Daily Archives: Agustus 25, 2018

Menerbitkan Buku Tanpa Biaya

RESUME KULIAH ON LINE DENGAN OM JAY

Oleh Dyahni Mastutisari

 

Hari Kamis kemarin tepatnya tanggal 23 Agustus 2018, sang guru dari grup menulis gelombang 6  Bapak Wijaya Kusumah, S.Pd, M.Pd menyelenggarakan kuliah on line perdana. Kuliah on line dengan materi “Bagaimana Cara Menerbitkan Buku”, yang rencananya akan dimulai pada pukul 10.00 WIB. Harus mundur pelaksanaannya karena hingga pukul 13.24 peserta yang mendaftar baru 20 orang. Sehingga akhirnya kuliah dimulai pada pukul 15.12 WIB. Dengan diawali sebuah pertanyaan dari Om Jay, “Apakah Bapak Ibu sudah ada yang menerbitkan buku sendiri?”

Dijawab oleh beberapa peserta dengan jawaban “Iya”. Kemudian Om Jay memberikan pertanyaan kedua, “Apakah Bapak Ibu mengeluarkan uang saat menerbitkan buku?”, Pertanyaan ini pun dijawab oleh peserta yang sudah pernah menerbitkan buku dengan jawaban ”Iya, Om. Biaya  pracetak dan biaya cetak”. Om Jay pun kembali bertanya, “ Berapa biaya yang dikeluarkan guru untuk menerbitkan buku di Media Guru?”. Kali ini jawaban beragam ada yang menjawab, untuk buku antologi puisi 200 ribu per buku dan nantinya akan mendapat bonus tiga buku free. Kemudian ada pula yang menjawab, biaya pracetak Rp1.050.000,- dan biaya cetak dihitung berdasarkan jumlah halaman.

Setelah itu Om Jay memberikan pernyataan retorik yang membuat peserta jadi pada ngiler. Berikut pernyataannya, “Percaya tidak? Dari 13 buku yang saya terbitkan, tidak satu pun uang yang saya keluarkan, malah saya dapat uang dari penjualan buku langsung dan royalty buku.  Saya melihat saat ini banyak guru yang tidak sabar menerbitkan bukunya, sehingga menjadi korban pengusaha buku”. Jelas Om Jay kemudian. Yang langsung disambung dengan penyampaian materi tentang cara mudah menulis buku ala Om Jay. Berikut cara-caranya:

  1. Menulis setiap hari. Jika alpha menulis, hari berikutnya wajib menulis double.
  2. Berlatih menulis baik dengan langkah T.U.L.I.S (Temukan Ide, Ukir Idenya, Libatkan otak kiri dan kanan, Ilmu dan teknik penulisan dikuasai, Sesuaikan tulisan dengan pembaca). Langkah dari Mas Baban tersebut telah terbukti menghasilkan 6 buah buku setelah dua tahun menjadi blogger.
  3. Jangan putus asa jika draft buku ditolak oleh penerbit. Sebab bisa jadi itu adalah langkah awal menjadi buku best seller. Seperti yang pernah dialami Andrea Hirata dengan bukunya “Laskar Pelangi”. Demikian juga yang dialami Om Jay dengan buku PTK beliau.
  4. Rajin ke toko buku untuk melihat peluang buku apa yang disukai pembaca.
  5. Tekun, inilah cara yang paling utama dari sekian cara yang ada. Dengan tekun menulis langkah selanjutnya adalah tinggal menentukan jenis buku yang akan ditulis. Ada dua jenis buku berdasarkan isinya yaitu buku fiksi dan buku non fiksi. Berdasarkan tujuannya juga ada dua jenis buku yaitu buku ajar dan buku pengayaan.
  6. Mempelajari cara orang lain membuat buku dan susun rencana pembuatan buku agar sesuai yang diharapkan.
  7. Menemui penerbit dan menyakinkan penerbit bahwa buku yang sudah siap cetak ini bernilai jual tinggi.
  8. Rajin bergaul dan berkumpul dengan banyak komunitas jika cukup modal untuk menerbitkan buku sendiri.
  9. Mempunyai teman dekat yang ikut membantu member masukkan atas tulisan yang sudah kita buat. Jangan marah jika mendapat masukkan dan kritik dari teman. Justru itu yang akan membuat tulisan kita menjadi lebih bagus.
  10. Mendokumentasikan tulisan-tulisan kita di blog pribadi atau pun blog keroyokan.

 

Demikian resume dari kuliah on line yang saya dapatkan dan ditulis kembali secara urut seperti yang disampaikan Om Jay. Tapi kayaknya supaya lebih enak dibaca urutannya harus dibuat rapi lagi yaitu 1-2-10-5-9-4-6-7-3-8. Secara singkat bisa dirangkum menjadi 10 rangkaian kata yaitu: menulis setiap hari – dengan langkah TULIS – dokumentasikan tulisan – tekun menulis – mempunyai teman dekat – rajin ke toko buku – pelajari cara orang lain – menemui penerbit – jangan putus asa – rajin bergaul.

Purwokerto, 25 Agustus 2018

Menengok Isi Hati Omjay

Menengok “Isi Hati” Om Jay (Resensi)

Oleh: Ajun Pujang Anom

 

Judul                     : Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi

Pengarang          : Wijaya Kusumah, S.Pd., M.Pd.

Editor                    : Yuan Acitra, SE.

Penerbit              : PT. Indeks Permata Puri Media

Tahun Terbit      : 2012

Tebal Buku          : 302 halaman

ISBN                      : 979-062-339-9

 

Sebenarnya ketika membaca buku ini, disadari atau tidak, pembaca akan memasuki “area pribadi” dari sang pengarang. Meskipun secara kasat mata, penulis membeberkan tentang bagaimana pengalaman menjadi menulis. Namun di sisi lainnya, seakan sedang menyiarkan siapa beliau sebenarnya. Jadi bisa dikatakan buku ini adalah semacam purwarupa dari sebuah otobiografi beliaunya.

 

Ini bisa dilihat dari tulisan awal dari buku ini yang berjudul, “Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi”, yang sekaligus menjadi judul buku ini. Paragraf pertama menyodorkan tentang pengalaman beliaunya sejak memiliki blog. Dengan adanya blog tersebut, beliau membuat komitmen untuk menulis setiap harinya. Jika tidak menulis sehari, seakan ada yang kurang atau hilang. Paragraf berikutnya disambung dengan kegiatan membaca. Membaca dilakukannya terlebih dahulu, sebelum melakukan aktivitas tulis-menulis.

 

Dilanjutkan ke judul selanjutnya, tentang upaya memaksimalkan potensi yang ada. Sebagai penulis, harus peka terhadap keadaan sekelilingnya. Apapun yang nampak maupun yang bisa dirasakan menjadi bahan tulisan. Lihat poster, jadi tulisan. Dengar curhat, jadi tulisan. Inillah hal yang kedua yang beliau mau sampaikan. Setelah hal di atas, yaitu dengan membaca akan memunculkan gagasan. Kalau mau disitir, pesannya seperti ini, “Dengan banyak membaca akan banyak wawasan keilmuan yang kita dapatkan. Kita seakan berkeliling dunia dan menjadi pintar karena lahap membaca. Lahap membaca akan membuat Anda menjadi gemuk menulis.”

 

Membaca sudah, peka lingkungan sudah, lantas apalagi yang diperlukan bila ingin menjadi penulis? Om Jay mengisyaratkan pentingnya melakukan proses deep reading. Apa itu deep reading? Deep reading yaitu sebuah proses dimana penulis melakukan membaca secara mendalam. Tanpa melakukan itu, tulisan akan menjadi hambar. Oleh sebab itu diperlukan adanya kreativitas dari seorang penulis itu sendiri. Dengan adanya kreativitas, tulisan yang tersaji renyah untuk dinikmati.

 

Sesudah bisa melakukannya berangkatlah ke tahap berikutnya, yaitu membuat buku. Dalam membuat buku harus mempunyai perencanaan sekaligus membuat survei. Untuk apa membuat survei? Agar dapat melihat sejauhmana penerimaan pasar terhadap buku yang akan kita lempar. Maknanya ini juga tentang kejelasan akan market-share.

 

Mungkin pembaca yang tak sabaran, akan mengira artikel keenam yang berjudul “Ketika Penulis Bertemu dengan Pembaca Setianya”, adalah tulisan terakhir. Dan menganggap tulisan berikutnya hanya sekedar flashback dari tulisan sebelumnya. Berputar-putar pada wilayah yang sama. Benarkah demikian? Mari kita cek bersama. Artikel keenam ini, diapit oleh judul yang agak mirip. Sehingga mudah bagi orang yang apatis untuk menilai, “Ih, ini sih cuma permainan kata-kata. Intinya sama saja.” Biar sama-sama tahu, kita lihat judulnya. Yang di atas, berjudul “Cara Mudah Menulis Buku (New Version)” dan yang bawah, berjudul “Cara Baru Menulis Efektif (New Version)”. Apakah cukup ini saja? Tentu tidak, masih ada yang lain. Apakah ini sebuah trik dari Om Jay, untuk mengetes seberapa tekun orang untuk membaca bukunya? Sebab buku ini terdiri dari 302 halaman. Bagi yang tak terbiasa membaca, ini hal yang membuat bosan dan cepat menjadi lelap. Termasuk pula, mengapa ada tulisan new version? Apa maksudnya? Bagi pembaca yang kritis tentu akan bertanya-tanya, karena ini adalah cetakan yang pertama. Jika ini dianggap revisi, mana tulisan yang asli? Dan lagi-lagi, ini mungkin trik beliaunya, agar pembaca terus terpompa untuk membeli dan membaca buku-buku beliaunya. Apakah ini salah? Tidak. Salah satu kehebatan sebuah buku adalah, ketika dia berhasil membuat penasaran para penikmatnya. Dan ketagihan untuk mengikuti sekuelnya.