Bahasa Anakku

Best Practice Kemampuan Berbahasa Anak Usia Dini

Nama             : Fatimah, S.Pd.AUD

Instansi         : TK.’Aisyiyah 48

BAHASA ANAK KU

Baca lebih lanjut

Best Practice Aspek Bahasa

Best Practice Aspek Bahasa

Nama                    : Rossi Novitasari, S.Pd., M.M

Unit Kerja           : TK Islam Kedasih (Kabupaten Bekasi)

 

  Baca lebih lanjut

Kegiatan Best Practice Happy Labirin

BEST PRACTICE PROGRAM

NAMA KEGIATAN : HAPPY LABIRIN

  1. PENDAHULUAN

Perkembangan kognitif anak usia dini adalah suatu proses berpikir berupa kemampuan untuk menghubungkan, menilai dan mempertimbangkan sesuatu, memecahkan masalah atau untuk mencipta karya. Aspek utama dalam Pengembangan Kognitif di dalam PAUD meliputi Kemampuan berbahasa (verbal comprehension), Kemampuan mengingat (memory), Kemampuan nalar atau berpikir logis (reasoning), Kemampuan tilikan ruang (spatial factor), Kemampuan bilangan (numerical ability), Kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency), kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed). Hal ini dimungkinkan agar anak mampu megembangkan kemampuan berpikir lancar, yaitu menghasilkan banyak gagasan atau jawaban yang relevan dan arus pemikiran lancar.

Baca lebih lanjut

Pemanfaatan Media Ular Tangga Motorik untuk Meningkatkan Kemampuan Motorik Kasar Siswa

NAMA                       : NUR BUDHI CAHYANI (081314396171)

ASAL SEKOLAH    : TK HAMZAH, CIPUTAT, TANGSEL

BEST PRACTISE PERKEMBANGAN KEMAMPUAN FISIK MOTORIK

 

PEMANFAATAN MEDIA ULAR TANGGA MOTORIK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK KASAR SISWA

USIA 4-5 TAHUN

  Baca lebih lanjut

Mengembangkan Potensi Anak Usia Dini Melalui Tari

MENGEMBANGKAN POTENSI ANAK USIA DINI MELALUI TARI DI TK PERMATA INSANI ISLAMIC SCHOOL

tari-paud

Menari adalah ungkapan ekspresi perasaan dan ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan melalui gerakan yang indah. Menari tidak hanya diminati oleh orang dewasa,anak – anak, orangtua, semua suka menari. Anak usia dini adalah masa dimana mereka penuh dengan imajinasi dan juga masa aktif dimana mereka senang bergerak dan mengekplorasi diri. Maka saya sebagai pendidik paud memanfaatkan kegiatan menari sebagai bentuk pembelajaran yang menyenangkan untuk mengembangkan potensi diri serta kecerdasan anak usia dini.

            Baca lebih lanjut

Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Field Trip

MENINGKATKAN KREATIVITAS ANAK

USIA   5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN FIELD TRIP

 workshop

Nama                         : Hartati, S.Pd

Asal TK                     : Tk Pertiwi IV

  Baca lebih lanjut

Pengembangan Aspek Fisik Motorik pada Anak Usia Dini

PENGEMBANGAN ASPEK FISIK MOTORIK PADA ANAK USIA DINI

Oleh : Fitri Handayani, S.KM, M.Pd

Dunia yang mendigital membawa pengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat. Seperti pisau bermata dua, keberadaan teknologi digital ini memiliki manfaat kebaikan dan juga efek buruk bagi penggunanya. Kemudahan dalam hidup dapat diperoleh dengan teknologi terkini, namun dampak buruknya juga tidak luput mengiringi. Pengaruh terhadap perkembangan anak usia dini pun tidak dapat dianggap ringan. Saat ini anak usia dini tidak lagi asing dengan berbagai gawai canggih, mulai dari telepon genggam, laptop, ipad, computer dan lainnya, yang tersambungkan dengan internet. Bukan hal aneh kita melihat anak usia dini terlihat asyik dengan gawainya. Istilah kuota, internet, wifi bahkan download bukan hal baru bagi mereka.

Layar yang berwarna, suara yang menarik, dan kemudahan penggunaan gawai menjadi daya magis tersendiri untuk anak usia dini. Mereka sudah teralihkan dari permainan-permainan di dunia nyata, dan lebih menikmati permainan daring di gawai dalam genggaman tangan mungil mereka. Padahal belum saatnya mereka terpapar karena banyak efek buruk dalam aspek kesehatan, maupun aspek perkembangan anak lainnya. Salah satunya yaitu dalam aspek perkembangan fisik dan motorik anak.

Anak usia dini yang sudah terpapar dengan gawai, biasanya lebih cenderung menyendiri, duduk tenang dengan tangan yang bergerak di atas layar gawainya. Mereka kuat berjam-jam tanpa pindah posisi, tanpa melepas pandangan mata bahkan bisa menahan rasa lapar saking asyiknya bermain. Mereka kurang suka bergerak, dan tidak terstimulus anggota tubuhnya kecuali jempolnya saja. Padahal di usia tersebut, semua bagian tubuh harus aktif bergerak agar bisa optimal tumbuh kembangnya.

Hal ini terjadi tidak hanya pada satu atau dua orang saja. Banyak anak usia dini yang menunjukkan gejala tersebut. Termasuk anak usia dini yang masuk ke lembaga pendidikan TK Muslimat 2, tempat kami mengabdikan diri. Kondisi ini menjadi tantangan bagi para pendidik di TK Muslimat 2, untuk bisa kembali mengajak anak bergerak, berjalan, berlari dan melompat namun dalam kondisi yang menyenangkan. Oleh karena itu muncul ide untuk kembali menggalakkan permainan tradisional anak yang pernah dimainkan oleh para guru di masa kecilnya.

Dari hasil diskusi maka muncul ide untuk menjadwalkan permainan tradisional anak setiap seminggu sekali di sekolah, yakni permainan tradisional yang banyak merangsang gerak anak. Diantara permainan tradisional tersebut yakni ; ular naga, lompat tali, engklek (tapak gunung), kakak mia, boy-boyan, petak umpet dan sebagainya.

Selain bergerak untuk merangsang seluruh anggota gerak tubuhnya, anak-anak juga diajarkan tentang aturan permainan. Berikut ini tahapan yang bisa dilakukan dalam pelaksanaan permainan :

  1. Guru mengajak anak untuk berkumpul di lokasi permainan , misalnya di halaman sekolah atau di aula sesuai kebutuhan permainan.
  2. Guru memperkenalkan nama permainan, beri sekilas informasi mengenai permainan yang akan dilaksanakan.
  3. Guru menyiapkan peralatan, bila permainan memerlukan alat dan penanda area permainan.
  4. Guru memberi informasi tentang aturan permainan, mengajarkan lagu yang dimainkan bila memang ada lagu yang dinyanyikan saat permainan.
  5. Guru memberikan contoh langsung pelaksanaan permainan.
  6. Memulai permainan dengan pembacaan basmalah
  7. Pelaksanaan permainan
  8. Mengakhiri permainan dengan pembacaan hamdalah.
  9. Melakukan evaluasi pada saat recalling di akhir pembelajaran pada hari tersebut. Misalkan dengan menanyakan perasaan anak-anak, bagian yang disukai dan tidak disukai, rencana permainan selanjutnya dan tugas agar anak juga memainkannya bersama ayah-bunda, dan adik-kakak atau teman di rumah.

Berawal dari kegiatan permainan di sekolah ini, kemudian anak mulai terkikis sedikit demi sedikit ketergantungan terhadap gawai. Namun tentunya keberhasilannya tidak lepas dari kerjasama dan keterlibatan orang tua. Bila di rumah tidak diberi kesempatan dan ruang untuk melakukannya, anak tetap akan pasif dan semakin ketergantungan dengan gawai dan sejenisnya.