Bagaimana mengembangkan ekosistem sekolah berbasis TIK?

Bagaimana mengembangkan ekosistem sekolah berbasis tik?

ekosistem

Pertanyaan di atas muncul ketika saya dkk diminta untuk melaksanakan kegiatan workshop pengembangan ekosistem sekolah berbasis tik.

Saya ajak beberapa kawan yang sudah mengaplikasikannya di sekolah masing masing.

Saya telpon pak dedi dwitagama. Beliau mantan kepala sekolah smkn 36 jakarta. Beliau telah sukses melaksanakan ekosistem sekolah berbasis tik. Semua guru dan siswa diajaknya melek tik. Guru yang tidak punya blog diwajibkan punya blog. Siswa yg pintar tik diminta mengajari gurunya. Bukan hanya guru di sekolahnya saja tapi di luar sekolah. Terutama guru guru di bangku sekolah dasar yang masih tertinggal di sekolah dasar.

Waktu itu saya ikut terjun ke jakarta utara. Guru guru sangat senang belajar tik. Mereka yg awalnya tidak tahu internet dan membuat konten, jadi tahu cara membuatnya. Pada saat itulah kami membentuk komunitas sejuta guru ngeblog yg disingkat ksgn.

Ksgn terus berkembang dengan roadshow ke berbagai kota. Ada pak namin kepala sekolah sd muhammadiyah cilengsi dan pak bhayu sulistiawan kepala smp islam mentari indonesia di bekasi yg ikut membesarkan ksgn. Tujuannya hanya satu. Kami mengajak guru membuat blog dan mengelolanya dengan baik. Satu guru satu blog. Guru diminta menulis apa saja yang disukai dan dikuasai.

Pak bhayu sukses mengembangkan ekosistem sekolah berbasis tik. Hal itu saya lihat langsung ketika diundang mengisi materi penelitian tindakan kelas (ptk) di sekolahnya. Semua guru sudah melek tik. Siswanya juga sudah terbiasa memanfaatkan tik dalam kehidupan sehari hari. Mereka mampu menciptakan konten konten positif di internet. Bahkan pak bhayu telah sukses membuat kuis online yang membuat siswanya senang.

Salah satunya kuis dengan kahoot.it. Dengan kuis ini kita dilatih menjawab dengan cepat dan tepat.

Pak dedi dan pak bhayu saya minta berbagi kisah nyatanya kepada para peserta workshop pengembangan ekosistem sekolah berbasis tik.

Kegiatan ini adalah kerjasama pustekkom kemdikbud dengan ikatan guru tik pgri. Saya meminta ketua umum pengurus besar pgri ibu unifah rosyidi untuk memberikan sambutan. Namun beliau berhalangan hadir dan pak qudrat nugraha sebagai sekjen pb pgri diberi tugas menggantikan ketua umum.

Pak qudrat sangat senang adanya kegiatan ini. Bahkan kami dapat proyek baru untuk mengadakan lomba berbasis tik. Semiga bisa kami buatkan proposalnya.

Ruang smart learning and character center di lantai 3 gedung guru indonesia semakin bergelora ketika pak dedi dwitagama menyampaikan materinya. Peserta dibuat antusias untuk membuat lingkungan sekolahnya berbasis tik. Hal itu harus dimulai dari guru itu sendiri yang ingin maju. Banyak pertanyaan diajukan peserta kepada pak dedi yg memiliki blog di dedidwitagama.wordpress.com.

Kemudian dari pustekkom juga memberikan materinya. Ibu diah wulandari menyampaikan informasi bagaimana mengembangkan ekosistem sekolah berbasis tik. Terutama bagaimana guru dan siswa dapat ikut belajar di rumah belajar pustekkom. Guru yang berhasil mengembangkannya dapat menjadi duta rumah belajar pustekkom kemdikbud.

Wah keren banget. Selama 2 tahun berturut turut saya ikut diundang menyaksikan kawan kawan guru dari 34 privinsi diundang ke senayan. Mereka menginap di hotel bintang 5 dengan penerbangan pesawat garuda indonesia. Keceriaan dan kebahagiaan tampak di wajah mereka yg telah berhasil mengembangkan pembelajaran berbasis tik.

Materi yang disampaikan pustekkom bagus banget utk disampaikan kepada semua guru di sekolah.

Kami diberi tugas oleh ibu wulan utk menuliskan kisah nyata dari apa yg sudah dilakukan di sekolah masing masing. Mulai dari unbk, internet sehat, pendidikan dan kebudayaan serta literasi digital yg sdh dilakukan.

Sayang waktu makan siang sudah tiba. Materi dari pustekkom sebenarnya masih ingin ditanyakan. Tapi perut ini harus diisi. Makan siang sudah disiapkan panitia.

Bersambung

Bagaimana mengembangkan ekosistem sekolah berbasis tik? (2)

Setelah makan siang acara dilanjutkan. Semakin siang semakin seru. Keinginan belajar kawan kawan peserta cukup tinggi. Mereka nampak ingin sekali mengembangkan ekosistem sekolah berbasis tik.

Pak bhayu memberi kami ilmu membuat kuis online yang menyenangkan.

Namanya kahoot. Anda dapat mencari tahu di google dan yahoo. Anda bisa belajar tutorialnya secara online.

Kuis online ini melatih anda menjawab soal ini dengan cepat dan tepat. Bagus juga diterapkan di kelas. Asalkan siswa diperbolehkan bawa smartphone.

Tapi sayangnya belum semua sekolah memperbolehkannya.

Bikin soal pakai elearning moodle jauh lebih aman dan nyaman. Sekolah menyiapkan server dan jaringan intranetnya. Lebih bagus lagi kalau jaringan internetnya kenceng. Itulah yang menjadi impian semua sekolah di Indonesia.

Jadi mulailah dari diri anda untuk mengajak lingkungan sekolah memanfaatkan tik dengan baik. Di zaman era digital saat ini, dimana semua serba digital dan kita dipaksa menggunakannya. Revolusi industri 4.0 tdk bisa dibendung lagi.

Ekosistem sekolah berbasis tik harus diimbangi dengan pengetahuan literasi digital dan tik. Semoga kita mau mempelajarinya.

Saya sendiri sudah memulai tugas tugas siswa melalui blog guru. Dari pertemuan pertama sampai terakhir guru bisa menyampaikan tugasnya melalui blog. Semua pekerjaan siswa akan terdokumentasi dengan baik.

Anda bisa melihat apa yg sudah saya lakukan di http://wijayalabs.com

Bersambung.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s