Kami Bersyukur pada Allah Melalui Corona

Kami Bersyukur pada Corona.

Semenjak virus corona yang merajalela, kami di rumah saja. Semua aktivitas diselenggarakan dari rumah.

Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Semua tetap di rumah. Hidup terasa dalam penjara pada awalnya. Sekarang malah tidak lagi. Kami justru bersyukur ada virus corona.

Kami sekeluarga bertemu terus setiap hari. Dari pagi hingga malam hari. Sebelumnya, habis subuh kita sudah berangkat ke sekolah.

Saya mengajar Di SMP Labschool Jakarta. Berlian sekolah ke SMA Labschool Jakarta. Alda keponakan saya mengajar di TK Mentari Indonesia. Istri bekerja sendiri di rumah sebagai ibu rumah tangga.

Kami baru bertemu lagi malam hari. Kesibukan kami di sekolah telah menyita waktu kami setiap hari.

Belum lagi kemacetan kota Jakarta yang kami hadapi setiap hari. Jadwal mobil ganjil genal yang harus diaati. Juga bangun pagi yang tak boleh telat. Bila telat maka akan tiba di sekolah kesiangan.

Wabah corona ini menjangkiti semua sisi kehidupan kita. Hal yang berat dan terpukul adalah dampak ekonomi.

Pemasukan bulanan menurun drastis. Berat badan naik karena kurang banyak bergerak. Saya berusaha menurunkannya dengan berolahraga pagi dan berpuasa di bulan Syawal.

Jumlah korban corona semakin bertambah. Ribuan orang meninggal. Kita tentu sedih mendengarkan beritanya.

Semoga yang sakit segera sembuh. Kita yang sehat selalu menjaga kesehatan. Jaga kebersihan kemanapun kita pergi. Cuci tangan pakai sabun jadi tradisi sehari hari.

Virus Corona membuat kami menjadi sadar dan instrospeksi diri. Manusia hanya makhluknya yang lemah. Bahkan sangat lemah. Namun dibalik kelemahannya ada kekuatan baru yang membuat kita lebih bersemangat melanjutkan kehidupan.

Kami bersyukur pada corona. Keluarga kami tetap bersatu. Anak pertama Intan masih di Bandung. Belum bisa pulang ke Bekasi. Kami selalu berkomunikasi setiap hari. Jauh menjadi serasa dekat akibat canggihnya teknologi.

Intan sempat menangis di hari raya Idul Fitri. Kamipun ikut menangis sebagai orang tuanya. Biasanya kami selalu bersama. Kita terpisah karena corona.

Begitu juga Alda keponakan dari istri. Alda tidak bisa pulang ke Bandung karena corona. Kami jadi saling bertukar anak. Intan di Bandung, Alda di Bekasi.

Alhamdulillah sampai hari ini semua sehat. Termasuk emak Esih ibu mertua juga sudah sehat. Emak biasanya sakit kaki. Sekarang sudah bisa jalan kaki.

Kami bersyukur ada corona. Waktu kami bersama keluarga semakin lama. Dulu lebIh banyak Di tempat kerja pada Pagi hingga malam hari. Sekarang selalu bersama setiap hari dalam suka maupun duka.

Matematika Allah terus bekerja. Rezeki datang tak terduga. Selama 3 bulan ini Alhamdulillah ada saja rezeki datang ke keluarga kami. Terima kasih ya Allah.

Belajar, bekerja dan beribadah dari rumah. Tetap produktif menyapa pembaca dan penonton youtube. Bahkan tulisan baru terlahir setiap hari. Mulai belajar jadi youtuber. Semoga dapat dijadikan buku baru. Aamiin.

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger Indonesia.
Blog http://wijayalabs.com

8 responses to “Kami Bersyukur pada Allah Melalui Corona

  1. Kurang lebih sama dengan kisah Om Jay, banyak sekali yg harus disyukuri drpd diratapi, meski ekonomi jd menurun byk hikmah yg bisa kita dapat

  2. alhamdulillah…

  3. bersyukur

  4. OM jay memang luar biasa di syukuri saja ya, semoga jadi youtober ya