Tag Archives: guru

Resensi Bukunya Omjay, “Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi”.

Resemsi Bukunya Om Jay “Menulis Setiap Hari Dan Buktikan Apa Yang Terjadi”

Oleh : Hastuti Wibowo

buku-menulis

Kesan pertama pada buku ini identik dengan penulisnya yang ramah mau membagikan semua pengalamannya pada semua pembaca. Om Jay dengan keikhlasan mencoba meyakinkan pada pembaca dapat menulis kapan saja dan di mana saja. Om Jay juga memberikan arahan bagaimana awalnya dapat menulis. Selanjutnya mari kita telusuri buku ini maka kita akan temukan banyak kebaikan yang Om Jay tawarkan.

Kemampuan menulis Om Jay melalui proses yang berawal dari semangat tinggi melalui blognya sampai menjadi penulis handal berikut prestasi dan rezeki menulis. Om Jay menulis setiap hari menjadikan menulis bagian dari tubuhnya sehingga kenikmatan menulis dirasakan langsung. Tidak hanya untuk diri sendiri maka kenikmatan juga Om Jay bagikan pada pembaca tulisannya yang menginformasikan berbagai hal dari Om Jay. Om Jay selalu mengingatkan selain menulis jangan lupa membaca karena keduanya saling mengisi. Menulis setiap hari meski hanya sedikit nantinya menjadi banyak dalam satu bulan. Menulis tentang apa yang diketahui agar tulisan terasa sedap.

Om Jay memberikan kunci keberhasilan dalam menulis antara lain dengan membaca buku. Membaca buku membuat gemuk menulis inilah The Power Of Book. Dengan membaca buku seolah-oleh membawa kita keliling dunia. Om Jay juga mengingatkan penulis harus terampil mengolah kata menjadi tulisan yang lezat dengan bumbu spesial membuat pembaca tertarik dan berkali-kali membacanya.

Menulis setiap hari dapat menghiasi rutinitas kita artinya menulis menjadi refresing hati dan jiwa. Om Jay menyakinkan kalau setiap hari komitmen menulis 1 lembar atau 2 lembar maka dalam satu bulan bisa jadi satu buku. Tulisan tersebut dapat diposting di blog atau coba ditawarkan pada penerbit. Om Jay memiliki fans dari tulisan di Kompasiana dan membuat bahagia penulisnya.

Om Jay memberikan solusi cara menulis efektif secara bertahap sampai hasil tulisannya siap diposting di Blog. Om Jay membagikan pengalamannya bertemu dengan Taufik Ismail dan dari pertemuan itu pentingnya membaca bagi penulis karena rabun membaca lumpuh menulis. Selain itu Om Jay juga berpesan untuk tidak memaksakan menulis bila sudah mengantuk. Menulis dalam kondisi yang mendukung sangat baik, sehingga menulis akan mengalir bagai air. Sebelum tidur dapat dimanfaatkan untuk menulis sambil melatih keterampilan menulis.

Kok bisa Om Jay menulis setiap hari ternyata Om Jay lahap membaca.  Semakin banyak pengetahuan yang didapat dan semakin banyak tulisannya. Om Jay mengingatkan kreativitas dalam menulis sangat dibutuhkan. Ide yang selalu mengalir menghindarkan diri dari plagirisme. Bagaimana menulis kreatif dan manarik? Menurut Om Jay ternyata berasal dari potensi diri, pantang menyerah, dari hatinya, menulis tanpa beban, bahasanya komunikatif, baru, inovatif, gaya diri sendiri.

Kalau ingin menjadi penulis yang baik jangan jadikan beban kata Om jay. Jangan biarkan juga tulisan banyak di otak. Untuk itu biasakan menulis yang semula terasa sulit akan terasa mudah berikutnya. Om Jay mengajarkan kalau menulis ada urutan bagiannya mulai dari pembuka, pembahasan, dan penutup. Lalu dari mana datangnya ide? Kata Om Jay dari diri sendiri, ide membaca, Bila sedang tidak mod menulis maka lawanlah dengan menulis apa saja dan berikutnya menjadi menyenangkan.

Jangan membaca tapa menulis, jadi berhenti membaca untuk menulis. Ternyata membaca cepat dapat melatih konsentrasi penulis untuk menghilangkan hambatan dari dalam diri. Membaca cepat dan menulispun bisa cepat dengan cara anggap saja dengan berbicara dengan orang lain kata Om Jay.

Buku ini super sekali informasinya buat para penulis pemula karena Om Jay mengkupas tuntas. Semua permasalahan dalam menulis diberikan solusinya oleh Om Jay seperti dahsyatnya menulis, membangun kemampuan guru menulis, malas menulis, membangun semangat menulis, memanfaatkan waktu luang, menulis buku harian. Om Jay juga membagikan pengalamannya dari keajaiban menulis seperti tulisan menjadi tabungan, mendapat uang dari menulis, menjadi pembicara, dan menjadikan diri hebat.

Om Jay memberi tips tertentu dalam membuat blog, menulis di blog kompasiana, dan membuat buku. Om Jay alangkah mulia hatimu dengan tulus mengajak semua pembaca untuk memulai menulis. Menulislah dengan hati, menulislah mulai sekarang, jadikan buku sebagai teman dan internet sebagai informasi.

Kesimpulan dari buku yang sangat super ini juga kesimpulan yang super. Menulis harus dimulai dari sekarang, harus dari dalam diri ( potensi, semangat, ide, komitmen), belajar pada lingkungan ( buku, orang lain, tokoh) , melek teknologi ( blog, media sosial ), kreativitas, Inovatif. Jadikan mendengar, membaca, menulis saling melengkapi memperkaya ide menulis. Targetkan menulis buku sebagai bukti pengembangan diri seorang Guru.

Terimakasih Om Jay sudah diberi kesempatan membaca dan menulis resensi dari buku “Menulis Setiap Hari Dan Buktikan Apa Yang Terjadi”. Sangat setuju dengan judul buku ini karena memang ada sesuatu yang terjadi setelah kita menulis setiap hari. Penulis pemulapun seperti saya mulai merasakannya. Semoga ilmu yang Om Jay sampaikan menjadi bekal di akherat nanti. Menulislah terus sampai waktu menjemput kita…Sukses selalu buat Om Jay idola para penulis guru lainnya juga idola bagi saya….Salam

Mengapa Aku Mau Menjadi Guru?

MENGAPA AKU MAU JADI GURU?
Oleh: Emy Retno Rahayu.
 
Salah pilih tapi terlanjur mencintai profesiku sekarang…, menjadi GURU.
Aku hidup di pedesaan salah satu dusun di kota Kediri yang terkenal dengan kota tahu taqwanya.
 
Oh…ya perkenalkan namaku Emy Retno Rahayu…cukup di panggil mbak Retno..diambil yang tengah tengah biar adil.
Orang tuaku cukup ternama dikampungku. Oleh karena bapakku sebagai kepala desa. Sedangkan nenek dan kakekku tak kalah pentingnya karena menjabat sebagai jogo tirto yang mengatur pengairan.
 
Lengkaplah kebahagianku… namun usai tamat smp aku kepingin melanjutkan ke sma tapi orang tuaku kepingin salah satu putri jadi guru.
 
Dengan berat hati aku memilih pilihan orang tua untuk sekolah di sekolah pendidikan guru (spg) negeri kediri untuk mewujudkan cita-citaku yang diinginkan orang tuaku demi berbakti walau penuh liku…
 
Dengan demikian urunglah cita-citaku sendiri untuk menjadi KOWAD…..tapi aku selalu bersyukur di balik ini semua Alloh punya Rencana Lain untukku.
 
Semasa aku dibangku sekolah selain aktif kegiatan sekolah seperti melukis, menyanyi tembang jawa main angklung karawitan…ada juga kegiatan ektra kurikuler pramuka…
 
Nah pucuk dicinta ulam tiba…aku  masuk kegiatan yang cocok dengan hobbi, bakat dan minatku berpetualang…, aku sangat senang dengan kegiatan pramuka.
Kegiatan pramuka seperti kegiatan di abri..
Wow…senang sekali…tanpa terasa..kemandirian kecintaanku untuk menjadi guru terpatri..dalam setiap kegiatan di dlm dan luar sekolah
 
Setelah tamat sekolah aku ikut pendidikan pramuka dapat ijazah mahir I ..mahir II
Mengikuti kursus lanjutan jurusan penegak…waktu lulus pramuka diminta untuk jadi instruktur di SPG Islam gurah Kediri dan SMA Diponegoro Kediri…
 
Betapa senangnya aku bangga campur haru…aku udah layak jadi asisten pembina penegak setingkat SMA/SMK…
Aku masuk perguruan tinggi Universitad Kartanegara Kediri jurusan Sosiologi…karena Aku pikir mengajar di sekolah menengah tingkat atas harus Sarjana….aku memilih ambil jurusan sosilogi…sesuai dengan apa yang aku lakukan sehari hari.
Aku bangga karena bayar uang kuliah dari hasil mengajar pramuka . Hehehe, walau uang makan dan tranfort masih minta orang tua.
 
Nasib keberuntungan masih dipihak aku…saat ujian semester..1. Aku ada panggilan test pns dan harus berlarian melengkapi data-data untuk ujian….untung pak  Rektor baik hati. Aku dikasih prioritas ujian sore hari setelah ujian PNS….dengan dukungan doa dari semua pihak aku lulus PNS…jadi guru dan di tempatkan di desa 25 km dari kampus….wow…tiap hari..menempuh perjalanan 50 km pp.
 
Heeemmm ….
Aku selalu bersyukur Alloh memberiku Rencana terbaik…Aku jadi guru muda yang tangguh tanggap trengginas dan tegar….pemda Kabupaten Kediri membeli 1 unit Drum band yg dinamai Drum band CANDA BHIRAWA/C.B….aku lolos seleksi fisik dan akademik kesehatan untuk jadi anggota groub dram band CB.
 
Sebagai guru muda yang aktif kegiatan diberi prioritas untuk berlatih dram band..yang kebetulan tempat latihan di sebelah kampusku di Asrama yonif .521 kediri..
Alhamdulililah…kalau kita pandai bersyukur Alloh akan beri kemudahan pada umatnya…
 
Namanya aja juga jodoh….
Smter 5 aku ketemu pujaan hati..
Menikah dan di boyonglah aku ke Kupang NTT….demi pengabdian aku iklas kemanapun dibawa pergi..yang penting aku boleh mengikuti pramuka dan melanjutkan kuliah di Univesitas muhammadyah kupang.
 
Pagi mengajar di sd Bonipoi 2, lalu sore kuliah.
Hari minggu menjagar pramuka di sekolah perawat SPK kupang.
 
Tamat kuliah langsung diusulkan jadi kepala sekolah sd persitim 1. Sungguh menguras airmata…dalam perjalanan menjadi kepala sekolah. Lalu ada program sekolah pgsd…aku ikut lagi dan setelah tamat, aku…naik tingkat menduduki jabatan pengawas sekolah TK/SD….Aamiin.
 
Tidak sampai di situ tekatku untuk sekolah yang lebih tinggi kebetulan kampusku buka pasca sarjana jurusan sosiologi.
Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini . Lalu aku daftar kuliah…etung2 suami kerja di proyek pt.nindya karya di luar daerah…aku hidup dengan dua putriku yang cantik dan pembantu rumah tangga…
 
Aku juga aktif kegiatan sukarelawan PMI kota kupang …waktu ada kapal tenggelam aku ikut tim sukarelawan…emang tak kenal lelah…betapa tidak…tugas dinas relawan PMI pramuka tugas kampus dan jadi ibu rumah tangga…tapi kepuasan batin tak ternilai….
 
Ternyata Alloh memberi segalanya apa yang kita pinta dan kita selalu bersujud syukur…narimo ing pandum….
Bpk.seketaris Daerah yang sekaligus ketua PMI …melihat sepak terjang kita dalam bekerja. Setelah kejadian kapal tenggelam di fukuapu pulau Rote ndau.
 
Aku di panggil beliau..menghadap hari Rabu untuk melengkapi berkas berkas mutasi..
Dari pengawas tk/sd ke pengawas SMA….alhamdulilah..ini berkah yang tak di sangka2
 
Oh…ya aku pernah juga mengisi kekosongan jabatan sebagai kepala sekolah SMA negeri 6 kota kupang
 
Tak kalah pentingnya berorganisasi berbagai jabatan mengalir bak air yang jernih dan menyejukkan…sebagai penyeimbang yang didalam ada pendidikan budipekerti, sosial dan karakter…disinilah aku di godok di kawah condro dimuko.
Hingga kini aku aktif dan loyal berorganisasi
 
–  PGRI : ka bidang organisasi dan kaderisasi kota kupang ntt
–  PRAMUKA: Sekertaris biro hukum dan organisasi Kwartir Daerah Nusa Tenggara Timur
– PMI : Ka bidang suka relawan/ pengabdian masyarakat
– Makanan khas Daerah/Pelangi
Ka bidang pendidikan
– Pengajian di lingkungan
Bidang pendidian
– GNPK: Bendahara
 
Dengan beriringnya waktu tak terasa aku di nusa tengara timur sudah 25 tahun. Oh secara kasat mata lama, tapi aku sudah mencintai tanah flobamora tanah timor bolelebo…separuh nafas kehidupanku disini loh
 
Terimakasih ..inilah kisah kasih…sekapur sirih.. keiklasan yang membawa berkah. Aamiin
 
Catatan Biodata Penulis:
Retno: Lahir di Kediri (putri Kediri)
Besar di solo (Putri Solo)
Tugas di NTT (Putri NTT) baru 25 thn…separuh nafasku di tanah Timor Bolelebo

Guru Financial Mandiri

Guru Financial Mandiri

Ridwan Setiawan, S.Pd

Menjadi seorang guru? Hmm

Itu sebuah pilihan yang saya buat ketika lulus kuliah tahun 2013, ketika pilihan teman seangkatan lebih berminat untuk menjadi dosen dan karyawan Bank saya memutuskan untuk menjadi guru. Keputusan yang saya buat ini berdampak ke khawatir dari kedua orangtua. Pada waktu yang sama saya juga mendapatkan penawaran untuk bekerja di salah satu Bank. Khawatiran orangtua beralasan, susahnya jenjang karir guru menjadi dasar mereka. Peluang menjadi PNS semakin kecil ketika pelaksanaan CPNS tidak kunjung datang mengandalkan gaji guru yang sangat tidak manusiawi membuat orangtuaku semakin cemas akan masa depan anaknya. Hal tersebut tidak mengurangi keputusanku untuk menjadi guru karena saya berpikir kalau menjadi guru adalah sebuah kewajiban manusia dimana manusia mempunyai kewajiban untuk menyampaikan kebeneran.

Untuk menjadi guru sekolah saya harus menunggu sampai 6 bulan lamanya, tidak ada sekolah yang mau menerima saya. Kebetulan saya tinggal di Daerah. Luar biasa rekrutmen guru di sekolah negeri daerah. Saya berpikir bahwa menjadi guru akan sama dengan bekerja di tempat-tempat lain ternyata tidak, untuk bisa mengajar di salah satu sekolah kita harus mempunyai kenalan didalamnya bisa saudara kita atau bisa teman dari orangtua kita jika tidak ada itu peluang untuk menjadi guru akan sangat susah sampai akhirnya saya mendapatkan sekolah yang terbaik menurut Allah yaitu sekolah swasta.

Ketika kuliah, saya sering membaca beberapa buku yang membahas tentang sikap seorang guru, saya beranggapan berkarir di dunia pendidikan akan menjadi perjalan karir yang sangat menyenangkan karena berada pada lingkungan dimana orang-orang yang mencintai ilmu berkumpul. Tapi ternyata anggapan itu saya belum temukan disekolah tersebut. Setiap akhir bulan yang sering dibahas adalah masalah Gaji. Iya. Tema yang sering saya dengan setiap hari, minggu sampai bulan adalah gaji. Saya berpikir kenapa masih mengharapkan uang di tempat yang mulia ini. Ini adalah sekolah dimana tempat ini kita berlomba-lomba untuk beribadah. Untuk saya yang baru pertama terjun di dunia pendidikan sebenarnya menjadi kaget melihat kenyataan di lapangan.

Ketika memutuskan menjadi guru, saya pun sudah memikirkan untuk menjadi guru yang mandiri secara finasial. Keinginan saya adalah mengajar dengan tenang dan fokus dalam mengembangkan potensi anak-anak tanpa harus memikirkan hal-hal lain terutama masalah gaji. Pada waktu gajian pertama saya pun kaget juga ketika saya dibayar hanya Rp 600.000 per bulan padahal secara kerja saya mengajar dari pagi sampai sore dari senin sampai sabtu. Mungkin ini yang disebut Kerja Superman dibayar Supermie.

Keinginan saya untuk menjadi guru mandiri finasial pun dimulai ketika saya masuk dibulan kedua. Kegiatan apa atau bisnis apa yang bisa saya lakukan dengan menghasilkan uang yang banyak tetapi tidak menggangu mengajar saya. Akhirnya saya memutuskan untuk terjun di bidang Teknologi. Iya teknologi. Keputusan yang saya ambil untuk bisa mewujudkan cita-cita saya. Bidang teknologi yang saya ambil adalah bidang web development dan Blog. Kebetulan saya dulu kuliah di Matematika jadi ada sedikit gambaran dengan alogaritma karena di jurusan saya ada 4 SKS belajar bahasa pemograman.

Selama empat bulan saya fokus untuk mempelajari bahasa pemograman dari mulai belajar HTML, CSS, Javascript dan PHP dan dalam empat bulan itu juga saya sudah mulai mencoba menjadi seorang content writer dari sebuah media online. Dari sana saya mencoba mendapatkan project-project selain sambil belajar saya juga sering mengajak guru-guru yang mau ikut tidak harus semuanya saya sering lebih menyarankan untuk memulai dari blog untuk guru-guru yang masih kurang di bidang Teknologi.

Sampai saat ini saya masih melakukan itu, saya juga sudah membuat beberapa tim dibidang programing dan blog. Menjadi guru adalah sebuah kewajiban maka fokuslah untuk mengajar untuk menjadikannya nilai ibadah. Masalah Rezeki biar Allah yang menentukan dan kita yang membuat jalannya.

Suka Duka Menjadi Guru

SUKA DUKAKU MENJADI GURU
Oleh: Dismi Fitri
 
Mendengar kata “Guru” tidak pernah terbayangkan olehku semasa kecil untuk menjadikan pekerjaan guru sebagai profesiku, apalagi menjadi seorang pendidik yang memiliki kharisma, berwibawa, profesional dan dapat menjadi inspirator untuk banyak orang khususnya bagi siswa siswinya.
 
Hal Yang ada dalam benakku ingin menjadi pegawai kantoran, karena menurutku pegawai kantoran merupakan pekerjaan yang mempunyai banyak uang dan bisa berpenampilan menarik serta cantik. Namun seiring berjalannya waktu sampai waktu setelah menyelesaikan Pendidikan Strata Satu jurusan Teknik Informatika saya mulai mencoba masuk menjadi Guru Honorer atau sebagai Guru Tidak Tetap disalah satu Sekolah Menengah Atas Negeri yang ada di Kabupatenku tepatnya Kabupaten Bengkulu Utara.
 
Disinilah menurutku pertualangan dalam babak baru hidupku dimulai resmi menjadi guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
 
Tanpa memiliki bekal ilmu yang cukup dalam kegiatan belajar mengajar, cara mengajar yang baik, cara penguasaan kelas, peserta didik atau apapun yang berhubungan dengan belajar mengajar karena memang bukan dari basic keguruan ilmu pendidikan, semua terasa meraba, samar dan sulit bagiku.
 
Beruntung dan bersyukurnya sifat mau mencoba dan mau berlajar dalam diriku mulai perlahan merubah semua keadaan sedikit mencair meskipun di sana sini sangat banyak sekali kekurangan. Dengan banyak bertanya dengan rekan-rekan sejawat yang senior menurutku sangatlah membantu.
 
Dalam perjalananku menjadi seorang guru khususnya guru mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi tentunya banyak kendala yang dihadapi salah satunya pasilitas atau sarana prasarana di sekolah tempatku mengajar yang tidak memadai hingga kemampuan siswa siswi yang masih awam sekali dengan komputer. Karena memang tempat tinggalku merupakan sebuah desa yang rata-rata penghasilan penduduknya adalah dari bertani. Jangankan untuk memiliki barang yang mewah untuk makan dan biaya sekolah anak-anak saja untung bisa terpenuhi.
 
Minimnya fasilitas serta sarana dan prasarana komputer yang ada di sekolah memaksaku bekerja ekstra untuk membuat siswa siswiku mengerti dan bisa menerapkan akan materi-materi Teknologi informasi dan Komunikasi yang kuajarkan. Tak heran kadang diri ini merasa seperti mengajarkan siswa siswi menghayal, karena materi yang seharusnya di praktekkan malah di ajarkan dengan cara teori dan hanya melihat gambar-gambar saja.
 
Di sisi lain dengan pekerjaan ini besaran honor yang diterima dari sekolah tempatku mengajar terbilang lumayan kecil itupun dibayar kadang tiga bulan sekali bahkan lebih. Sehingga bagaimana caraku semua kebutuhanku bisa terpenuhi mulai dari biaya transport, biaya pulsa dan biaya untuk makan.
 
Gejolak dalam hati ini sudah pasti ada. Walaupun dengan kondisi penghasilan yang terbilang minim anehnya profesi ini kujalani dengan rasa senang dan timbul dalam dadaku menyukai pekerjaan ini. Apalagi jika bertemu dengan siswa siswiku yang beraneka ragam pola tingkah laku dan kebiasaannya. Mulai dari yang baik, rajin, butuh perhatian, senang di sanjung atau bahkan butuh motivasi yang lebih. Ini semua membuatku semakin menjadi pribadi yang ingin terus belajar dan semakin merasa tertantang. Terlebih lagi dorongan hati merasa siswa siswiku butuh pengetahuan tentang Teknologi khususnya berhubungan dengan komputer. Karena yang kita ketahui yang namanya perkembangan teknologi selalu mengalami perkembangan yang sangat pesat.
 
Akhirnya profesi ini kujalani dari tahun ke tahun dan saat ini sudah hampir 10 tahun masa pengabdianku di sekolah ini. Banyak hal yang sudah kulalui dan sudah silih berganti pergantian pemimpin dengan berbagai macam karakter kepemimpinan yang diterapkan. Saat inipun dengan rasa syukur yang tiada duanya menyatakan senang bangga menjadi guru karena pekerjaan ini sungguh mulia. Dalam hati inipun tertanam ini adalah ladang amal bagiku, karena tidak bisa beramal lewat uang yang banyak, membangun sebuah masjid yang mewah namun beramal lewat ilmu yang bermanfaat. Aku ingin terus belajar dan semoga bisa menjadi manusia yang bisa menginspirasi banyak orang terutama bagi siswa siswiku.

Ketika Cucu Perwira Kecanduan Mengajar & Menulis

saksi-tronton

KETIKA CUCU PERWIRA KECANDUAN
MENGAJAR DAN MENULIS

Oleh : Jhon Anderson Hutapea, S.Pd
Guru : SMP Fatima 2 Sibolga

Daerah terpencil desa Siandor-Andor kabupaten Tapanuli Utara ayahku dilahirkan. Desa terpencil ini tidak ada listrik, jalan belum diaspal, sekolahpun tidak ada. Ayahku sering mengajak aku untuk berlibur mulai usiaku masih kecil hingga remaja. Masyarakat di desa itu sangat senang setiap kedatangan kami bahkan melayani segala keperluan yang kami butuhkan. Saya sering bertanya kepada ayahku, “Mengapa masyarakat desa ini sangat baik sekali kepada keluarga kita?’’, ternyata karena kakekku kepala kampung yang sangat baik di desa Siandor-Andor.

Kakekku seorang perwira tentara yang memiliki banyak prestasi ketika merebut kemerdekaan republik Indonesia, namanya Gading Hutapea. Kakekku mengakhiri jabatannya dan menjadi kepala desa di desa Siandor –Andor Tapanuli Utara. Setiap kali aku berlibur ke desa itu kakekku selalu menyuruh untuk mengajari anak-anak seusiaku untuk belajar membaca dan berhitung, aku selalu mengeluh kepada kakekku karena anak-anak SD seusiaku di desa itu tidak juga bisa menulis dan berhitung setelah aku ajari. Kakekku memberi petunjuk kepadaku bagaimana cara mengajari anak-anak SD di desa itu agar bisa menulis dan berhitung sambil berkata, “ Jangan khawatir mereka mengerti atau tidak yang penting kamu mengajari dengan iklas” dan akhirnya anak-anak SD di desa itu dapat menulis, membaca dan berhitung.

Kakekku melihat bahwa aku punya bakat menjadi guru dan beliau berpesan agar aku menjadi guru. Aku janji kepada kakekku bahwa aku akan menjadi guru dengan syarat kakekku harus membangun sekolah di desa ini baik SD mapun sekolah SMP. Janji kakekku ditepati bukan hanya sekolah yang dibangun tetapi listrikpun dimasukkan ke desa tersebut hingga jalanpun diperbaiki. Suatu ketika kakekku rindu dengan kedatanganku, dia menjemputku dari kota Sibolga untuk liburan ke desa tersebut. Hatiku sangat senang karena kakekku menunjukkan sekolah dan jalan yang dibangunnya, bukan hanya itu aku dan temanku sangat senang pada malam hari karena desa tersebut tidak gelap lagi karena listrik sudah masuk.

Kebahagiaan itu hilang ketika setahun kemudian kakekku meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya. Aku marah kepada semua orang karena kakekku tidak ada yang bisa menyembuhkannnya. Pada saat acara penguburan banyak para tentara dengan membawa senjata datang kepemakaman kakekku. Aku marah dan menangis sambil menyerukan, “Jangan tangkap kakekku…!” Ayahku menggendongku dan mengatakan, “ Itu semua teman kakekmu dan mereka ingin memberi penghormatan terakhir.”

Walaupun kakek dan nenekku sudah tiada namun aku tetap pergi berlibur ke desa itu setiap tahun. Saudara ayahku tidak ada yang tinggal di desa itu, semua merantau, ada yang dijakarta dan ada di Kalimantan. Masyarakat desa itu tetap baik dan selalu melayani kami setiap kedatangan kami ke desa tersebut. Sewaktu aku duduk di bangku SMP dan SMA, setiap liburan aku sering pergi ke desa tersebut ternyata anak-anak seusiaku selalu minta diajari baik pelajaran matematika dan bahasa inggris setiap malam hari tetapi pada siang hari anak-anak seusiaku minta diajari sepakbola. Dan ayahku membeli bola sehingga setiap hari kami bermain bola dengan gembira.
Masa anak-anak dan remajaku berakhir ketika aku lulus SMA. Aku mencoba mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Ketika itu aku bingung untuk memilih jurusan tapi aku ingat pesan kakekku agar aku menjadi guru. Ternyata aku lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN) dan mengambil Fakultas Keguruan Jurusan Matematika.
Ketika jadi mahasiswa ada tawaran menjadi tentor di bimbingan belajar ternyata lulus dan menjadi tentor di bimbingan belajar. Dua tahun menjadi tentor di bimbingan belajar dipercaya menjadi pimpinan di bimbingn belajar. Sejak menjadi mahasiswa aku tidak pernah liburan ke desa Siandor-Andor, kerinduanku tertahan dengan padatnya jadwal kuliah dan jadwal mengajar di bimbingan belajar. Tamat kuliah aku ditawarkan bekerja di instansi bank, perusahaan lainnya tetapi aku sudah kecanduan mengajar jadi kuputuskan untuk tetap menjadi pengajar dibimbingan belajar.

Ayahku sakit kanker memaksaku untuk pulang kekampung halamanku. Seminggu di kampung halamanku banyak anak-anak sekolah datang kerumah untuk belajar matematika mulai dari SD hingga SMA. Kepercayaan masyarakat padaku tentang bimbingan belajar pada anaka-anaknya membuat ayahku senang melihat keramaian dirumah walaupun kondisi ayahku sakit. Suatu ketika ada tawaran menjadi guru di sekolah swasta, mendengar hal ini ayahku meminta agar aku menjadi guru di sekolah tersebut.

Menjadi guru swasta di SMP Fatima 2 Sibolga dengan gaji kecil membuatku menjadi patah semangat. Namun keinginan ayahku yang besar membuat aku bertahan di sekolah tersebut. Namun banyaknya anak-anak sekolah lain yang ingin les privat membuatku kekurangan waktu bahkan banyak yang kutolak karena tidak ada waktu. Setiap hari aku mengajar dari pagi hingga malam hari membuat pengahasillanku menjadi besar. Namun dapat kulalui karena kecanduan mengajar ada dalam diriku. Suatu hari aku menyewa gedung untuk membuka bimbingan belajar karena banyak anak –anak yang meminta les matematika kepadaku.

Sebulan kubuka bimbingan belajar ternyata banyaknya siswa les dibimbingan belajar yang kubuka tiga ratus siswa . Hal ini mengundang perhatian pemilik gedung tersebut untuk menaikkan harga gedung yang tidak masuk akal. Tiga ratus siswa di bimbingan tersebut setengahnya tidak bayar uang les bagi siswa miskin, yatim maupun piatu karena program yang saya buat sebagai sosial untuk masyarakat kota Sibolga. Namun keterbatasan dana membuat saya berhutang kepada pemilik gedung dan akhirnya saya menyerahkan bimbingan belajar tersebut kepada sang pemilik gedung. Kesedihan saya terhadap bimbingan belajar yang sudah dua tahun saya bentuk ketika saya keluar dari bimbingan belajar tersebut dan nama bimbingan itu diganti. Namun selang setahun kemudian bimbingan belajar itu ditutup Karena tidak ada siswa lesnya. Banyaknya tawaran untuk mengajak kerjasama dalam membentuk bimbingan les membuat saya trauma dan takut untuk membuka kembali bimbingan belajar.

Saya mencoba untuk tidak mengajar les di bimbingan belajar manapun dengan beralih mengikuti segala kegiatan lomba-lomba guru antara lain lomba guru berprestasi, lomba olimpiade guru nasional, lomba kreatifitas guru, lomba inovasi pembelajar bahkan lomba menulis buku literasi tingkat nasional. Semua lomba yang saya ikuti pernah meraih juara 1 tingkat kota, provinsi hingga menjadi finalis tingkat nasional.
Meskipun saya guru swasta dengan gaji yang kecil tidak menjadi penghalang untuk berprestasi diberbagai kompetisi dengan peserta lomba guru-guru PNS dan sudah sertifikasi. Prestasi yang saya raih sebagai guru, itu semua berkat kecanduan saya mengajar dan menulis sejak kecil yang ditanamkan oleh kakek saya Gading Hutapea perwira tentara sang pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia.

PENGALAMAN MENGAJAR DI SMP NEGERI 2 ARUT SELATAN

20160126_101713PENGALAMAN MENGAJAR DI SMP NEGERI 2 ARUT SELATAN

Nama lengkap saya Agustini Rahmadany Rachman S.Kom, Saya lulusan Universitas Dian Nusantoro Semarang tahun 2002 dengan jurusan Sistem Informasi, setelah selesai kuliah Saya pulang ke kampung halaman yaitu di kota Manis Pangkalan Bun Kalimantan tengah, sengaja Saya pulang ke kampung karena kalau mencari pekerjaan di kota banyak saingannya dan orang tua juga menginginkan agar Saya mencari pekerjaan di kampung halaman saja.

Beberapa bulan Saya sempat menganggur dan Saya pernah mengajar di tempat kursus komputer. Tahun 2004 Saya ikut test CPNS di kota Saya. Saya mendaftar CPNS dengan jurusan umum, namun Saya gagal tidak lulus test saat itu.

Saya mendapatkan informasi tahun depan yaitu tahun  2005 akan dibuka kembali test CPNS dan yang banyak dibutuhkan adalah tenaga guru dan kesehatan. Orang tua Saya menginginkan Saya untuk menjadi seorang Pegawai Negeri. Saya pun berpikir apakah Saya harus menjadi seorang guru agar bisa diterima menjadi seorang Pegawai Negeri?, akhirnya Saya mengambil akta mengajar dengan sekolah kembali selama satu tahun di Universitas Palangka Raya yaitu di provinsi Palangka Raya.

Setelah lulus dan mendapatkan ijasah Akta mengajar saya mencoba mengajar di sekolah swasta yaitu SMP Islam Al Hasyimiyyah di kota Saya. Saya diminta mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia dan TIK. Pertama kali mengajar Saya merasa gugup karena memang Saya tidak terbiasa berbicara di depan orang banyak.

Baru beberapa bulan Saya mengajar di sekolah tersebut pada tahun 2005 kembali dibuka penerimaan CPNS di daerah Saya, Sayapun ikut test CPNS kembali dengan mengambil formasi sebagai guru. Waktu itu Saya memilih menjadi guru SMP.

Alhamdulillah Saya diterima menjadi seorang Pegawai Negeri, sujud syukur Saya berterima kasih kepada Allah SWT, atas terkabul nya doa Saya dan Orang tua Saya. Pada saat saya menerima SK penempatan, Saya ditetapkan mengajar di SMP Negeri 2 Arut Selatan di kota Pangkalan Bun Kalimantan tengah sampai sekarang.

Pertama kali Saya mengajar di SMP Negeri 2 Arut Selatan Saya tidak langsung mengajar mapel TIK tetapi Saya di beri jam mengajar mapel Kesenian karena pada saat itu sekolah masih bekerja sama dengan sebuah lembaga untuk pengadaan komputer berserta guru pengajarnya. Berat sekali rasanya harus mengajar mata pelajaran yang tidak Saya kuasai, walaupun hanya mapel Kesenian, Saya harus mengajar menyanyi dengan suara yang pas-pasan serta mengajar menggambar dengan keahlian seadanya, tetapi ada perasaan senang melihat hasil gambaran siswa Saya lebih bagus dari gambaran Saya.

Alhamdulillah tahun ajaran baru Saya sudah diberi jam mengajar mapel TIK, Saya mengajar dengan senang hati walaupun dengan peralatan komputer yang terbatas yaitu hanya 20 PC untuk jumlah siswa 38 – 40 orang. Jadi satu PC digunakan untuk 2 orang secara bersama-sama, walaupun agak kesulitan juga karena terkadang yang bekerja dengan komputer hanya siswa yang pandai saja sedangkan yang merasa tidak bisa malah diam saja.

Kemampuan siswa belajar komputer sangat minim sekali karena rata-rata siswa baru mendapatkan pelajaran komputer di SMP, bahkan mereka  tidak punya komputer ataupun laptop di rumahnya. Sehingga Saya harus dengan sabar mengajarkan mereka sampai mereka mampu membuat atau mengolah sesuatu dengan komputer. Saya tekankan kepada siswa Saya  semua harus sama-sama bisa menggunakan komputer karena pada saat ulangan TIK nanti akan Saya ujikan secara perorangan, agar Saya tahu mana siswa yang sudah bisa dan mana yang belum bisa.

Untuk mengajar mapel TIK Saya berbagi jam mengajar dengan guru mata pelajaran lainnya karena Saya hanya seorang diri sebagai guru TIK di sekolah Saya. Kami bergantian menggunakan ruangan Laboratorium Komputer karena sekolah kami hanya memiliki satu Laboratorium Komputer, walaupun jadwal penggunaan Laboratorium Komputer bisa bersamaan dengan kelas yang lainnnya sehingga ada kelas yang diajarkan teorinya saja terutama untuk siswa kelas 7. Sekolah Saya termasuk sekolah terbesar di kota Pangkalan Bun dengan jumlah kelas 27 rombel.

Demikian pengalaman mengajar pribadi Saya, semoga Saya bisa menjadi guru terbaik untuk siswa – siswa Saya, Aamiin. Mohon maaf apabila ada yang salah dari penulisan artikel ini.

Kesulitan Membuahkan Kreativitas

Kesulitan Membuahkan Kreativitas

Oleh: Ajun Pujang Anom

DWITAGAMA BUNDA KANDUNG2

                Tepat, tanggal 1 Agustus 2018, saya enam belas tahun “resmi” menjadi guru. Tentulah dari sekian tahun tadi, menemui banyak suka dan dukanya. Apalagi saya mengalami dua pengalaman mengajar, di tempat yang sungguh berbeda. Yang pertama, di pusat kota, di salah satu sekolah favorit. Sekolah ini lengkap dengan segala fasilitasnya. Gudangnya guru dan siswa yang berprestasi, bahkan level dunia. Yang kedua, di pelosok desa. Di sebuah sekolah yang berdekatan dengan perbatasan kabupaten. Sekolah yang jauh dari kata “unggul”. Untuk mendapatkan siswa pun, harus kerja ekstra keras. Di sini, mental menjadi guru pun digodok. Tradisi minum miras sejak usia sekolah, menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana mengajarkan nilai-nilai kepositifan kepada anak didik, agar tak tertular virus tersebut. Hal ini merupakan upaya yang terus dikerjakan. Meski bukan perkara yang mudah. Karena ini menyangkut kebiasaan dan pola pikir sehari-hari.

Apalagi ditunjang dengan rendahnya pendidikan. Rerata yang berusia di atas 30 tahun, hanya mengenyam bangku pendidikan sekolah dasar. Hal mana membuat saya menjadi terkejut bukan alang-kepalang. Sebab dalam radius tiga kilometer, terdapat SMP, SMA, dan lembaga pendidikan yang sederajat, yang telah lama berdiri. Belum lagi, ada MI dan MTs Satu Atap yang berhadapan dengan SD saya. Apa yang membuat para orang tua, mempunyai minat yang rendah untuk menyekolahkan putra-putrinya? Usut punya usut, pendidikan hanyalah dikira kebutuhan agar mampu baca, tulis, dan berhitung. Jadi cukup SD sajalah tak perlu tinggi-tinggi. Di samping itu, kondisi alam yang sangat kontras. Pada musim kemarau, sangat kering. Sehingga antrian menimba air di mata air, sudah mengular sejak jam 3 pagi. Saat musim penghujan terjadi banjir dan jalanan pun berlumpur. Mungkin dua kondisi yang menyusahkan ini, membuat mereka menjadi abai terhadap pentingnya pendidikan. Kalaupun memaksa untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, kemiskinan sudah menghadang mereka. Jadi satu-satunya jalan untuk lepas, adalah secepatnya bekerja. Apakah bantuan pemerintah tak ada? Ada, tapi tak mampu menambal kebutuhan hidup sehari-hari yang mencekik leher.

Meskipun begitu, kini perlahan-lahan mulai sirna. Akses jalan diperbaiki, walau belum semuanya. Saat ini membuat transportasi menjadi jauh lebih mudah. Gotong royong warga untuk mengatasi kekeringan melalui lewat sumur bor juga menuai hasil. Dan di bagian ini, sekolah paling tidak mempunyai andil. Lahan sekolah yang cukup luas dijadikan area untuk beberapa sumur bor. Selain itu, sekolah juga mendorong orang tua agar mau menyekolahkan anak-anaknya lewat pertemuan-pertemuan warga. Sedangkan di bidang peningkatan ekonomi, juga memberi bantuan berupa kambing bergilir. Kambing bergilir ini maksudnya, wali murid yang kurang mampu, diberi satu ekor kambing betina untuk dirawat. Jika sudah mempunyai seekor anak, induknya tadi dikembalikan ke sekolah. Dan sekolah kemudian menggilirnya ke yang lain, demikian seterusnya.

Akhirnya pendekatan sekolah ini membuahkan hasil. Kini, tak ada lagi botol-botol bekas minuman keras berserakan di depan kelas. Anak-anak menjadi lebih santun. Tumbuhnya pula kesadaran orang tua untuk mengejar ketertinggalan, dengan menyekolahkan anaknya ke jenjang lebih tinggi. Tidak cuma di SD saja.

Dan ini tidak terlepas dari usaha peningkatan internal sekolah. Untuk peningkatan internal sekolah, saya dan rekan-rekan guru membuat beberapa program pengembangan diri. Program ini bertujuan untuk menemukan dan mengembangkan potensi yang ada. Program pengembangan diri ditangani secara bersama-sama. Meski juga ada penanggung jawabnya. Untuk pribadi saya, mendapat amanah bidang kesehatan, kepramukaan, dan literasi. Khusus literasi ini, peserta didik diharapkan membuat hasil karya bmerupa buku. Dan semoga akhir tahun ini, sudah ada hasilnya.

Di samping itu, saya juga mengembangkan sebuah manajemen kelas, yang saya sebut “Kelas Ceria”. Manajemen ini mengatur hubungan guru dan murid yang lebih hangat. Mindset guru tidak sekedar mencerdaskan siswa, namun juga membuat siswa menjadi bahagia. Jika bahagia, sesulit apapun materi pelajaran, akan mudah dilahap oleh siswa. Perjalanan manajemen kelas ini sudah memasuki usia dua tahun. Dan saya uji-cobakan ke kelas yang saya ajar. Belum ke saya wacanakan ke teman guru dalam satu lingkup sekolah, karena untuk melihat dulu efektifitasnya. Walaupun begitu, sudah saya kembangkan ke sekolah lainnya, dalam berbagai jenjang. Dengan pendampingan sederhana, dan responnya cukup bagus. Kelak manajemen kelas ini, akan saya bukukan. Dan bapak/ibu guru nantinya dapat mengamati seberapa dalam jangkauan manajemen ini dalam pengelolaan kelas.

Demikianlah kisah pengalaman saya menjadi guru. Memang belum seutuhnya. Namun yang sepenggal ini, mungkin ada guna dan manfaatnya. Amin.

Bojonegoro, 3 Agustus 2018