Tag Archives: jhon anderson hutapea

Ketika Cucu Perwira Kecanduan Mengajar & Menulis

saksi-tronton

KETIKA CUCU PERWIRA KECANDUAN
MENGAJAR DAN MENULIS

Oleh : Jhon Anderson Hutapea, S.Pd
Guru : SMP Fatima 2 Sibolga

Daerah terpencil desa Siandor-Andor kabupaten Tapanuli Utara ayahku dilahirkan. Desa terpencil ini tidak ada listrik, jalan belum diaspal, sekolahpun tidak ada. Ayahku sering mengajak aku untuk berlibur mulai usiaku masih kecil hingga remaja. Masyarakat di desa itu sangat senang setiap kedatangan kami bahkan melayani segala keperluan yang kami butuhkan. Saya sering bertanya kepada ayahku, “Mengapa masyarakat desa ini sangat baik sekali kepada keluarga kita?’’, ternyata karena kakekku kepala kampung yang sangat baik di desa Siandor-Andor.

Kakekku seorang perwira tentara yang memiliki banyak prestasi ketika merebut kemerdekaan republik Indonesia, namanya Gading Hutapea. Kakekku mengakhiri jabatannya dan menjadi kepala desa di desa Siandor –Andor Tapanuli Utara. Setiap kali aku berlibur ke desa itu kakekku selalu menyuruh untuk mengajari anak-anak seusiaku untuk belajar membaca dan berhitung, aku selalu mengeluh kepada kakekku karena anak-anak SD seusiaku di desa itu tidak juga bisa menulis dan berhitung setelah aku ajari. Kakekku memberi petunjuk kepadaku bagaimana cara mengajari anak-anak SD di desa itu agar bisa menulis dan berhitung sambil berkata, “ Jangan khawatir mereka mengerti atau tidak yang penting kamu mengajari dengan iklas” dan akhirnya anak-anak SD di desa itu dapat menulis, membaca dan berhitung.

Kakekku melihat bahwa aku punya bakat menjadi guru dan beliau berpesan agar aku menjadi guru. Aku janji kepada kakekku bahwa aku akan menjadi guru dengan syarat kakekku harus membangun sekolah di desa ini baik SD mapun sekolah SMP. Janji kakekku ditepati bukan hanya sekolah yang dibangun tetapi listrikpun dimasukkan ke desa tersebut hingga jalanpun diperbaiki. Suatu ketika kakekku rindu dengan kedatanganku, dia menjemputku dari kota Sibolga untuk liburan ke desa tersebut. Hatiku sangat senang karena kakekku menunjukkan sekolah dan jalan yang dibangunnya, bukan hanya itu aku dan temanku sangat senang pada malam hari karena desa tersebut tidak gelap lagi karena listrik sudah masuk.

Kebahagiaan itu hilang ketika setahun kemudian kakekku meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya. Aku marah kepada semua orang karena kakekku tidak ada yang bisa menyembuhkannnya. Pada saat acara penguburan banyak para tentara dengan membawa senjata datang kepemakaman kakekku. Aku marah dan menangis sambil menyerukan, “Jangan tangkap kakekku…!” Ayahku menggendongku dan mengatakan, “ Itu semua teman kakekmu dan mereka ingin memberi penghormatan terakhir.”

Walaupun kakek dan nenekku sudah tiada namun aku tetap pergi berlibur ke desa itu setiap tahun. Saudara ayahku tidak ada yang tinggal di desa itu, semua merantau, ada yang dijakarta dan ada di Kalimantan. Masyarakat desa itu tetap baik dan selalu melayani kami setiap kedatangan kami ke desa tersebut. Sewaktu aku duduk di bangku SMP dan SMA, setiap liburan aku sering pergi ke desa tersebut ternyata anak-anak seusiaku selalu minta diajari baik pelajaran matematika dan bahasa inggris setiap malam hari tetapi pada siang hari anak-anak seusiaku minta diajari sepakbola. Dan ayahku membeli bola sehingga setiap hari kami bermain bola dengan gembira.
Masa anak-anak dan remajaku berakhir ketika aku lulus SMA. Aku mencoba mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Ketika itu aku bingung untuk memilih jurusan tapi aku ingat pesan kakekku agar aku menjadi guru. Ternyata aku lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN) dan mengambil Fakultas Keguruan Jurusan Matematika.
Ketika jadi mahasiswa ada tawaran menjadi tentor di bimbingan belajar ternyata lulus dan menjadi tentor di bimbingan belajar. Dua tahun menjadi tentor di bimbingan belajar dipercaya menjadi pimpinan di bimbingn belajar. Sejak menjadi mahasiswa aku tidak pernah liburan ke desa Siandor-Andor, kerinduanku tertahan dengan padatnya jadwal kuliah dan jadwal mengajar di bimbingan belajar. Tamat kuliah aku ditawarkan bekerja di instansi bank, perusahaan lainnya tetapi aku sudah kecanduan mengajar jadi kuputuskan untuk tetap menjadi pengajar dibimbingan belajar.

Ayahku sakit kanker memaksaku untuk pulang kekampung halamanku. Seminggu di kampung halamanku banyak anak-anak sekolah datang kerumah untuk belajar matematika mulai dari SD hingga SMA. Kepercayaan masyarakat padaku tentang bimbingan belajar pada anaka-anaknya membuat ayahku senang melihat keramaian dirumah walaupun kondisi ayahku sakit. Suatu ketika ada tawaran menjadi guru di sekolah swasta, mendengar hal ini ayahku meminta agar aku menjadi guru di sekolah tersebut.

Menjadi guru swasta di SMP Fatima 2 Sibolga dengan gaji kecil membuatku menjadi patah semangat. Namun keinginan ayahku yang besar membuat aku bertahan di sekolah tersebut. Namun banyaknya anak-anak sekolah lain yang ingin les privat membuatku kekurangan waktu bahkan banyak yang kutolak karena tidak ada waktu. Setiap hari aku mengajar dari pagi hingga malam hari membuat pengahasillanku menjadi besar. Namun dapat kulalui karena kecanduan mengajar ada dalam diriku. Suatu hari aku menyewa gedung untuk membuka bimbingan belajar karena banyak anak –anak yang meminta les matematika kepadaku.

Sebulan kubuka bimbingan belajar ternyata banyaknya siswa les dibimbingan belajar yang kubuka tiga ratus siswa . Hal ini mengundang perhatian pemilik gedung tersebut untuk menaikkan harga gedung yang tidak masuk akal. Tiga ratus siswa di bimbingan tersebut setengahnya tidak bayar uang les bagi siswa miskin, yatim maupun piatu karena program yang saya buat sebagai sosial untuk masyarakat kota Sibolga. Namun keterbatasan dana membuat saya berhutang kepada pemilik gedung dan akhirnya saya menyerahkan bimbingan belajar tersebut kepada sang pemilik gedung. Kesedihan saya terhadap bimbingan belajar yang sudah dua tahun saya bentuk ketika saya keluar dari bimbingan belajar tersebut dan nama bimbingan itu diganti. Namun selang setahun kemudian bimbingan belajar itu ditutup Karena tidak ada siswa lesnya. Banyaknya tawaran untuk mengajak kerjasama dalam membentuk bimbingan les membuat saya trauma dan takut untuk membuka kembali bimbingan belajar.

Saya mencoba untuk tidak mengajar les di bimbingan belajar manapun dengan beralih mengikuti segala kegiatan lomba-lomba guru antara lain lomba guru berprestasi, lomba olimpiade guru nasional, lomba kreatifitas guru, lomba inovasi pembelajar bahkan lomba menulis buku literasi tingkat nasional. Semua lomba yang saya ikuti pernah meraih juara 1 tingkat kota, provinsi hingga menjadi finalis tingkat nasional.
Meskipun saya guru swasta dengan gaji yang kecil tidak menjadi penghalang untuk berprestasi diberbagai kompetisi dengan peserta lomba guru-guru PNS dan sudah sertifikasi. Prestasi yang saya raih sebagai guru, itu semua berkat kecanduan saya mengajar dan menulis sejak kecil yang ditanamkan oleh kakek saya Gading Hutapea perwira tentara sang pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia.