Kisah Inspiratif Guru Hebat Indonesia

Menarik sekali percakapan mas menteri dengan para guru dan murid yang terpilih. Mereka terpilih dari ribuan surat untuk mas menteri Nadiem Makarim. Ikut menonton kisah mereka, dan mendengar isi surat mereka, panitia surat untuk mendikbud memang tak salah pilih. Mereka memang sosok yang menginspirasi. Anda bisa melihat rekamannya di youtube.com

Informasinya dapat dibaca di https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/05/kemendikbud-umumkan-lima-surat-terinspiratif-pada-lomba-tulis-surat-untuk-mendikbud-di-masa-covid19

Dari mereka saya banyak belajar. Ternyata apa yang saya lakukan belum ada apa-apanya bila dibandingkan oleh mereka guru penggerak ini. Oleh karena itu saya banyak belajar dari pak Agus melalui tulisan beliau yang saya bagikan di WA Group belajar menulis dan menerbitkan buku.

Anda bisa membacanya dengan cermat di https://literasikangagus.blogspot.com/2020/05/karakter-seorang-pelatih-trainer.html

Selain itu, saya juga banyak belajar dari pak Abdullah Hehamahua, mantan anggota KPK. Saya banyak belajar dari tulisan beliau. Berikut ini saya copas untuk anda baca.

NIKMATNYA TINGGAL DI KAMPUNG

Abdullah Hehamahua

     Kampung tempat saya tinggal sekarang namanya Rawadenok. Kelurahannya Rangkapan Jaya Baru, berada di Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok. Kiri kanan jalan dan pekarangan rumah penduduk, kehijauan masih kentara dengan adanya pohon belimbing dan jambu merah. Depok terkenal sebagai kota belimbing.

     Rumah saya, 31 km dari kantor KPK, kata kilometer mobil.  Secara teoritis, jarak tersebut bisa ditempuh dalam waktu 30 menit. Namun, saya harus tinggalkan rumah, tepat pukul 05.00. Tiba di kantor pukul 06.45. Budaya ini saya pelihara selama 12 tahun, 4 tahun di KPKPN dan 8 tahun sebulan di KPK. Biasa yang datang hampir bersamaan di kantor dengan saya adalah Pak Waluyo (Deputi Pencegahan), pak Jasin (wakil ketua), dan Dedy Rahim (Direktur Dikyanmas). Sekarang beliau menjabat Wakil Walikota Bogor. Pernah sekali, saya tinggalkan rumah pukul 05 lewat 5 menit karena waktu subuh, mundur. Dampaknya, saya perlu waktu hampir tiga jam untuk sampai kantor. Konsistensi tiba di kantor pukul 06.45, saya  siasati dengan kontrak rumah (sebelumnya sewa kamar) di daerah Bukit Duri, Bali Matraman, tidak jauh dari kantor.

     Jalanan umum, lebih tepat gang di Rawadenok cukup hanya untuk satu mobil sebesar milik saya, avanza. Saya perlu waktu sejam untuk sampai Margonda, jalan protokol di tengah bandar Depok.

Ronda Bersama

     Lapangan kerja yang terbatas, memicu penduduk mencari sesuap nasi dengan cara tidak terpuji. Mereka mencuri apa yang bisa dimanfaatkan, mulai dari sepeda, kambing sampai dengan motor. Mungkin mereka berpikir, kalau pejabat, Penyelenggara Negara dan ASN bisa mencuri uang rakyat milyaran rupiah, mengapa dirinya tidak bisa. Bukankah mereka lebih mengkhianati amanah rakyat.?

     Mengeliminasi maraknya pencurian, disepakati warga, ada kegiatan ronda malam. Mulai dari pukul 21.00 sampai menjelang subuh. Saya biasa dapat giliran malam ahad bersama dua orang muda lain. Sebab, pada hari Sabtu dan Ahad saya ada di rumah. Hari-hari lain, saya nginap di kontrakkan. Ketika ronda malam, kami biasa bergantian mengelilingi perkampungan RT kami. Seorang jaga di pos ronda dan dua orang berkeliling. Setiap sejam sampai dua jam, kami mengelilingi lingkungan RT. Mereka tidak tau kalau saya kerja di KPK. Kalau ditanya, saya hanya bilang, kerja di daerah kuningan. Hubungan, obrolan, bahkan dialog pun berlangsung lepas, santai dan penuh canda dan tawa. Inilah salah satu nikmat tinggal di kampung. Tidak ada saling mengkhianati seperti yang terjadi di pemerintahan dan legislative. 

     Namun, ketika muncul di kaca teve sebagai Ketua Komite Etik KPK (2011), saya tidak bisa lagi membohongi orang kampung. Padahal saya serius melaksanakan Kode Etik (tidak mengenalkan diri sebagai insan KPK ke siapa pun kecuali karena tugas) selama enam tahun. Apalagi, suatu hari ketika dalam perjalanan di gang sempit menuju jalan besar, ibu penjual nasi lemak, melompat ke tengah gang, menghadang mobil saya.  Breeek, saya injak pedal rem. Ibu itu menghampiri saya, sambil tangannya menari-nari: “Pakcik jangan boong lagi,” katanya dengan wajah serius. Sebelum saya bicara, beliau lanjutkan, “pakcik orang KPK kan ? Saya lihat di teve,” katanya memvonis saya. Beberapa detik, saya terdiam. Sambil jenaka saya bilang, “bu, yang di teve itu mungkin kembaran saya,” sambil  meninggalkan beliau. 

     Dampaknya, saya harus lebih telaten dalam berperilaku sehari-hari guna menjaga nama baik KPK. Suatu hari, di tikungan tajam, tetiba ada anak kecil turun dari sepedanya dan mencampakkannya  di jalan. Di gang sempit itu, saya tidak mungkin membanting setir ke kiri atau ke kanan jalan. Praaak, sepeda itu terkena ban mobil saya dan bengkok. Orang yang ada di situ tidak berkata apa pun. Mungkin mereka tau, anaknya salah. Bisa juga karena mereka sudah tau kalau saya orang KPK sehingga segan untuk menegur. Mungkin juga karena bapak itu biasa menjadi jamaah di mushalla berhampiran rumahnya ketika saya mengimami shalat subuh. Saya hanya minta maaf sambil meninggalkan tempat itu.

     Tiba di Pasar Rumput, Manggarai, saya menghentikan mobil persis di tempat penjualan sepeda anak-anak. Isteri yang sudah tau maksud saya, langsung turun dan membeli sebuah sepeda, serupa persis dengan yang ditabrak tadi. Hati saya lapang ketika menyaksikan anak seusia 4 tahun itu gembira ria waktu menerima sepeda baru. Selamatlah nama baik KPK, batinku. Inilah nikmat tinggal di kampung di mana tidak ada saling mengkhianati seperti yang terjadi di DPR yang mengesahkan sekian RUU pesanan asing dan aseng. 

Gotong Royong

     Kenikmatan lain tinggal di kampung, gotong royong di antara sesama penduduk se-RT. Got yang mampet, jembatan kayu yang rusak atau jalan berlobang, dibaiki penduduk kampung secara gotong royong. Biaya diperoleh dari tabungan beras perelek oleh warga RT. Di depan setiap rumah, digantung kaleng di mana sepekan sekali, petugas RT mengutip beras yang ada di dalamnya, tabungan penghuni rumah. Hasil penjualan beras perelek warga RT itulah yang digunakan untuk membiyai kegiatan gotong royong. Terkadang saya menghayal, Ketua RT lebih pantas menjadi Menteri Keuangan. Tidak perlu sekolah jauh-jauh di luar negeri kalau cuma  bisa minta utang luar negeri atau memakan riba bank. 

     Ketika gotong royong berlangsung, ada anak-anak datang ke Panitia, membawa sumbangan, mulai dari 5 ribu sampai seratus ribu rupiah. Sarapan dan makan siang disumbang oleh ibu-ibu di RT terkait. Sewaktu istirahat, saya langsung pulang karena memang sudah masuk  waktu dzuhur. Bukan menganggap makanan tersebut sebagai gratifikasi, tetapi  saya tidak tega mengkonsumsi hidangan dari penduduk yang penghasilannya cukup untuk keperluan sehari. Ketika bertugas di daerah, boleh dikata,  saya tidak makan di hotel. Saya memilih makan di kaki lima, baik di warteg maupun pecel lele. Selain meragukan kehalalan masakan hotel, saya selalu membayangkan bagaimana sebagian rakyat di Papua, Papua Barat, NTT dan Maluku, yang pagi makan, siang kelaparan. Tengah hari makan, malamnya tidur dengan perut keroncong. Saya tidak tega mengkhianati puluhan juta rakyat Indonesia yang karena pajak dan jerih payah mereka, saya memeroleh gaji setiap bulan. Pengkhianatan yang sekarang dilakukan pemerintah, DPR dan konglomerat, biarlah menjadi urusan mahasiswa dan Muhammad Nuh, buruh kasar di Jambi yang gagal masuk istana.

     Sewaktu orang yang dituakan di RT ke rumah  mengajak untuk makan bersama, luluh hati saya. Masyaa Allah, nikmatnya makan bersama di lantai dengan piring kaleng, daun singkong rebus dan ikan asin. Alam pikiran saya melayang jauh ke kota angin mamiri, puluhan tahun lepas ketika mengikuti Basic Training HMI di Fakultas Teknik UNHAS. Bukankah menu harian selama sepekan itu adalah ikan teri dan sayur kangkung.? Bukankah menu makanan seperti itu yang menjadikan saya seperti sekarang.? Timbul pertanyaan, apakah saudara Aksa Mahmud, jenderal polisi (purn) Chairuddin Ismail dan lain-lain yang mengikuti basic training bersama saya waktu itu masih ingat semuanya. Akhhh !!!. Mereka mungkin sudah mengikuti trend pengkhianat bangsa sehingga negara sekarang dibebankan utang sampai tahun 2050. Khayalan saya sirnah ketika Ketua RT menyodorkan bakul nasi ke saya. Inilah nikmatnya tinggal di kampung. “Nikmat Rabb-mu yang  manakah yang kamu dustakan,?” sabda Allah yang sampai mengulanginya sebanyak 31 kali dalam surah Ar Rahmaan.

Bersatu Menghadapi Virus China. 

     Gotong royong penduduk RW di tempat saya yang berjalan selama puluhan tahun, tetiba, retak karena ada pengkhianat bangsa yang masuk ke Depok melalui virus corona China. DKM di RT saya tetap melaksanakan shalat jum’at sekalipun ada edaran MUI yang oleh penguasa ditafsirkan sebagai penutupan masjid dan mushalla.  Sesudah shalat jum’at, satpol PP mendatangi pengurus DKM. Orang kampung lazimnya taat dan takut terhadap penguasa. Di masyarakat Indonesia, terkenal guyonan, perajurit lebih galak dari jenderal. Namun, pada rezim ini, mereka saksikan dengan penuh keheranan, ada jenderal yang lebih galak dari presiden, sampai-sampai beliau digelar Menteri Semua Urusan. 

     Hasilnya, DKM tidak melaksanakan shalat jum’at. Namun, shalat 5 waktu tetap dilaksanakan secara berjamaah. Saya pun shalat jum’at di rumah dengan anak-anak dan isteri. Jum’at berikutnya, pengurus mushalla Muhammadiyah meminta saya khutbah karena takut terkena hadis yang mengatakan, seseorang akan kafir fasik kalau tiga kali berturut-turut tidak shalat jum’at tanpa uzur. Menurut mereka, tidak ada uzur seperti yang disebutkan Rasulullah saw sehingga mereka wajib melaksanakan shalat jum’at berjamaah. Alhamdulillah, kami laksanakan shalat jum’at di mushalla. Jum’at berikutnya, DKM masjid dekat rumah mengeluarkan edaran, tidak ada shalat jum’at, tarwih, dan ittikaf.  Ketua DKM kerja di kantor Kelurahan dan sekretarisnya baru diterima sebagai dosen di salah satu universitas negeri Jakarta sehingga mereka berdua takut melawan bos.

     Menyadari tindakan Ketua dan Sekretaris DKM melanggar tradisi gotong royong karena edaran dikeluarkan tanpa musyawarah,  jamaah protes. Ketua Yayasan menghubungi saya, meminta saya menjadi khotib pada jum’at pertama, ramadhan. Alasan mereka, sama, tidak ada uzur apa pun seperti yang dimaksud Rasulullah saw. Apalagi di masjid diterapkan protokol virus corona: ada penyeteril tangan di masjid, jamaah mengenakan masker serta membawa sajadah masing-masing. 

     Aplikasinya, semua jamaah kerja sama melawan virus corona China dengan cara tetap shalat jum’at, tarwih, ittikaf, dan shalat idul fitri di masjid dan lapangan. Inilah nikmat tinggal di kampung, yang jarang diperoleh di bandar. Maknanya, jika kerjasama berpandukan al Quran dan as sunnah, maka pengkhianat sekelas apa pun, dapat dikalahkan.  In shaa Allah  !!!

Idul Fitri di Lapangan

     Jamaah Muhammadiyah meminta saya untuk khutbah di lapangan. Ini tradisi dari dulu. Alasan mereka sama, tidak ada uzur syar’i untuk tidak shalat Idul Fitri di lapangan. Apalagi Fatwa MUI yang terbaru, di zona hijau, dapat dilaksanakan shalat di lapangan atau masjid.

     Di atas podium, saya tertegun menyaksikan seorang nenek di atas kursi roda, didorong cucunya untuk bernaung di bawah pohon karena sinar matahari mulai menerpa jamaah. Menyaksikan hal itu, sambil menyampaikan khutbah, saya membatin, “ya Allah, jika dengan peristiwa ini, saya terpapar virus corona sehingga mencapai ajalku, saya ikhlas menghadap-Mu.”

     Usai khutbah, sebagian besar jamaah menyalami saya. Saya menyambutnya dengan gembira karena sudah mengenakan sarung tangan dan masker. Di rumah, tetangga datang bersilaturrahim, ciri khas masyarakat kampung, sekalipun tetap memerhatikan protocol virus corona China. Ya Allah, betapa nikmatnya hubungan silaturrahim yang ikhlas, polos dari masyarakat kampung. Saya tidak tau, apakah masih menemui nikmatnya tinggal kampung tahun depan. Namun, saya tetap berharap untuk menjadi orang kampung, sampai kapan-kapanpun. Wallahu’alam

Rawadenok, 2 Syawal 1441H

Membaca tulisan beliau, saya banyak belajar menjadi orang yang jujur dan mampu menjadi teladan buat sesama. Hari ini pun saya menonton acara presiden Jokowi, dimana kita akan memasuki dunia baru. Pak Jokowi memastikan kesiapan kita menuju kenormalan baru. Kota Bekasi Jawa Barat akan menjadi contoh untuk kota lainnya. Videonya dapat anda saksikan di sini.

Hari ini saya juga belajar mengembangkan jiwa enterpreneurship pada ibu Elly Mahayani melalui tulisan beliau di blog,  https://cening-mai-melajah.blogspot.com/2020/05/mengembangkan-jiwa-enterpreneur-siswa.html?m=1 

Juga cerita ibu Fatma di blognya https://fatmaeviana.wordpress.com/2020/05/26/cerita-pagi-hari-ke-3-setelah-lebaran-1441-h

Cerita ibu Tini Andriani juga bagus di blognya, https://tinamenulis2020.wordpress.com/2020/05/26/rindu-terhalang-pandemi/

Kisah pengalaman ibu Dayu di blog https://dayusastrika-gurukimia.blogspot.com/2020/05/menciptakan-suasana-belajar-siswa.html?m=1
Sudah hampir memasuki bulan ketiga kita melakukan kegiatan di rumah, baik itu bekerja dari rumah, sembahyang dari rumah dan belajar dari rumah. Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan virus corona yang sedang melanda di seluruh dunia. Tidak terkecuali saya sebagai seorang guru yang mengajar di sekolah menengah atas tepatnya di SMA Negeri 2 Negara dengan kesungguhan hati menjalankan tugas mengajar dari rumah.Sebagai seorang guru mempunyai tanggung jawab yang cukup berat dalam melakukan pembelajaran daring di saat situasi seperti sekarang ini, selain memperhatikan situasi dan kondisi peserta didik juga kendala atas kemampuan para guru dalam memanfaatkan tekhnologi. Karena tidak semua guru mahir dalam tekhnologi artinya kemampuan untuk menafaatkan aplikasi-aplikasi yang ada, dibutuhkan waktu untuk belajar, tidak semua guru mampu membeli kuota dan memiliki jaringan internet yang bagus.Pembelajaran yang kami lakukan hanya lewat WA grup, link sumber belajar yang bisa dimanfaatkan untuk belajar peserta didik saya bagikan. Jika ada peserta didik yang bermasalah karena jaringan internet tidak bagus saya berikan file bahan ajar yang bisa di pelajari oleh peserta didik secara offline.  Lembar kerja peserta didik saya bagikan untuk evaluasi. Lembar kerja ini dikerjakan oleh peserta didik secara bertahap. Saya menganjurkan peserta didik membuat blog untuk menjawab lembar kerja peserta didik. Banyak siswa bertanya bagaimana cara membuat blog, dengan bertanya artinya ada respon positif dari siswa untuk membuat blog. Saya serahkan ke peserta didik untuk berupaya membuat blog, alhasil sudah ada beberapa yang melaporkan bahwa sudah membuat blog. Salah satu alamat blog siswa: Putriardityaratnasari.blogspot.com dan bagi peserta didik yang belum sanggup membuat blog, banyak alternative yang saya berikan untuk mereka membuat tugas, misalnya membuat di kertas double folio lalu difoto kemudian kirim lewat wa pribadi,  atau diketik kemudian kirim  lewat email.

Tulisan Ibu Endah Ekowati juga sangat menginspirasi di WA Group gelombang 10.

Hari penuh Kenangan.

Hari Lebaran kedua adalah hari yang bahagia bagi keluarga kecilku… karena putri bungsuku dilamar dengan menggunakan media komunikasi Zoom. 

     Tepat pukul 12.00 WITA panas udara Sumbawa Barat tidak terasa saat undangan dari anak bungsuku yang ngak bisa pulang mudik karena korona membuat aku terhendak dari rebahanku, lalu kubaca WA berisi link undangan masuk Zoom dengan massage ” mama masuk sekarang ngih ” .

Kemudian dengan perasaaan berdebar-debar aku buka Zoom di laptop untuk suamiku dan aku gunakan hp jreng jreng… disana sudah ada calon mantu dan anak bungsuku kemudian muncul juga anak sulungku yang tinggal di Bandung, muncul juga adik kandung, semua akan menyaksikan apa yang akan terjadi di ruang meeting ini, sambil menunggu keluarga dari calon mantu.

Alhamdulillah, sekitar 15 menit kami bersilatuhrahmi dengan saling mengucapkan mohon maaf lahir batin dan menanyakan kabar masing-2. Dengan masuknya adik Bintang dari Gorontalo dan Ibunya Bintang maka terungkaplah maksud pertemuan ini selain silahturahmi Bintang mekinta secara resmi anak busungku untuk menjadi calon istrinya. Suamiku mulai menjawab dan menanyakan pada anak bungsuku…. 

Alhamdulilah tidak lama jawaban ya pa aku siap menjadi pendamping Bintang sebagai istrinya … aku cuma bisa menangis dan rasa syukur dari mulutku berkali kali terucap Alhamdulilah ya Roob … semoga semua berjalancar. Singkat cerita acara akad nikah Insha Allaah 16 Agustus 2020 di Tangerang Jakarta. Mohon Doa Restu semoga nanti acara berjalan lancar Yaa Roob. Aamiin

Hari ini saya banyak belajar dari tulisan orang lain. Tak salah bila waktu saya habis untuk terbang dari Aceh hingga Papua. Saya terbang memalui tulisan mereka di blog. Indah sekali bisa berkunjung ke blog guru-guru hebat ini. Semoga dapat saya lakukan terus setiap hari. Saya seperti melakukan pesiar ke antar pulau di Indonesia.

Informasi kegiatan belajar menulis dan menerbitkan buku dari Omjay sudah disampaikan melalui Youtube. Mohon semua peserta menonton acara ini, https://www.youtube.com/watch?v=pZkfmDQ9WnA.

Salam Blogger Persahabatan 

Omjay 

http://wijayalabs.com

Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

3 responses to “Kisah Inspiratif Guru Hebat Indonesia

  1. Sepakat….belajar, Belajar dan terus belajar

  2. om Jay harus menjaga kesehatan dan insyaAllah selalu sehat.. Semoga Allah selalu menjaga kelemahan hati ini..yang mudah menyerah…. Benar kat pepatah… Jika kamu mau sukses dekaylah oang2 yang sukses
    Jika kamu mau menulis dekatlah dengan ahli menulis….

  3. Komang Eli Mahayani

    Terimakasih sdh berbagi ilmu menulisnya Om Jay. Semoga Om Jay selalu dlm keadaan sehat.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s