan kebun-kebun yang subur, apa bedanya dengan negeriku? Bukankah  negeriku ini juga terkenal sebagai negeri tang sangat susur sehingga  membuat bangsa asing memperebutkannya?

Jika demikian, potensi kita untuk menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur sangatlah besar. Kekayaan alam yang melimpah ruah harus bisa kita kelola dengan baik sehingga bisa dipergunakan untuk segenap kemakmuran rakyat. Apalagi cita-cita ini sudah pula digariskan didalam UUD 1945. Selama kita bisa menjalankan UUD 1945 ini dengan baik dan benar, pastilah kita  akan  bisa mewujudkan cita-cita mulia itu.

Adalah sumber daya manusia (SDM) yang berikutnya menjadi faktor penentu terwujud cita-cita mulia tersebut. Maka, ini menjadi ranah tugas departemen pendidikan dan kebudayaan agar bisa menyediakan SDM yang dibutuhkan oleh negeri ini.

Negeri ini membutuhkan SDM yang tidak hanya memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang  tinggi, namun juga memilki iman taqwa yang dalam. SDM yang dengan ilmu dan teknologi  yang dimilikinya,  mampu menghadapi berbagai persoalan yang muncul. Sementara itu,  dengan kekuatan iman dan taqwa yang dimilikinya akan mampu menjaga dirinya untuk  tidak terperosok ke dalam jurang hina. Hina karena  menyelewengkan kekayaan negara yang seharusnya diperuntukkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Aku sangat yakin, negeriku ini akan mencapai baldatun thayyibatun wa robbun ghofuur. Mari kita belajar dari kisah negeri Saba tadi. Selama kita senantiasa bersyukur dengan karunia Allah SWT dengan alam kita yang subur makmur, Allah pasti akan menambah nikmat-nikmat yang lain.

Demikian juga sama halnya seperti negeri Saba, ketika kita berpaling dari ajaran Allah SWT maka kehancuran pun siap menanti kita. Simaklah wahyu Allah dalam surah Saba ayat 16.

Mari kita renungkan bersama. Jika kita belum merasa mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah kepada negeri ini, mari kita benahi untuk selalu mensyukurinya. Apa tandanya bersyukur itu? Semua sumber daya alam yang dianugerahkan oleh Allah SWT dikelola dengan baik dan diersembahkan bagi pembangunan dan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat.

 Jika SDM negeri ini masih banyak yang melanggar ayat-ayat Allah, secara duniawi ada aturan hukum yang menjeratnya.Maka menjadi  tugas dan kewajiban kita para guru, berusaha semaksimal mungkin untuk menciptakan generasi yang tinggi ilmu serta dalam iman dan taqwanya.

Kita tinggalkan kehidupan yang diliputi dengan aura saling memecah belah,  menjatuhkan dan menghujat. Bukankah orang yang baik adalah orang yang selalu dapat melihat kebaikan orang lain dan melupakan kebaikan dirinya sendiri. Demikian pula orang yang baik akan selalu melihat keburukkannya dan melupakan keburukan orang lain. Karena semua orang tidak ada yang sempurna. Namun menjadi kewajiban bagi kita untuk berusaha menuju ke kesempurnaan itu.

Selama 73 tahun merdeka dengan berbagai persoalan yang dihadapi, semoga menyisakan banyak ibrah yang dapat kita jadikan bekal menuju baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur. Aamiin ya robbal alaamiin.

Wallahu a’lam bishawab.

#edisicintakunegeriku#

M E R D E K A.

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 17 Agustus 2018

One response to “73 Tahun Negeriku

  1. Tulisannya bagus…terbayang cintanya penulis pada negri ini

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s