Tag Archives: dyahni mastutisari

Berhentilah Menulis

Berhentilah Menulis
Oleh Dyahni Mastutisari

Berhentilah menulis. Hal itulah yang harus saya lakukan sekarang. Setelah menjadi anggota Gurusiana selama 8 bulan. Mengapa harus berhenti menulis? Bukankah setelah menjadi gurusianer mestinya saya lebih banyak berlatih menulis?. Mengapa justru sebaliknya menghentikan aktifitas yang telah membuat saya ketagihan menulis.

Justru itu karena saya telah ketagihan menulis. Membuat saya kadang sering bingung sendiri. Setiap saat selalu memikirkan ide untuk bahan tulisan. Sampai-sampai mandi pun masih mencari ide. Dan kelemahan saya, setelah mendapat ide tidak langsung ditulis. Hanya ‘ngendon’ di kepala. Ide baru saya tulis setelah ada waktu. Karena terlalu lama mengendap jadinya ide yang tertuang dalam tulisan terasa hambar.

Tulisan menjadi garing, tidak renyah sama sekali. Menurut Om Wijaya Kusumah (omjay) dalam bukunya berjudul “Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi”, beliau mengungkapkan bahwa Ketika menulis terasa renyah, maka pembaca pun akan terasa menikmatinya dengan lezat. Ibarat makanan yang siap disantap, maka pembaca pun akan menjadi lahap membaca tulisan kita yang renyah.

Untuk bisa membuat tulisan yang renyah. Masih menurut Om Jay diperlukan proses membaca. Tentu semua itu dilakukan setelah melakukan proses deep reading, yaitu proses di mana penulis melakukan proses membaca secara mendalam. Tanpa melakukan proses tersebut, sulit rasanya membuat tulisan yang terasa renyah.

Disini saya menyadari bahwa selama ini saya belum melakukan yang namanya proses deep reading. Sehingga tidak mengherankan jika tulisan saya tidak terasa renyah. Saya terlalu bernafsu untuk menulis. Tanpa diimbangi membaca dan banyak membaca karya tulis orang lain. Dalam hal ini membaca secara mendalam. Tidak hanya sekedar membaca sambil lalu yang sering saya lakukan.

Dan… sekarang saatnya saya berhenti menulis. Untuk melakukan deep reading. Supaya tulisan saya tidak garing. Segaring daun jati di musim kering. Tetap semangat untuk menulis tapi jangan lupa untuk membaca. Salam literasi

Patikraja, 16 Agustus 2018

Asa Seorang Guru

ASA SEORANG GURU

Oleh: Dyahni Mastutisari

 foto p2m17-6

Saya mempunyai ijazah S1 dari perguruan tinggi yang lumayan ternama. Lantas tidak kemudian memudahkan saya mencari pekerjaan. Setelah lulus kuliah dari jurusan Pendidikan Matematika, cita-cita saya hanya satu yaitu menjadi guru matematika. Sehingga saya pun harus mempunyai keberanian dan sedikit menahan rasa malu ketika harus memasukkan lamaran ke sekolah-sekolah di sekitar tempat tinggal saya.

Dua minggu saya berkeliling ke sekolah negeri maupun swasta berharap ada   sekolah yang kemudian memanggil dan menjadikan saya sebagai salah satu guru di sekolah tersebut. Tapi agaknya saya harus bersabar. Satu bulan setelah surat lamaran diserahkan. Belum ada satu pun surat panggilan yang datang ke rumah. Saya pun mulai merasa khawatir.

Hingga suatu siang salah seorang saudara yang sudah menjadi guru memberikan  informasi  bahwa sekolahnya  sedang membutuhkan guru matematika. Alhamdullilah puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT cita-cita saya menjadi guru matematika akhirnya terwujud.

Perjuangan menjadi guru dimulai. Pertama mengajar sempat merasa gugup, apalagi ada beberapa siswa yang kemudian membandingkan cara mengajar saya dengan guru matematika sebelumnya. Yang katanya lebih mudah dipahami. Aku pun tak putus arang. Setiap hari berusaha belajar untuk meningkatkan kemampuan menyampaikan materi di depan kelas. Supaya semua siswa dapat memahaminya. Terlebih matematika, mata pelajaran yang sering menjadi momok bagi sebagian siswa.

Seiring berjalannya waktu saya pun mulai bisa membuat siswa nyaman dengan pelajaran saya. Perasaan senang dan puas ketika kemudian siswa dapat mengerjakan soal-soal yang saya berikan. Sebagai guru honorer dengan gaji jauh di bawah UMR. Sudah membuat saya merasa cukup senang. Dengan gaji itu saya bisa membeli buku-buku yang saya inginkan dan selebihnya untuk membeli keperluan pribadi. Karena pada waktu itu saya masih berstatus single.

Hingga beberapa waktu kemudian Allah SWT mempertemukan saya dengan seseorang yang kemudian menjadi suami saya. Suami seorang wiraswasta yang baru merintis usaha. Dengan gaji yang tidak seberapa, alhamdullilah saya masih bisa menabung. Waktu itu kami masih menumpang di rumah mertua.

Sebelumnya tidak pernah terpikir bahwa suatu saat saya akan menjadi guru PNS. Saya sudah sangat menikmati menjadi guru di madrasah ini. Sehingga ketika ada informasi tentang sekolah negeri yang sedang membutuhkan guru matematika masuk ke telinga. Pada saat itu saya tidak tertarik untuk mengajukan surat lamaran. Padahal saat itu guru yang mengajar di sekolah negeri mempunyai masa depan yang lebih cerah. Tapi entahlah saya merasa nyaman mengajar di sekolah yang sebenarnya dari segi input siswanya memiliki IQ rata-rata bahkan cenderung di bawah. Mungkin ini konsekuensi sekolah swasta yang harus menerima apapun kondisi siswa. Jika tidak demikian sekolah kami tidak mendapatkan murid. Di tambah lagi dari segi ekonomi, mereka termasuk golongan ekonomi menengah ke bawah.

Disinilah tantangannya sebagai guru, membuat siswa yang nilai UN matematika di SD rendah menjadi siswa yang minimal bisa menghitung. Mengapa saya katakan minimal karena sering saya menjumpai siswa kelas 7 yang belum hafal perkalian. Bahkan banyak siswa yang masih kesulitan dalam hal pembagian. Jadilah saya mengulang kembali materi perkalian dan pembagian. Yang semestinya sudah mereka peroleh di SD kelas IV. Bagi saya menemukan siswa yang belum bisa perkalian dan pembagian sangatlah disayangkan. Karena dasar dari ilmu matematika adalah penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.

Dengan kemampuan siswa yang pas-pasan membuat saya tidak terlalu banyak menggunakan metode yang macam-macam. Dalam pikiran saya yang penting siswa paham. Itu pun sudah dilakukan dengan pelan-pelan, masih ada saja siswa yang belum memahaminya. Akhirnya kadang saya harus mengulangi materi dua hingga tiga kali.

Entah karena ketelatenan saya atau memang sudah menjadi takdir Allah, setelah 6 tahun menjadi guru honorer. Akhirnya saya mendapat SK CPNS. Perasaan haru dan senang bercampur menjadi satu. Dua tahun berikutnya saya resmi menjadi PNS dengan status guru DPK yaitu guru yang diperbantukan di sekolah swasta. Saya mengajukan untuk DPK di sekolah yang dulu. Karena saya merasa di sekolah itulah saya mendapatkan banyak sekali pengalaman yang berharga menjadi seorang guru. Hingga sampai sekarang pun saya masih mengajar di MTs Muhammadiyah Patikraja Kabupaten Banyumas.