Informatika

Muatan Informatika merupakan komponen penting dari pendidikan modern di banyak negara. Sebab 10 keahlian penting yang dibutuhkan dalam industry 4. 0 adalah mereka yang menguasai Informatika.

Adapun 10 keahlian tersebut adalah:

  1. Complex problem solving
  2. Critical Thinking
  3. Creativity
  4. People Manajement
  5. Coordinating with others
  6. Emotional Intelegence
  7. Judgment and decision making
  8. Service orientation
  9. Negotiation
  10. Cognitive Flexibility

Negara negara yang membuat kurikulum informatika umumnya mengadopsi 2 acauan, yakni kerangka kerja ilmu komputer K-12 dan standar imu komputer.

Setiap pendidik, baik pendidik di sekolah formal maupun non formal harus menyadari bahwa dirinya akan mempersiapkan generasi bangsa yang siap menghadapi tantangan 10 hingga 20 tahun ke depan. Para pendidik di berbagai belahan bumi bekerjasama merumuskan keahlian apa yang akan dibutuhkan pada abad 21. Muncullah kebutuhan-kebutuhan untuk mempersiapkan anak-anak pada abad 21 dengan berbagai keterampilan, di antaranya kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, bekerja sama, dan berpikir kreatif.

Tahun 2006, Jeanette M. Wing, seorang profesor Computer Science di Carnegie Mellon University memperkenalkan istilah Computational Thinking (Berpikir Komputasi) sebagai salah satu keterampilan di abad 21. Tulisannya kemudian dikembangkan oleh banyak pendidik di dunia. Berpikir Komputasi adalah kemampuan seseorang memecahkan masalah, merancang sistem, dengan mengambil konsep dasar seorang ahli teknologi informasi berpikir dalam memecahkan masalah.
Kemampuan ini meliputi empat hal, yakni

  1. Dekomposisi
  2. Pengenalan pola
  3. Abstraksi
  4. Algoritma

Kemampuan berpikir komputasi bukanlah kemampuan membuat program di komputer, atau kemampuan menggunakan software di komputer walaupun keahlian ini tetap akan memperkaya kemampuan berpikir komputasi.

Keterampilan dalam membuat coding di komputer dapat mengasah keahlian berpikir komputasi. Beberapa pakar pendidikan dan pendiri Microsoft, Facebook, serta pembuat software game Minecraft bahkan membuat kurikulum coding dasar bagi anak-anak. Semua yang mereka lakukan, tidak lain untuk memperkenalkan cara berpikir komputasi melalui modifikasi games dan pembuatan games. Namun berpikir komputasi dapat dilakukan tanpa akses pada komputer. Kemampuan memecahkan masalah ini dapat dikembangkan di berbagai bidang, tidak hanya di bidang studi yang berkaitan dengan Teknologi Informasi.

Pada bidang bahasa, anak akan melihat pola-pola yang sama dalam analisis sebuah puisi. Dalam bidang musik, anak dapat menggunakan kemampuan ini untuk menggubah suatu lagu dengan kunci dasar yang sama. Dalam pelajaran sosial, anak dapat merekam data statistik pengguna kendaraan bermotor dan pola pelanggaran yang terjadi di jalan.
Bekali anak-anak dengan keterampilan hidup yang cukup dan berguna untuk masa depan mereka. Tidak hanya menjejali mereka dengan pengetahuan yang tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Semakin baik kita mempersiapkan anak-anak dalam menghadapi tantangan hidup di masa yang akan datang semakin siap kita melepas mereka untuk hidup mandiri.

Computational Thinking (CT) adalah sebuah kemampuan berpikir untuk menyelesaikan suatu permasalahan secara menyeluruh, logis, dan teratur. Berpikir komputasi adalah teknik pemecahan masalah yang sangat luas wilayah penerapannya, bukan hanya untuk menyelesaikan masalah seputar ilmu komputer saja, melainkan juga untuk menyelesaikan berbagai masalah di dalam kehidupan sehari-hari.

Cara mengimplementasikan Computational Thinking adalah dengan memahami masalah, mengumpulkan semua data, lalu mulai mencari solusi sesuai dengan masalah. Dalam Computational Thinking, ada yang disebut dengan dekomposisi yaitu kita memecah suatu masalah yang komplek menjadi masalah-masalah yang kecil untuk diselesaikan.

Sebagai contoh, ketika kita ingin membuat nasi goreng, kita harus memahami cara membuat nasi goreng, lalu kita mengumpulkan bahan-bahannya, kemudian kita mulai membuat nasi goreng sesuai dengan langkah-langkahnya. Dalam membuat nasi goreng, kita harus menyiapkan kompor, wajan, spatula, minyak goreng, nasi, telur, bumbu, dan lain-lainnya yang semua itu merupakan sebuah proses bernama dekomposisi.

Kemudian dalam Computational Thinking ada yang disebut dengan pengenalan pola. Karena kita pernah membuat nasi goreng, kita juga dapat membuat kwetiau karena proses pembuatannya hampir mirip. Kita bisa melihat bahwa pola untuk membuat nasi goreng dan kwetiau hampir sama walaupun bahan yang digunakan berbeda.

Lalu ketika kita membuat nasi goreng kita tidak memperhatikan bagaimana proses sebuah kompor bisa menyala, karena hal tersebut menurut kita tidak penting. Hal tersebut sudah terkait dengan abstraksi di dalam Computational Thinking.

Selanjutnya dalam Computational Thinking adalah berpikir dengan algoritma dimana kita berpikir dengan mengurutkan langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah agar menjadi logis, berurutan, teratur, dan mudah dipahami oleh orang lain. Dalam hal membuat nasi goreng, kita juga harus bisa mengurutkan langkah-langkah secara logis, berurutan, dan rinci mulai dari proses awal pembuatan sampai dengan proses penyajiannya.

Berpikir komputasi atau Computational Thinking tidak selalu berhubungan dengan komputer. Kita dapat menggunakan teknik berpikir komputasi dalam permasalahan sehari-hari. Ketika kita sudah terbiasa dengan Computational Thinking, kita akan lebih berpikir kritis sehingga dapat memecahkan suatu permasalahan dengan baik, efektif dan efisien. Jadi secara tidak sadar kita telah mengimplementasikan Computational Thinking dalam kehidupan sehari-hari mulai dari hal yang mudah dan bahkan hal-hal kecil pun telah kita lakukan dengan Computational Thinking.

Seiring tantangan global, peserta didik perlu memiliki kemampuan berpikir komputasional dalam menyelesaikan masalah. Untuk itu, guru juga perlu mempersiapkan diri untuk dapat membelajarkan kemampuan tersebut. Banyak permasalahan sehari-hari yang dapat atau bahkan perlu diselesaikan menggunakan konsep berpikir komputasional. Untuk itu, peserta didik perlu mempelajari konsep berpikir komputasional dengan baik. Guru perlu menjembatani permasalahan kontekstual dengan peserta didik sehingga mereka memiliki kemampuan dalam mengaplikasikan konsep yang dipelajari untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang atau dihadapinya kelak.

Kompetensi dalam menyelesaikan persoalan komputasi yang mengandung struktur data yang lebih kompleks dan berpola melalui Computational Thinking (KD 3.5 dan 4.5) perlu mulai dibelajarkan dengan memahami konsep Computational Thinking dan menjelaskan persoalan-persoalan komputasi. Selanjutnya peserta didik menyelelesaikan persoalan-persoalan komputasi yang mengandung jejaring, pola, dan algoritmik yang pada akhirnya dapat digunakan untuk menganalisis persoalan-persoalan komputasi tersebut. Model pembelajaran yang digunakan dapat menggunakan discovery learning, problem based learning maupun model lainnya yang dapat memfasilitasi peserta didik untuk aktif mengonstruksi pengetahuan dan keterampilannya. Peserta didik juga perlu dibiasakan dalam menghadapi soal-soal bertipe HOTS.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s