Author Archives: kusumah wijaya

Siapkan Diri Untuk I’tikaf di Masjid

Mari kita siapkan diri untuk i’tikaf di masjid selama 10 hari di bulan ramadhan. Jadikan malam ramadhan kita dan hari hari terakhir bulan ramadhan menjadi hari hari yang penuh dengan keberkahan Allah. Selamat meraih pahala terbaik di detik-detik terakhir bulan ramadhan.

Mari kita gapai malam lailatul qodr, malam yang lebih indah dari 1000 bulan. Semoga kita mampu mewujudkannya di bulan ramadhan tahun ini. Temui Tuhan Penguasa bumi dengan sepenuh hati. Mintalah apa yang ingin engkau pinta. Lalu perbanyak membaca kalam ilahi. Jadil al-quran dan al hadist sebagai panduan.

Ingatlah 7 wasiat almarhum ustadz Arifin Ilham. Tujuh wasiat tersebut merupakan tujuh amalan yang harus dilakukan.

  1. Kerjakan shalat tahajud
  2. Kerjakan shalat duha
  3. Perbanyak sedekah
  4. Rajin membaca Alquran
  5. Selalu shalat berjamaah
  6. Selalu menjaga wudhu
  7. Rajin gosok gigi atau bersiwak

Mulailah fokus untuk bertemu Allah lewat sholat-sholat kita yang lebih khusyuk dari biasanya dan pastikan doa-doamu terkabulkan. Mintalah angkat derajatmu, mintalah ampuni dosa-dosamu, mintalah lapangkan rezekimu, dan mintalah untuk muliakan keturunanmu. Aamiin ya Robbal alamin.

Perkembangan TIK di Berbagai Negara

Perkembangan di Negara Malaysia dapat dikatakan sudah cukup baik dilihat dari berbagai factor diatas. Mengapa demikian karena sekarang Negara Malaysia dijadikan sebagai Second base beberapa perusahaan TI berskala dunia. Antara lain Microsoft yang buka kantor di Twin Tower, Intel (perusahaan Prosesor) dan AMD (perusahaan Prosesor) di Cyberjaya. Negara Malaysia dapat menjadi Macan Asia dalam beberapa tahun mendatang apabila rencana rencana Malaysia menjadi Negara yang berpengaruh dalam dunia IT sejagat dengan pondasi-pondasi yang telah di bangun sekarang dilanjutkan pembangunannya dan diperbaharui menjadi lebih baik.

perkembangan tik shafa

 

Workshop Elearning di Bekasi

Workshop Elearning di Bekasi

beti

Prabowo Tak Mau Belajar dari Kesalahan

Tragis! itulah hal pertama yang saya rasakan, saat menonton siaran tv nasional yang melakukan siaran langsung pidato Prabowo dalam rangka menanggapi hasil awal penghitungan suara Pilpres 2019.

Kenapa saya katakan tragis, karena dalam pidatonya Prabowo menyatakan bahwa dirinya telah memenangkan pemilihan presiden, setelah menerima hasil penghitungan quick count dari kalangan sendiri, dalam hal ini tim pemenangan PBN Prabowo-Sandi,  yang meyatakan dirinya menang dengan perolehan suara lebih dari 60 persen.

Rupanya Prabowo kembali terperangkap oleh apa yang dia dapatkan di Pilpres 2014 lalu, dimana saat itu dia begitu antusias dan begitu gembira, lalu tanpa berpikir panjang lagi melakukan sujud syukur, setelah menerima hasil quick count juga dari orang-orang yang berada di lingkungan Prabowo sendiri, bukan dari lembaga survey independen yang kredibiltasnya lebih bisa dipertanggung jawabkan.

Kini hal yang sama kembali dilakukan oleh Prabowo, melakukan sujud syukur. Padahal penghitungan suara masih berjalan dan belum tuntas. Dan seperti saya tulis di atas, laporan kemenangan ini juga hasil penghitungan team pemenangan Prabowo-Sandi.

Seekor keledai takkan jatuh di lubang yang sama, demikian pepatah lama nenek moyang kita mengatakan. Sebagai calon presiden yang akan memimpin sebuah negara besar dengan penduduk lebih dari 250 juta, selayaknya Prabowo mempunyai kemampuan pengendalian diri yang lebih baik dibanding rakyat yang akan dipimpinnya. Namun karena ambisi yang begitu kuat mencengkeram dirinya, melebihi kuatnya akal sehat yang justru akan membawanya kepada situasi yang lebih baik, dia kembali terperosok. Dia hanya percaya kepada orang yang bisa menyanjungnya dan memberikan kabar yang hanya menguntungkan, walau berita yang diberikan hanyalah isapan jempol yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Apa yang ditampilkan oleh Prabowo yang terlihat oleh kita saat ini, adalah buah didikan dan lingkungan masa lalunya. Lebih tepatnya saat karir militernya yang mencuat dengan cepat. Apalagi setelah dia berhasil memasuki lingkungan dalam penguasa orde baru, sebagai menantu Soeharto. Soeharto yang tak tak ingin tersentuh oleh apapun yang akan mengusik dirinya, keluarganya dan terlebih lagi kekuasannya, memanfaatkan dengan maksimal sang menantu.

Prabowopun memanfaatkan dengan baik privileges yang dia dapatkan dari sang mertua. Sehingga karirnyapun mencuat kencang bak meteor. Dikalangan militerpun Prabowo untouchable. Saat Feisal Tanjung jadi Panglima ABRI, walau berpangkat jenderal dengan bintang empat, Feisal berusaha menghindari berurusan dengan Prabowo, sang Komandan Jenderal Kopassus.

Menikmati sebagai orang yang tak tersentuh saat di militer, menjadi bawaan Prabowo setelah menjadi orang sipil. Sehingga apapun yang dikatakan Prabowo, tak seorangpun yang berani membantahnya. Akibat buruk dari hal tersebut adalah, orang-orang di sekitar Prabowo juga tidak berani memberi masukan untuk setiap langkah dan kebijakan yang akan diambil prabowo, apalagi membantahnya.

Lingkungan kehidupan politik pasti berbeda jauh dengan lingkungan kehidupan militer, karena senjatanya memang berbeda. Lingkungan militer senjatanya senjata api, sementara lingkungan politik senjatanya adalah lidah yang tak bertulang. Dalam militer disiplin adalah sesuatu yang tak bisa dibantah, dalam politik disiplin bisa dipelintir. Sehingga kita sering melihat pada saat sidang paripurna DPR ruang sidang sering lebih banyak yang kosong daripada berisi.

Pepatah Minang mengatakan, masuk kandang harimau mengaum, masuk kandang kambing membebek dan masuk kandang ayam berkotek. Pepatah ini menyiratkan, bahwa kemanapun kita pergi dan masuk ke dalam suatu lingkungan, kita harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang kita masuki. Kita akan dikucilkan bila memaksakan diri orang lain yang harus mengikuti kehendak atau kemauan kita, dan sebaliknya kita akan diterima dengan tangan terbuka bila kita menyesuaian diri.

Hal inilah yang tidak kita temukan pada seorang Prabowo. Latar belakang militer, kehidupan yang tak tersentuh, otoriter dan sebagaimana biasa seorang komandan, omongannya tak boleh dibantah. Kondisi psikologis seperti inilah yang dibawanya ke ranah politik yang penuh dengan tawar menawar, dan persoalan kepentingan, dimana ada sebuah adagium, tiada persahabatan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Dunia yang penuh negosiasi, siapa mendapatkan apa .

Bagi mereka yang sudah masuk kedalam lingkaran kehidupan Prabowo, baik secara sukarela atau karena terpaksa, bersiaplah menerima kondisi kejiwaan Prabowo yang temperamental dan emosional serta tak boleh dibantah. Pakar politik hebatpun akan kehilangan taji saat berhadapan dengan Prabowo. Sehingga mereka lebih banyak mengalah saat beradu argumen dengan Prabowo.

Situasi dan kondisi politik dengan suhu yang sangat tinggi inilah yang membuat anggota BPN Prabowo Sandi di lapangan berada dalam situasi yang sulit. Karena kemenangan adalah harga mati, maka mereka yang terjun kelapangan untuk mengumpulkan hasil pemiluharus pintar-pintar melihat dan mencatat hasil pencoblosan. Kumpulkan semua data pencoblosan dimana Prabowo mendapatkan kemenangan, dan abaikan bila disana dia mengalami kekalahan. Jadi laporan hasil penghitungan cepat yang sampai ke Prabowo adalah laporan yang semuanya berisikan data dimana Prabowo mendapatkan kemenangan.

Mendapatkan laporan yang katanya dari 5000 TPS yang yang semuanya menunjukkan kemenangan, dengan sigap Prabowo lalu langsung mendeklarasikan kemenangan ada dipihaknya di pidato pertamanya saat penghitungan suara sedang berjalan. Sebuah sikap terburu-buru dari seorang calon presiden yang sudah tidak sabar meraih impian yang 5 tahun lalu gagal dia dapatkan. Prabowo lupa kalau jumlah  TPS di seluruh Indonesia itu ada 807.000.

Tidak cukup hanya sampai disitu, pada penampilan berikutnyapun prabowo semakin jumawa. Dia langsung mengatakan bahwa dirinya adalah Presiden Republik Indonesia. Padahal saat itu penghitungan suara yang mereka klaim baru mencapat 320 TPS. Bagaimana perkembangan kelanjutan pertarungan perebutan kekuasaan ini, baiknya kita ikuti saja hasil akhir penghitungan suara yang dilakukan oleh KPU.

Salam, yuk kita ngopi dulu untuk meredakan ketegangan…

Sumber:

https://www.kompasiana.com/diankelana/5cb7c78495760e329f3e6fa5/tragis-prabowo-tak-mau-belajar-dari-kesalahan?fbclid=IwAR3AcCcTZZ1vLd-Ut-CA0bcuas9av544Q14mTIjxHCSmq0foDQsq49OzwsE

 

Rapat Kerja Nasional Guru TIK se-Indonesia Sesi Kedua

Belajar Sampai Negara China

Belajarlah Sampai ke China.
Suara telpon datang ke ponsel baru saya. Seorang laki laki muda menelepon omjay. Katanya dari direktorat pendidikan dasar. Kementrian pendidikan dan kebudayaan.

Bapak muda itu memperkenalkan diri dan bertanya kepada saya. “Apa benar ini bapak wijaya kusumah? ”

Saya menjawab “benar”.

Bapak itu lalu mengucapkan selamat. Omjay terpilih untuk belajar ke negara china. Negara dengan penduduk terbesar di dunia. Negara yang mulai dilirik negara lain karena kemampuan dan kemandirian ekonominya.

Saya mengucapkan syukur alhamdulillah. Sebab tidak menyangka akan berangkat ke luar negeri dengan guru-guru lainnya.

Saya diminta mengurus paspor. Hari rabu akan dikirimkan ke email surat resminya dari kementrian pendidikan dan kebudayaan.

Saya belum sampaikan kabar ini ke istri tercinta dan anak anak. Baru saya tuliskan di group ini. Biar nanti mereka membaca sendiri di wa group keluarga kami.
Belajar ke negara china sudah mulai terlihat di depan mata. Semoga mimpi ini menjadi nyata.

Mohon doa dari pembaca. Semoga dilancarkan persiapannya ke sana. Aamiin.

img_9417

Salam blogger persahabatan
Omjay
Blog http://wijayalabs.com

Kapan Sebaiknya Anda Menulis?

Kapan sebaiknya anda menulis?

Dulu sewaktu belum ada internet dan smartphone saya menulis sebelum tidur. Kalau libur saya menulis setelah bangun tidur.

Dimana saya menulisnya?

Saya menulis di laptop atau komputer pc. Pakai pengolah kata dan langsung disimpan. Tidak bisa langsung upload atau posting di blog. Bisa dikirim setelah sampai di sekolah dan dikirim pakai modem yang disambung pakai telpon sekolah.

Masih ingat nomor 0898888? Nomor inilah yang biasa digunakan untuk menyambung ke internet lewat jaringan telkom.

Sekarang? Jauh beda. Kita bisa menulis dimana saja dan kapan saja. Bahkan kita bisa menulis sambil buang air besar di toilet.

 

https://www.kompasiana.com/wijayalabs/5c4e57f66ddcae266701c595/kapan-sebaiknya-anda-menulis