Tag Archives: menulis

Belajar Menulis Bersama Pak Dudung Nurullah Koswara

WhatsApp Image 2020-01-18 at 20.11.35Resume Belajar Menulis Gelombang 2 bersama OM Jay –Pertemuan 3

Di pertemuan ketiga ini bertindak sebagai moderator Bapak Wijaya Kusuma, https://wijayalabs.wordpress.com/ dan Narasumbernya Bapak Dudung Nurullah Koswara https://www.facebook.com/dudung.koswara.7 (Ketua PB PGRI)

Baca lebih lanjut

Belajar Mengelola Sekolah Bersama Bu Betti Risnalenni

Bismillahirrahmaanirrahim..

Selamat malam dan selamat bergabung kepada seluruh peserta MENULIS BERSAMA OMJAY DI WA GROUP.

Apa kabar teman-teman sekalian? Semoga senantiasa dalam lindungan Allah Swt..

InsyaAllah sebentar lagi kita akan melaksanakan Seminar Online. Semoga kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berkah dari Seminar Online ini..
Pertama-tama izinkan saya memperkenalkan diri
*Nama : Intan Rahmadani
Instansi : Mahasiswi Sastra Inggris Uin Bandung

Saat ini saya diberi amanah oleh Super Seminar untuk menjadi moderator pada grup online hari ini☺🙏

Haloo, selamat malam bapak ibu sekalian. Semoga kita semua bisa belajar bersama hari ini.😊✨
Narasumber Super Seminar kali ini adalah BETTI RISNALENNI👏👏🎉🎉
Agar kegiatan di grup Online “Menulis bersama Omjay” ini berjalan dengan lancar, kami sudah mempersiapkan aturan main. Aturan Main grup Online ini ialah sebagai berikut.

  1. Hindari memotong obrolan atau mengganggu saat narasumber sedang perkenalan dan memberikan materi
  2. Pertanyaan & jawabannya tidak boleh mengandung unsur sara dan menghina fisik.
  3. Jika ingin bertanya harap menjawab pertanyaan rebutan dari moderator disertakan emote ini (☝)
  4. Setelah dipersilahkan untuk bertanya, harap sebutkan nama dan asal instansi/sekolah
  5. Tanya jawab dibagi beberapa sesi. Setiap sesi Terdiri dari 3 penanya. Setiap penanya maksimal memberi 3 pertanyaan.
  6. Hindari memotong narasumber yang sedang menjawab pertanyaan dengan memberikan pertanyaan baru karena akan menganggu fokus narasumber serta peserta lain yg sedang menyimak.
  7. Hindari mengajukan pertanyaan yang telah ditanyakan oleh penanya lain atau sudah terjawab oleh penjelasan narasumber , demi efektifitas Seminar ini.

Okaay alhamdulilah kalo udah pada pahaam, kita langsung mulai sesi seminar online aja yaah. Kepada bunda Betti Risnalenni dipersilahkaan🥰❤@Betti Betti Pgri bekasi.

WhatsApp Image 2020-01-26 at 08.33.57

Mohon maaf saya mempersiapkannya dengan ketik langsung. Saya tidak dipersiapkan dari awal karena hp saya penuh juga dan bingung mau ngapus yang mana. Saya baru selesai kegiatan juga.

Perkenalkan nama saya Dra Betti Risnalenni MM . Kepala sekolah TK insan Kamil. Kebetulan saya mempunyai lembaga KB – TK dan SD.

Saya juga bingung mau membagikan cerita karena mungkin ini juga biasa saja tapi mungkin ada juga yg ingin tahu. Saya disini akan menceritakan pengalaman saya dalam mendirikan sekolah.

Awalnya sih karena keinginan seorang guru yang ingin semua anak mendapat pendidikan yang sama. Dapat pendidikan yang bagus.

Inspirasi ini timbul waktu saya mengajar di Al Izhar Pondok Labu tahun 1992. Saya mengajar di tempat mas mentri kita sekarang sekolah SD. Kebetulan saya guru kelas 4 nya mas Nadiem.

Disekolah ini rata rata anak orang kaya tapi ada anak panti asuhan juga. panti milik bu Dani Bustanil Arifin.

Tapi keinginan saya untuk membuat sekolah itu tidak gampang. Ada saja rintangan dan hambatan yg ditemui.

Saya mulai mendirikan kursus dulu tahun 1996. yaitu kursus aritmatika. saya sampai mempunyai 24 cabang di kota bekasi.

Saya masih maju mundur waktu mau mendirikan sekolah karena memang saya tidak punya modal materi, hanya modal nekad. Nekadnya ditambah dengan nekad seorang teman yg juga salah satu cabang saya.

Saya pertama buat kursus , modal kerjasama ( frienchise ) 10 jt tahun 1996 untuk 1 lembaga. buat saya tahun 1996 terasa mahal.

Tahun 1998 saya buat buku sendiri dan saya buka cabang tidak bayar fc, hanya ikatan kerjasama dengan membeli buku saya saja. waktu itu saya jual bukunya Rp 10.000, per buku.

Bukunya memang tidak tebal. itu berupa buku Lembar Kerja. tp kan 1 pusat kursus bisa beli banyak buku. apalagi waktu itu saya bekerjasama dengan sekolah. jadi banyak buku yang terjual.

Saat itu saya awalnya buka kursus itu bayar ke lembaga besarnya . namanya YAI. saya bayar 10 jt untuk kerjasamanya. kalau saya latihan untuk tingkat 1, saya bayar lagi uang latihannya.tapi gpp , itu yang membuat saya berani dan selalu mau menambah ilmu.

waktu itu, saya awalnya yang ikut. saya yang bayar. saya kan waktu itu peserta yang mau membuka kursus. Waktu saya buka kursus itu, 6 bulan saya buka, muridnya hanya 3. waktu itu saya agak sedih, modal FC dah mahal, ruangan ber AC juga pakai modal.

Tapi disitulah saya belajar. Jadi sales lah. saya buat brosur. Dimana ada kegiatan, di situ saya membagi bagikan brosur. Saya ke sekolah sekolah presentasi tentang aritmatika.

Saya bawa anak yang sudah berhasil. yang sudah bisa menghitung pake bayangan. jadi sudah tidak pake sempoa. Kalau di sekolah ada acara terima raport pasti saya dah minta tempat ke kepala sekolah untuk presentasi. itu berlangsung sampai tahun 1998. Di tahun itu juga saya mulai membuat buku sendiri dan harganya lebih murah , dan saya pun banyak yg minta kerjasama. kerjasama dengan saya ga pakai friendchice . hanya beli buku saja.

Akhirnya saya punya 24 cabang. Untuk menyemangati anak anak , saya sering mengadakan lomba di mal mal. Mal senang karena jadi banyak pengunjung. Saya juga enak karena fasilitas mereka sediakan, malah hadiah pun mereka fasilitasi.

Nah dari 24 cabang saya itu , ada 1 cabang yang ingin bekerja sama dengan saya untuk membuat TK. Awalnya saya tidak mau karena saya juga ga punya modal. Trus katanya , saya hanya bantu membuat kan buku buat anak saja. akhirnya saya sanggupi.

Ternyata bukan sampai disitu. Karena dalam membuat TK itu harus ada yayasan. Dia belum punya tp saya sudah punya. Akhirnya saya pinjami yayasan saya termasuk uang untuk mengontrak rumah untuk TK itu.

Dan tidak hanya sampai di situ. TK kan juga perlu peralatan, bangku , kursi, mainan dll . Akhirnya kecemplung juga saya di situ. Kerjasama saya dengan teman saya itu itu.

Saya mulai bulan maret 2003 waktu itu. Saya mulai dengan TPQ. Waktu mulai berdiri dapatlah murid 28 anak. Setelah Juli kita mulai dengan TK dan alhamdulillah mempunyai murid 33 siswa.

Karena TK nya itu ngontrak, jadi si empunya rumah masih punya kekuasaan. Halaman nya lah dilubangi katanya mau dibuat kolam. tapi sampai berakhir kontrakan tak pernah berisi air dan ikan. hanya lobang saja.

Baru berjalan bulan ke 3 TK, tepatnya bulan September 2003, teman saya mundur. Katanya kok rugi. Maklum dia biasa juragan batik. Sekolah ga ada untungnya , katanya. Tapi saya kan yang punya yayasan ga mungkin dong nutup sekolah seenaknya. makanya saya teruskan. Oh ya untuk urusan kedinasan, diurus bersamaan dengan program KBM berjalan. Karena harus ada data murid dll. Kalau tidak ada nanti dianggap fiktif.

Untuk urusan itu kita perlu ijin RT, RW dan tanda tangan warga yang tidak keberatan sekolah didirikan diantara mereka. Tanda tangan warga waktu itu 50 tanda tangan..Kalau sekarang 100 tanda tangan.

Nah kan saya ngontrak sampai februari habis ya sedangkan tahun ajaran kan habisnya juni.

Saya mulai bingung harus kemana ? Tapi kalau urusan baik, Allah selalu kasi jalan. Ada yang menberitahu ada yang menjual rumah di dekat lokasi awal. Ada rumah over kredit. Saya waktu itu beli seharga 23 jt..uang segitu saya ga punya. Saya bayar pakai cek jadi kan uangnya bisa di tempo. saya kasi tanggal yang berjarak. Untungnya saya masih punya tagihan . Sebelumnya saya punya usaha servis pasang dan perawatan AC. langganan saya kebanyakan pabrik.

Akhirnya sekolah bisa dipindah ke lokasi baru yang sampai sekarang masih dipakai. Di sebelah rumah itu ada tanah kosong, milik developer. Jadi saya bisa memperlebar ke sebelahnya. Kalau tanya uangnya , saya juga bingung kenapa ada aja ya ? mungkin karena saya masih jualan buku. jadi ada pemasukan dikit dikit. Tapi Alhamdulillah orang tua saya juga membantu. Kalau minjam duit dikasi walau buntutnya suka dikembalikan. Tapi orang tua saya bangga saya punya sekolah.

Orang tua murid usul dan meminta agar saya juga buat SD. Saya mah langsung bilang, iya bu, nanti kita buat SD. Tanah kosong yang milik developer itu harusnya 1 bangunan developer tapi saya minta jangan dibangun rumah biar tanah saja karena nanti juga akan dibongkar dan saya ga punya uang buat bongkar dan bangun kembali.

Akhirnya developernya setuju dijual tanah saja dan saya bangun langsung 3 lantai. Ma syaa Allah, itu kebesaran Allah. Saya bangun sekolahnya mirip dengan Sekolah terkenal ” Al Azhar. Pakai batu Alam warna hijau, karena dulu saya juga pernah mengajar disana.

Untuk bangkunya saya juga pengen bangku seperti di sekolah itu. Meja dan Kursi itu harganya 600 rb. Aduhhh mahalnya. Akhirnya saya mencari supaya murah gimana caranya. Saya cari cari, ketemulah pabriknya. akhirnya saya hanya beli yang buat dudukannya saja seharga 125 rb. yang lainnya saya buat ke tukang las. dan harganya bisa dibawah itu. sampai tukang pabrik kursi itu geleng geleng karena nekad banget saya. Saya hanya pesen mentah. Yang gosok gosok dan cat nya saya lakukan bersama suami saya.

Kita buat 40 set kursi. karena muridnya 33 waktu itu masuk ke SD. Untuk surat menyurat juga dibuat sambil KBM berjalan. SD sudah harus 100 tanda tangan warga dan kita pun disidangkan di pemda dengan 7 unsur kedinasan. Ada dari Disdik, Amdal, Depnaker dan apalagi saya sudah lupa. Kemudian baru keluar ijin operasionalnya.

Saya juga didukung oleh developer, ya mungkin karena biar rumahnya juga laku. Sekolah saya masuk kalender perumahan tersebut.

Saya membuat sekolah itu bener bener tulus. Tidak terpikir untung rugi walau untung rugi cukup membuat sekolah ini berlangsung.

Nah untuk surat izin mendirikan sekolah ini bapak ibu ke UPP dulu. UPTD jaman dulu namanya. atau kantor dinas pendidikan yang ada di kecamatan. nanti disitu ada catatan yang harus kita urus. Jadi kita siapkan jadi berbentuk 1 proposal.

Disitu harus ada Akte Yayasan. Di dalam akte yayasan itu minimal ada 5 pengurus. Boleh orang lain atau juga boleh keluarga sendiri.

Oh ya kan sekolah saya kan mulainya dari kelas 1. jadi saya tidak terima kelas pindahan yang diatas atasnya. oh ya untuk pengajian. terus terang untuk mengaji guru tidak cukup dari SPP yang saya terima.

Karena saya adanya di Bantar Gebang, tidak bisa menjual walau sekolah nya keren. Trus karena memang sudah niat ingin membantu siapa aja yg sekolah. Di sekolah saya kalau yatim , gratis.

Kalau tidak mampu bisa gratis bisa bayar semampunya. Ga perlu pakai surat keterangan tidak mampu. Karena sebenarnya ga ada yg mau dibilang tidak mampu apalagi pakai legalitas tidak mampu. Yg lain bayarnya standar. Sampai sekarang aja uang SPP saya saja Rp 250.000,- include. sudah termasuk : kegiatan, ekskul dll. jadi mereka bayar segitu, ga pernah ada pungutan lain.

Dulu waktu sekolah masih kecil, uang gajian guru, pakai gaji suami saya. Kebetulan suami saya PNS, jadi gajiannya kan pasti tgl 1 pagi dah masuk, tgl 1 siangnya dibagikan le guru. Tapi alhamdulillah dari dulu guru Insan Kamil dah biasa gajian tgl 1. setap bulannya.

Tapi hikmah yang bisa saya ambil, saya bisa berkenalan dengan banyak orang dengan saya punya sekolah. Dan saya bisa berkompetisi dengan yang lain karena dengan kita berkecimpung di sekolah jadi kita tau kegiatan kegiatannya. Karena saya guru, saya ikut lomba Guru berprestasi tahun 2006 dan hanya jadi pemenang harapan 2 guru berprestasi. Katanya berkas fortopolio saya ga ada. Waktu itu tidak dikumpulkan. itu pengalaman yang menyedihkan buat saya.

Sekarang uang masuknya hanya Rp 2.300.000 sudah berikut seragam. Murah banget kan ? Di tempat saya tidak ada uang pendaftaran ulang. Oh ya bapak ibu, untuk meningkatkan jati diri saya juga ikut lomba kepala sekolah. Berdasarkan pengalaman, maka saya mempersiapkan dan mengawalnya. Akhirnya saya menjadi juara 1 Kepala Sekolah Berpretasi tahun 2009.

Awal bikin sekolah niat saya ikhlas krn ALLAH tapi kan niatnya kan bukan cari uang awal tujuannya buat sekolah. ya tapi saya cari barokahnya saja. Dan alhamdulillah sekolah tetap berjalan lancar, anak anak saya juga bisa sekolah dengan baik.

Temen saya bilang, Betul Bun, mendirikan lembaga pendidikan itu ladang ibadah niatkan lillaahi taala.

Alhamdulillah sekarang saya sudah mulai mengestafetkan kepengurusan sekolah ke kedua putri saya. Sekarang sedang mengawal putra saya mengelola kafe.

Ya sekolah saya swasta. KB – TK dan SD insan Kamil. Boleh lihat di Facebook . Saya senang dengan budaya Indonesia. Jadi di sekolah saya Sangat membudayakan budaya lokal. Permainan tradisional dan tarian tradisional. kalau ada yang minta kita hadir, in syaa Allah murid saya siap.

Krn, maaf nih… 1000 maaf, lembaga yg modern itu kalo di kelola secara terbuka oleh orang² luar & kita merelakan itu walau itu milik kita atau kita pendirinya…
ya pak..saya juga guru gurunya orang luar semua. gurunya juga dari medan sampai papua. Anak saya karena mereka operator sekolah juga. kalau ngegaji ga ada yg mau di gaji kecil. kasihan. Kalau dibilang gaji, lebih kecil gaji anak saya dibanding guru guru.

Subhanalloh… Barakallohhh, Mabruk alfu mabruk Bu
apa lagi ya pak bu yang ibu bapak ingin ketahui.

Saya tertarik tentang kemampuan ibu membuat buku-buku.

Kemampuan ini ibu dapat darimana?

Bagaimana cara ibu bisa punya kemampuan membuat buku yang laris begitu?

saya kan buat bukunya buku bahan ajar pak. seperti LK gitu. Saya buatnya buku aritmatika, yang hitung hitung gitu. Dari SD saya memang suka hitung hitung. Jadi kayaknya enak aja ngotak ngatik angkanya.

kalau membuat bukunya nya sih saya melihat saja. kan di aritmatika itu dari yang langsung, pakai kawan kecil, besar dan keluarga. jadi ada tingkatannya.

Bukunya laku, karena saya ngadain pelatihan buat gurunya. dan guru tsb boleh mengajarkan ke muridnya dengan berbayar. namanya juga kursus atau les.

Oh ada bu. sekarang kita sering kok buat pelatihan buku bahan ajar. malah diajarin langsung oleh pihak penerbitnya. penerbit andi yang telah memfasilitasi kita. udah jalan ke solo, yogya dan solok. colek om jay.

Kalau buku TK , saya lihatnya apa yg dibutuhkan buat TK itu yang kita buat. mulai dari menarik garis, menggambar, mengenal angka, huruf , sampai membaca dan berhitung. tapi kita sesuaikan dengan kebutuhan dan kesiapannya. saya senang buat karena biar kita bisa nyocokin dengan lingkungan kita.

Saya awalnya cari guru dari pasang iklan di koran. kebetulan dulu, banyakan dari guru guru tersebut masih lajang. jadi guru tersebut bisa tinggal di rumah saya yang di sebelah sekolah.

Kesimpulan. waduuhh apa ya kesimpulannya ? jadi kalau untuk kebaikan ga usah ragu ragu, Allah akan mudahkan segalanya. Jangan takut mencoba apa yang menjadi cita cita kita🌸🌸

Baik Bapak dan ibu yg saya sayangi dan banggakan, dikarenakan waktu sudah tepat pukul 21 lebih maka kita akhiri materi hari ini. Terimakasih ibu @Betti Betti Pgri bekasi atas materi hari ini😊✨

Kita akan bertemu kembali besok malam dengan pembicara yang akan di umumkan besok hari😊

Mengapa Saya Malas Menulis?

Sebagai pengelola website sekolah, dan juga blog pribadi, seharusnya saya tidak malas menulis. Tapi kali ini entah kenapa saya terserang penyakit malas. Dari tadi rasa kantuk menghinggapi diri. Bahkan saya tidak sholat dzuhur berjamaah seperti biasanya. Mager banget. Malas Gerak.

Tapi untunglah saya jadi sadar diri. Kalau saya malas menulis, akan banyak orang tidak mendapatkan informasi baru dari saya. Sebagai seorang blogger sekaligus youtuber, saya seharusnya pandai membuat informasi baru yang bermanfaat untuk pembaca.

Kali ini saya mau cerita kenapa saya menjadi malas menulis.

Pertama saya terlalu lelah, sehingga perlu beristirahat sejenak. Kalau sudah begini jangan dipaksakan untuk menulis. Sebab tulisan anda menjadi garing. Kurang enak untuk dibaca.

Kedua saya merasa terlalu jenuh. Pagi ini saya tidak mengajar. Orang tua yang menggantikannya. Persatuan Orang Tua Murid dan Guru (POMG) mengadakan acara Orang Tua Menjadi Guru (OMG). Saya diminta hanya mendampingi dan memandu acara saja. Seharusnya saya gembira, entah kenapa kepala saya terasa berat. Ingin tidur sejenak.

Ketiga saya merasa malas untuk merangkai kata. Kerja saya hanya buka WA dan baca-baca. Setelah itu buka email dan saya membaca kisah perjalanan seorang kawan blogger yang naik bus baru di Pontianak. Rasanya saya perlu jalan-jalan agar tak lagi malas menulis.

Mau ikut baca tulisan kawan saya, silahkan dibuka di sini.

 

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Guru Blogger Indonesia.

 

Kapan Sebaiknya Anda Menulis?

Kapan sebaiknya anda menulis?

Dulu sewaktu belum ada internet dan smartphone saya menulis sebelum tidur. Kalau libur saya menulis setelah bangun tidur.

Dimana saya menulisnya?

Saya menulis di laptop atau komputer pc. Pakai pengolah kata dan langsung disimpan. Tidak bisa langsung upload atau posting di blog. Bisa dikirim setelah sampai di sekolah dan dikirim pakai modem yang disambung pakai telpon sekolah.

Masih ingat nomor 0898888? Nomor inilah yang biasa digunakan untuk menyambung ke internet lewat jaringan telkom.

Sekarang? Jauh beda. Kita bisa menulis dimana saja dan kapan saja. Bahkan kita bisa menulis sambil buang air besar di toilet.

 

https://www.kompasiana.com/wijayalabs/5c4e57f66ddcae266701c595/kapan-sebaiknya-anda-menulis

Resensi Bukunya Omjay, “Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi”.

Resemsi Bukunya Om Jay “Menulis Setiap Hari Dan Buktikan Apa Yang Terjadi”

Oleh : Hastuti Wibowo

buku-menulis

Kesan pertama pada buku ini identik dengan penulisnya yang ramah mau membagikan semua pengalamannya pada semua pembaca. Om Jay dengan keikhlasan mencoba meyakinkan pada pembaca dapat menulis kapan saja dan di mana saja. Om Jay juga memberikan arahan bagaimana awalnya dapat menulis. Selanjutnya mari kita telusuri buku ini maka kita akan temukan banyak kebaikan yang Om Jay tawarkan.

Kemampuan menulis Om Jay melalui proses yang berawal dari semangat tinggi melalui blognya sampai menjadi penulis handal berikut prestasi dan rezeki menulis. Om Jay menulis setiap hari menjadikan menulis bagian dari tubuhnya sehingga kenikmatan menulis dirasakan langsung. Tidak hanya untuk diri sendiri maka kenikmatan juga Om Jay bagikan pada pembaca tulisannya yang menginformasikan berbagai hal dari Om Jay. Om Jay selalu mengingatkan selain menulis jangan lupa membaca karena keduanya saling mengisi. Menulis setiap hari meski hanya sedikit nantinya menjadi banyak dalam satu bulan. Menulis tentang apa yang diketahui agar tulisan terasa sedap.

Om Jay memberikan kunci keberhasilan dalam menulis antara lain dengan membaca buku. Membaca buku membuat gemuk menulis inilah The Power Of Book. Dengan membaca buku seolah-oleh membawa kita keliling dunia. Om Jay juga mengingatkan penulis harus terampil mengolah kata menjadi tulisan yang lezat dengan bumbu spesial membuat pembaca tertarik dan berkali-kali membacanya.

Menulis setiap hari dapat menghiasi rutinitas kita artinya menulis menjadi refresing hati dan jiwa. Om Jay menyakinkan kalau setiap hari komitmen menulis 1 lembar atau 2 lembar maka dalam satu bulan bisa jadi satu buku. Tulisan tersebut dapat diposting di blog atau coba ditawarkan pada penerbit. Om Jay memiliki fans dari tulisan di Kompasiana dan membuat bahagia penulisnya.

Om Jay memberikan solusi cara menulis efektif secara bertahap sampai hasil tulisannya siap diposting di Blog. Om Jay membagikan pengalamannya bertemu dengan Taufik Ismail dan dari pertemuan itu pentingnya membaca bagi penulis karena rabun membaca lumpuh menulis. Selain itu Om Jay juga berpesan untuk tidak memaksakan menulis bila sudah mengantuk. Menulis dalam kondisi yang mendukung sangat baik, sehingga menulis akan mengalir bagai air. Sebelum tidur dapat dimanfaatkan untuk menulis sambil melatih keterampilan menulis.

Kok bisa Om Jay menulis setiap hari ternyata Om Jay lahap membaca.  Semakin banyak pengetahuan yang didapat dan semakin banyak tulisannya. Om Jay mengingatkan kreativitas dalam menulis sangat dibutuhkan. Ide yang selalu mengalir menghindarkan diri dari plagirisme. Bagaimana menulis kreatif dan manarik? Menurut Om Jay ternyata berasal dari potensi diri, pantang menyerah, dari hatinya, menulis tanpa beban, bahasanya komunikatif, baru, inovatif, gaya diri sendiri.

Kalau ingin menjadi penulis yang baik jangan jadikan beban kata Om jay. Jangan biarkan juga tulisan banyak di otak. Untuk itu biasakan menulis yang semula terasa sulit akan terasa mudah berikutnya. Om Jay mengajarkan kalau menulis ada urutan bagiannya mulai dari pembuka, pembahasan, dan penutup. Lalu dari mana datangnya ide? Kata Om Jay dari diri sendiri, ide membaca, Bila sedang tidak mod menulis maka lawanlah dengan menulis apa saja dan berikutnya menjadi menyenangkan.

Jangan membaca tapa menulis, jadi berhenti membaca untuk menulis. Ternyata membaca cepat dapat melatih konsentrasi penulis untuk menghilangkan hambatan dari dalam diri. Membaca cepat dan menulispun bisa cepat dengan cara anggap saja dengan berbicara dengan orang lain kata Om Jay.

Buku ini super sekali informasinya buat para penulis pemula karena Om Jay mengkupas tuntas. Semua permasalahan dalam menulis diberikan solusinya oleh Om Jay seperti dahsyatnya menulis, membangun kemampuan guru menulis, malas menulis, membangun semangat menulis, memanfaatkan waktu luang, menulis buku harian. Om Jay juga membagikan pengalamannya dari keajaiban menulis seperti tulisan menjadi tabungan, mendapat uang dari menulis, menjadi pembicara, dan menjadikan diri hebat.

Om Jay memberi tips tertentu dalam membuat blog, menulis di blog kompasiana, dan membuat buku. Om Jay alangkah mulia hatimu dengan tulus mengajak semua pembaca untuk memulai menulis. Menulislah dengan hati, menulislah mulai sekarang, jadikan buku sebagai teman dan internet sebagai informasi.

Kesimpulan dari buku yang sangat super ini juga kesimpulan yang super. Menulis harus dimulai dari sekarang, harus dari dalam diri ( potensi, semangat, ide, komitmen), belajar pada lingkungan ( buku, orang lain, tokoh) , melek teknologi ( blog, media sosial ), kreativitas, Inovatif. Jadikan mendengar, membaca, menulis saling melengkapi memperkaya ide menulis. Targetkan menulis buku sebagai bukti pengembangan diri seorang Guru.

Terimakasih Om Jay sudah diberi kesempatan membaca dan menulis resensi dari buku “Menulis Setiap Hari Dan Buktikan Apa Yang Terjadi”. Sangat setuju dengan judul buku ini karena memang ada sesuatu yang terjadi setelah kita menulis setiap hari. Penulis pemulapun seperti saya mulai merasakannya. Semoga ilmu yang Om Jay sampaikan menjadi bekal di akherat nanti. Menulislah terus sampai waktu menjemput kita…Sukses selalu buat Om Jay idola para penulis guru lainnya juga idola bagi saya….Salam

Akupun Berhenti Menulis

Aku pun Berhenti Menulis

Begitu mengetahui bahwa menulis merupakan kemampuan berbahasa dengan tingkatan tertinggi atau tingkatan paling sulit, maka akupun berhenti menulis. Karena ternyata menulis membutuhkan banyak keahlian untuk menghasilkan tulisan yang “renyah dan gurih”  tambah lagi  “padat serta bergizi” yang membuat  para pembaca menjadi nikmat dalam melahapnya.

Menulis membutuhkan keahlian dari penulisnya untuk bisa mengkolaborasikan dengan baik antara olah hati, olah pikir, olah rasa dan olah raga. Berhenti menulis merupakan jalan satu-satunya untuk bisa memenuhi syarat-syarat tersebut. Tetapi yang kumaksudkan di sini adalah berhenti menulis untuk membaca . Untuk hal yang satu ini, lagi-lagi aku juga terinspirasi dari pesan yang dikirimkan ke grup WA Guru Menulis Gelombang 6 hasil bentukan bapak Wijaya Kusumah, S.Pd, M.Pd (Omjay) seorang blogger ternama yang siap berbagi ilmu menulis bagi para guru.

Dalam buku Omjay  “Menulislah Setiap Hari dan Temukan Apa yang Terjadi”, aku menemukan istilah “deep reading” yang katanya berarti suatu proses dimana penulis melakukan proses membaca secara mendalam.

Proses ini menjadi syarat mutlak bagi seseorang yang akan menulis karena dengan demikian dia akan benar-benar memahami apa yang akan ditulisnya. Adalah merupakan “pantangan” besar bagi penulis untuk menulis apa yang tidak dimengerti dan dikuasai.

Pesan yang berbunyi berhenti menulis untuk membaca, membuat  kepalaku pun terangguk-angguk dan hatiku menyetujui pendapat spektakuler ini. Tidak lupa aku pun merujuk pada firman Allah dalam surah Al Alaq ayat 1-5 yang merupakan wahyu pertama bagi Rasulullah SAW:

  1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.
  2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
  3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang maha pemurah.
  4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
  5. Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.

Siapa yang berani mengingkari firmanNya? Allah SWT sang maha pencipta yang langsung mengajarkan pada kita untuk membaca karena dengan membaca kita dapat mengeksplorasi semua ciptaan Allah melalui kalam-Nya. Senantiasa melibatkan nama Allah ketika tiap kali kita membaca (baca: bekerja) merupakan satu hal yang mutlak pula agar apa yang kita lakukan senantiasa didalam ridhoNya.

Karena menulis merupakan tingkatan tertinggi dari kemampuan berbahasa, maka tahap demi tahap dalam setiap tingkatan haruslah bisa kita lalui dengan baik.  Tahap pertama, jadilah pendengar yang baik sehingga kita mampu pula menaiki tingkatan yang kedua yaitu mampu menjadi pembicara yang  baik tentang segala sesuatu  yang sudah kita dengarkan.

  Selanjutnya ketika kita sudah mampu berbicara dengan baik,  maka kita dapat menaiki tingkat selanjutnya yaitu  bisa “membaca” dan peka terhadap semua yang ada di sekitar kita. Kemampuan membaca yang baik inilah yang kemudian akan mengantarkan pemiliknya menjadi penulis yang baik. Bagaimana mungkin seseorang akan dapat menuliskan sesuatu dengan baik jika dia pun tak mampu membaca dengan baik.

Membaca, memilki artian yang sangat luas. Dapat diartikan sebagai usaha untuk dapat memperoleh informasi dari buku-buku atau bahan bacaan lain  yang sangat beraneka ragam jenisnya pada masa sekarang ini. Atau  bisa pula berarti mengamati sehingga  dapat mengetahui,  merasakan dan peka terhadap perubahan- perubahan yang terjadi di sekitar kita. Pada gilirannya, hasil membaca inilah yang  dapat menjadi ide dan bahan  untuk tulisan yang akan ditulis.

Seorang penulis haruslah selalu “up date” dan senantiasa harus melatih kepekaannya terhadap apa yang terjadi, karena ini merupakan salah satu faktor yang dapat menjadikan tulisannya menjadi “gurih, renyah, padat dan bergizi”.  Maka, menjadi pembaca yang baik haruslah kita lalui sebelum kita berusaha naik ketingkat berikutnya yaitu menjadi penulis yang baik.  Jangan coba menaiki anak tangga dengan cara melompati tahapannya, karena hal demikian akan  dapat membuat kita terjatuh dan cidera.

Yuk, kita berhenti menulis untuk membaca sehingga bisa menjadi penulis yang baik.

Wallahu a’lam bishawab

#edisibelajarmembacauntukmenulis#

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 5 Agustus 2018

Berhentilah Menulis

Berhentilah Menulis
Oleh Dyahni Mastutisari

Berhentilah menulis. Hal itulah yang harus saya lakukan sekarang. Setelah menjadi anggota Gurusiana selama 8 bulan. Mengapa harus berhenti menulis? Bukankah setelah menjadi gurusianer mestinya saya lebih banyak berlatih menulis?. Mengapa justru sebaliknya menghentikan aktifitas yang telah membuat saya ketagihan menulis.

Justru itu karena saya telah ketagihan menulis. Membuat saya kadang sering bingung sendiri. Setiap saat selalu memikirkan ide untuk bahan tulisan. Sampai-sampai mandi pun masih mencari ide. Dan kelemahan saya, setelah mendapat ide tidak langsung ditulis. Hanya ‘ngendon’ di kepala. Ide baru saya tulis setelah ada waktu. Karena terlalu lama mengendap jadinya ide yang tertuang dalam tulisan terasa hambar.

Tulisan menjadi garing, tidak renyah sama sekali. Menurut Om Wijaya Kusumah (omjay) dalam bukunya berjudul “Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi”, beliau mengungkapkan bahwa Ketika menulis terasa renyah, maka pembaca pun akan terasa menikmatinya dengan lezat. Ibarat makanan yang siap disantap, maka pembaca pun akan menjadi lahap membaca tulisan kita yang renyah.

Untuk bisa membuat tulisan yang renyah. Masih menurut Om Jay diperlukan proses membaca. Tentu semua itu dilakukan setelah melakukan proses deep reading, yaitu proses di mana penulis melakukan proses membaca secara mendalam. Tanpa melakukan proses tersebut, sulit rasanya membuat tulisan yang terasa renyah.

Disini saya menyadari bahwa selama ini saya belum melakukan yang namanya proses deep reading. Sehingga tidak mengherankan jika tulisan saya tidak terasa renyah. Saya terlalu bernafsu untuk menulis. Tanpa diimbangi membaca dan banyak membaca karya tulis orang lain. Dalam hal ini membaca secara mendalam. Tidak hanya sekedar membaca sambil lalu yang sering saya lakukan.

Dan… sekarang saatnya saya berhenti menulis. Untuk melakukan deep reading. Supaya tulisan saya tidak garing. Segaring daun jati di musim kering. Tetap semangat untuk menulis tapi jangan lupa untuk membaca. Salam literasi

Patikraja, 16 Agustus 2018