Belajar Menulis Bersama pak Edi S Mulyanta

Bismillahirrahmaanirrahim..

Selamat malam dan selamat bergabung kepada seluruh peserta MENULIS BERSAMA OMJAY

Apa kabar teman-teman sekalian? Semoga senantiasa dalam lindungan Allah Swt..

InsyaAllah sebentar lagi kita akan melaksanakan Seminar Online. Semoga kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berkah dari Seminar Online ini..


Pertama-tama izinkan saya memperkenalkan diri
*Nama : Intan Rahmadani
Instansi : Mahasiswi Sastra Inggris Uin Bandung

Saat ini saya diberi amanah oleh Super Seminar untuk menjadi moderator pada grup online hari ini☺🙏

Haloo, selamat malam bapak ibu sekalian. Semoga kita semua bisa belajar bersama hari ini.😊✨

WhatsApp Image 2020-01-26 at 20.01.28
Narasumber Super Seminar II kali ini adalah Edi S Mulyanta👏👏🎉🎉
dengan tema : menulis dan menerbitkan buku melalui penerbit andi

Agar kegiatan di grup Online “Menulis bersama Omjay” ini berjalan dengan lancar, kami sudah mempersiapkan aturan main. Aturan Main grup Online ini ialah sebagai berikut.

1. Hindari memotong obrolan atau mengganggu saat narasumber sedang perkenalan dan memberikan materi
2. Pertanyaan & jawabannya tidak boleh mengandung unsur sara dan menghina fisik.
3. Jika ingin bertanya harap menjawab pertanyaan rebutan dari moderator disertakan emote ini(☝)
4. Setelah dipersilahkan untuk bertanya, harap sebutkan nama dan asal instansi/sekolah
5. Tanya jawab dibagi beberapa sesi. Setiap sesi Terdiri dari 3 penanya. Setiap penanya maksimal memberi 3 pertanyaan.
6. Hindari memotong narasumber yang sedang menjawab pertanyaan dengan memberikan pertanyaan baru karena akan menganggu fokus narasumber serta peserta lain yg sedang menyimak.
7. Hindari mengajukan pertanyaan yang telah ditanyakan oleh penanya lain atau sudah terjawab oleh penjelasan narasumber , demi efektifitas Seminar ini.

kita langsung mulai sesi seminar online hari ini ya bapak ibu.
Kepada pak Edi S Mulyanta dipersilahkaan😊 @Edi S Mulyanta Penerbit Andi

Saya perkenalkan dulu pemateri malam ini. Namanya pak edi s mulyanta. Beliau direktur penerbitan dari penerbit andi Yogyakarta dan termasuk penerbit besar atau mayor. Kami dari Komunitas guru tik membuat Buku ajar informatika dan sama sekali tidak dipungut bayaran. Bahkan bulan Pebruari nanti kita akan menerima royalti buku yg pertama.

Saya telah hampir 20 tahun mengelola penerbitan, sebelumnya saya adalah penulis buku juga, karya saya di https://scholar.google.co.id/citations?user=tYwUNqsAAAAJ&hl=id&oi=ao.

Tahun 2019 merupakan tahun yang paling berat dalam dunia penerbitan buku, karena perubahan teknologi betul-betul seperti bayang-bayang kelam yang dapat melahap dunia penerbitan buku di Indonesia bahkan di dunia. Runtuhnya dunia surat kabar, merupakan pukulan telak bagi dunia cetak, dan informasi berupa cetakan. Dunia penerbitan yang saat ini di bawah IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia), menjadi was-was dan memandang cukup berat tantangan ke depan dunia cetak dan produksi buku. Undang-undang no 3 th 2017 tentang sistem perbukuan, telah memberikan isyarat yang tegas akan hadirnya format media digital yang telah diberikan keleluasaan untuk secara bertahan menggantikan dunia cetak. Dipertegas lagi dengan keluarnya Peraturan Pemerintah no 75 yang keluar pada tahun 2019, telah memberikan petunjuk secara tegas untuk memberikan arah ke dunia digital di penerbitan.

Hal tersebut membuat dunia penerbitan bergegas untuk mengubah haluan visi misi mereka ke arah yang lebih up to date, menyongsong perkembangan teknologi yang lebih cepat dibandingkan perkembangan dunia bisnis penerbitan secara umum. Beberapa penerbit yang tidak dapat mengikuti perkembangan jaman, akhirnya mencoba mengurangi intensitas terbitan bukunya, akhirnya berimbas pula ke jumlah produksi buku mereka, dan memukul pula pendapatan atau omzet buku mereka. Penerbit buku di bawah IKAPI adalah penerbit yang mementingkan UUD (Ujung-ujungnya Duwit) untuk mempertahankan kelangsungan bisnisnya. Secara otomatis cash flow akan terganggu, sehingga banyak penerbit akhirnya berpindah haluan ke usaha yang lain.

Salah satu outlet buku yang menjadi darah bagi kehidupan penerbitan, adalah Toko Buku. Karena kelesuan produksi buku, akhirnya Toko Buku juga terkena imbasnya, sehingga Omzet mereka juga terlibas produksi yang melambat. Penerbit akhirnya mencoba mencari keseimbangan baru di dalam bisnisnya dengan lebih selektif dan mereposisi kembali produksi bukunya.

Beberapa buku bertema How To, atau step by step, telah tergantikan media online yang lebih dinamis karena bisa menyertakan multimedia yang lebih menyenangkan. Hal ini lah yang saat ini oleh penerbit dihindari, karena materi-materi buku sudah banyak sekali tersebar dalam bentuk multimedia, video, suara, dan media lain yang cukup mudah didapat.

Lalu tema apa yang masih cukup menarik bagi penerbit untuk bisa terbit dengan oplah yang masih menguntungkan?

Penerbit biasanya akan melakukan scouting, atau pencarian tema dan penulis, dan tentunya bekerjasama dengan team riset pemasaran untuk menentukan tema apa yang masih dapat diserap pasar. Penerbit, tidak dapat mengesampingkan data pasar buku di Indonesia, sehingga data pemasaran ini sangat penting untuk memberikan arah haluan ke mana produksi buku dapat dikembangkan lebih lanjut.

Tidak semua tema buku, ternyata bisa digantikan oleh digital, hal inilah yang memberikan harapan baru penerbit untuk masih tetap memertahankan lini bisnis bukunya. Titip balik pasar buku yang lesu (rebound) tampaknya sudah mulai terasa mulai tahun 2019 yang lalu, sehingga beberapa penerbit yang terlanjur mengurangi produksi bukunya bisa tertinggal oleh penerbit yang masih konsisten memertahankan produksi bukunya.

Mungkin bapak-ibu sekalian , masih ingat gencarnya cuci gudang jualan buku, dalam rangka menghabiskan buku-buku yang telah terlanjur di produksi seperti program BBW-Big Bad Wolf yang sukses membanjiri produk buku dengan cara cuci gudang, membuang bad stock yang ada di gudang-gudang penerbit yang ada di Indonesia maupun di dunia.

Data-data pemasaran tidak pernah bohong, bahwa beberapa buku dengan tema yang khas ternyata masih sangat baik di pasar. Nah para penerbit saat ini sedang gencar untuk tetap memertahankan lini bisnis, yang memang telah teruji oleh perubahan jaman. Hal ini memang membutuhkan dana yang luar biasa besar untuk mencoba menggali lebih dalam pasar-pasar buku yang tidak tergoyahkan dengan perkembangan teknologi yang begitu gencar. Di dalam dunia Start-up dikenal dengan strategi bakar uang, nah di penerbit-penerbit masih mencoba untuk melakukan beberapa penelitian tema yang masih tetap baik di pasar.

Gelontoran dana produksi buku masih tetap dilakukan, tentunya dengan tema-tema yang di suatu saat nanti akan masih dapat diandalkan untuk mengisi darah dana yang akan digunakan untuk memroduksi buku kembali.

Ciri-ciri tema yang masih baik di pasar, memang belum bisa fix diyakini benar oleh beberapa penerbit yang sudah terlanjur terspesialisasi pada lini tertentu. Perlu bapak-ibu ketahui bahwa penerbit-penerbit di IKAPI terkadang mempunyai spesifikasi lini tertentu yang menjadi andalannya. Hal inilah yang dapat bapak-ibu pegang, untuk mengusulkan tema ke penerbit yang memang sesuai dengan lini idealisme mereka.

Penerbit ANDI, Erlangga, Intan Pariwara, Gramedia, Kanisius, Galang, Mizan, dll mempunyai idealisme masing-masing, sehingga perlu bapak-ibu perhitungkan jika mengusulkan usulan buku ke penerbit-penerbit tersebut.

Tema buku yang menjadi andalan Toko Buku saat ini adalah tema buku non teks, seperti buku Anak, Buku Motifasi dan Agama, Fiksi, hingga buku Masak yang masih nangkrin di 10 besar data buku terlaris di setiap toko buku di Indonesia.

Sebagai penerbit mayor apakah penerbit ANDI tetap menerima penerbitan indi ?
Jika masih boleh tau kisaran harganya?
Jika tidak, lantas buku seperti apa yg diterbitkan penerbit ANDI dan prosedur penerbitannya bagaimana? hikari yuli tanya.

Permasalahan penerbitan adalah permasalah pendanaan, sehingga hal ini yang menjadi ganjalan semua penerbit di bawah IKAPI. Terbitan indi, terkadang bisa dibiayai oleh penerbitnya apabila sesuai dengan spesialisasi mereka. Kami melakukan reviu terlebih dahulu untuk menggunakan skema penerbitan dengan pembiayaan penerbit. Apabila penulis mempunyai skema pembiayaan sendiri, tidak dipungkiri bisa diterbitkan dengan syarat bukunya dipasarkan oleh penulis sendiri.

Kisaran harga buku tidak dapat ditentukan dengan fix, karena variabel di sana cukup banyak sperti, ketebalan halaman, jenis kertas, pewarnaan, jumlah oplah buku yang dicetak.

Trimakasih bapak…
Lalu bila ingin mengajukan buku ke penerbit andi prosedurnya seperti apa bpak ? 🙏🙏🙏

Bapak ibu dapat mengajukan usulan Proposal Penerbitan, yang isinya adalah: 1. Judul Buku 2. Sinopsis Buku 3. Outline Buku Usulan 4. Sampel Bab 5. Tentang Penulis ke andipenerbitan@gmail.com .. mohon di beri subjek Usulan Buku.

Kami akan mereviuw terbit buku bapak ibu, dan akan kami berikan usulan beberapa skema penerbitannya tentunya sesuai dengan keinginan bapak ibu sekalian.

👆🏻 izin tanya juga, nama saya Marzuki dari Bondowoso, sy biasanya menjual buku-buku terbitan dari Jogja dengan harga yang super super murah. Apakah penerbit Andi, juga ada even penjualan buku murah? Biasanya untuk bazar dalam acara sekolah atau harus menggunakan dana beli dulu atau bagaimana, mohon infonya. Terimakasih.
(Mohon maaf jika, tdk berkenan menjawab di forum ini, jawabnya bisa Japri)
Karena ini tentu tdk semua orang membutuhkan informasi ini.

Kebetulan ada departemen pemasaran yang menanganinya, nanti akan kami teruskan ke bagian tersebut.

Konsep dasar pembiayaan dalam penerbitan buku, adalah penerbitnya yang membiayai. Nah karena banyak tulisan yang tidak sesuai dengan misi dan visi penerbit akhirnya tidak dapat terbit. Karena banyaknya buku yang ditolak penerbit, akhirnya penerbit memberikan skema lain dalam penerbitannya. Misalnya dibiayai oleh penerbitnya sendiri, baik melalui skema dana pribadi, CSR Perusahaan, Dana Penelitian Daerah, Dana Sekolah dll.

Kami sering menangani penerbitan buku yang dibiayai oleh dana Hibah dari Pemerintah ( Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) dulu Ristek DIKTI.

Skema pembiayaan ini diajukan oleh penulis, kemudian penulis mengajukan hibah penelitian ke DIKTI, yang besar dana hibah kisarannya adalah 15 jt hingga 25 jt.

Dana Penelitian Kampus, lebih besar, dan salah satu outcome (produksi luaran) adalah buku ajar, buku referensi, dan atau buku ilmiah populer.

Bagaimana merintis penerbit mayor?..trik apa yg dijalani penerbit Andi. Saya bu Hati dari Bandung

Siap bu Hati….Sebenarnya penerbit mayor dan minor hanya sebutan saja, dahulu skala mayor dan minor sejarahnya adalah dari kementrian Pendidikan Tinggi atau DIKTI.

Urusan di DIKTI adalah standar kampus yang disebut AKREDITASI yang sekarang hangat dibincangkan oleh Mas Mentri.

Kampus mempunyai standar akreditasi A, salah satunya adalah outcome kampus tersebut apakah mewarnai ilmu di Indonesia atau di dunia, dalam bentuk tulisan ilmiah baik buku Referensi yang stratanya tertinggi, atau buku Ajar untuk proses belajar mengajar.

Nah.. banyak terbitan buku yang diusulkan untuk kenaikan pangkat dosen, sehingga DIKTI memberikan standar penerbitan dengan skala Nasional dan Lokal. Hal ini urusannya sebenarnya awalnya adalah masalah Akreditasi. Penerbit Nasional adalah penerbit yang minimal mempunyai 3 cabang pemasaran di 3 propinsi.

Terminologi mayor dan minor akhirnya muncul di sematkan di penerbit-penerbit baik anggota IKAPI mapunun Penerbit Kampus di bawah APTI (Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi).

Terimakasih penjelasannya ya… Sukses slalu buat Penerbit Andi

Saya tahu mayor dan indi tahun 2018. Selama ini yg sy tahu mayor kalau menerbitkan naskah…namun indie alhamdulillah menerbitkan karya sayabyang tak lolos mayor…keduanya hebat. Membantu penulis melahirkan karya luar biasa.

Betul bu..Penerbit Mayor, oplahnya mengikuti outlet Gramedia sebagai oulet utama penerbit-penerbit di Indonesia. Gramedia mempunyai 100 toko buku, dimana setiap toko minimal 20 eksemplar, sehingga bisa dibayangkan oplah cetaknya.

Nah mohon maaf jika salah, Gramedia hanya menangani Penerbit dan Suplier dengan syarat tertentu, sehingga tidak semua penerbit dan suplier yang bisa masuk, karena keterbatasan rak buku di setiap toko bukunya.

Nah penerbit INDIE jelas tidak mempunya dana untuk menerbitkan buku dengan oplah yang sedemikian besar, dan sangat beresiko karena penerbit hanya menitipkan buku ke toko buku (sistem konsinyasi).

Ada beberapa penerbit Indie yang menawarkan paket-paket hemat, seperti paket 1 juta hingga 5 juta dalam memroduksi bukunya. Jumlah eksemplarnya cukup kecil, kisaran di bawah 50 eks. Kami sedang membuat program supaya tidak saling mematikan sesama penerbit IKAPI.

Sukses slalu dan berkah buat penerbit Andi.ya🙏🙏 pak @Edi S Mulyanta Penerbit Andi juga..aamiin.

Trimks… Master @Edi S Mulyanta Penerbit Andi atas ilmunya. Semoga atas kebaikannya dlm berbagi ilmu kpd kami mendapatkan balasan dr Allag Subhanawataala, Aamiin… 🙏🏽✍✍✍✍✍

Penerbit adalah lembaga yang mencari profit, dan mempunyai idealisme dalam menerbitkan bukunya sesuai dengan visi misinya. Penulis dapat mengikuti idealisme penerbit dalam menghasilkan buku yang akan dinikmati oleh pembacanya. Kirimkan usulan penerbitan buku, supaya ide Anda dapat ditangkap penerbit dan disebarluaskan ke pembaca.

Baik, terimakasih banyak bapak @Edi S Mulyanta Penerbit Andi atas kesimpulan hari ini dan materi yang telah diberikan untuk teman-teman semua disini. sekian dari seminar pada malam hari ini. seminar akan dilakukan kembali pada besok jam 7 malam, dan akan di infokan kembali untuk pembicara selanjutnya, terimakasih😊🙏

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s