Tag Archives: isminatun

Resensi Buku Menulislah Setiap Hari

RESENSI BUKU

Oleh: Isminatun

tik-buku

Judul Buku      : Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi

Penulis             : Wijaya Kusumah, S. Pd., M. Pd.

Editro              : Yuan Acitra, S. E.

Penerbit           : Indeks

Tahun Terbit    : Cetakan Pertama, 2012

Kota Terbit      : Jakarta

Tebal Buku      : 302 halaman + xi

 

RESENSI

Buku berjudul Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi ditulis oleh seorang guru sekaligus blogger yang amat intens menulis.

Buku tersebut terdiri dari tujuh puluh lima subjudul (artikel) yang sangat bermanfaat bagi pembaca, terutama yang ingin belajar menulis. Artikel pertama berjudul Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi, sedangkan artikel terakhir berjudul Berkat Menulis Aku dapat Ipad. Buku tersebut menjelaskan pentingnya menulis setiap hari, bagaimana menyiasati agar dapat menulis setiap hari, baca buku buka dunia, gampangnya menulis, hingga menumbuhkan kreativitas dalam menulis.

Pada buku tersebut diuraikan Tips menulis efektif yang biasa dilakukan sebagai seorang blogger adalah sebagai berikut.

  1. Tuliskan saja apa yang ada di depan mata.
  2. Tentukan tujuan untuk apa Anda menulis.
  3. Siapa yang Anda tuju untuk pembaca tulisan itu?
  4. Pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada pembaca?
  5. Biarkan jari jemari Anda menari menyelesaikan irama nada dalam otak Anda.
  6. Simpan dulu, jangan langsung di-posting. Berpikirlah sebelum mem-posting.
  7. Buka kembali tulisan Anda, baca kembali perlahan-lahan.
  8. Tambahkan beberapa kata atau kalimat efekif yang membuat pesan Anda sampai.
  9. Simpan kembali, dan jangan dulu di-publish. Cek kembali apakah pesan Anda sudah sampai ke pembaca.
  10. Buka kembali, dan baca dengan hati-hati sekali lagi tulisan Anda, jika sudah yakin, maka klik posting atau publish.

Empat Tips menulis juga diuraikan pada buku tersebut.

  1. Jangan menulis di kala sudah mengantuk.
  2. Banyaklah membaca.
  3. Tuliskan apa yang Anda rasakan saat ini.
  4. Lakukan proses editing, dan tambahkan cantelan beberapa buah teori dari buku bila

tulisan Anda berbau ilmiah.

Kata-kata atau kalimat motivasi akan kita jumpai dalam buku ini. Perjumpaan dengan penulis-penulis hebat juga diuraikan secara lugas dan renyah dalam buku tersebut. Banyak sekali manfaat yang akan Anda dapat jika berkenan membaca buku tersebut dari awal hingga akhir. Penggunaan bahasa yang komunikatif serta enak dibaca menyebabkan merupakan daya tarik tersendiri. Ejaan yang nyaris sempurna dan hampir tak ada kesalahan melengkapi keunggulan buku tersebut. Satu-satunya yang menjadi masukan adalah adanya informasi yang terulang.

 

 

Lelahku Terbayar Lunas

LELAHKU TERBAYAR LUNAS

Isminatun

            Tanggal 7 Mei 2018 adalah hari yang sangat melelahkan bagiku. Sebab pukul 07.00 tanggal tersebut merupakan batas akhir pengiriman naskah Lomba Menulis Esai tingkat SMP kabupatenku. Diriku sudah bertekad bulat untuk membimbing siswa kelas VII. Padahal, mereka belum paham apa yang disebut esai. Siswa kelas VIII tak ada yang mau mengikutinya, begitu kata kawanku guru kelas VIII. Kuputuskan untuk memilih bibit dari kelas VII. Masih kuingat jelas prinsip MAN JADDA WAJADA seperti yang dideskripsikan dengan jelas dalam novel Negeri 5 Menara.

Deadline pada tanggal tersebut tidak menjadi masalah jika tak ada kegiatan sebelumnya. Sayangnya, sepekan sebelumnya (terakhir tangal 7 Mei) berlangsung Bintek Kurikulum 2013 yang memaksa diriku terlibat di dalamnya. Praktis, waktu pembimbingan berkurang satu pekan. Ditambah lagi tanggal 6 ada rekan yang punya kerja.

Karena niat telah ditancapkan, usaha harus dimaksimalkan. Tanggal enam malam, sepulang jagong, berusaha menegakkan kepala dan tetap membuka mata tuk cermati karya siswa berupa esai. Jadilah editor di tengah malam. Satu dua kesalahan masih didapatkan. Tetap konsisten di depan komputer hingga larut malam. Pukul 01.15 berhasil mengirim email ke panitia. Pukul 02.00 selesai mengeprin karya siswa tersebut untuk kemudian djilid rapi. Sayang, persediaan mika sedang tidak ada. Namun, malam itu bisa tidur nyenyak sebab telah berhasil mengirimkan karya siswa kepada panitia via email dan siap mengantarkan karya cetak sebelum batas akhir pengiriman.

Tanggal 9 Mei hari penjurian karya esai siswa. Alhamdulillah, esai bimbingan saya masuk nominasi sepuluh besar meski pada urutan terakhir. Mulai berpikir lagi bagaimana cara menerobos masuk tiga besar. Tak ada target besar untuk menjadi teratas. Paling tidak, bisa membawa pulang trophy. Itulah target utama.

Latihan tetap harus digalakkan dan ditingkatkan. Ada waktu dua hari untuk mempersiapkan presentasi pada babak final. Tak urung siswa kuminta datang ke rumah. Tanggal 10 Mei merupakan hari libur. Namun, pada waktu itu ada jatah mengisi Bimtek untuk guru-guru SD. Jadilah kubuat janji untuk melatih siswa sepulang Bimtek.

Latihan di rumah kulakukan meski badan sudah tidak karuan. Maklum, badan yang minta istirahat terpaksa tak diistirahatkan. Rasa lelah timbul tenggelam. Namun, tetap ada semangat untuk menjadi pemenang. Salah satu trophy harus berhasil kubawa pulang. Kan kupersembahkan kepada sekolah yang sekian lama ku mengabdi di dalamnya.

Hari final datang. Persiapan yang dilakukan tuk berlaga di babak final tak perlu diragukan. Semua peserta mempresentasikan karyanya dengan lantang. Tiada yang dapat dilakukan kecuali usaha dan doa. Sebab semua usaha tlah dilakukan.

Saat-saat menegangkan adalah mendengarkan pengumuman. Tropy telah disiapkan bersama uang pembinaan. Semua peserta dan guru pendamping menantinya dengan harap-harap cemas. Alhamdulillah, panitia mengumumkan bahwa siswaku berhasil membawa pulang salah satu trophy yang telah disiapkan.

Saat-saat menggembirakan kunikmati berdua dengan siswa bimbingan. Foto penerimaan piala kukirim kepada pimpinan sekolah. Terdeteksi bahwa beliau membaca doang. Tanpa jawaban dan tanpa komentar. Terima kasih pun tak terucapkan.

Ingin rasanya kuledakkan kemarahan. Mengapa sama sekali tak ada tanggapan? Sementara pemenang dari sekolah lain disambut dengan gegap gempita. Setiap saat pimpinan sekolah menanyakan kabar. Memberi ucapan selamat kepada pembimbingnya.

Marah dan kecewaku mereda setelah hati tercabik-cabik. Muncul kesadaran, untuk apa mengharap ucapan terima kasih? Untuk apa ucapan selamat? Toh, semua yang terjadi adalah sebagai ujian keimanan. Jangan-jangan ini merupakan ujian Allah akan keikhlasanku dalam beramal. Hanya mengharapkan imbalan dan pujian dari manusia? Uih, betapa rendah apa yang kuharapkan.

Kutatap trophy dan senyum siswaku yang berbinar. Ada kegembiraan terpancar darinya. Ada pilu saat mendengar jawab pertanyaan yang kuajukan, “Kan kuserahkan kepada ibu untuk membantu membayar uang kontrakan.” Itulah jawaban menggetarkan yang sungguh di luar dugaan.

Terbayar lunaslah lelahku membimbingnya. Senyum tipis disertai air bening mengiringi sepanjang perjalanan pulang. Teriring istigfar di sepanjang jalan.