Tag Archives: laily amin fajariah

Belajar Menulis Bersama Omjay di Pertemuan Perdana

Belajar Menulis bersama Om Jay

Oleh Laily Amin Fajariyah

Tugas 1 Laily Amin F 

Perkenalkan, aku Laily Amin Fajariyah. Murid-muridku memanggilku Miss Laily. Aku adalah Guru Bahasa Inggris di SMPN 5 Panggang, Gunungkidul, Yogyakarta. Sebagai guru aku tak ingin habiskan hidupku hanya untuk administrasi sejenis RPP yang membuatku jemu. Aku ingin lebih dari sekedar guru SMP yang hanya tahu ngajar-pulang melulu. Aku ingin menjadi penulis buku.

Hasratku untuk menulis dan menerbitkan buku sudah lama kumiliki. Sampai akhirnya di group Lomba paling bergengsi di Nusantara yang bernama INOBEL aku beruntung membaca sebuah pengumuman. Pengumuman itu disampaikan oleh Bapak Wijaya Kusumah guru TIK inspirator yang kutemui di INOBEL September lalu di Kuta Bali, Om Jay begitulah sapaan atau panggilan akrab untuknya.

Om Jay membuka kelas belajar menulis secara daring melalui group WA. Tanpa ragu, akupun mendaftarkan diriku dan berharap keinginanku untuk menulis dan menerbitkan buku bisa tercapai. Singkat cerita, aku telah tergabung dalam group itu. Ada sekitar 45-an guru dari berbagai wilayah di Indonesia yang menjadi “murid” Om Jay di group tersebut.

Jam pelajaran pertama pun ditetapkan dilaksanakan pada hari Minggu jam 19.00 WIB. Sebenarnya aku sedikit pesimis bisa megikutinya mengingat hari Minggu adalah hariku menjadi inem dan baby sister alias ART-ku libur. Hari itu setelah aku, suamiku, dan anakku menghabiskan waktu bermain dan belajar, aku teringat ada kelas menulisku. Aku sedikit terlambat bergabung. Guru-guru lain sudah aktif di group. Saat jam 19.45-an aku membuka WA-ku. Aku mencoba mengikuti perkuliahan dari awal meskipun tertinggal.

Materi pertemuan pertama adalah tentang bagaimana menulis, tepatnya mulai menulis. Ada banyak peserta pelatihan lain yang mempunyai kegalauan yang sama denganku. Apa yang perlu ditulis, apa yang menarik untuk diterbitkan, bagaimana menjaga motivasi agar tetap menulis sampai bagaimana menerbitkan tulisan kita. Aku menjadi pembaca senyap, semua pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi tanya dalam diriku sehingga menulis buku masih menjadi mimpi yang belum juga terealisasi. Aku tak ikut mengajukan pertanyaan, namun ku simak obrolan di group. Setiap pertanyaan dijawab dengan sabar oleh sang master, siapa lagi kalau bukan Om Jay.

Apakah yang harus kita tuliskan dan bidang apa yang bagus untuk ditulis dan diterbitkan? Tepat sekali. Kegalauan di hati ini tentang apa yang kan kutuliskan dan apa yang layak untuk diterbitkan? Om Jay pun menjawab, “TULISLAH YANG KAMU SUKAI DAN KAMU KUASAI” Yeah memang segala sesuatu yang kita sukai atau kuasai akan menjadi langkah awal pembuka untuk menjadi penulis.

Aku pun bertanya pada diriku? Apa yang aku sukai? Apa yang aku kuasai? Dan kuputuskan aku akan menuliskan best practice ku tentang cerita digital dalam pembelajaran. Kenapa? Karena aku menyukai dan semoga lumayan menguasainya. Untuk pertanyaan ini aku teringat salah satu guru yang menanyakan bagaimana bila yang disukai bukan sesuatu yang kita kuasai? Pertanyaan bagus dan dijawab dengan bagus juga, maka “BANYAK LAH MEMBACA” Poin ini jugalah yang ku tangkap di kelas pertama ku. Bahwa untuk bisa menulis saya perlu membaca. Ada istilah yang Om Jay sampaikan dengan istilah ATM (yang tentu singkatannya bukan”Aku Takkan Memiliki”nya Cafeine) Melainkan, “AMATI, TIRU, dan MODIFIKASI”.

Saya setuju, sebagai penulis pemula tentu masih perlu mengikuti contoh-contoh yang ada. Dan membaca karya-karya atau buku lain serta mengamatinya bisa menjadi aktivitas pencarian inspirasi dan ide. Fase berikutnya setelah mengamati adalah tiru dan modifikasi. Di sinilah letak kita berlatih menulis namun dengan modifikasi kita bisa menghindari plagiarisme. Materi ini pun membuatku bertekad untuk mulai membaca lagi, membaca jurnal-jurnal dan juga buku yang bisa menjadi sumber inspirasiku.

Sebenarnya menulis buku itu bukan hal baru, namun selama ini bukuku hanyalah buku bahan ajar yang kukembangkan untuk lembagaku. Aku punya sebuah lembaga Bahasa di mana orang-orang Korea Selatan belajar Bahasa Indonesia dan orang-orang Indonesia belajar Bahasa Korea serta Bahasa Inggris. Selama ini buku yang kutulis hanyalah bahan ajar yang diperuntukkan untuk murid-muridku itu. Aku mulai berpikir, aku ingin belajar lebih lagi agar karyaku bisa bermanfaat untuk orang yang lebih banyak dalam lingkaran yang lebih luas. Akupun mencoba menulis kumpulan puisi dan buku best practiceku. Namun, kumpulan puisiku itu kini baru beberapa lembar saja dan best practiceku praktis mandeg di Bab II untuk sekian lama.

Melalui group belajar menulis bersama Om Jay ini, aku kembali terbangun. Hasrat untuk menulis  dan menerbitkan buku kian menggebu. Jujur dalam impianku, aku ingin menghadiahi diriku dengan buku karyaku yang sudah kuterbitkan di hari ulang tahunku yang tinggal beberapa minggu. Mungkinkah? Entahlah. Tidak ada salahnya mencoba.

Ada banyak yang ingin kutulis dan jadikan buku selain best practiceku, di antaranya kisah-kisah bahagia atau piluku dalam sebuah kumpulan curahan kalbu, serta aku ingin berbagi tentang pengalamanku menjalani pernikahanku yang sangat seru. Aku ingin menceritakan kisah cintaku dan seninya menjadi istri seorang expat alias warga negara asing, apa yang perlu dikuasai dari urusan administrasi kelurahan sampai hubungan dengan imigrasi sampai ke kelas budaya yang ku alami setiap hari. Sanggupkah keinginanku untuk menjadikan kisahku menjadi buku tercapai? Kupikir kelas menulis Om Jay akan sangat membantu. Semangat.