Masih Perlukah Tunjangan Profesi Guru?

Tunjangan Profesi Guru. Masihkah bermanfaat?

Membaca laporan penelitian bank dunia tahun 2017 sungguh menyakitkan kami para guru. Oleh karena itu kita perlu melakukan inovasi baru dalam pembelajaran kita di sekolah. Dari teacher centered menjadi student centered.

Berbagai pelatihan guru telah digelar untuk meningkatkan kompetensi guru. Saya yakin guru Indonesia punya kemauan untuk maju dan punya kemampuan lebih baik dari negara lain. Kita pasti bisa membuktikannya.

Membaca tulisan pak iwan syahril dirjen gtk kemdikbud yang baru di koran kompas 29/5/2020, menunjukkan bahwa guru adalah sebuah profesi yang seharusnya diperlakukan sama dengan profesi lainnya. Bahkan seharusnya lebih karena guru menyiapkan sumber daya manusia. Di tangan para guru bangsa ini dipertaruhkan.

Mengkritisi apa yang sudah saya baca, membuat saya introspeksi sebagai guru. Masih perlukah tunjangan profesi guru dan apa manfaatnya buat guru?

Jujur saya katakan sangat perlu. Ini yang tidak dirasakan oleh para peneliti bank dunia. Juga pejabat di kemdikbud yang tak paham untuk apa dana yang kami terima. Ada rasa iri dan dengki pada guru. Padahal guru adalah manusia yang dimuliakan. Sebab guru berjuang mencerdaskan kehidupan bangsa.

Ini kisah nyata saya. Semenjak ikut program diklatPPG selama hampir sebulan di kampus UNJ, saya dan kawan kawan banyak belajar ilmu baru. Kita benar benar belajar pengetahuan baru.

Kami saling bekerjasama dan belajar bareng agar bisa lulus PPG. Kita menginap di rumah kawan yang tak jauh dari kampus. Sebagian menginap di wisma UNJ.

Perjalanan kami ikut diklat PPG penuh dengan perjuangan. Jauh dari keluarga dan berkorban waktu agar kami dapat menerima sertifikat sebagai guru profesional yang ditandatangani rektor UNJ.

Tunjangan profesi guru kami terima dengan sukacita. Walaupun seringkali terlambat. Belakangan saya tahu dari salah seorang pejabat. Uang TPG di daerah diputar dulu untuk didapatkan bunganya. Dari bunga bank inilah biaya operasional mereka dapatkan untuk menyalurkan TPG.

Terus terang saya kaget mendengarnya. Hal itu saya dengar ketika ada kegiatan rembuk nasional bidang pendidikan di Kemayoran.

Bagi kami para guru TPG ini sangat bermanfaat. Sejarah mencatat bahwa PGRI yang telah membantu guru agar menerima TPG.

Saya sendiri tidak menggunakan dana tersebut untuk foya foya. Saya gunakan dana tersebut untuk kuliah S3 di kampus UNJ. Bukan hanya saya saja. Tapi teman teman saya yang lainnya.

Kami ingin ilmu dan wawasan kami bertambah. Tidak hanya pengalaman mengajar di sekolah saja. Kita juga perlu pengalaman lainnya. Tapi terkadang kebijakan birokrasi membelenggu kami. Guru tak lagi menjadi manusia yang merdeka. Administrasi yang bejibun membuat kami tidak fokus dengan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sekarang TPG kami dipersoalkan. Jelas kami tidak menerimanya. Sebab kami selalu meningkatkan kemampuan diri. Kalau ukurannya hasil belajar siswa dan PISA dunia, ini semua bukan kesalahan kami para guru. Tapi kesalahan kita semua yang harus diperbaiki sama-sama.

Literasi, numerasi, karakter dan pelajar pancasila mari jadi tujuan kita. Harus ada penelitian pembanding supaya guru bisa legowo menerima hasil penelitian.

Selama ini guru hanya menjadi penonton dari hasil penelitian yang dilakukan bank dunia. Saatnya guru juga menjadi pemain dalam penelitian ini.

Guru Indonesia tak kalah dengan guru dari luar negeri. Buktinya banyak anak pintar terlahir dari pendidikan karakter yang dibangun oleh guru guru tangguh berhati cahaya.

PGRI sebagai organisasi profesi tentu tidak tinggal diam. Apa yang sudah dilakukannya harus diapresiasi. Hanya saja masih saja ada pihak-pihak yang mau menang sendiri dan menjadi pahlawan kesiangan. Seolah-olah karena merekalah TPG guru diterima.

Terima kasih PGRI. Kami tak akan lupa perjuanganmu. Jawab hasil penelitian dengan penelitian yang serupa. Lalu kita benahi bersama sama. Goyong royong dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika harus terus diimplementasikan agar bangsa ini menjadi semakin maju.

Persoalan sertifikasi guru adalah persoalan yang pasti bisa dicarikan solusinya. Bukan hanya sertifikasi guru tapi juga sertifikasi dosen di perguruan tinggi. Sebab pendidikan kita saling terkait dari anak usia dini sampai perguruan tinggi.

Kegundahan ibu ketua umum PB PGRI harus kita suarakan dalam bentuk meningkatkan profesionalisme guru. Anggaran Dana yang sudah dikeluarkan pemerintah tentu tidak akan sia-sia bila semua guru mau belajar sepanjang hayat. Terus meningkatkan kemampuan diri dan berujung kepada hasil belajar siswa yang berkarakter, kreatif, mandiri, dan siap menjadi seorang pemimpin masa depan.

Performa guru Indonesia harus terus diperbaiki dengan kekuatan kebersamaan. Bukan saling menjatuhkan dan merasa dirinya paling benar.

Guru adalah sebuah profesi yang dilindungi undang-undang. Transformasi guru dan pemimpin Indonesia harus dimulai dari diri sendiri. Dari sekarang untuk menggapai masa depan yang lebih baik.

Sehingga bila ditanya pemerintah, masih perlukah TPG? Jawabnya sangat perlu dan bermanfaat buat guru. Bukan untuk beli mobil baru atau baju baru. Tapi untuk meningkatkan kompetensi guru.

Bila hasilnya belum membaik, bukan dihapus anggarannya. Namun dicari sumber penyakitnya agar segera mendapatkan obatnya. Bagi saya obatnya adalah Sidiq, tabligh, amanah, dan Fathonah.

Nanti saya jelaskan lagi lain waktu. Kita bisa berdiskusi di gedung guru Indonesia. Kita ajak para penentu kebijakan ke rumah guru. Mereka akan tahu bahwa PGRI lah satu-satunya organisasi guru yang fokus mensejahterakan guru dan terus menerus meningkatkan kompetensinya sebagai guru profesional.

Salam blogger persahabatan

Omjay
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.wordpress.com

15 responses to “Masih Perlukah Tunjangan Profesi Guru?

  1. Guru adalah merupakan profesi mulia, keberhasilannya tidak bisa hanya dinilai hanya sebantas indek hasil reseach saja yang variabelnya belum tentu sesuai dengan karakteristik pendidikan di Indonesia. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang khas dan unik dibandingkan dengan bangsa di dunia ini. Sehingga orang yang akan benar-benar paham akan pendidikan di Indonesia adalah orang Indonesia itu sendiri. Keinginan untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lain tidak menjadikan menelan mentah-mentah apa yang menjadi pembenaran di negara lain. Kita harus mengkaji, kita paham keberhasilan pendidikan itu tidak bisa di ukur secara langsung. Para filusup menyadiari sedari dulu bahwa keberhasilan melalui pendidikan itu tidak hanya sebatas kognitif saja, masih ada afektif, dan psikomotor kalau dipandang dari teori Bloom, lebih luas lagi kita pandang dari Anderseen, Eriksen, Throndike, Gardner tentang multiple Intelegence, dan banyak lagi. Hal tersebut jelas sedari dulu manusia itu komplek dan pada dasarnya manusia dimanapun bisa cerdas pintar, belum ada yang bisa memastikan benar batas kecerdasan dan kamampuan pada manusia itu sendiri. Karena dari masa kemasa manusia itu menumbuh dalam pemikirannya. Kita perlu pahami potensi bangsa ini, perlu tau kebutuhan tanah air dimasa sekarang, erok, dan masa-masa yang akan datang dengan sumber daya dan potensi yang ada. Jangan pandang kita tidak sema perilaku belajarnya dengan bangsa lain kita tidak pintar, tidak lebih maju, bahkan menjustifikasi bangsa kita tertinggal dari bangsa lain. Jangan sandingan hanya dengan barisan deret angka dari hasil riset. Sedari sekarang kita pahami siapa kita, siapa yang akan kita didik, dan untuk apa. Biarkan bangsa lain pandang perbedaan bangsa kita sebagai kekuatan yang tidak mereka miliki. Mulailah bangga dengan bangsanya sendiri, bangga dengan guru-guru Indonesia. Apakah guru harus terus belajar dan meningkatkan kompetensinya? jawabannya “Ya” guru harus selalu beriinovasi, berkreasi, dan improviasi “Ya” tapi dengan tidak membandingkan dengan variabel yang berbeda dengan bangsa lain sehingga di ekspos rendah. Berhenti memotivasi guru untuk belajar dengan mangatakan kompetensi guru di Indonesia rendah, kurang bagus, tertinggal. Bangun semangat guru dengan harapan postif dan kata-kata positif. Bahagia gurunya, cerdas muridnya, maju bangsanya, kuat tanah airnya. Salam PGRI,,Nama: Wasmana, S.Pd.,Gr.,M.Pd.
    Instansi: SDN PONDOK BAMBU 04 Jakarta Timur

  2. Kalau mau berbicara Mutu….Kita upayakan bersama….!
    tidak perlu harus menyinggung Tunjangan profesi Gurunya….!

    ini anehnya orang2 Hebat…..yg berbicara mutu pasti singgung ke pendapatan Guru atau Tunjangan Profesi Guru…! seolah-olah mereka tidak rela pada Guru yg sudah menerima uang tunjangan profesi….sedih…sedih…sedih banyak orang2 yg tdk ikhlas. (Daechen)

  3. Guru adalah ujung tombak pembangunan SDM Indonesia. Sudah selayaknya diperhatikan kesejahteraannya oleh pemerintah serta diberikan pelatihan guna meningkatkan profesionalisme dalam menunjang kinerjanya.

  4. Hidup guru Indonsia, hidup PGRI

  5. Sangat perlu… Sertifiikasi guru didapatkan dengan perjuangan yang memerlukan kesungguhan saat menimba ilmu selama ppg daring satu setengah bulan dan secara langsung selama hampir 2 bulan bersama ppl di dalam prosesnya serasa digodong benar2 mendapatkan ilmu sesuai, dan membuka pandangan sehingga kita dapat berusaha mengaplikasi ilmu tersebut dengan benar

  6. Hebat Omjai,terimakasih PGRI yg telah berjuang,hidup guru,hidup PGRI,Solidarita, yes.

  7. Semoga Tunjangannya berkah

  8. Semua Warga Negara Indonesia berhak Sejahtera TERMASUK GURU kalau TPG sudah menjadi Haknya jangan dipermasalahkan. TPG Tidak semuanya untuk Kompetensi Guru.
    Guru juga manusia yang memiliki hak untuk memenuhi kebutuhan hidup lainnya seperti biaya pendidikan Anak2nya, biaya kesehatan biaya Kehidupan sehari2 dll termasuk peningkatan kualitas Kompetensi didalamnya, jika semua itu terpenuhi Insya Alloh Gurupun memiliki tanggung jawab Terhadap Negara dan pasti akan slalu mendukung program pemerintah apapun programnya untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Jika pemerintah mengharuskan guru harus benar-benar profesional dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari saya rasa semuanya sudah melaksanakannya dengan baik, karena setiap satuan pendidikan dalam menjalankan programnya dipantau oleh setiap Disdik didaerahnya masing-masing terkait dengan pelaksanaan Pemantauan 8 SNP yang dilakukan oleh setiap pengawas pembina agar semua program disatuan2 pendidikan berjalan dengan baik. LODAYA

  9. Lepas dr pemanfaatan dana TPG oleh masing2 guru, ada hal yg perlu diingat bhw penerima”tunjangan” bkn hanya guru saja. Semua ASN (utamanya) juga menerima tunjangan, hanya namanya berbeda. Contoh ada yg disebut numeřalisasi. Tp mengapa ya, yg disoroti selalu tunjangan yg diberikan tuk guru? mufidah

  10. TPG harus tetap dipertahankan.
    seorang guru profesional kdg berada tdk di t4 yg mendukung tuk pengembangan keprofesiannya.
    seorang guru profesioanl kdg jg merangkap sbg tulang punggung keluarganya, bahkan keluarga besarnya. gaji utama pasti digunakan tuk pemenhan kbth pokoknya. dg adanya tpg, seorang guru profesional bs mengembangkan dirinya.
    ketika tpg tdk ada? ini adalah pertanyaan retoris yg kita sdh tahu jawabannya. 🙏 Ika Fitria bantul

  11. “TPG Meningkatkan Kesejahteraan dan Kompetensi/Profesionalisme Guru”

    Semenjak adanya TPG kehidupan guru yang semula pas-pasan menjadi berkecukupan. Sebelum ada TPG gaji guru hanya cukup untuk suami istri, tapi begitu mempunyai anak maka gaji tersebut terasa kurang. Sehingga seorang guru harus mencari tambahan penghasilan dengan memberi/membuka les privat, bertani, berternak, membuka toko dan lain-lain. Setelah adanya TPG seorang guru mempunyai penghasilan yang cukup untuk sebuah keluarga kecil suami istri dengan dua atau tiga orang anak.

    TPG juga digunakan oleh para guru untuk mencukupi fasilitas untuk memudahkan dalam melaksanakan tugasnya. Mulai dari transportasi, smartphone, laptop/tablet dan lain-lain. Selain itu semenjak adanya TPG guru-guru juga banyak yang melanjutan kuliah dengan biaya mandiri/dari TPG ke jenjang S2 bahkan ada juga yang sampai ke jenjang S3.

    Edy Widodo
    Prajekan Bondowoso

  12. “TPG Meningkatkan Kesejahteraan dan Kompetensi/Profesionalisme Guru”

    Semenjak adanya TPG kehidupan guru yang semula pas-pasan menjadi berkecukupan. Sebelum ada TPG gaji guru hanya cukup untuk suami istri, tapi begitu mempunyai anak maka gaji tersebut terasa kurang. Sehingga seorang guru harus mencari tambahan penghasilan dengan memberi/membuka les privat, bertani, berternak, membuka toko dan lain-lain. Setelah adanya TPG seorang guru mempunyai penghasilan yang cukup untuk sebuah keluarga kecil suami istri dengan dua atau tiga orang anak.

    TPG juga digunakan oleh para guru untuk mencukupi fasilitas untuk memudahkan dalam melaksanakan tugasnya. Mulai dari transportasi, smartphone, laptop/tablet dan lain-lain. Selain itu semenjak adanya TPG guru-guru juga banyak yang melanjutan kuliah dengan biaya mandiri/dari TPG ke jenjang S2 bahkan ada juga yang sampai ke jenjang S3.

    Edy Widodo
    Prajekan Bondowoso

  13. bagus

  14. Guru adalah profesi mulia yang banyak berkontribusi pada pembangunan SDM anak bangsa, tak patut jika unjangan profesi dipersoalkan karena sudah sepantasnya guru mendapatkan nya bahkan yang lebih dari itu. Kalaupun profesionalitas guru dianggap masih kurang bukan berarti tunjangan profesi harus di persoalkan.. saya yakin semua guru siap untuk terus belajar untuk lebih baik..

    Tetep semangat wahai para guru jangan pernah goyah..